Berita

Kekayaan Hayati Indonesia Belum Tergarap Maksimal, UM Bandung Perkuat Kolaborasi Riset

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kekayaan hayati Indonesia bukan sekadar warisan alam yang perlu dilestarikan. Namun, menyimpan potensi besar untuk melahirkan inovasi di bidang kesehatan, pangan, kosmetik, hingga sanitasi. 

Tantangannya, masih banyak tanaman lokal yang belum mendapatkan perhatian serius dari dunia riset, padahal berpotensi memiliki kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif yang bernilai.

Perspektif tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum dan Diskusi Kolaborasi Riset Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bertajuk “Natural-Based Innovation: Opportunities for Pharmaceutical, Functional Food, Cosmetics and Personal Care Products Research and Development” yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan, UM Bandung, Kamis (13/08/2026).

Kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa UM Bandung itu menghadirkan dosen Universiti Putra Malaysia (UPM) Yaya Rukayadi.

Forum ini tidak hanya membahas pemanfaatan bahan alam. Namun, memperluas cara pandang sivitas akademika tentang pentingnya menghubungkan kekayaan lokal dengan riset ilmiah dan kolaborasi lintas institusi.

Wakil Rektor III UM Bandung Ahmad Diponegoro mengatakan, kehadiran akademisi dengan pengalaman penelitian di tingkat internasional dapat menjadi pemantik bagi sivitas akademika untuk memperluas jejaring dan menghasilkan kerja sama riset yang lebih konkret.

“Apa yang diberikan oleh Profesor Yaya yang sudah berpengalaman di mancanegara dapat menjadi inspirasi kita untuk kolaborasi riset, kolaborasi penelitian, dan pengabdian,” kata Ahmad.

Ia berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan. Namun, melihat penelitian sebagai ruang untuk mengembangkan gagasan dan menjawab persoalan nyata di masyarakat.

“Kepada para mahasiswa juga diharapkan mendapatkan wawasan yang luas mengenai ilmu pengetahuan yang beliau tekuni,” ujarnya.

Menurut Ahmad, kuliah umum semestinya tidak berhenti pada penyampaian materi. Pengetahuan yang diperoleh perlu dikembangkan menjadi diskusi, penelitian bersama, ataupun program pengabdian yang memberikan dampak nyata.

“Kami berharap kegiatan ini ada diskusi yang sangat baik untuk kita manfaatkan,” tuturnya. Ahmad kemudian secara resmi membuka kegiatan Guest Lecture & Discussion on Research Collaboration tersebut.

Dari Obat hingga Pangan Fungsional

Dalam paparannya, Yaya menjelaskan bahwa pemanfaatan bahan alam memiliki spektrum yang jauh lebih luas daripada sekadar pengembangan obat.

Bahan alami dapat diteliti untuk menghasilkan functional food, kosmetik, produk personal care, bahan sanitasi, hingga pengawet alami.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah neglected plants, yakni tanaman yang relatif kurang mendapat perhatian dalam pengembangan riset, meskipun berpotensi memiliki kandungan nutrisi atau aktivitas biologis yang bermanfaat.

Konsep tersebut menjadi penting karena Indonesia memiliki keragaman tanaman dan pangan lokal yang sangat luas.

Sejumlah bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kenikir, sawo, oncom, dage, dan buah buni, dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Dengan demikian, bahan lokal tidak hanya dipandang sebagai bagian dari tradisi kuliner atau budaya. Namun, sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikaji menggunakan pendekatan ilmiah.

Temulawak dan Daun Salam Jadi Contoh

Salah satu tanaman yang dibahas dalam forum tersebut adalah temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb).

Tanaman yang telah lama dimanfaatkan masyarakat ini diketahui mengandung sejumlah komponen aktif, termasuk kurkuminoid dan xanthorrhizol, yang hingga kini terus menjadi objek penelitian.

Contoh lain adalah daun salam (Syzygium polyanthum), tanaman yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Selain digunakan sebagai bumbu masakan, daun salam memiliki peluang untuk dikaji melalui penelitian aktivitas antimikroba serta potensi pemanfaatannya sebagai food grade sanitizer dan natural food preservative.

Meski demikian, Yaya menekankan bahwa potensi bahan alam tidak boleh langsung disamakan dengan klaim manfaat kesehatan.

Setiap bahan tetap membutuhkan proses penelitian dan pengujian yang memadai sebelum dapat dikembangkan menjadi produk.

Pengembangan bahan alam perlu ditopang penelitian sistematis, pengujian aktivitas biologis, kajian keamanan, serta pembuktian ilmiah.

Pendekatan tersebut penting untuk memastikan produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara komersial, tetapi aman, efektif, dan memenuhi standar yang berlaku.

