Berita

Kuliah di UM Bandung Jangan Sekadar Kejar IPK Bagus

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. 

Selama menjalani perkuliahan, mahasiswa juga perlu aktif mencari pengalaman, membangun jejaring, dan mengembangkan kemampuan melalui berbagai kegiatan di luar ruang kelas.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Pelaksana Pesonamu UM Bandung 2026 Rikki Maulana.

Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan masa kuliah secara maksimal dengan tidak sekadar datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan, kemudian pulang.

Menurut Rikki, UM Bandung menyediakan berbagai ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, mengasah kreativitas, sekaligus mengembangkan potensi diri.

Organisasi, unit kegiatan mahasiswa (UKM), dan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) dapat menjadi ruang belajar yang melengkapi pengalaman akademik.

“Di kampus banyak organisasi, UKM, dan ormawa yang bisa menambah pengetahuan serta wawasan. Oleh karena itu, manfaatkanlah status sebagai mahasiswa ini sebaik-baiknya,” tutur Rikki, seperti dikutip dari laman Kompasiana Panitia Pesonamu 2026, Selasa (29/09/2026).

Ia menilai keterlibatan dalam berbagai aktivitas kemahasiswaan dapat membantu mahasiswa membangun kemampuan yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah.

Pengalaman tersebut juga dapat menjadi bekal untuk menghadapi dunia profesional dan kehidupan setelah menyelesaikan studi.

Karena itu, Rikki mendorong mahasiswa berani mencoba berbagai kegiatan positif selama berada di UM Bandung.

Masa kuliah, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk menemukan potensi, memperluas pergaulan, membangun pengalaman, dan mengejar cita-cita.

“Jangan hanya kuliah, kemudian ke kosan atau rumah, ke warteg, lalu pulang,” ujarnya.

Meski mendorong mahasiswa aktif di luar kelas, Rikki mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan kewajiban akademik.

Konsistensi belajar tetap harus menjadi perhatian agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu.

“Saya doakan empat tahun beres, delapan semester, tidak lebih dari itu,” pungkasnya.

Sementara itu, Rikki menilai rangkaian Pesonamu UM Bandung 2026 berjalan lancar berkat kolaborasi panitia dari berbagai bidang.

Evaluasi tetap akan dilakukan, terutama terhadap koordinasi dan komunikasi internal untuk perbaikan kegiatan berikutnya.

Pada akhirnya, kehidupan kampus bukan hanya tentang menyelesaikan perkuliahan dan memperoleh ijazah.

UM Bandung juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dari pengalaman, mengembangkan potensi, membangun jejaring, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah lulus.***(Hikma/Althof/Fauzan)

Administrator

Mahasiswa UM Bandung Harus Cerdas Memilih Instrumen Investasi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan edukasi pasar modal kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dalam rangkaian Pesonamu UM Bandung 2026 di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus ini, Selasa (22/09/2026).

Deputi Kepala Wilayah Jawa Barat Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat Adnan Bahalwan menjadi pemateri pada hari kedua kegiatan.

Ia membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar investasi sekaligus langkah awal menjadi investor muda.

Adnan menekankan, investasi harus diawali dengan pemahaman. Calon investor perlu mengenali instrumen investasi, memahami karakteristik dan risikonya, serta menyesuaikannya dengan tujuan dan kemampuan finansial masing-masing.

Ia memperkenalkan prinsip 3P, yaitu paham, punya, dan pantau. Artinya, investor perlu memahami instrumen sebelum membelinya dan terus memantau investasi setelah memilikinya.

“Jangan punya dulu tapi belum paham, tapi harus paham dulu baru punya, dan setelah punya terus dipantau secara berkala,” ujar Adnan.

Menurutnya, pemahaman penting agar mahasiswa tidak berinvestasi sekadar mengikuti tren. Setiap keputusan perlu didasarkan pada informasi dan analisis yang memadai.

Untuk mengenalkan mekanisme transaksi saham, Adnan juga memperkenalkan IDX Mobile melalui fitur virtual trading.

Fitur tersebut memungkinkan calon investor berlatih melakukan simulasi jual beli saham sebelum menggunakan dana secara nyata.

Adnan turut mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan media sosial sebagai dasar tunggal dalam mengambil keputusan investasi.

Informasi, termasuk rekomendasi dari influencer, perlu diverifikasi dengan melihat data dan melakukan analisis.

Ia menyarankan calon investor mempelajari laporan keuangan, pergerakan harga saham, serta risiko instrumen sebelum mengambil keputusan.

Adnan juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak FOMO (fear of missing out) atau membeli saham hanya karena mengikuti orang lain.

“Tolong jangan FOMO, jangan ikut-ikutan orang,” tegasnya.

Menurut Adnan, keputusan membeli atau menjual saham merupakan tanggung jawab masing-masing investor.

Oleh karena itu, setiap keputusan harus didasarkan pada pertimbangan pribadi setelah memperoleh informasi dari berbagai sumber.

Selain pengetahuan, investor juga perlu membangun kesiapan mental. Pengalaman membantu investor menghadapi dinamika pasar dan memahami bahwa investasi bukan cara memperoleh keuntungan secara instan.

Adnan menjelaskan, investasi memiliki tujuan dan jangka waktu yang beragam. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menentukan tujuan investasi dan menyesuaikannya dengan instrumen yang dipilih.

Melalui edukasi tersebut, mahasiswa UM Bandung tidak hanya diperkenalkan pada pasar modal.

Namun, juga didorong untuk membangun kebiasaan mengambil keputusan finansial secara kritis, terukur, dan bertanggung jawab.****(Hikma/Althof/Fauzan)

Administrator

KKN UM Bandung Wujudkan Nilai Al-Ma’un dalam Aksi Nyata

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Ayi Yunus Rusyana menegaskan, Kuliah Kerja Nyata (KKN) harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan tidak berhenti sebagai program rutin tahunan.

Menurut Ayi, KKN merupakan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di kampus sekaligus berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

“Jangan sampai ada kesan masyarakat bahwa mahasiswa dan sivitas kampus itu hanya bisa kuliah, bergelut dengan ilmu, dan diam di gedung kampus. KKN yang sudah Anda lakukan itu bagian dari implementasi ilmu di masyarakat,” ujar Ayi saat membuka Expo KKN UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Senin (28/09/2026).

Ayi mengatakan, pelaksanaan KKN di perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki landasan ideologis melalui teologi Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan. Nilai tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata untuk membantu masyarakat.

Ia mengingatkan kisah KH Ahmad Dahlan yang mengajarkan Surah Al-Ma’un kepada para santrinya secara berulang. Para santri awalnya memahami surah tersebut sebatas bacaan, tetapi belum menerapkannya dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, semangat tersebut relevan dengan pelaksanaan KKN karena mahasiswa dituntut menerjemahkan nilai Al-Ma’un dalam bentuk program yang memberikan manfaat dan dapat dilanjutkan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.

“Bukan program rutin tahunan. Di dalamnya ada gagasan ideologis Muhammadiyah dalam kegiatan ini,” tegasnya.

Ayi juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, swasta, dan berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Salah satunya melalui keterlibatan mahasiswa UM Bandung dalam verifikasi faktual Data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jawa Barat.

Menurut Ayi, persoalan ATS perlu menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan kualitas generasi muda di tengah bonus demografi Indonesia.

“Indonesia punya bonus demografi. Namun, sekitar 29 persen dari jumlah yang seharusnya sekolah malah tidak sekolah. Meskipun yang sekolah pun masih belum tentu otomatis sukses. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan,” ujarnya.

Ia mengapresiasi sinergi UM Bandung dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pendataan ATS. Menurutnya, kolaborasi tersebut perlu terus dikembangkan dengan melibatkan pihak swasta dan mitra lainnya.

Sementara itu, Ketua Panitia KKN UM Bandung 2026 Alghif Aruni Nur Rukman mengatakan KKN tahun ini dilaksanakan di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Sumedang.

Menurut Alghif, Expo KKN UM Bandung 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan inovasi dan hasil program yang telah dijalankan selama berada di masyarakat.

Setiap wilayah memiliki persoalan dan potensi yang berbeda sehingga program KKN disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

“Kami berharap keberhasilan tersebut tidak berhenti saat mahasiswa kembali ke kampus. Masyarakat membutuhkan program yang berkelanjutan. Salah satu indikator keberhasilan KKN bukan soal berapa banyak programnya, tetapi seberapa kuat dampak dari program tersebut setelah mahasiswa kembali ke kampus,” ujarnya.

