Berita

Dosen UM Bandung Serukan Kurban Berkualitas, Ikhlas, dan Minim Sampah Plastik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman mengajak masyarakat memaknai ibadah kurban tidak hanya sebagai ritual penyembelihan hewan.

Namun, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Dalam kajian GSM Aisyiyah Jawa Barat pada Jumat (08/05/2026), Buya Cecep, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa Islam mengajarkan banyak jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Menurutnya, amalan kecil sekalipun dapat bernilai besar apabila dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh keikhlasan.

“Memotong hewan di hari Idul Adha dan hari Tasyrik bukan satu-satunya cara mendekatkan diri kepada Allah, melainkan salah satu media ibadah. Dekat dengan Allah bukan secara fisik, tetapi secara spiritual,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa kedekatan spiritual dengan Allah dapat dimaknai sebagai usaha menjadi pribadi yang mulia, memperoleh keberkahan hidup, dan mendapatkan perhatian dari Allah.

Buya Cecep mengibaratkan kedekatan itu seperti seorang anak yang merasa tenteram berada di dekat orang tuanya atau murid yang nyaman bersama gurunya.

Dalam pemaparannya, Buya Cecep juga menjelaskan istilah kurban dalam perspektif fikih. Dia menyebut bahwa istilah yang tepat untuk hewan yang disembelih pada hari Nahar dan Tasyrik adalah “udhiyah” atau “adahi”, sedangkan kurban merupakan tujuan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dia mengutip pendapat Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqhus Sunah yang menjelaskan bahwa udhiyah adalah hewan seperti unta, sapi, atau kambing yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha dan hari Tasyrik sebagai bentuk taqarub kepada Allah.

Selain menjelaskan aspek fikih, Buya Cecep juga menyoroti pentingnya keikhlasan dan kualitas dalam berkurban. Dia mengangkat kisah Kabil dan Habil dalam Surah Al-Maidah ayat 27 sebagai pelajaran tentang makna ketakwaan dan pengorbanan terbaik di hadapan Allah.

Menurutnya, Allah tidak melihat bentuk fisik kurban semata, melainkan ketulusan hati dan kualitas pengorbanan dari orang yang melaksanakannya.

“Dalam berkurban harus memberikan yang terbaik dari hasil yang halal, bukan sesuatu yang asal-asalan atau dipaksakan. Yang sampai kepada Allah bukan darah dan dagingnya, melainkan ketakwaannya,” katanya.

Buya Cecep juga menegaskan bahwa hewan kurban harus dibeli menggunakan harta pribadi yang halal. Sebab, ibadah kurban merupakan ibadah personal yang membutuhkan niat tulus dari individu yang berkurban.

Tak hanya itu, dia mengajak masyarakat untuk menghadirkan nilai sosial dan kepedulian lingkungan dalam pelaksanaan kurban.

Dia mendorong umat Islam untuk membagikan daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan sekaligus menggunakan pembungkus ramah lingkungan guna mengurangi sampah plastik saat distribusi daging kurban.

Menurutnya, semangat kurban sejatinya mengajarkan manusia untuk peduli kepada sesama dan menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.***(FA)

Administrator

Generasi Z Tertarik Muhammadiyah karena Rasional dan Modern

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Fenomena “Login Muhammadiyah” yang ramai diperbincangkan di media sosial dinilai menjadi cerminan meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap cara beragama yang lebih rasional, modern, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa generasi Z dan alfa mulai aktif mencari referensi keagamaan yang mudah dipahami, dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta mampu menjawab tantangan sosial masa kini.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung Dadang Kahmad menilai fenomena “Login Muhammadiyah” bukan sekadar tren digital sesaat.

Menurutnya, istilah tersebut lahir dari budaya generasi muda yang akrab dengan teknologi dan media sosial sebagai ruang untuk mencari informasi, berdiskusi, hingga mengenal organisasi keagamaan.

Dadang menjelaskan bahwa istilah “login” menggambarkan proses anak muda mengenal Muhammadiyah melalui berbagai platform digital.

Mereka mengakses konten dakwah, pandangan keagamaan, gerakan sosial, hingga aktivitas pendidikan Muhammadiyah yang tersebar luas di media sosial dan internet.

Dia mengungkapkan, hasil survei nasional yang dilakukan Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan pada Maret-April 2026 menunjukkan lebih dari 90 persen anak muda Indonesia merasa bangga terhadap Muhammadiyah.

Menariknya, hampir setengah dari responden tersebut bukan berasal dari kalangan kader Muhammadiyah, melainkan masyarakat umum di luar organisasi.

Menurut Dadang, tingginya ketertarikan generasi muda terhadap Muhammadiyah tidak terlepas dari karakter organisasi yang dinilai modern, rasional, dan memiliki sistem yang tertata dengan baik.

Muhammadiyah juga dianggap mampu menghadirkan pendekatan keagamaan yang sederhana, terbuka, dan mudah dipahami oleh generasi masa kini.

“Anak-anak muda sekarang cenderung menyukai cara beragama yang tidak rumit, rasional, dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Muhammadiyah dianggap mampu menjawab kebutuhan itu,” ujarnya.

Selain pendekatan dakwah yang rasional, Dadang menilai kekuatan Muhammadiyah juga terletak pada bidang pendidikan.

Muhammadiyah memiliki sekolah dan perguruan tinggi yang bersifat umum, inklusif, dan terbuka bagi semua kalangan, termasuk nonmuslim.

Pendekatan pendidikan yang moderat tersebut membuat Muhammadiyah diterima luas oleh masyarakat dari berbagai latar belakang sosial dan budaya.

Di sisi lain, Muhammadiyah juga dikenal memiliki sistem organisasi yang kuat hingga tingkat ranting desa, dengan kepemimpinan yang berbasis ilmu pengetahuan dan tradisi akademik yang kokoh.

Meski demikian, Dadang mengingatkan bahwa tingginya ketertarikan generasi muda belum tentu membuat mereka bergabung secara formal dalam organisasi.

Oleh karena itu, Muhammadiyah harus terus berinovasi dalam dakwah dan pelayanan sosial dengan memperkuat aspek spiritualitas, hubungan sosial, intelektualitas, dan moralitas agar tetap relevan serta mampu menjawab kebutuhan spiritual dan sosial generasi muda Indonesia.***

Administrator

OPSI 2026 Diharapkan Tingkatkan Minat Generasi Muda di Bidang Akuntansi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Olimpiade Akuntansi (OPSI) 2026 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himaksi) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Rabu (06/05/2026) melahirkan sejumlah juara dari berbagai kategori lomba.

Ajang ini menjadi wadah bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan dan semangat kompetitif di bidang akuntansi.

Pada kategori esai, siswa SMKS Krija Bakti Utama, Agita Gian Azaria, berhasil meraih juara pertama. Gita mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut meski sempat menghadapi tantangan dalam menentukan ide dan judul esai.

“Tantangan terbesar saya saat membuat esai adalah mencari ide dan menentukan judul. Namun, saya yakin bisa melewatinya,” ujarnya.

Sementara itu, kategori cerdas cermat dimenangkan oleh tim SMK Insan Prima Mandiri Garut. Mereka mengungkapkan keberhasilan tersebut diraih melalui latihan intensif dan dukungan penuh dari guru pembimbing.

“Kami belajar setiap hari dari pagi sampai malam. Semua ini juga berkat bimbingan Ibu Indah yang sangat sabar,” ungkap mereka.

Adapun juara pertama kategori debat kembali diraih SMKS Krija Bakti Utama. Tim debat mengaku terkejut sekaligus bahagia karena baru pertama kali mengikuti lomba debat.

“Kami senang dan bersyukur bisa menjadi juara. Semua latihan dan arahan pembimbing sangat membantu,” ujar tim debat.

Kaprodi Akuntansi UM Bandung, Iman Harjono, mengapresiasi seluruh peserta dan panitia OPSI 2026. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga wadah untuk mengembangkan potensi dan membangun jejaring antarpelajar.

Sementara itu, Ketua Pelaksana OPSI 2026, Shyntia Putri Syafira, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berkembang dan berprestasi di bidang akademik, khususnya akuntansi.***

Administrator

Dekan FSH Harap Workshop Psikologi Islam Lahirkan Riset dan Kolaborasi Konkret

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora (FSH) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Irianti Usman, menegaskan bahwa pengembangan kurikulum Psikologi Islam memerlukan fondasi akademik yang kuat serta dukungan kolaborasi internasional agar dapat berkembang secara sistematis dan ilmiah.

Hal tersebut disampaikan Irianti dalam kegiatan "International Islamic Psychology Workshop: Tawhidic Epistemology and Practice" yang diselenggarakan FSH UM Bandung bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM) pada Kamis (07/05/2026).

Workshop internasional tersebut menghadirkan dua pakar Psikologi Islam dunia, yakni Shukran Abd. Rahman dan Usman Jaffer. Keduanya hadir untuk memperkuat pengembangan epistemologi dan praktik Psikologi Islam di lingkungan akademik.

Menurut Irianti, kehadiran para ahli tersebut menjadi langkah penting dalam membangun landasan ilmiah bagi pengembangan Psikologi Islam di Indonesia. “Kehadiran para ahli diharapkan mampu memberikan fondasi ilmiah yang kokoh bagi kita semua,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari ikhtiar UM Bandung dalam menjembatani penyusunan kurikulum Psikologi Islam yang valid, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Irianti menilai penyusunan kurikulum Psikologi Islam bukan pekerjaan sederhana. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi, pertukaran gagasan, dan pendampingan dari para ahli agar pengembangannya berjalan lebih komprehensif.

Workshop tersebut diikuti lebih dari 50 peserta yang berasal dari berbagai institusi dan organisasi, seperti dosen Psikologi UM Bandung, asosiasi Psikologi Islam, IMAMUPSI, ‘Aisyiyah, hingga perguruan tinggi seperti UIN dan UNISBA.

Menurut Irianti, keterlibatan berbagai unsur dalam forum ilmiah tersebut menjadi potensi besar untuk membangun jejaring dan kerja sama dalam pengembangan Psikologi Islam di masa depan.

Irianti juga menyampaikan apresiasi kepada Nor Faridah Abdul Manaf yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Termasuk membantu menghadirkan dua pakar Psikologi Islam dunia sebagai kontribusi terhadap pengembangan keilmuan berbasis Islam.

Melalui workshop ini, Irianti berharap forum ilmiah tersebut tidak berhenti pada diskusi semata. Namun, dapat berkembang menjadi kerja sama konkret dalam pengembangan kurikulum, penelitian bersama, dan integrasi nilai-nilai Islam dalam dunia akademik.***(FA)

Administrator

Himaksi UM Bandung Sukses Gelar OPSI 2026, Asah Kompetensi Akuntansi Generasi Muda

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himaksi) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menyelenggarakan Olimpiade Akuntansi (OPSI) 2026 pada Rabu (06/05/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini menjadi ajang kompetisi akademik dengan mempertandingkan tiga cabang lomba, yakni debat, cerdas cermat, dan esai, yang diikuti peserta dari berbagai sekolah.

Ketua Panitia OPSI 2026 Shyntia Putri Syafira menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta dan pendamping. Ia mengucapkan selamat datang sekaligus terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tahunan tersebut.

Menurut Shyntia, OPSI merupakan kompetisi tingkat nasional yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus meningkatkan daya saing generasi muda.

Selain itu, kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi pelajar untuk mengasah kompetensi di bidang akuntansi, terutama dalam menghadapi tantangan era ekonomi digital.

“Pada tahun ini, OPSI diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah dengan cabang lomba cerdas cermat, debat, dan esai. Kegiatan ini telah melalui berbagai tahapan, mulai dari perencanaan, publikasi, pendaftaran peserta, hingga technical meeting yang dilaksanakan secara daring pada 1 Mei 2026,” ujar Shyntia.

Ia berharap OPSI 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi para peserta.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan serta menjadi langkah awal bagi peserta untuk terus berkembang dan berprestasi di bidang akuntansi,” tambahnya.

Ketua Himaksi UM Bandung Muhammad Ziyan Ali Syahbana turut mengapresiasi tingginya antusiasme peserta. Ia menilai OPSI sebagai salah satu kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung lahirnya generasi muda yang unggul dan kompeten di bidang akuntansi.

Sementara itu, Kaprodi Akuntansi UM Bandung, Iman Harjono, menegaskan bahwa OPSI bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan momentum strategis untuk meningkatkan kompetensi sekaligus memperluas jejaring di tingkat nasional.

“Tema kegiatan ini, ‘Akuntan Muda Berdaya Saing Global di Era Ekonomi Digital’, sangat relevan dengan dinamika perekonomian saat ini. Kami berharap kegiatan ini mampu melahirkan calon akuntan yang memiliki keterampilan mumpuni,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti luasnya peran profesi akuntan yang tidak terbatas pada pekerjaan administratif semata. Akuntan, kata dia, memiliki peluang untuk menjadi entrepreneur, pemimpin perusahaan, hingga pengambil keputusan strategis di berbagai sektor.

“Melalui OPSI ini, peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar mengasah kemampuan analisis dan pemecahan masalah. Kami berharap lahir generasi akuntan muda yang unggul, berdaya saing global, serta menjunjung tinggi kejujuran dan integritas,” tegasnya yang disambut tepuk tangan peserta.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Bandung, Ia Kurnia, mengapresiasi konsistensi mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan ini.

Ia menilai OPSI sebagai ajang positif yang mampu mendorong terciptanya kompetisi sehat sekaligus meningkatkan kreativitas peserta.

Ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan juara sejati serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan fakultas.

“Kami berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan berkualitas, termasuk melalui rencana pembukaan program studi baru seperti S1 Bisnis Digital dan S2 Akuntansi,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Kaprodi PAI UM Bandung Ungkap 5 Indikator Pendidikan Islam Berkualitas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimaknai sebagai momentum refleksi untuk memperkuat sinergi antara nilai-nilai keislaman dan arah pendidikan nasional.

Hal tersebut disampaikan Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung Iim Ibrohim dalam kajian di Masjid Mujahidin pada Senin (04/05/2026).

Dalam paparannya, Iim menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada capaian akademik. Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk generasi yang utuh.

“Pendidikan harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tema Hardiknas 2026 yang diusung Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yakni “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu”.

Menurutnya, tema tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

“Mutu pendidikan adalah kesesuaian layanan dengan standar dan harapan masyarakat, yang pada akhirnya melahirkan lulusan yang berdaya saing,” jelasnya.

Lebih lanjut, Iim menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, mutu pendidikan memiliki landasan kuat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.

Ia menyebutkan terdapat lima indikator utama yang menjadi pijakan dalam membangun pendidikan Islam yang berkualitas.

Indikator pertama adalah penguatan akidah sebagaimana tercantum dalam QS. Luqman ayat 13.

“Generasi unggul adalah generasi yang memiliki tauhid yang kokoh dan terbebas dari kesyirikan,” tuturnya.

Indikator kedua adalah pembentukan akhlakul karimah. “Pendidikan harus melahirkan manusia berakhlak mulia sebagaimana nilai dalam QS. Al-Qalam,” tambahnya.

Selanjutnya, indikator ketiga adalah penguatan budaya literasi yang berakar dari perintah “iqra” dalam QS. Al-Alaq. Indikator keempat adalah penguasaan keterampilan aplikatif.

“Ilmu tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan, sebagaimana isyarat dalam QS. Al-Anfal ayat 60,” ujarnya.

Adapun indikator kelima adalah terbentuknya pribadi yang aman dan membawa manfaat bagi lingkungan.

Iim mengutip hadis riwayat Tirmidzi yang menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat dan tidak merugikan orang lain.

Untuk mewujudkan kelima indikator tersebut, Iim menekankan pentingnya konsep “Partisipasi Semesta”.

Ia menilai pendidikan tidak dapat berjalan optimal tanpa kolaborasi semua pihak. “Orang tua, guru, dan masyarakat harus terlibat aktif dalam proses pendidikan,” tegasnya.

Ia pun mengajak orang tua untuk berperan aktif dalam menumbuhkan budaya literasi anak melalui kebiasaan sederhana.

“Luangkan setidaknya 15 menit setiap hari untuk membacakan buku kepada anak. Kebiasaan ini akan menumbuhkan minat baca sejak dini,” imbaunya.

Di sisi lain, Iim juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dan dunia usaha dalam membangun ekosistem pendidikan yang komprehensif. 

“Peran industri sangat diperlukan, baik dalam mendukung proses pendidikan maupun dalam menyerap lulusan agar siap menghadapi dunia kerja,” katanya.

Menutup pemaparannya, Iim menegaskan bahwa kolaborasi dan sinergi menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan nasional.

“Upaya ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul untuk masa depan Indonesia,” pungkasnya.***

Administrator