Kearifan Lokal dan Sains Harus Berjalan Bersama

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa kearifan lokal dan sains modern dapat saling menguatkan.

Pengetahuan masyarakat mengenai tanaman tertentu dapat menjadi titik awal munculnya pertanyaan penelitian.

Sementara metode ilmiah diperlukan untuk menguji, mengembangkan, dan membuktikan potensinya.

Bagi UM Bandung, forum ini menjadi momentum strategis untuk memperluas wawasan sivitas akademika sekaligus membuka peluang kolaborasi penelitian dan pengabdian bersama akademisi maupun institusi lain.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong riset kampus agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah.

Lebih dari itu, hasil penelitian dapat diarahkan menuju inovasi yang memiliki manfaat nyata, nilai tambah ekonomi, serta peluang hilirisasi.

Pada akhirnya, tanaman yang selama ini dianggap biasa atau bahkan terlupakan dapat memperoleh makna baru ketika dikaji melalui pendekatan ilmiah.

Dari kekayaan hayati lokal, terbuka peluang untuk melahirkan inovasi di bidang kesehatan, pangan, kosmetik, dan berbagai kebutuhan masyarakat lainnya.

Dari kearifan lokal lahir pertanyaan ilmiah. Dari riset yang kuat, tumbuh inovasi yang memberi manfaat.***(HMA)

Administrator

Dadang Kahmad: Jangan Jadikan Sekolah Sekadar Tempat Menitipkan Anak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Memilih sekolah untuk anak bukan sekadar mencari lembaga dengan label favorit, fasilitas lengkap, atau reputasi tinggi. Yang lebih penting adalah memastikan sekolah mampu membantu anak berkembang sesuai potensi, minat, dan kebutuhannya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua BPH UM Bandung Dadang Kahmad menilai pendidikan yang berkualitas harus mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, dan akhlak.

Pandangan itu disampaikan Dadang dalam program Catatan Akhir Pekan TV-Mu. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik atau nama besar sekolah.

“Pendidikan itu tidak hanya memberikan hard skill, tetapi soft skill. Anak harus memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi harus memiliki karakter dan akhlak yang baik,” ujar Dadang.

Dadang mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan status sekolah favorit sebagai ukuran utama ketika memilih pendidikan bagi anak.

Sekolah dengan fasilitas lengkap dan reputasi baik memang dapat memberikan lingkungan belajar yang mendukung. Namun, hal itu tidak otomatis membuat setiap anak berhasil.

“Sekolah favorit itu bukan jaminan bahwa anak pasti berhasil. Yang paling penting adalah bagaimana anak memiliki motivasi untuk belajar, kemudian ada guru yang baik dan orang tua yang memberikan dukungan,” katanya.

Oleh karena itu, orang tua perlu memahami karakter, minat, kemampuan, dan gaya belajar anak.

Setiap anak memiliki kebutuhan berbeda sehingga pilihan sekolah sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Selain motivasi anak, kualitas guru juga menjadi faktor penting. Menurut Dadang, guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran.

Namun, harus mampu menciptakan suasana belajar yang menarik dan mendorong siswa aktif berpikir.

“Guru itu harus mampu membangkitkan motivasi anak. Materinya juga harus menarik sehingga anak tidak merasa belajar sebagai sesuatu yang membosankan,” tuturnya.

Pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, lanjut Dadang, akan membantu anak memahami manfaat ilmu.

Dengan begitu, proses belajar tidak hanya berorientasi pada nilai, tetapi membangun kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.

Dadang juga menekankan bahwa pendidikan anak tidak berhenti ketika jam sekolah selesai.

Keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan belajar sekaligus memperkuat karakter yang ditanamkan di sekolah.

“Jangan sampai sekolah itu hanya menjadi tempat menitipkan anak. Pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua,” ujarnya.

Menurutnya, orang tua dapat berperan melalui pendampingan belajar, pemberian motivasi, pembiasaan disiplin, serta penanaman tanggung jawab di rumah.

“Kalau sekolah dan orang tua bisa bekerja sama dengan baik, anak akan mendapatkan lingkungan pendidikan yang lebih kuat. Jadi, tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah,” kata Dadang.

Dalam perspektif pendidikan Muhammadiyah, keberhasilan pendidikan tidak hanya menghasilkan anak yang unggul secara akademik.

Pendidikan juga diarahkan untuk membentuk manusia yang beriman, berakhlak, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Keseimbangan hard skill dan soft skill semakin penting di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

“Anak-anak kita harus mempunyai kemampuan beradaptasi, mampu bekerja sama, mampu berkomunikasi, kreatif, inovatif, dan memiliki empati. Itu bagian dari pendidikan yang tidak kalah penting dari kemampuan akademik,” jelas Dadang.

