Blog

Kabar UMBandung

Era Baru Kecerdasan Buatan, AI Kini Bisa Berjalan Tanpa Internet

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bekerja sama dengan AMD Indonesia menggelar AMD TECH GEN, Senin (2/11/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung.

Kegiatan yang membahas perkembangan teknologi komputer dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) itu mendapat respons positif dari mahasiswa. Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung Noviani Arifina Istiqomah menyebut jumlah pendaftar mencapai lebih dari 300 orang.

Menurut Noviani, antusiasme tersebut menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap perkembangan teknologi, terutama pemanfaatan AI dalam kehidupan sehari-hari.

"Hal ini menunjukkan betapa besarnya minat dan semangat belajar generasi muda kita terhadap perkembangan teknologi," ujar Noviani.

Ia menjelaskan bahwa AI kini semakin banyak digunakan untuk mendukung produktivitas, kreativitas, dan berbagai kebutuhan pekerjaan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan inovatif agar mampu memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

"Sebagai mahasiswa, khususnya di lingkungan UM Bandung, kita semua dituntut untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi menjadi pemikir, inovator, dan pencipta solusi di masa depan," tegasnya.

Noviani berharap kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan mahasiswa melalui pembelajaran langsung dari praktisi industri. Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan akademik, pengembangan proyek kreatif, dan persiapan menghadapi dunia kerja.

Mengenal AI yang Bisa Berjalan Tanpa Internet

Sementara itu, Customer Visit Development Manager AMD Indonesia Armawati Cen memperkenalkan teknologi AI yang dapat dijalankan secara langsung melalui komputer atau laptop. Teknologi tersebut memungkinkan fungsi AI tertentu bekerja tanpa harus selalu terhubung dengan internet.

Armawati menjelaskan bahwa kemampuan komputer menjalankan aplikasi AI dipengaruhi oleh dukungan perangkat keras. Selain prosesor dan kartu grafis, komponen seperti memori, motherboard, dan penyimpanan juga berperan dalam menentukan kinerja perangkat.

Menurutnya, perkembangan teknologi bukan hanya persoalan kecanggihan komputer, melainkan juga kemampuan pengguna dalam memanfaatkannya secara optimal.

"Yang membuat perbedaan bukan lagi mereka yang memiliki teknologi paling canggih. Namun, siapa yang bisa memanfaatkan teknologi itu untuk berpikir lebih kreatif, bekerja lebih efektif, dan menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat," ungkapnya.

Armawati kemudian menjelaskan perbedaan antara AI berbasis cloud dan AI yang dijalankan secara lokal atau on-device AI. Layanan seperti ChatGPT dan Gemini umumnya membutuhkan koneksi internet karena pemrosesannya dilakukan melalui server.

Sebaliknya, on-device AI memungkinkan sejumlah proses kecerdasan buatan dilakukan langsung pada perangkat pengguna. Namun, kemampuan tersebut tetap bergantung pada spesifikasi perangkat serta dukungan perangkat lunak yang digunakan.

Menurut Armawati, teknologi AI lokal menawarkan sejumlah keuntungan, mulai dari mengurangi ketergantungan terhadap internet hingga membuka peluang penghematan biaya. Pemrosesan secara lokal juga memungkinkan pengguna memiliki kendali lebih besar terhadap data pribadi.

"Manfaatnya tentu lebih hemat. Kemudian yang paling penting dari sisi privasi, karena semuanya bisa diproses secara lokal sehingga tidak ada data yang harus ditransfer ke cloud atau server," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa teknologi tersebut berpotensi membantu masyarakat di wilayah dengan akses internet terbatas. Dengan dukungan perangkat yang sesuai, sejumlah pekerjaan berbasis AI tetap dapat dilakukan tanpa koneksi internet.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa UM Bandung diharapkan semakin memahami perkembangan teknologi AI beserta penerapannya. Selain meningkatkan literasi digital, pemahaman tersebut juga dapat menjadi bekal untuk mengembangkan inovasi dan menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.***(FK)

Selengkapnya

Mahasiswa Prodi AP Juara Nasional Orasi Ilmiah, Buktikan Pentingnya Percaya Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Mahasiswa Prodi Administrasi Publik (AP) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Zeilin Fitriyani berhasil meraih juara pertama dalam lomba orasi ilmiah tingkat nasional pada ajang Olympic of Public Administration 5.0 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik (HIMA AP) FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad), Sabtu (31/10/2026).

Zeilin berhasil mengungguli peserta lainnya setelah melalui sejumlah tahapan seleksi hingga masuk babak grand final bersama empat finalis. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa perguruan tinggi swasta memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing dan berprestasi di tingkat nasional.

Saat ditemui di UM Bandung, Selasa (3/11/2026), Zeilin mengaku sudah memiliki keinginan mengikuti lomba orasi ilmiah sejak semester awal perkuliahan. Namun, rasa kurang percaya diri sempat membuatnya ragu untuk mencoba.

Kesempatan itu akhirnya datang melalui informasi perlombaan yang dibagikan Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik. Zeilin bahkan sempat mengurungkan niat setelah mengetahui bahwa kompetisi tersebut berskala nasional.

"Awalnya saya kira perlombaannya hanya tingkat provinsi atau Bandung Raya. Ternyata tingkat nasional. Sempat tidak percaya diri melihat peserta dari kampus lain, tetapi karena sudah mendaftar, akhirnya saya memutuskan untuk tetap mencoba," ungkap Zeilin.

Perjalanan menuju kemenangan tidak berlangsung mudah. Selain harus melewati seleksi naskah, peserta diwajibkan membuat video orasi berdurasi sekitar delapan menit tanpa pemotongan. Ketentuan tersebut menuntut penguasaan materi, kemampuan berbicara, dan konsentrasi yang baik.

Zeilin mengaku sempat menghabiskan waktu berjam-jam untuk merekam video karena berulang kali mengalami kegagalan. Bahkan, dirinya hampir memutuskan mundur sebelum akhirnya kembali bersemangat berkat dukungan dosen.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Zeilin dinyatakan lolos ke babak grand final dan akhirnya meraih juara pertama. Ia mengaku tidak menyangka mampu mengungguli peserta dari berbagai perguruan tinggi.

"Pas diumumkan juara pertama, saya benar-benar tidak menyangka. Sampai gemetaran karena ternyata bisa juga bersaing dengan kampus-kampus negeri yang selama ini saya anggap sangat bagus," tuturnya.
Angkat Pentingnya Pemimpin Mendengarkan Rakyat
Dalam kompetisi tersebut, Zeilin membawakan orasi berjudul "Menerjemahkan Suara Rakyat" yang mengangkat konsep kepemimpinan transformatif dalam membangun hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui orasinya, Zeilin menekankan bahwa pemimpin tidak cukup hanya membuat kebijakan dari balik meja. Pemimpin juga harus hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan secara langsung, dan membuka ruang partisipasi publik.

"Seorang pemimpin itu tidak hanya mengatur dari atas saja, tetapi harus mampu turun langsung, mendengarkan, belajar, dan beraksi bersama masyarakat," jelasnya.

Menurut Zeilin, komunikasi yang terbuka antara pemerintah dan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan publik. Gagasan tersebut diperkuat dengan teori kepemimpinan, termasuk pemikiran Burns, yang dituangkan dalam naskah orasi yang disusunnya selama sekitar empat hari.

Bagi Zeilin, kemenangan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan pengalaman yang mengajarkannya tentang keberanian mengambil kesempatan. Ia menyadari bahwa rasa takut gagal justru dapat menghambat seseorang mengembangkan potensi diri.

"Lakukan saja semaksimal mungkin. Apa pun yang terjadi, kita tidak tahu akan juara atau tidak. Kalaupun tidak juara, selama sudah berusaha dengan baik dan maksimal, kita tidak akan menyesal," pesannya.

Zeilin berharap prestasi tersebut dapat mendorong mahasiswa UM Bandung lainnya untuk lebih percaya diri mengikuti kompetisi, baik akademik maupun nonakademik. Menurutnya, kemampuan mahasiswa perlu didukung dengan keberanian mencoba, persiapan yang matang, serta pendampingan dari lingkungan kampus.

"Menurut saya, masih banyak mahasiswa yang mampu mengharumkan nama UM Bandung. Apresiasi dan dukungan dari kampus bisa menjadi salah satu pendorong agar mahasiswa semakin berani berkarya dan berprestasi lebih baik lagi," pungkasnya.***(FK)

Selengkapnya

Boleh Gak Sih Belajar Agama Pada AI?