Kepala LPPM UM Bandung Ijang Faisal mengatakan, Expo KKN juga menjadi ruang untuk melihat sejauh mana mahasiswa menerapkan ilmu yang diperoleh di kampus dalam kehidupan masyarakat.

Ia menyebut sekitar 1.200 mahasiswa diterjunkan ke masyarakat dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan. Selain menjalankan program pemberdayaan, mahasiswa juga terlibat dalam verifikasi faktual data ATS sebagai bagian dari sinergi UM Bandung dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Ijang berharap pengalaman dan inovasi yang diperoleh mahasiswa selama KKN dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian maupun program pengabdian kepada masyarakat berikutnya.

“Mahasiswa datang ke masyarakat membawa ilmu, tetapi pada saat yang sama mereka pulang membawa ilmu baru dari masyarakat,” ujarnya.

Expo KKN UM Bandung 2026 digelar dengan menampilkan berbagai program, produk, alat peraga, dan inovasi mahasiswa dari sejumlah kelompok KKN. Stand-stand tersebut memenuhi lantai tiga gedung UM Bandung dan menampilkan hasil kegiatan yang dikembangkan selama mahasiswa berada di desa masing-masing.

Selain pameran, kegiatan juga diisi booth kreatif dan produk unggulan, talkshow inspiratif, serta penampilan mahasiswa dan hiburan.

Sejumlah penampilan yang hadir antara lain Band Glacier Team, Sela Lazma & Nazwa Aziz, Seni Nur Sa’idiyah, Vocal Grup PSM UM Bandung, serta bintang tamu Uchi Qolby dan Boni Anggara.***(FA/FK)

Administrator

Di Era AI, Gen Z Dituntut Kritis Sebelum Bersuara di Ruang Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan ruang digital dan media sosial telah mengubah cara masyarakat menyampaikan pendapat, membangun diskursus publik, dan merespons berbagai persoalan sosial.

Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda menghadapi tantangan untuk tetap kritis dan tidak sekadar mengikuti tren atau Fear of Missing Out (FOMO).

Direktur Democracy and Electoral Integrity Program (DEEP) Indonesia Neni Nur Hayati mengatakan mahasiswa dan generasi Z perlu mengambil peran sebagai pembentuk narasi di ruang digital, bukan sekadar menjadi pengikut algoritma.

“Di tengah tantangan hari ini, kita hanya punya dua pilihan, apakah manusia dikendalikan oleh algoritma atau algoritma yang dikendalikan oleh manusia? Nah, narasi itu sebetulnya ada di tangan anak-anak Gen Z,” ujar Neni saat mengisi kegiatan Pesonamu UM Bandung 2026.

Menurut Neni, kemampuan membangun dan mengendalikan narasi harus ditopang literasi yang kuat. Generasi muda tidak cukup hanya cepat menerima dan membagikan informasi.

Namun, perlu mampu membaca secara mendalam, memeriksa sumber, memahami konteks, serta membedakan fakta, opini, dan informasi yang menyesatkan.

Tantangan tersebut semakin kompleks dengan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), termasuk teknologi deepfake.

Kemudahan memproduksi dan memperoleh informasi secara instan dapat meningkatkan risiko disinformasi apabila tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan melakukan verifikasi.

Di sisi lain, Neni menilai aktivitas Gen Z di media sosial memiliki potensi besar untuk mendorong perubahan sosial dan meningkatkan perhatian publik terhadap berbagai persoalan.

Fenomena intermedia agenda setting menunjukkan bahwa isu yang berkembang di media sosial dapat memperoleh perhatian lebih luas hingga mendorong institusi terkait memberikan respons.

Penggunaan tagar seperti “no viral, no justice” menjadi salah satu contoh bagaimana ruang digital dapat memengaruhi dinamika komunikasi publik.

Namun, menurut Neni, kekuatan tersebut perlu digunakan secara bertanggung jawab agar kritik tidak berhenti pada viralitas. Namun, mampu mendorong pembahasan dan penyelesaian persoalan secara substantif.

Oleh karena itu, Neni mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk tidak takut menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik.

Keberanian tersebut perlu disertai literasi, etika, moralitas, serta pemahaman yang memadai terhadap persoalan yang dibicarakan.

Neni juga menekankan bahwa kebebasan berpendapat di ruang digital harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

Demokrasi yang sehat, kata dia, tidak hanya membutuhkan keberanian berbicara. Namun, budaya komunikasi yang menghargai perbedaan dan menjaga keadaban.

“Proses diskursus publik untuk demokrasi yang sehat itu tercipta ketika iklim percakapan di media sosial betul-betul beretika dan beradab. Online itu seharusnya menjadi kepanjangan yang lurus dari etika kita di kehidupan nyata,” jelasnya.

Ia berharap perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Bandung, terus menjadi ruang pendidikan yang membangun kompas moral generasi muda.

Kampus tidak hanya bertugas meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa. Namun, perlu menghadirkan ruang diskusi yang sehat untuk menguji informasi, membedah persoalan publik, dan melatih mahasiswa menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Di tengah lingkungan digital yang bergerak cepat, mahasiswa perlu membiasakan diri untuk tidak langsung mempercayai informasi yang muncul di lini masa.

Setiap informasi perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum dijadikan dasar kesimpulan maupun disebarluaskan kepada publik.

“Saya percaya iklim dan organisasi di perguruan tinggi mampu menghadirkan inovasi serta kreativitas dengan tetap mengedepankan etika, moralitas, dan keadaban demi membangun peradaban bangsa yang lebih baik,” pungkas Neni.***(Hikma/Althof/Fauzan)

Administrator

Fathul Wahid Ingatkan Mahasiswa UM Bandung Jangan Hanya Kritis di Media Sosial

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fathul Wahid mengajak mahasiswa baru UM Bandung rajin membaca, terutama buku-buku bertema pendidikan.

Dalam rangkaian Pesonamu UM Bandung, Selasa (22/9/2026), Fathul yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) periode 2018–2026 merekomendasikan novel karyanya, Sekolah Terakhir, sebagai salah satu bacaan bagi mahasiswa baru.

Menurutnya, buku tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk melihat dan merefleksikan persoalan pendidikan. “Untuk mahasiswa baru, kebetulan saya ada novel tulisan saya, judulnya Sekolah Terakhir. Itu kalau dibaca juga bisa jadi salah satu pintu masuk,” ujarnya.

Selain Sekolah Terakhir, Fathul menyarankan Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire serta karya Ivan Illich yang membahas gagasan tentang masyarakat tanpa sekolah.

Menurut Fathul, membaca penting untuk memperluas wawasan karena pendidikan di perguruan tinggi tidak cukup hanya melalui perkuliahan di kelas.

Dalam sesi bertema “Mahasiswa Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Membangun Generasi Unggul dan Berdampak”, Fathul juga mengingatkan mahasiswa agar memandang kesempatan berkuliah sebagai sebuah nikmat.

“Ketika orang sadar itu nikmat, maka harus bersyukur. Nah, ketika orang bersyukur, itu bahagia,” katanya.

Rasa syukur tersebut, lanjutnya, perlu diwujudkan melalui proses belajar, pengembangan diri, organisasi, dan membangun jaringan.

“Ketika orang memandang masa depan dengan optimisme, maka dia akan berkemas-kemas dengan baik. Belajar dengan baik, mengembangkan diri dengan baik, termasuk berorganisasi, membangun jaringan,” jelasnya.

Fathul juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya kritis di media sosial, tetapi ikut terlibat dalam kegiatan nyata di masyarakat.

Menurutnya, kontribusi dapat dimulai dari lingkungan sekitar tanpa harus menunggu kegiatan besar. “Yang ada di sekitar mereka saja, enggak harus jauh-jauh,” ujarnya.

Ia mencontohkan mahasiswa dapat mendampingi anak-anak kurang mampu atau membantu kegiatan belajar masyarakat di sekitar kampus.

“Dan saya yakin anak sekarang kan senang kalau ada kebermaknaan kan?” tuturnya.

Fathul berharap mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk terus membaca, belajar, mengembangkan diri, membangun relasi, dan memberikan manfaat.

Dengan begitu, pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga pribadi yang berwawasan luas dan bermanfaat bagi lingkungan.***(Hikma/Althof/Fauzan)

Administrator

Empat Kunci Membentuk Mahasiswa UM Bandung yang Unggul

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pendidikan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, kampus diharapkan mampu membentuk pribadi yang berakhlak, mandiri, mampu memimpin, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dikdik Dahlan Lukman dalam Baitul Arqam Mahasiswa Baru UM Bandung, Kamis–Jumat (24–25/9/2026), di Auditorium KH Ahmad Dahlan.

Dalam materi bertajuk “Kampus Islamiku: Islamic Technopreneurial University”, Dikdik menjelaskan empat bekal utama yang perlu dimiliki mahasiswa UM Bandung, yakni karakter islami, kemandirian, leadership, dan kebermanfaatan.

Menurutnya, keempat aspek tersebut saling berkaitan dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik.

Namun, bagaimana mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, agama, dan negara secara lebih luas.

Karakter Islami Menjadi Fondasi

Dikdik mengatakan karakter islami tidak terbentuk secara instan. Nilai-nilai Islam perlu dipahami, dilatih, dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi bagian dari kepribadian.

Ia menjelaskan empat tingkatan kepribadian, yakni muslim, mukmin, muhsin, dan muttaqin.

Pada tahap muslim, mahasiswa diarahkan untuk meneladani akhlak Nabi, bersikap jujur dan amanah, serta rajin beribadah.

Selanjutnya, seorang mukmin dituntut memiliki keyakinan kepada Allah, hati yang bersih, dan keikhlasan dalam beramal.

Adapun muhsin merupakan pribadi yang senantiasa berbuat baik dan merasa diawasi Allah. Sementara muttaqin digambarkan sebagai pribadi yang konsisten dalam kebaikan, membawa kedamaian, peduli terhadap kehidupan sosial, dan berpikir positif.

“Karakter islami bukan sesuatu yang langsung sempurna. Ada tingkatan yang perlu kita pahami dan capai satu per satu,” kata Dikdik.

Menurutnya, pembentukan karakter membutuhkan proses berkelanjutan. Karena itu, nilai-nilai Islam harus terus dibangun melalui kebiasaan hingga melekat dalam perilaku mahasiswa.

Kemandirian dan Leadership

Selain karakter islami, Dikdik menekankan pentingnya kemandirian dan leadership sebagai bekal menghadapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks.

Kemandirian, kata dia, mencakup kemampuan berpikir kreatif dan inovatif, bekerja sama, serta menyelesaikan berbagai persoalan. Sementara leadership bukan sekadar kemampuan memimpin, tetapi juga kemampuan memberdayakan orang lain dan menciptakan nilai positif.

“Kemandirian dan leadership adalah dua kemampuan yang saling melengkapi untuk membentuk technopreneur muslim yang tangguh,” ujarnya.

Dalam konsep Islamic Technopreneurial University, kemampuan tersebut diarahkan pada prophetic leadership, yakni kepemimpinan yang membawa nilai-nilai Islam ke dalam dunia teknologi dan bisnis.

Dikdik menggambarkan prophetic leadership sebagai kemampuan untuk “memimpin, memberdayakan orang lain, melayani Allah, dan menciptakan nilai positif.”

Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan potensi diri, tetapi juga mampu menggerakkan dan memberikan dampak positif bagi orang lain.

Ilmu dan Teknologi Harus Bermanfaat

Kebermanfaatan menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Dikdik kepada mahasiswa baru. Menurutnya, ilmu, akhlak, kreativitas, inovasi, kemandirian, dan kepemimpinan pada akhirnya harus menghasilkan manfaat nyata.

“Akhlak dan hasil kerja tidak akan bermakna jika tidak memberikan manfaat nyata bagi orang lain,” tandasnya.

Ia menegaskan, kebermanfaatan perlu menjadi perhatian utama mahasiswa ketika mengembangkan kemampuan maupun menghasilkan karya.

“Manfaat yang diberikan lebih penting dibandingkan dengan kreasi atau inovasi apa pun yang dihasilkan,” tegas Dikdik.

Pesan tersebut, menurutnya, semakin relevan di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang terus mengubah berbagai aspek kehidupan.

Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan ilmu dan teknologi yang dikuasai digunakan untuk memberikan dampak positif.

Oleh karena itu, perjalanan mahasiswa di UM Bandung tidak semestinya berhenti pada pencapaian akademik.

Kampus diharapkan menjadi ruang pembentukan pribadi yang berakhlak, mandiri, mampu memimpin, sekaligus memiliki kepedulian dan kebermanfaatan bagi masyarakat.***(FK/FA)

Administrator