Kemampuan tersebut diharapkan membuat anak tidak hanya siap mencari pekerjaan. Namun, mampu menciptakan peluang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dadang turut menyoroti persoalan pendidikan Indonesia, termasuk anak yang tidak melanjutkan sekolah serta lulusan yang belum sepenuhnya terserap dunia kerja.

Menurutnya, memperluas akses pendidikan saja tidak cukup. Sekolah juga perlu memastikan kompetensi yang diberikan relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.

“Pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan zaman. Jangan sampai anak sudah bersekolah lama, tetapi ketika selesai tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan masyarakat dan dunia kerja,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pendidikan perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, dan dinamika sosial.

Dadang juga mengingatkan pentingnya nilai ikhlas dan ihsan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Ikhlas berarti menjalankan proses pendidikan dengan niat yang baik, sedangkan ihsan mendorong setiap pihak untuk memberikan hasil terbaik.

“Kalau pendidikan dilakukan dengan ikhlas dan ihsan, maka kita tidak hanya mengejar hasil secara duniawi, tetapi berusaha memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Nilai tersebut, kata Dadang, perlu diterapkan oleh seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari guru, siswa, orang tua hingga pengelola lembaga pendidikan.

Muhammadiyah sendiri memiliki jaringan pendidikan yang tersebar di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan.

“Jangan sampai anak tidak sekolah hanya karena orang tuanya merasa tidak mampu. Muhammadiyah mempunyai banyak sekolah yang bisa menjadi pilihan masyarakat,” katanya.

Pada akhirnya, Dadang mengingatkan orang tua agar tidak terjebak dalam persaingan memilih sekolah berdasarkan nama besar semata.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membantu anak mengenali potensinya, menguasai ilmu, membangun karakter, serta memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja sama.

“Yang paling penting bukan gengsi sekolahnya, tetapi bagaimana anak itu tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat,” pungkas Dadang.

Dengan demikian, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai dan ijazah. Pendidikan merupakan proses panjang untuk membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, kepekaan sosial, dan kesiapan menghadapi masa depan.

Sekolah memberikan ruang untuk belajar. Guru memberikan arah. Orang tua memberikan dukungan. Sementara itu, anak perlu terus menumbuhkan kemauan untuk berkembang.***

Administrator

Dadang Kahmad Dorong Media Muhammadiyah Jadi Kekuatan Strategis di Era Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Perubahan teknologi digital yang berlangsung semakin cepat telah mengubah lanskap komunikasi secara fundamental.

Masyarakat kini tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dapat memproduksi dan menyebarluaskannya dalam hitungan detik.

Kondisi tersebut menuntut Muhammadiyah untuk memperkuat kapasitas dan kualitas medianya. Muhammadiyah dinilai tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi.

Namun, perlu tampil sebagai produsen informasi yang kredibel, bernilai, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad menyampaikan hal tersebut saat membuka Jambore Media AfiliasiMu #3 bertema “Penguatan Media AfiliasiMu dalam Era Digital” di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 12–13 Agustus 2026.

Dadang yang juga menjabat Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung menilai, keberadaan Media AfiliasiMu memiliki posisi strategis dalam memperkuat gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan ekosistem komunikasi yang semakin dinamis.

Ia mengapresiasi panitia yang telah menyelenggarakan jambore tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum pertemuan para pengelola media.

Namun, menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah.

“Jambore ini bukan sekadar pertemuan para pengelola media. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk memperkuat kesadaran kita bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan zaman yang sangat cepat,” ujarnya.

Menurut Dadang, pola masyarakat dalam memperoleh informasi telah berubah secara drastis.

Jika dahulu informasi banyak diperoleh melalui surat kabar, radio, dan televisi, kini masyarakat dapat mengakses berbagai informasi melalui telepon pintar dalam hitungan detik.

Perubahan tersebut sekaligus membuat batas antara produsen dan konsumen informasi semakin tipis.

Setiap orang memiliki kemampuan untuk membuat, mengemas, sekaligus menyebarkan informasi kepada publik.

Dalam situasi tersebut, Muhammadiyah menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Organisasi tidak cukup hanya mengikuti arus informasi.

Namun, harus memiliki kemampuan untuk memproduksi konten yang akurat, bernilai, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Namun, Muhammadiyah harus menjadi produsen informasi yang berkualitas, terpercaya, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” tegasnya.

Dadang juga mendorong media Muhammadiyah untuk memperluas orientasinya. Media tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai kanal publikasi kegiatan organisasi.

Namun, perlu menjadi ruang bagi gagasan, ilmu pengetahuan, dakwah, pendidikan, kebudayaan, serta berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Menurutnya, ukuran keberhasilan media tidak semata-mata terletak pada kecepatan menyajikan berita, jumlah pengikut, ataupun tingginya angka tayangan.

Lebih jauh, media harus mampu membangun kepercayaan publik melalui informasi yang benar, bermutu, dan memiliki tanggung jawab sosial.

“Kita membutuhkan media yang tidak hanya cepat, tetapi juga benar. Tidak hanya ramai, tetapi juga bermutu. Tidak hanya mengejar jumlah penonton dan pengikut, tetapi mampu membangun kepercayaan publik,” katanya.

Tantangan tersebut semakin besar di tengah derasnya arus informasi digital. Masyarakat saat ini tidak lagi menghadapi kekurangan informasi.

Namun, justru berhadapan dengan limpahan berita, opini, video, gambar, dan komentar dari berbagai platform.

Persoalannya, tidak seluruh informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Fakta dapat bercampur dengan hoaks, sementara konten edukatif dapat berkelindan dengan informasi yang provokatif dan menyesatkan.

Oleh karena itu, Dadang menekankan pentingnya media Muhammadiyah mengambil peran sebagai penjaga kualitas informasi.

Prinsip tabayyun perlu ditempatkan sebagai salah satu landasan etis dalam menjalankan kerja jurnalistik dan mengelola berbagai produk media.

Ia mengingatkan agar kecepatan produksi konten tidak mengorbankan akurasi dan kebenaran.

Demikian pula popularitas tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan etika dan tanggung jawab kepada publik.

“Kecepatan tidak boleh mengalahkan ketepatan. Popularitas tidak boleh mengalahkan kebenaran. Dan kepentingan mendapatkan perhatian publik tidak boleh mengalahkan akhlak serta tanggung jawab,” tegas Dadang.

Ia berharap Media AfiliasiMu mampu membangun jurnalisme Muhammadiyah yang cepat, akurat, berimbang, beretika, mencerdaskan, dan mencerahkan.

Hal tersebut semakin penting karena media digital memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi dan opini publik.

Di sisi lain, Dadang melihat perkembangan teknologi digital sebagai peluang yang tidak boleh dilewatkan.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), media sosial, video pendek, podcast, live streaming, hingga mesin pencari dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah dan gagasan Muhammadiyah.

Menurutnya, teknologi memungkinkan gagasan dari kader Muhammadiyah di daerah menjangkau masyarakat yang lebih luas, bahkan lintas negara.

Ceramah, penelitian, gagasan pendidikan, maupun karya intelektual dapat dikemas dalam berbagai format digital sehingga lebih mudah diakses publik.

Namun, pemanfaatan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas lebih dari sekadar kemampuan teknis.

Insan media Muhammadiyah juga harus memiliki wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan, kompetensi jurnalistik, literasi digital, integritas, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.

“Jangan hanya berbicara tentang bagaimana membuat konten yang viral, tetapi juga bagaimana membuat konten yang bernilai.

Karena tujuan akhir media Muhammadiyah bukan sekadar viralitas, tetapi kemanfaatan,” ujarnya.

Dadang menilai keberhasilan media Muhammadiyah seharusnya diukur dari seberapa besar pengaruh positif yang dapat dihadirkannya di tengah masyarakat.

Pertumbuhan pengikut dan jumlah tayangan penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Atas dasar itu, ia mendorong Jambore Media AfiliasiMu menjadi ruang pembelajaran bersama bagi para pengelola media Muhammadiyah.

Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengalaman, tetapi berkembang menjadi ruang penguatan kapasitas, inovasi, dan kolaborasi.

Ke depan, Dadang berharap terbentuk ekosistem media Muhammadiyah yang kuat dan terintegrasi.

Media di tingkat pusat, wilayah, daerah, perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, amal usaha, organisasi otonom, hingga komunitas kader perlu saling terhubung dan memperkuat.

Ia menawarkan semangat “Satu gerakan, banyak kanal; banyak kanal, satu nilai.”

Menurutnya, Muhammadiyah dapat menggunakan beragam platform dan gaya komunikasi.

Namun, seluruhnya harus tetap berangkat dari nilai yang sama, yakni Islam Berkemajuan, dakwah yang mencerahkan, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, kebangsaan, dan kemaslahatan.

Pada akhirnya, Dadang berharap Jambore Media AfiliasiMu menghasilkan tiga capaian utama.

Apa saja? Yakni peningkatan kapasitas insan media, peningkatan kualitas konten, serta penguatan kolaborasi antarmedia Muhammadiyah.

“Dengan demikian, Media AfiliasiMu tidak hanya menjadi jaringan media Muhammadiyah. Namun, menjadi kekuatan komunikasi digital Muhammadiyah yang mampu menghadirkan gagasan Islam Berkemajuan kepada masyarakat luas,” pungkasnya.

Jambore Media AfiliasiMu #3 diharapkan menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem media Muhammadiyah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Lebih dari sekadar mengikuti perubahan digital, media Muhammadiyah diharapkan mampu mengarahkan teknologi untuk memperluas dakwah, memperkuat literasi publik, serta menghadirkan informasi yang mencerdaskan, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat.***

Administrator

Haedar Nashir: Pers Berkemajuan Harus Menjaga Kebenaran dan Merawat Kehidupan Kebangsaan

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa pers memiliki posisi strategis sebagai pilar keempat demokrasi. 

Dalam menjalankan fungsi tersebut, pers tidak hanya dituntut menghadirkan informasi alternatif yang independen.

Namun, juga menjaga kualitas ruang publik melalui pemberitaan yang berpijak pada kebenaran, etika, dan kepentingan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam Orasi Kebangsaan bertajuk “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan” dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Auditorium KH A. Azhar Basyir, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).

Dalam orasinya, Haedar menjelaskan bahwa pers memiliki fungsi penting untuk mengungkap realitas yang tidak selalu terlihat di ruang publik.

Ia menggunakan perspektif front stage dan backstage untuk menggambarkan kesenjangan antara realitas yang ditampilkan kepada publik dengan kondisi yang sesungguhnya terjadi.

“Panggung depan sering kali penuh drama, rekayasa, dan tidak sepenuhnya menggambarkan realitas yang sebenarnya. Sedangkan panggung belakang itulah yang nyata,” ujar Haedar.

Menurutnya, pers perlu berupaya menghadirkan pemberitaan yang sedekat mungkin dengan realitas objektif.

Tugas jurnalistik tidak berhenti pada upaya membedakan benar dan salah. Namun, harus mempertimbangkan dimensi etik mengenai baik dan buruk serta pantas dan tidak pantas.

Pers, kata Haedar, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak sekadar faktual. Namun, memiliki nilai dan memberikan manfaat bagi kehidupan publik.

Ia mengakui tantangan tersebut semakin kompleks karena media tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh kepentingan ekonomi, pemilik modal, maupun kekuasaan politik.

Pada saat yang sama, perkembangan media sosial telah menghadirkan ruang komunikasi baru yang memungkinkan setiap individu memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa melalui mekanisme kurasi sebagaimana media konvensional.

“Intinya, dulu menulis di media itu penuh proses kurasi dan seleksi. Tidak seperti sekarang, di mana orang bisa asal bicara dan merasa paling benar di media sosial,” ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, Haedar menilai pers profesional memiliki tanggung jawab yang semakin besar untuk menjadi pembeda di tengah derasnya arus informasi.

Pers harus mampu menghadirkan informasi yang terverifikasi, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga masyarakat tidak kehilangan rujukan yang kredibel.

Agama sebagai Sumber Nilai

Selain membahas peran pers, Haedar menempatkan agama sebagai sumber nilai yang penting dalam membangun kehidupan masyarakat dan bangsa.

Menurutnya, agama tidak semestinya berhenti pada dimensi ritual. Namun, harus mampu memberikan makna, membangun nilai, sekaligus membimbing arah kehidupan.

Ia mencontohkan KH Ahmad Dahlan sebagai figur pembaru yang menjadikan pemahaman agama sebagai basis transformasi sosial.

Dari pemahaman tersebut, lahir berbagai gerakan nyata seperti pengembangan pendidikan modern, pelayanan kesehatan, serta gerakan perempuan melalui Aisyiyah.

“Agama tidak boleh sekadar menjadi ritual, tetapi harus memberi makna, memberikan nilai, dan membimbing arah,” tegas Haedar.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa agama memiliki posisi penting dalam membangun kehidupan publik yang berorientasi pada kemajuan.

Nilai keagamaan, menurut Haedar, dapat menjadi landasan etik bagi masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Pers dan Konsensus Kebangsaan

Dalam konteks kebangsaan, Haedar menyampaikan bahwa Indonesia dibangun atas kehendak bersama untuk hidup berdampingan dalam keberagaman.

Kehendak tersebut kemudian dirumuskan dalam konsensus nasional melalui Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Konsensus kebangsaan tersebut, menurutnya, perlu terus dijaga oleh seluruh elemen bangsa, termasuk pers.

Pers memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan kebenaran dan kebaikan sekaligus menghindari praktik jurnalistik yang terjebak pada kepentingan pragmatis dan sesaat.

Karena itu, pers berkemajuan harus mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara kritis tanpa kehilangan tanggung jawab kebangsaan.

Independensi pers tidak berarti bebas dari etika, melainkan tetap berpijak pada kepentingan publik, nilai kemanusiaan, dan komitmen terhadap kehidupan demokratis.

Empat Dekade Pengalaman Jurnalistik

Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga menyinggung perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik selama 42 tahun.

Kiprahnya dimulai ketika menjadi wartawan Suara Muhammadiyah dan menjalani pengalaman sebagai wartawan lapangan selama hampir lima tahun.

Pengalaman tersebut, menurut Haedar, menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan menulis sekaligus memahami realitas masyarakat secara langsung.

Dunia jurnalistik memberinya pengalaman untuk melihat berbagai persoalan dari dekat dan menerjemahkannya menjadi gagasan yang dapat dibaca masyarakat.

Momentum Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 diharapkan menjadi ruang refleksi untuk memperkuat kembali posisi pers sebagai bagian dari kekuatan intelektual dan pencerdasan publik.

Pers tidak hanya dituntut adaptif terhadap perubahan teknologi. Namun, juga harus semakin kokoh dalam menjaga integritas, etika, dan tanggung jawab sosial.

Haedar berharap pers berkemajuan dapat terus berkontribusi dalam membangun ruang publik yang sehat sekaligus memperkuat kehidupan kebangsaan yang demokratis, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor UMJ Ma’mun Murod, Ketua MPI PP Muhammadiyah Muchlas, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Wamendikdasmen Fajar Riza Ulhaq, para rektor PTMA, serta sejumlah tokoh pers dan pimpinan redaksi media nasional.***

Administrator

Kiai Sudja, Tokoh di Balik Gagasan Haji yang Humanis dan Berkemajuan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kepala LPPAIK Universitas Muhammadiyah Bandung Dikdik Dahlan Lukman mengatakan bahwa sejarah Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui pendidikan dan dakwah.

Namun, melalui tradisi pelayanan sosial yang menjadikan agama hadir untuk menjawab persoalan konkret masyarakat.

Menurutnya, salah satu tokoh yang mencerminkan semangat tersebut adalah Kiai Muhammad Sudja, sosok yang dikenal sebagai pelopor Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) sekaligus perintis pembenahan pelayanan haji bagi umat Islam Indonesia.

Kisah dan gagasan Kiai Sudja tersebut disampaikan Dikdik saat mengisi Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (11/8/2026).

Dikdik mengajak warga Muhammadiyah melihat Kiai Sudja tidak semata sebagai tokoh masa lalu. Namun, sebagai figur yang mewariskan cara berpikir progresif dalam membangun pelayanan umat. 

“Kalau kita berbicara tentang PKO Muhammadiyah, Kiai Sudja merupakan tokoh yang sangat penting. Beliau menunjukkan bahwa ajaran agama tidak cukup hanya dipahami dan disampaikan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada manusia,” ujarnya.

Kiai Muhammad Sudja lahir di Yogyakarta pada 1882 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mendapatkan pembinaan keagamaan dari KH Ahmad Dahlan.

Dalam perjalanan Muhammadiyah, namanya lekat dengan pengembangan PKO melalui pendirian klinik, rumah yatim, dan berbagai bentuk pelayanan sosial yang pada masanya merupakan terobosan dalam menerjemahkan ajaran Islam ke dalam kerja kemanusiaan.

Namun, kiprah Kiai Sudja ternyata jauh melampaui bidang pelayanan sosial. Dikdik mengungkapkan, Kiai Sudja juga memiliki perhatian besar terhadap penyelenggaraan ibadah haji ketika perjalanan umat Islam Indonesia ke Tanah Suci masih menghadapi berbagai persoalan. 

Mulai dari transportasi, administrasi, keterbatasan informasi, hingga regulasi kolonial yang membatasi ruang gerak jemaah.

“Bagi Kiai Sudja, pelayanan haji itu bukan sekadar mengantarkan orang sampai ke Tanah Suci. Ada amanah kemanusiaan di dalamnya. Jemaah harus mendapatkan pengetahuan, pendampingan, keamanan, dan pelayanan yang baik,” kata Dikdik.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa sejak awal Muhammadiyah telah berusaha menempatkan pelayanan keagamaan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.

Salah satu terobosan Kiai Sudja adalah perhatian terhadap pendidikan manasik secara menyeluruh. Ia tidak hanya membicarakan tata cara ritual haji, tetapi memikirkan persiapan sebelum keberangkatan, perlengkapan, administrasi, hingga aspek teknis perjalanan. 

“Yang menarik dari Kiai Sudja adalah beliau tidak hanya bicara tentang bagaimana orang berhaji secara ritual. Beliau juga memikirkan apa yang harus dipersiapkan sebelum berangkat dan bagaimana perjalanan itu dilakukan,” jelas Dikdik.

Kiai Sudja juga menunjukkan sikap kritis terhadap kecenderungan menjadikan haji sekadar simbol status sosial. Menurut Dikdik, kritik tersebut memperlihatkan upaya Kiai Sudja mengembalikan makna haji pada substansi ibadah dan perubahan sosial.

“Bagi beliau, orang yang sudah berhaji seharusnya mengalami perubahan dalam kehidupan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Jadi, yang penting bukan sekadar gelarnya, tetapi nilai dan dampak dari ibadah itu sendiri,” ungkapnya.

Visi Kiai Sudja bahkan menyentuh persoalan kemandirian infrastruktur haji. Pada dekade 1920-an hingga 1940-an, Muhammadiyah bersama umat Islam Indonesia pernah menggagas kepemilikan kapal sendiri untuk mengangkut jemaah menuju Tanah Suci.

“Ini menarik karena pada masa itu sudah muncul pikiran untuk memiliki kapal sendiri. Artinya, umat Islam Indonesia sudah berpikir tentang kemandirian dalam pelayanan haji,” tutur Dikdik.

Meski gagasan tersebut belum berhasil diwujudkan, menurut Dikdik, rencana itu memiliki arti penting dalam sejarah gerakan Islam Indonesia.

“Walaupun kapal itu akhirnya belum terealisasi, gagasan tersebut penting secara historis. Ada kesadaran bahwa pelayanan umat membutuhkan kemandirian,” tambahnya.

Gagasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan ibadah sejak masa itu telah dipandang berkaitan dengan aspek teknologi, transportasi, manajemen, dan kedaulatan pelayanan.

Kiprah Kiai Sudja juga berlangsung melalui advokasi dan diplomasi dengan pemerintah kolonial maupun otoritas di Arab. Upaya tersebut dilakukan untuk mendorong perbaikan perjalanan dan perlindungan jemaah.

“Kiai Sudja bukan hanya seorang ulama yang mengajarkan manasik. Beliau juga seorang organisator dan negosiator yang memperjuangkan pelayanan yang lebih baik bagi jemaah Indonesia,” kata Dikdik.

Bagi Dikdik, seluruh kiprah tersebut memiliki satu benang merah, yakni menjadikan agama sebagai kekuatan yang menghadirkan kemaslahatan.

“Kalau kita tarik benang merahnya, PKO, rumah yatim, klinik, pelayanan haji, semuanya berangkat dari satu prinsip bahwa agama harus hadir untuk menyelesaikan persoalan manusia,” jelasnya.

Oleh karena itu, pelayanan haji dalam pemikiran Kiai Sudja tidak dapat dipisahkan dari nilai ihsan, yakni memastikan jemaah memperoleh pelayanan yang menjaga keselamatan, martabat, dan kemaslahatannya.

Atas luasnya kontribusi tersebut, Dikdik mendorong agar sejarah Kiai Muhammad Sudja mendapatkan perhatian lebih besar, termasuk melalui kajian untuk pengusulan sebagai pahlawan nasional.

“Menurut saya, Kiai Muhammad Sudja sangat layak untuk dikaji dan dipertimbangkan sebagai pahlawan nasional. Kepeloporan beliau dalam PKO, pelayanan sosial, literasi haji, dan perjuangan memperbaiki pelayanan jemaah merupakan kontribusi yang tidak kecil,” ujarnya.

Ia menilai pengenalan kembali sosok Kiai Sudja penting bukan hanya sebagai upaya merekonstruksi sejarah. Namun, untuk menemukan kembali model keberagamaan yang berbasis ilmu, profesionalisme, keberanian berorganisasi, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.

Dikdik menegaskan, warisan terbesar Kiai Sudja bukan hanya berupa lembaga dan gagasan, tetapi cara menghadapi persoalan umat secara sistematis dan solutif.

“Yang diwariskan Kiai Sudja kepada kita bukan hanya lembaga, tetapi cara berpikir. Kalau umat menghadapi masalah, jangan hanya mengeluh. Harus dicari ilmunya, diorganisasi, dicarikan solusinya, lalu diwujudkan menjadi pelayanan,” pungkasnya.

Jejak tersebut menempatkan Kiai Muhammad Sudja sebagai salah satu figur penting dalam sejarah pembaruan Muhammadiyah—seorang tokoh yang menerjemahkan nilai keislaman bukan berhenti pada wacana, melainkan menjadi pelayanan nyata bagi kemanusiaan.***

Administrator

Dari Amanah Keluarga Menjadi Wakaf Tunai untuk Kaderisasi Ulama Muhammadiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Sebuah amanah yang disiapkan sejak masa pandemi Covid-19 akhirnya menemukan jalannya untuk terus memberikan manfaat.

Wakaf dari almarhum Drs H Ahmad Yunus kini dialihkan menjadi wakaf tunai untuk mendukung pengembangan Pendidikan Ulama Muhammadiyah Jawa Barat (PUPM/PUTM).

Serah terima wakaf tersebut dilakukan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat bersama Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Kamis (13/8/2026), di lantai satu Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung.

Wakaf tersebut berawal dari kegelisahan Ahmad Yunus saat pandemi pada 2020.

Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian kala itu, ia justru memikirkan persoalan jangka panjang Muhammadiyah, khususnya kebutuhan terhadap kader ulama.

Mudir Pendidikan Ulama Muhammadiyah Jawa Barat Cecep Taufikurohman mengatakan, Ahmad Yunus melihat Muhammadiyah relatif mampu mencetak tenaga profesional melalui pendidikan tinggi, tetapi masih membutuhkan perhatian lebih serius dalam kaderisasi ulama.

“Almarhum menyoroti betapa mudahnya Muhammadiyah mencetak ribuan insinyur dan dokter setiap tahun, tetapi masih kekurangan kader kepemimpinan ulama,” ujar Buya Cecep.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk wakaf.

Sebelum wafat, Ahmad Yunus bahkan telah menyiapkan sebuah map yang berisi rencana akta ikrar wakaf sebidang tanah. 

Setelah melalui kesepakatan keluarga, aset tersebut kemudian dialihkan menjadi wakaf tunai.

“Dana hasil penjualan tanah tersebut kini dikelola sebagai wakaf tunai di rekening khusus Majelis Wakaf untuk dibelikan lahan baru yang lebih strategis guna mendukung kaderisasi ulama,” jelasnya.

Bagi keluarga, proses tersebut bukan sekadar perpindahan aset, tetapi penyelesaian sebuah amanah yang telah dititipkan almarhum.

Mewakili keluarga, Isni Supriati mengungkapkan kelegaan karena wasiat tersebut akhirnya dapat ditunaikan.

“Tiga hari sebelum masuk rumah sakit, almarhum berulang kali mengingatkan agar map titipan wakaf ini tidak dilupakan karena sangat penting bagi beliau,” ungkap Isni dengan haru.

Dari sisi pengelolaan, perwakilan Majelis Wakaf dan Kehartabendaan PWM Jawa Barat Mohammad Ramdan Widi Irfan menilai wakaf tunai membuka peluang lebih luas bagi pengembangan aset produktif dan program sosial Muhammadiyah.

Oleh karena itu, transparansi dan akuntabilitas menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan wakif.

“Kepercayaan besar dari pihak wakif ini menjadi amanah bagi kami untuk terus mengoperasikan program wakaf strategis, baik di bidang pendidikan maupun dana abadi,” jelasnya.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menilai dukungan terhadap pendidikan ulama memiliki arti strategis bagi masa depan umat.

Menurutnya, kader ulama tidak hanya membutuhkan penguasaan keagamaan. Namun, kemampuan membaca perubahan sosial dan perkembangan zaman.

“Tantangan zaman yang dihadapi umat saat ini memerlukan kehadiran ulama yang mencerahkan serta mampu merespons perkembangan masa kini berdasarkan prinsip Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” tutur Herry.

Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan pun mengapresiasi komitmen keluarga almarhum yang menjadikan wakaf sebagai investasi kebaikan lintas generasi.

Ia menyebut penyerahan tersebut sebagai momentum penting dalam penguatan ekosistem wakaf Muhammadiyah di Jawa Barat.

“Momen ini sangat mengharukan dan mencatatkan sejarah baru sebagai salah satu pencapaian klaster wakaf tunai terbesar di Jawa Barat,” imbuhnya.

Lebih dari sekadar penyerahan aset, wakaf Ahmad Yunus memperlihatkan bagaimana filantropi dapat menjadi instrumen pembangunan umat.

Ketika sebuah harta diubah menjadi investasi pendidikan, manfaatnya tidak berhenti pada penerima hari ini.

Namun, berpotensi melahirkan generasi ulama yang terus memberi ilmu, membimbing masyarakat, dan menghidupkan nilai-nilai Islam Berkemajuan.

Dari sebuah map yang dijaga keluarga, lahir sebuah amanah yang kini diarahkan menjadi ekosistem kaderisasi.

Di situlah wakaf menemukan maknanya: harta yang ditinggalkan, tetapi manfaatnya terus berjalan.***

Administrator