Blog

Kabar UMBandung

Makna Haji Mabrur: Ketika Ibadah Melahirkan Akhlak dan Perubahan Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman mengajak umat Islam untuk memaknai ibadah haji tidak hanya sebagai perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi sebagai perjalanan spiritual yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Buya Cecep, sapaan akrabnya, dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat bertajuk “Ketika Pemilik Hati Suci Telah Kembali: Selamat Datang Tamu Allah!” yang digelar pada Ahad (14/06/2026).

Dalam pemaparannya, Buya Cecep menjelaskan bahwa haji merupakan puncak penyempurna rukun Islam yang memiliki keterkaitan erat dengan syahadat, salat, zakat, dan puasa.

Menurutnya, ibadah haji bukan semata persoalan kemampuan finansial atau kesempatan berangkat ke Makkah, melainkan buah dari proses panjang dalam membersihkan hati, memperbaiki kualitas ibadah, dan meluruskan niat hanya karena Allah SWT.

“Haji sejatinya adalah perjalanan hati menuju Allah. Seseorang bisa saja menyelesaikan seluruh rangkaian ritual haji, tetapi belum tentu berhasil membawa pulang perubahan dalam dirinya,” ujarnya.

Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 27, Buya Cecep menegaskan bahwa haji merupakan panggilan sekaligus undangan langsung dari Allah kepada hamba-Nya.

Oleh karena itu, mereka yang mendapat kesempatan berhaji hendaknya mempersiapkan diri dengan harta yang halal, keikhlasan yang tulus, serta kesiapan spiritual yang matang.

Ia menjelaskan bahwa setiap rangkaian ibadah haji mengandung nilai-nilai pendidikan yang mendalam. Ihram mengajarkan kesederhanaan dan persamaan derajat manusia di hadapan Allah.

Tawaf menanamkan kesadaran bahwa hanya Allah yang menjadi pusat orientasi kehidupan. Sementara itu, sai menghadirkan teladan Siti Hajar tentang pentingnya ikhtiar, kesabaran, dan optimisme dalam menjemput pertolongan Allah SWT.

Menurutnya, wukuf di Arafah menjadi momentum refleksi yang sangat mendalam bagi seorang hamba untuk menyadari keterbatasan dirinya sekaligus berharap ampunan Allah.

Adapun lempar jumrah mengajarkan pentingnya melawan hawa nafsu, kesombongan, dan berbagai sifat buruk yang menjadi penghalang kedekatan manusia dengan Tuhannya.

Lebih lanjut, Buya Cecep mengingatkan bahwa keberhasilan ibadah haji tidak cukup diukur dari gelar yang disandang setelah pulang dari Tanah Suci.

Ia menyoroti fenomena masih adanya individu yang telah berhaji tetapi tetap terjerumus dalam perilaku koruptif, ketidakjujuran, maupun penyalahgunaan amanah.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ibadah yang hanya berhenti pada aspek ritual belum sepenuhnya menyentuh dimensi rohani dan pembentukan karakter.

Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap ibadah seharusnya melahirkan akhlak mulia serta perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pendidikan agama perlu dipahami secara lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek fikih dan tata cara pelaksanaan ibadah.

Namun, juga pada penghayatan nilai-nilai spiritual yang mampu membentuk kepribadian dan integritas seseorang.

Buya Cecep menambahkan, haji yang mabrur tercermin dari hati yang menjadi lebih bersih, lebih rendah hati, lebih peduli terhadap sesama, serta semakin istiqamah dalam menjalankan kebaikan.

“Mudah-mudahan ketika Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya, kita pulang bukan hanya membawa gelar haji, tetapi membawa jiwa yang telah disucikan dan siap menebarkan manfaat bagi kehidupan. Pada akhirnya, yang benar-benar kembali dari perjalanan suci itu bukan hanya tubuh yang telah menunaikan ibadah, melainkan hati yang semakin dekat kepada Allah SWT,” pungkasnya.***(HMA)

____

Sumber foto: Istockphoto dan ChatGPT

Selengkapnya

UM Bandung dan Sepuluh Tahun yang Tak Sekadar Angka

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Sepuluh tahun lalu, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung memulai langkahnya dengan hanya lima puluh mahasiswa baru.

Minggu, 14 Juni 2026, kampus ini merayakan satu dekade perjalanannya—sebuah jarak yang ditempuh dengan pertumbuhan yang konsisten di hampir semua lini: kelembagaan, sumber daya manusia, program studi, hingga kualitas layanan pendidikan.

Kini UM Bandung menaungi dua puluh program studi di bawah lima fakultas, ditambah Magister Manajemen dan Profesi Apoteker. Sebuah lompatan jauh dari titik nol satu dekade lalu.

Dalam perayaan Milad ke-10 yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto melemparkan target ambisius: sepuluh ribu mahasiswa.

"Di usia sepuluh tahun ini, jumlah mahasiswa baru UM Bandung harus terus naik. Harapannya, jumlah mahasiswa kita ke depan dapat mencapai sepuluh ribu orang," ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Herry mengakui bahwa basis mahasiswa UM Bandung saat ini masih terkonsentrasi di Jawa Barat. Untuk menembus target itu, ia menegaskan perlunya penguatan di berbagai lini: kualitas layanan pendidikan, pengelolaan institusi, hingga strategi promosi yang lebih luas.

Selain ekspansi jumlah mahasiswa, kampus juga mengincar akreditasi unggul dan tengah memproses izin pembukaan prodi magister baru.

Di balik target ke depan, ada catatan yang sudah dibukukan. Apa sajakah itu?

Selama sepuluh tahun terakhir, UM Bandung berhasil membangun gedung sendiri, menambah fasilitas kampus, mengantongi akreditasi institusi "Baik Sekali", memperkuat sistem manajemen mutu, menambah jumlah dosen bergelar doktor, membuka program studi baru, serta mencatatkan sejumlah prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Bagi Herry, capaian-capaian ini bukan sekadar statistik administratif.

"Ketika UM Bandung diresmikan, para pendiri dan perintis universitas ini sesungguhnya tidak sedang membangun sebuah kampus semata. Mereka sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya generasi masa depan yang memiliki keunggulan ilmu pengetahuan, kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, dan karakter keislaman yang kuat," tegasnya.

Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung Dadang Kahmad yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memberi catatan apresiatif atas laju pertumbuhan kampus ini.

Menurutnya, UM Bandung telah mengambil peran nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan berjiwa kewirausahaan.

"Momentum satu dekade ini tidak sekadar perayaan perjalanan waktu. Namun, juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan memperkuat tekad menuju masa depan UM Bandung yang lebih gemilang," katanya.

Dadang juga menyampaikan terima kasih kepada para pendiri, pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni yang telah berkontribusi membesarkan kampus ini.

Ia berharap usia sepuluh tahun menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi melalui penguatan akademik, riset, kemitraan, dan kontribusi sosial—agar UM Bandung dapat tumbuh sebagai pusat keunggulan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Di luar pidato dan refleksi formal, perayaan Milad ke-10 juga diwarnai sisi yang lebih cair: Lomba Kreasi Nasi Goreng antar-program studi yang digelar sejak pagi.

Para dekan, kepala program studi, dan dosen dari berbagai fakultas turun langsung berkompetisi, mengolah bahan masakan menjadi sajian terbaik mereka.

Rektor bersama jajaran wakil rektor turun tangan menjadi juri. Di tengah suasana meriah itu, lomba ini menjelma jadi lebih dari sekadar kompetisi—ia menjadi perekat kebersamaan di lingkungan kampus, menutup satu dekade perjalanan UM Bandung dengan kehangatan kekeluargaan.***(FA/FK)

Selengkapnya

Food Festival UM Bandung Jadi Ajang Kreativitas Mahasiswa dan Inovasi Produk Pangan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Suasana lobi utama Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung tampak lebih ramai dan semarak dari biasanya pada Senin (15/06/2026).

Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (Himtekpa) UM Bandung kembali menggelar Food Festival 2026 yang tahun ini mengusung tema “FEASTOPIA: World of Flavour, Berlayar Mencari Harta Karun Rasa.”

Menghadirkan konsep yang kreatif dan penuh warna, Food Festival 2026 menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menunjukkan inovasi di bidang pangan sekaligus memperkenalkan potensi pangan lokal kepada masyarakat.

Berbagai kegiatan menarik turut memeriahkan festival ini, mulai dari seminar, workshop, bazar produk inovasi pangan, hingga kompetisi kreatif seperti lomba esai dan videografi yang diikuti siswa-siswi SMA.

Tak hanya menjadi sarana edukasi, Food Festival juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas dan gagasan mereka melalui inovasi pangan.

Ketua Pelaksana Food Festival 2026 Muhammadi Fathir Lukman Nur Hakim mengatakan bahwa kegiatan tahunan ini menjadi wadah bagi mahasiswa, khususnya Program Studi Teknologi Pangan, untuk mengembangkan ide-ide kreatif menjadi produk yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk lebih inovatif dan produktif dalam menciptakan produk pangan. Harapannya, inovasi yang lahir tidak hanya menarik, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Teknologi Pangan UM Bandung Khairiah menjelaskan bahwa Food Festival bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari implementasi proyek pembelajaran mahasiswa dalam mata kuliah Pengembangan Produk Pangan.

Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini berfokus pada pemanfaatan pangan lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi emergency food atau pangan darurat.

“Kita memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat melimpah. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengelolanya dengan baik agar dapat menjadi solusi kebutuhan pangan di masa depan,” jelasnya.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung Arief Yunan turut memberikan apresiasi atas berbagai inovasi yang ditampilkan mahasiswa.

Ia menilai Food Festival menjadi jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan dunia industri.

“Produk-produk yang dipamerkan hari ini memiliki peluang untuk terus dikembangkan menjadi usaha atau bisnis yang lebih besar di masa mendatang,” katanya.

Arief juga mengingatkan mahasiswa agar terbuka terhadap berbagai masukan dan evaluasi yang diberikan dosen maupun pengunjung.

“Setiap kritik dan saran adalah peluang untuk menyempurnakan produk. Dari situlah akan lahir inovasi yang lebih sehat, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengajak mahasiswa untuk memahami proses pangan secara menyeluruh, mulai dari tahap budidaya hingga menjadi produk yang siap dikonsumsi masyarakat.

Menurutnya, ilmu dan teknologi pangan memiliki peran yang sangat strategis dalam menjawab tantangan bangsa, terutama terkait ketahanan pangan, inovasi produk, dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul.

Ia pun optimistis mahasiswa UM Bandung memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui inovasi dan karya yang mereka hasilkan.

“Saudara sekalian memiliki potensi yang luar biasa. Saya berharap potensi tersebut dapat menjadi bekal untuk berkarya, berinovasi, dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.***

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap