Blog

Kabar UMBandung

Pakar Ekonomi Syariah UM Bandung Bagikan Formula Efektif Kelola Keuangan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Penghasilan besar belum tentu membuat keluarga aman secara finansial. Jika uang habis untuk belanja atau membayar utang, pendapatan berapa pun bisa terasa kurang.

Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Haryadi SE MM mengatakan kemandirian ekonomi justru bisa dimulai dari cara mengelola uang yang sudah dimiliki.

Hal itu disampaikan Yudi saat menjadi pembicara dalam Sosialisasi Ekonomi Syariah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung, belum lama ini.

Menurut Yudi, kebiasaan menabung setelah semua kebutuhan terpenuhi perlu diubah. Tabungan atau investasi sebaiknya langsung disisihkan ketika penghasilan diterima.

“Jangan menunggu ada sisa untuk menabung. Justru tabungan atau investasi harus menjadi salah satu prioritas sejak awal menerima pendapatan,” ujar Yudi.

Untuk memudahkan penerapannya, Yudi menawarkan pola 10-30-50-10.

Minimal 10 persen pendapatan untuk tabungan atau investasi, maksimal 30 persen untuk cicilan atau utang, maksimal 50 persen untuk kebutuhan rutin, dan 10 persen untuk kebutuhan pribadi.

Pola tersebut dapat membantu keluarga memiliki cadangan keuangan, mengendalikan utang, serta merencanakan kebutuhan masa depan dengan lebih terukur.

“Jadi, kemandirian ekonomi bukan semata-mata tentang bagaimana meningkatkan penghasilan. Namun, bagaimana kita mampu mengendalikan dan mengarahkan uang sesuai dengan tujuan hidup,” kata Yudi.

Yudi juga mengingatkan pentingnya memahami lembaga keuangan syariah, seperti Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS).

Masyarakat perlu mempertimbangkan akad, kemampuan membayar, risiko, kebutuhan, dan manfaat sebelum mengambil pembiayaan.

Literasi keuangan syariah juga penting agar masyarakat tidak mudah terjebak rentenir atau pembiayaan yang justru menambah beban.

Keputusan keuangan sebaiknya diarahkan pada kebutuhan produktif dan manfaat jangka panjang.

Dalam perspektif ekonomi syariah, pengelolaan uang bukan hanya soal keuntungan pribadi.

Nilai amanah, keadilan, ta'awun, dan ukhuwah juga menjadi bagian penting agar aktivitas ekonomi membawa manfaat bagi keluarga dan lingkungan.

Oleh karena itu, kemandirian ekonomi tidak harus menunggu penghasilan besar.

Mulailah dengan menentukan tujuan, menyisihkan uang di awal, mengendalikan utang, dan membelanjakan sisanya secara bijak.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Komisi Ekonomi MUI Jawa Barat dan Program Pengabdian Dosen Prodi Ekonomi Syariah UM Bandung.

Acara ini diikuti oleh puluhan ibu-ibu anggota Forum Silaturahmi Majelis Taklim (FSMT) Kelurahan Cipadung Kidul.***(FA)

Selengkapnya

Delapan Karakter Manusia Terdidik dalam Perspektif Al-Qur’an, Apa Saja?

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pendidikan sering kali dipahami sebagai jalan untuk menjadi pintar. Namun, ketika pengetahuan bertambah tetapi akhlak tidak tumbuh, kepedulian memudar, dan ilmu tidak memberi manfaat bagi sesama, pertanyaan yang lebih mendasar pun muncul: benarkah seseorang telah menjadi manusia terdidik?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat, Selasa (25/08/2026). Kegiatan itu menghadirkan Hendar Riyadi, dosen Prodi PAI dan PIAUD Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, sebagai narasumber.

Menurut Hendar, hakikat pendidikan tidak boleh direduksi menjadi pencapaian intelektual semata. Pendidikan sejati seharusnya membawa manusia pada kedalaman iman, kematangan akhlak, kebijaksanaan dalam bertindak, serta kesadaran untuk menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan.

“Manusia terdidik itu bukan sekadar manusia yang pintar. Ia harus menjadi problem solver, bukan problem amplifier yang justru memperkeruh keadaan,” ujar Hendar.

Ia kemudian memperkenalkan konsep quranic well-educated person, yakni manusia terdidik yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi dalam membangun dirinya. Dalam konsep tersebut, ilmu tidak hanya mengisi akal, tetapi juga harus menghidupkan hati dan mengarahkan perilaku.

Hendar menggambarkan manusia terdidik sebagai sosok yang ilmunya mencerahkan akal, imannya mendidik hati, akhlaknya mengendalikan diri, hikmahnya mengarahkan tindakan, dan amalnya menghadirkan ishlah atau perbaikan.

Dalam perspektif Al-Qur’an, lanjut Hendar, setidaknya terdapat delapan karakter yang semestinya melekat pada manusia terdidik.

Kedelapan karakter itu adalah ishlah, wafa bi al-uqud atau menjaga komitmen, sabar dan istiqamah, beradab, ta’awun atau bekerja sama, amanah, ziyadah al-ilm atau terus bertumbuh dalam ilmu, serta memiliki kesadaran sebagai khalifah.

Ishlah berarti memiliki orientasi untuk mencari solusi dan menghadirkan perbaikan. Sementara wafa bi al-uqud mengajarkan manusia untuk menjaga komitmen, janji, dan aturan yang telah disepakati.

Adapun sabar dan istiqamah, menurut Hendar, tidak sekadar berarti mampu bertahan menghadapi kesulitan. Keduanya harus melahirkan kedisiplinan yang tumbuh dari kesadaran menjaga integritas diri.

“Disiplin sejati bukan hanya karena takut terhadap hukuman. Namun, karena adanya komitmen untuk menjaga integritas dan menjalankan tanggung jawab,” jelasnya.

Pendidikan juga menemukan maknanya dalam adab dan ta’awun. Manusia terdidik bukan hanya mampu menyampaikan gagasan.

Namun, tahu bagaimana menghormati orang lain, menjaga komunikasi, menghindari sikap merendahkan, dan membangun kerja sama untuk menghadirkan kebaikan bersama.

Di sisi lain, amanah menjadi fondasi penting karena ilmu tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah. Begitu pula ziyadah al-ilm mengingatkan bahwa manusia terdidik tidak boleh merasa telah selesai dalam belajar.

“Orang terdidik tidak pernah merasa selesai dalam belajar. Ia harus terus bertumbuh, memperbaiki pengetahuan, memperluas pemahaman, dan meningkatkan kompetensinya,” katanya.

Pemikiran tersebut, kata Hendar, memiliki keterhubungan dengan gagasan sejumlah pemikir sepanjang sejarah. Ia menyebut Sokrates, Plato, Aristoteles, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ki Hadjar Dewantara, Ahmad Dahlan, Hamka, John Dewey, Paulo Freire, Howard Gardner, hingga Edgar Morin.

Meski berasal dari latar pemikiran yang berbeda, berbagai gagasan tersebut memiliki satu benang merah: pendidikan harus membuat manusia semakin mampu memahami kehidupan, menjawab persoalan, dan tetap memanusiakan manusia.

Pada akhirnya, Hendar merangkum hakikat manusia terdidik dalam lima kata kunci: merdeka, berdaya, beradab, beramal, dan memanusiakan. Pendidikan, dengan demikian, bukan sekadar proses menambah pengetahuan.

Namun, perjalanan untuk membentuk manusia yang mampu mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan dan pengetahuan menjadi kemanfaatan.

“Ukuran manusia terdidik bukan hanya seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Namun, seberapa jauh ilmu itu membentuk dirinya, menyelesaikan persoalan, dan memberi manfaat bagi kehidupan,” pungkas Hendar.***

Selengkapnya

Prestasi Perdana PSPPA UM Bandung, Seluruh Mahasiswa Angkatan Pertama Lulus Ukomnas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ada kabar membanggakan dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) angkatan pertama berhasil lulus 100 persen Ujian Kompetensi Nasional Program Diploma dan Profesi Apoteker (Ukomnas PDPA).

Ujian ini menggunakan metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dan Computer Based Test (CBT) Nasional.

Capaian ini menjadi catatan penting bagi PSPPA UM Bandung. Pasalnya, mereka merupakan angkatan pertama yang mengikuti Ukomnas PDPA sejak program profesi apoteker tersebut hadir di UM Bandung.

Ukomnas PDPA menjadi salah satu tahap penting sebelum calon apoteker memasuki dunia praktik kefarmasian. Melalui ujian ini, mahasiswa diuji dari sisi pengetahuan, keterampilan, sekaligus kesiapan profesional.

Dekan Fakultas Farmasi UM Bandung Dwintha Lestari menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia juga mengucapkan selamat kepada seluruh mahasiswa PSPPA angkatan pertama.

Menurut Dwintha, kelulusan 100 persen tidak datang secara instan. Ada proses panjang yang dijalani mahasiswa bersama dosen dan seluruh tim pendukung di Fakultas Farmasi.

“Alhamdulillah, ini berkat kerja sama seluruh dosen yang memberikan skill lab, tutor, bimbingan, dan try out kepada mahasiswa PSPPA angkatan pertama,” ujar Dwintha di UM Bandung pada Selasa (25/08/2026).

Ia menilai capaian tersebut menjadi semakin istimewa karena kelulusan Ukomnas PDPA 100 persen masih tergolong jarang terjadi di perguruan tinggi swasta.

Dwintha juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut mendukung proses pendidikan mahasiswa. Mulai dari pimpinan, pemegang standar, tenaga kependidikan, laboran, hingga tim sarana dan prasarana.

“Tidak hanya itu, berkat seluruh pimpinan, pemegang standar, tendik, laboran, sarpras, dan seluruh pihak lainnya yang menjadi pendukung, mahasiswa dapat mengikuti Ukomnas dengan baik,” katanya.

Capaian tersebut diharapkan tidak berhenti pada angka kelulusan. Dwintha ingin prestasi ini menjadi awal untuk menjaga kualitas pendidikan PSPPA UM Bandung secara berkelanjutan.

Ia berharap capaian positif tersebut dapat terus dipertahankan. Terutama dalam mengantarkan mahasiswa hingga menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan profesi apoteker.

“Semoga capaian ini menjadi langkah awal untuk mengabdikan ilmu dan kompetensi kefarmasian secara profesional, berintegritas, serta memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tandasnya.

Kelulusan 100 persen ini sekaligus menjadi modal penting bagi mahasiswa PSPPA angkatan pertama untuk melangkah ke tahap berikutnya. Mereka kini memiliki bekal akademik dan kompetensi untuk mengembangkan profesi di bidang kefarmasian.

Di sisi lain, UM Bandung masih membuka pendaftaran mahasiswa baru. Pendaftaran saat ini telah memasuki gelombang ketiga yang akan ditutup pada 20 September 2026.

UM Bandung berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung. Kampus ini telah memperoleh akreditasi “Baik Sekali” dari BAN-PT.

Saat ini, UM Bandung memiliki lima fakultas. Program yang tersedia mencakup 18 program studi strata satu, dua program magister, dan satu program profesi apoteker.

Capaian PSPPA angkatan pertama menjadi salah satu bukti bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dibangun melalui proses pembelajaran di ruang kelas. Lebih dari itu, kualitas lahir dari kerja sama, pendampingan, dan kesungguhan seluruh sivitas akademika.

Bagi mahasiswa PSPPA UM Bandung angkatan pertama, kelulusan 100 persen bukan sekadar angka. Ini adalah langkah awal untuk membawa ilmu kefarmasian dari kampus menuju pengabdian nyata bagi masyarakat.***(FA/FK)

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap