Berita

Rektor Optimistis UM Bandung Kian Berdaya Saing dan Berdampak Luas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Herry Suhardiyanto menegaskan komitmen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung untuk terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pembuka dalam Pengajian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat di Auditorium KH Ahmad Dahlan, kampus UM Bandung, Sabtu (16/05/2026).

Dalam kesempatan itu, Herry menyebut kehadiran Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjadi momen penting bagi keluarga besar UM Bandung.

Menurutnya, kehadiran pimpinan Muhammadiyah memberikan semangat sekaligus dorongan bagi sivitas akademika untuk terus bergerak memajukan pendidikan dan dakwah.

“Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan yang sangat besar bagi kami dapat menerima kehadiran Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di kampus UM Bandung.

Kehadiran beliau tentu menjadi energi spiritual, motivasi perjuangan, sekaligus penguat langkah bagi kami seluruh sivitas akademika untuk terus bergerak memajukan pendidikan Muhammadiyah dan memberikan manfaat nyata bagi umat dan bangsa,” ujarnya.

Herry menjelaskan, UM Bandung yang berdiri pada 14 Juni 2016 atau bertepatan dengan 9 Ramadan 1437 Hijriah terus berkembang secara bertahap.

Dari kampus dengan keterbatasan program studi dan fasilitas pada awal berdiri, UM Bandung kini menunjukkan kemajuan pada aspek kelembagaan, akademik, sumber daya manusia, hingga kontribusi sosial kemasyarakatan.

Saat ini, UM Bandung mengusung visi jangka panjang menjadi Islamic Technopreneurial University yang unggul dan memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa pada tahun 2045.

Visi tersebut diwujudkan melalui penguatan pendidikan inovatif, penelitian, pengabdian masyarakat, internalisasi nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan, serta tata kelola universitas yang profesional dan berkelanjutan.

Hingga tahun 2026, UM Bandung memiliki 5.565 mahasiswa, 239 dosen, dan 173 tenaga kependidikan.

Herry menyebut capaian tersebut menjadi amanah besar untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan serta menghasilkan lulusan yang unggul, berakhlak, berdaya saing, dan berdampak. 

Ia juga optimistis UM Bandung akan terus berkembang, termasuk melalui rencana pengembangan kampus di masa mendatang.***

Administrator

Penguatan Ekonomi Jadi Kunci Kemandirian Warga Muhammadiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Haedar Nashir menegaskan pentingnya penguatan ekonomi sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian warga Muhammadiyah.

Menurutnya, sektor ekonomi saat ini memiliki posisi strategis karena mampu memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk arah politik. 

Oleh karena itu, warga Muhammadiyah, khususnya di Jawa Barat, didorong untuk memiliki keberdayaan ekonomi agar tidak bergantung kepada pihak lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar saat mengisi Pengajian PWM Jawa Barat di Auditorium KH Ahmad Dahlan lantai tiga kampus UM Bandung, Sabtu (16/05/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi perkembangan Muhammadiyah Jawa Barat yang dinilai menunjukkan kemajuan yang positif dan inspiratif.

“Muhammadiyah Jawa Barat saat ini memiliki sinar, harapan, dan jejak baru yang sangat bagus. Dan ini tentu merupakan inspirasi yang sangat penting,” ujar Haedar yang disambut tepuk tangan peserta pengajian.

Haedar menjelaskan bahwa penguatan ekonomi tidak bisa dipandang sebagai aspek pelengkap dalam gerakan Muhammadiyah.

Menurutnya, majelis ekonomi memiliki peran yang sama penting dengan majelis tablig. Aktivitas dakwah dan pengajian, kata dia, harus berjalan seiring dengan penguatan kesejahteraan masyarakat agar tercipta kemandirian yang nyata.

“Mengaji harus berjalan baik, tetapi kondisi ekonomi juga harus terjaga. Jika ingin banyak pendapatan, janganlah terlalu banyak pendapat,” katanya.

Selain penguatan ekonomi, Haedar juga menekankan pentingnya kedisiplinan dan tata kelola organisasi yang baik. Menurutnya, pengelolaan organisasi yang tertib menjadi faktor penting agar

Muhammadiyah terhindar dari konflik internal maupun persoalan hukum yang dapat menghambat gerak persyarikatan.

Lebih jauh, Haedar mengajak warga Muhammadiyah untuk terus berlomba dalam kebaikan sebagaimana pesan Surah Al-Baqarah ayat 148.

Ia menegaskan bahwa semangat beragama tidak cukup diwujudkan dalam ibadah personal.

Namun, harus hadir dalam bentuk kontribusi nyata di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan kebangsaan.

Menurut Haedar, Muhammadiyah harus terus menjadi gerakan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Prinsip khairunnas anfauhum linnas atau sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama harus menjadi pijakan utama dalam gerakan Muhammadiyah.

“Ketika ada masyarakat marginal, Muhammadiyah harus hadir di situ. Ketika bangsa memerlukan, Muhammadiyah juga harus hadir,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar seluruh amal usaha dan lembaga Muhammadiyah, termasuk institusi pendidikan seperti UM Bandung, terus bergerak menjadi lembaga yang unggul, berkemajuan, berdaya saing, dan berdampak nyata.

Menurutnya, keunggulan bukan sekadar slogan, tetapi harus dibuktikan melalui kualitas, prestasi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat luas.***

Administrator

Kecerdasan Hakiki dalam Pandangan Islam Tak Hanya Soal Intelektual

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pemahaman tentang kecerdasan selama ini kerap dibatasi pada kemampuan intelektual atau kecakapan berpikir. Padahal, dalam perspektif Islam, kecerdasan memiliki makna yang lebih luas, mencakup dimensi spiritual, emosional, serta kesiapan manusia menghadapi kehidupan setelah kematian.

Hal tersebut disampaikan Kaprodi PAI Universitas Muhammadiyah Bandung Iim Ibrohim dalam kajian rutin di Masjid Mujahidin, Jalan Sancang Nomor 6, Kota Bandung, Senin (11/05/2026). Menurutnya, Islam menawarkan cara pandang yang lebih utuh mengenai hakikat kecerdasan manusia.

Dalam kesempatan itu, Iim mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat kesehatan dan kesempatan hidup yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa taala. Menurutnya, rasa syukur tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, tetapi perlu tercermin dalam upaya memperbaiki diri melalui ibadah, amal saleh, dan peningkatan kualitas spiritual.

“Selama Allah masih memberikan kesehatan dan kesempatan hidup, maka itu adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Jangan sampai umur yang Allah berikan berlalu tanpa mendekatkan diri kepada-Nya,” ujarnya.

Iim menjelaskan, masyarakat sering memaknai kecerdasan sebatas kemampuan akademik dan pencapaian duniawi. Padahal, Islam memandang kecerdasan sebagai kesatuan antara kemampuan berpikir, kedalaman iman, serta kematangan akhlak.

Ia menambahkan, Rasulullah SAW telah memberikan ukuran berbeda mengenai kemuliaan seorang mukmin. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, atau luasnya pengetahuan, melainkan oleh kualitas akhlaknya. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa sebaik-baik mukmin adalah mereka yang memiliki akhlak terbaik.

Lebih lanjut, Iim mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan ciri mukmin paling cerdas, yakni mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.

Menurutnya, hadis tersebut memberikan pesan mendalam bahwa kecerdasan hakiki tidak berhenti pada keberhasilan membangun masa depan dunia, melainkan juga kesiapan menghadapi kehidupan akhirat.

“Kecerdasan hakiki menurut Islam bukan sekadar kecerdasan akademik atau keberhasilan dunia. Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya,” katanya.

Ia menegaskan, kesadaran terhadap kematian bukanlah ajakan untuk hidup dalam ketakutan atau kecemasan. Sebaliknya, kesadaran tersebut dapat menjadi sarana refleksi agar manusia lebih memahami makna kehidupan dan menggunakan waktu yang dimiliki secara lebih bijaksana.

Menurut Iim, seseorang yang menyadari bahwa hidup memiliki batas waktu akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih bertanggung jawab terhadap setiap keputusan, serta lebih sungguh-sungguh dalam memperbaiki hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.

Dalam kajiannya, Iim juga menyinggung penjelasan Al-Qur’an mengenai perjalanan hidup manusia. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 28 yang menggambarkan proses manusia dari ketiadaan, kemudian dihidupkan, dimatikan, dan kelak dibangkitkan kembali.

Ayat tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi ibadah sepanjang hayat. Mengutip Surah Al-Hijr ayat 99, Iim menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk terus beribadah hingga datangnya kematian.

“Ibadah tidak mengenal masa pensiun. Sampai ajal datang, manusia diperintahkan untuk terus menjaga hubungan dengan Allah dan menjaga hubungan baik dengan sesama,” tuturnya.

Iim juga mengingatkan bahwa kematian merupakan ketentuan yang pasti dan tidak mengenal usia, jabatan, ataupun kondisi fisik. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu datangnya ajal selain Allah SWT, persiapan spiritual tidak seharusnya ditunda.

Menutup kajiannya, Iim mengajak jamaah menjadikan ingatan terhadap kematian sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperbaiki amal, bukan sebagai sumber kecemasan.

“Orang yang benar-benar mengingat kematian akan lebih berhati-hati menjaga amal, menjauhi maksiat, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan terus berharap meraih rida Allah. Dengan begitu, hidup menjadi lebih tenang, lebih bermakna, dan penuh keberkahan,” pungkasnya.***

Administrator

Kalahkan Ribuan Mahasiswa, Althof dari UM Bandung Raih Tiket Google Student Ambassador 2026

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siapa sangka, rasa penasaran gara-gara sering scrolling media sosial bisa berbuah pencapaian besar.

Itulah yang dialami Nisa Aghnia Nurul Al Thof, atau yang biasa disapa Althof, mahasiswi prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang berhasil menembus seleksi ketat Google Student Ambassador (GSA) 2026. 

Dari lebih dari 81.800 mahasiswa yang mendaftar dari sekitar 1.900-an universitas se-Indonesia, hanya 2.000 orang yang terpilih dan Althof jadi salah satunya.

Ceritanya sederhana. Althof sering melihat informasi soal GSA berseliweran di media sosial, dan rasa penasaran itu akhirnya mendorongnya untuk mencari tahu lebih jauh.

Dia mulai menelusuri akun resmi GSA, membaca pengalaman para alumni tahun sebelumnya, lalu pelan-pelan memahami sendiri pola dan proses seleksinya, dari nol, secara mandiri.

Perjalanan Althof tentu bukan tanpa hambatan. Masa onboarding GSA ternyata bentrok dengan jadwal lomba yang sedang dia ikuti, sehingga dia harus pintar-pintar membagi waktu antara dua hal sekaligus.

Belum lagi, dia mengaku belum punya pengalaman sebagai content creator, salah satu bagian dari proses seleksi GSA. Tapi justru di situlah serunya. 

Tantangan itu malah jadi ruang belajar baru bagi Althof, yang akhirnya terjun langsung ke dunia pembuatan konten digital dan personal branding lewat pendekatan learning by doing.

Program GSA sendiri ternyata bukan cuma soal teknologi dan kecerdasan buatan. Althof mengaku banyak hal lain yang dia petik selama mengikuti program ini, mulai dari kemampuan komunikasi, kreativitas, hingga cara beradaptasi di era digital yang terus bergerak cepat. 

"Program Google Student Ambassador sendiri mendorong para mahasiswa untuk menjadi agen perubahan di lingkungan kampus dengan membawa semangat inovasi, kolaborasi, dan literasi teknologi yang lebih luas," ujarnya di kampus UM Bandung, Jumat (15/05/2026).

Ada satu pesan yang rupanya membekas kuat di benak Althof sejak inaugurasi Google, "jangan mendegradasi otak dengan AI." 

Baginya, kalimat itu bukan larangan, tapi pengingat penting. AI seharusnya jadi alat bantu untuk mendongkrak produktivitas dan kreativitas, bukan pelarian dari kerja berpikir kritis. 

Ke depan, Althof berharap kehadiran GSA di kampus bisa mendorong lebih banyak mahasiswa memanfaatkan AI secara bijak, maksimal dalam konteks akademik, tapi tetap dalam koridor regulasi yang berlaku.

Karena pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun saat ini, tetap saja membutuhkan manusia atau SDM yang mau berpikir.***

Administrator

Dosen UM Bandung Kenalkan Konsep Islamic Academic Climate di Panggung Akademik Global

UMBANDUNG.AC.ID, Thailand -- Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Nurlaela Hamidah, kembali menorehkan kiprah akademik di tingkat internasional.

Ia tampil sebagai presenter dalam seminar internasional yang diselenggarakan di Faculty of Social Sciences and Humanities, Mahidol University, Salaya, Thailand, Selasa (12/05/2026).

Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan beragam isu strategis global, mulai dari persoalan sosial, pendidikan, kesehatan mental, hingga tantangan lingkungan di era modern. 

Di tengah ruang akademik yang mempertemukan berbagai perspektif keilmuan itu, Nurlaela membawa gagasan yang menawarkan pendekatan baru dalam psikologi pendidikan, khususnya dari perspektif nilai-nilai Islam.

Dalam forum tersebut, Nurlaela mempresentasikan artikel ilmiah berjudul “Goal Orientation, Student Engagement, and Academic Climate in Higher Education: A Systematic Literature Review Toward Conceptualizing Islamic Academic Climate as a Moderator.”

Penelitian yang dipresentasikannya merupakan hasil kajian berbasis Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis bibliometrik menggunakan perangkat VOSviewer.

Pendekatan ini digunakan untuk memetakan perkembangan penelitian serta mengidentifikasi arah kecenderungan kajian dalam bidang psikologi pendidikan.

Kajian tersebut berangkat dari sebuah temuan penting: pembahasan mengenai iklim akademik selama ini lebih banyak dibangun dari perspektif Barat dan sekuler.

Sementara itu, dimensi nilai dan spiritualitas Islam masih relatif jarang dihadirkan sebagai variabel formal dalam model ilmiah.

Berangkat dari celah tersebut, Nurlaela menawarkan konsep Islamic Academic Climate atau iklim akademik Islami sebagai variabel moderator yang dapat menjelaskan dinamika proses belajar mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam secara lebih komprehensif dan terukur.

Penelitian dilakukan dengan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) melalui tahapan identifikasi, penyaringan, kelayakan, hingga proses inklusi literatur.

Sumber kajian diperoleh dari dua basis data internasional bereputasi, yaitu Scopus dan Web of Science. Data kemudian dianalisis menggunakan beberapa pendekatan bibliometrik, seperti keyword co-occurrence, co-authorship, citation, dan co-citation analysis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian mengenai goal orientation, student engagement, dan academic climate kini berkembang menjadi bidang multidimensional yang tidak lagi hanya menyoroti aspek psikologis individu, tetapi melibatkan dimensi sosial, kontekstual, hingga aspek nilai.

Menariknya, pemetaan menggunakan VOSviewer menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam penelitian pendidikan.

Jika sebelumnya pendekatan individual lebih dominan, kini berkembang menuju perspektif ekologis yang lebih holistik dan mempertimbangkan berbagai faktor lingkungan.

Nurlaela menjelaskan bahwa konsep Islamic Academic Climate yang ditawarkannya bekerja melalui empat mekanisme utama.

Pertama, memperkuat mastery goal orientation melalui internalisasi nilai ihsan, sehingga mahasiswa terdorong memaknai aktivitas belajar sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian.

Kedua, mengurangi dampak negatif performance-avoidance melalui atmosfer rahmah yang menciptakan lingkungan akademik aman secara psikologis.

Ketiga, membangun sense of academic community melalui semangat ukhuwah akademik yang mendorong kolaborasi serta solidaritas antarmahasiswa.

Keempat, menghadirkan makna transendental dalam proses pembelajaran sehingga motivasi intrinsik mahasiswa menjadi lebih kuat, mendalam, dan berkelanjutan.

Konsep tersebut tidak berdiri sendiri. Nurlaela menjelaskan bahwa gagasannya diperkuat oleh berbagai penelitian empiris dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia.

Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasis Islam, supervisi akademik, serta iklim organisasi yang berlandaskan nilai Islam memiliki kontribusi signifikan terhadap kualitas atmosfer akademik.

Menurut Nurlaela, penelitian ini memiliki kontribusi pada dua level sekaligus: teoretis dan praktis. Dari sisi teoretis, penelitian ini memperluas literatur global mengenai iklim akademik dengan memasukkan dimensi nilai dan spiritualitas Islam.

Sementara dari sisi praktis, penelitian tersebut menawarkan kerangka analisis yang lebih relevan secara kultural bagi pengambil kebijakan di perguruan tinggi Islam, termasuk di lingkungan Universitas Muhammadiyah.

“Perguruan tinggi Islam memiliki modal nilai yang sangat kaya. Sudah saatnya modal itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi dikonseptualisasikan secara ilmiah dan diintegrasikan dalam model-model psikologi pendidikan,” ujar Nurlaela dalam presentasinya.

Presentasi tersebut mendapatkan respons positif dari peserta seminar internasional. Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif, melibatkan akademisi serta praktisi lintas negara yang mendalami posisi konstruk berbasis nilai keislaman dalam kerangka psikologi pendidikan modern.

Partisipasi Nurlaela di Mahidol University juga menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi akademisi Indonesia di panggung global.

Sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Asia Tenggara, Mahidol University selama ini dikenal sebagai ruang strategis bagi kolaborasi akademik lintas disiplin dan lintas budaya.

Keikutsertaan Nurlaela dalam forum tersebut sekaligus mencerminkan komitmen Universitas Muhammadiyah Bandung dalam mendorong lahirnya akademisi yang tidak hanya unggul secara intelektual.

Namun, mampu menghadirkan perspektif keilmuan Islam berkemajuan dalam percakapan akademik dunia.***

Administrator

Budaya Populer Bisa Menjadi Media Dakwah yang Efektif

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi KPI Universitas Muhammadiyah Bandung Ahmad Rifai menilai fenomena lagu viral dan budaya populer saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai hiburan sesaat yang muncul lalu menghilang. 

Menurutnya, di balik popularitas sebuah karya sering tersimpan pesan sosial, nilai kemanusiaan, hingga refleksi keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Ahmad Rifai saat mengisi Program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (12/05/2026).

Dalam kesempatan itu, ia mengangkat lagu viral Siti Marwani sebagai objek kajian budaya populer dari perspektif filsafat seni dan dakwah kultural.

Menurut Rifai, lagu yang ramai diperbincangkan di berbagai platform digital tersebut tidak sekadar menjadi fenomena hiburan biasa.

Ia menilai Siti Marwani menyimpan kritik sosial yang kuat serta menggambarkan berbagai persoalan yang dekat dengan realitas masyarakat.

"Fenomena budaya populer hari ini tidak bisa dipandang sekadar hiburan yang lewat begitu saja. Lagu viral sering kali menyimpan pesan sosial, kritik, bahkan suara masyarakat yang mungkin tidak tersampaikan melalui ruang-ruang formal,” ujar Ahmad Rifai.

Ia menjelaskan bahwa dalam filsafat seni terdapat dua pendekatan utama untuk membaca fenomena budaya populer.

Pertama, seni dipahami sebagai ekspresi yang menjadi ruang penyaluran emosi dan pengalaman otentik penciptanya.

Kedua, seni dipandang sebagai kritik sosial yang berfungsi menyuarakan ketidakadilan dan menghadirkan perlawanan simbolik terhadap realitas masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, karya seni tidak hanya dinikmati, tetapi juga dapat dimaknai secara lebih mendalam.

Rifai menilai salah satu alasan Siti Marwani mudah diterima masyarakat adalah karena memiliki kejujuran emosional yang kuat.

Meski dikemas secara sederhana, lagu tersebut dianggap mampu menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kadang-kadang masyarakat tidak mencari karya yang rumit. Mereka mencari sesuatu yang terasa dekat dengan pengalaman hidupnya. Kejujuran emosional itu yang membuat lagu seperti Siti Marwani mudah diterima,” kata Ketua LSBO PWM Jawa Barat tersebut.

Lebih jauh, Rifai menjelaskan bahwa lagu Siti Marwani juga memiliki dimensi identitas budaya yang kuat.

Nama tersebut disebut sebagai representasi masyarakat Sumatera Utara, khususnya Labuhan Batu, yang digunakan untuk menghubungkan pesan lagu dengan realitas sosial setempat.

Menurutnya, lirik lagu tersebut memuat kritik terhadap penyalahgunaan narkoba, ketidakadilan hukum, hingga ketimpangan ekonomi.

Mengaitkan hal itu dengan perspektif Muhammadiyah, Rifai menegaskan bahwa budaya populer dapat menjadi bagian dari dakwah kultural yang relevan di era digital.

“Dakwah hari ini perlu masuk ke ruang-ruang budaya populer dan media sosial. Selama substansi nilainya baik dan membawa pesan kebaikan, budaya dapat menjadi jembatan dakwah yang efektif,” pungkasnya.***(FA)

Administrator