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Mau tahu hukum suatu ibadah, mencari penjelasan ayat Al-Qur'an, atau bertanya soal agama? Sekarang semuanya bisa dilakukan dalam hitungan detik melalui kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tinggal mengetik pertanyaan, jawaban langsung muncul. Praktis, cepat, dan mudah dipahami.

Namun, di balik kemudahan tersebut, ada hal penting yang tidak boleh dilupakan. Jawaban AI yang terdengar meyakinkan belum tentu sepenuhnya benar. Apalagi jika menyangkut persoalan agama yang membutuhkan pemahaman mendalam, sumber terpercaya, dan penjelasan sesuai konteks.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya tempat belajar agama.  Menurutnya, teknologi memang membantu manusia memperoleh informasi, tetapi tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran ulama dan guru agama.

"Sekarang orang bisa bertanya apa saja kepada AI, termasuk masalah agama. Namun, kita harus memahami bahwa AI itu hanya alat bantu untuk mendapatkan informasi, bukan sumber utama dalam memahami ajaran agama," ujar Dadang, dikutip dari YouTube TVMU Channel, Senin (2/11/2026).

Guru besar sosiologi agama tersebut menjelaskan bahwa AI bekerja dengan mengolah berbagai data dan informasi. Artinya, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan dan berpotensi memberikan jawaban keliru, terutama ketika sumber informasinya kurang akurat atau tidak sesuai dengan persoalan yang ditanyakan.

Persoalan lainnya adalah munculnya kebiasaan serba instan. Karena jawaban mudah didapatkan, seseorang bisa merasa sudah memahami suatu persoalan agama hanya setelah membaca beberapa paragraf. Padahal, memahami agama tidak sesederhana mencari jawaban di mesin pencari ataupun aplikasi AI.

Dadang menegaskan bahwa belajar agama bukan hanya urusan mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh. Ada proses memahami nilai keimanan, membangun akhlak, serta menghayati ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu membutuhkan proses pembelajaran dan keteladanan.

"Belajar agama itu bukan sekadar mengetahui hukum atau tata cara ibadah. Ada nilai keimanan, akhlak, dan penghayatan yang harus ditanamkan. Itu membutuhkan bimbingan guru dan keteladanan, sesuatu yang tidak bisa diberikan sepenuhnya oleh AI," jelasnya.

Oleh karena itu, kehadiran guru agama dan ulama tetap penting. Mereka tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi membantu menjelaskan konteks, meluruskan kesalahpahaman, dan membimbing seseorang memahami ajaran Islam berdasarkan perangkat keilmuan seperti tafsir, hadis, dan ushul fikih.

Lantas, apakah menggunakan AI untuk belajar agama berarti salah? Tentu tidak. Teknologi tetap bisa dimanfaatkan untuk mencari informasi awal, memahami istilah keagamaan, atau menemukan referensi bacaan. Namun, jawabannya perlu diperiksa kembali, terutama jika berkaitan dengan hukum agama dan persoalan yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Dalam hal ini, Dadang mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip tabayyun, yakni memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya kepada orang lain. "Al-Qur'an mengajarkan kita untuk melakukan tabayyun. Jadi, ketika mendapatkan informasi dari AI, jangan langsung dipercaya begitu saja. Periksa kembali sumbernya dan tanyakan kepada orang yang benar-benar memahami persoalan agama," tegasnya.

Pesan tersebut relevan dengan kebiasaan generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi digital. Di era ketika jawaban dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan layar, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat seseorang malas membaca, memeriksa sumber, atau berdiskusi dengan orang yang memiliki keahlian.

Di sisi lain, perkembangan AI juga menjadi peluang bagi lembaga pendidikan Islam dan organisasi keagamaan untuk menghadirkan sumber pembelajaran yang lebih menarik, kredibel, dan mudah dijangkau. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya mendapatkan akses informasi yang cepat, tetapi memiliki rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, AI bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, melainkan teknologi yang perlu digunakan secara bijak. Jadikan AI sebagai teman untuk mencari informasi dan memperluas wawasan, tetapi tetap tempatkan ulama, guru, serta sumber keilmuan yang terpercaya sebagai rujukan utama dalam memahami agama.

Sebab, belajar agama bukan perlombaan siapa yang paling cepat mendapatkan jawaban. Namun, proses memahami ilmu, menghayati nilai, dan mengamalkannya dalam kehidupan.***(FA)

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap