babi Kabar niversitas Muhammadiyah Bandung

Fathul Wahid Ungkap Dua Prinsip Penting Menggunakan AI

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Rektor UII periode 2018–2026 Fathul Wahid menyebut dosen membutuhkan pendekatan khusus dalam pengelolaannya.

Menurutnya, dosen memiliki karakter mandiri sehingga tidak bisa dikelola dengan cara yang terlalu kaku.

“Dosen itu seniman,” ujar Fathul saat mengisi Tadarus Akademik UM Bandung bertema “Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan: Berkolaborasi, Berinovasi, dan Meningkatkan Produktivitas Melalui AI” di Masjid Fastabiqul Khairat, lantai tiga UM Bandung, Selasa (22/09/2026).

Ia mengibaratkan pengelolaan dosen seperti “menggembala kucing”.

Oleh karena itu, pimpinan kampus perlu membangun motivasi dan insentif yang tepat, bukan sekadar memberikan perintah.

“Ketika memimpin UII, saya tidak pernah memaksa dosen, tetapi menggunakan teori yang saya yakini benar dan memunculkan motivasi,” katanya.

Fathul juga mendorong kampus membangun sistem yang kuat, sederhana, dan terintegrasi. Menurutnya, sistem digital dapat mengurangi pekerjaan manual dan membuat layanan mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan lebih efisien.

Berbagai data kampus juga seharusnya terhubung sehingga dapat digunakan kembali untuk kebutuhan administrasi maupun akreditasi. “Tidak perlu lagi mengisi data berulang-ulang. Tinggal klik, maka muncul semua,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fathul memperkenalkan istilah “Tangga Sulaiman” yang menggambarkan tiga orientasi dosen, yakni mal atau harta, mulk atau kedudukan, dan ilm atau ilmu. Dosen yang berorientasi pada ilmu akan terus belajar, menulis, meneliti, mengikuti seminar, dan menghasilkan publikasi.

“Dosen UM Bandung ada di mana? Ini adalah sebuah pilihan. Hanya dosen yang bersangkutan yang tahu,” katanya.

Memasuki era AI, Fathul menilai teknologi tersebut tidak dapat dihindari. Sivitas akademika perlu menguasainya, tetapi kemampuan berpikir kritis dan kreativitas manusia tetap menjadi fondasi.

Ia mengingatkan pengguna agar memahami materi terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke AI. “Pahami dengan baik materi yang akan kita share ke AI. Jika tidak paham, lebih baik jangan memakai AI karena akan jadi kacau,” ujarnya.

Fathul menjelaskan dua prinsip penggunaan AI, yakni critical competence principle dan goal alignment principle.

AI harus digunakan ketika pengguna mampu menilai dan mengkritisi hasilnya serta tetap diarahkan untuk mendukung tujuan pembelajaran atau pekerjaan.

“AI sebaiknya menjadi mitra, bukan pengganti manusia,” tegasnya.

Selain menguasai teknologi, Fathul mendorong dosen membangun budaya menulis.

Menurutnya, tulisan membuat ilmu dan gagasan dapat terus dibaca serta dimanfaatkan orang lain melalui buku, jurnal, media massa, blog, maupun media sosial.

Ia juga mengingatkan bahwa kampus bukan sekadar tempat mengejar efisiensi. Perguruan tinggi merupakan ruang untuk mengembangkan ilmu, nilai, inovasi, dan membentuk manusia.

Oleh karena itu, bekerja di kampus merupakan kesempatan untuk mendampingi mahasiswa yang sedang belajar, berkembang, dan mengejar cita-citanya.***(FA)