Blog

Kabar UMBandung

Kuasai AI Tanpa Kehilangan Nalar Kritis dan Pertimbangan Manusiawi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siddhartha Paul Tiwari (Head of Policy and Planning, Android & Mobile Technologies, Google Asia Pacific) menekankan pentingnya literasi digital, perlindungan privasi, dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Generative AI and The Future of Indonesia’s Digital Talent” di Universitas Muhammadiyah Bandung pada Selasa (20/10/2026).

Siddhartha mengatakan, penguatan keamanan digital membutuhkan sistem verifikasi, penandaan konten buatan AI, dan peningkatan literasi digital.

Pasalnya, AI dapat digunakan untuk meniru suara, wajah, dan membuat pesan palsu yang semakin meyakinkan.

Masyarakat perlu memeriksa sumber informasi, mengonfirmasi kebenaran pesan, serta berhati-hati sebelum membagikan data pribadi atau melakukan transaksi digital.

Ia juga menyoroti Shared Screen Dilemma, yaitu persoalan privasi ketika satu telepon seluler digunakan bersama oleh beberapa anggota keluarga.

Kondisi ini dapat membuat pesan pribadi, informasi pembayaran, dan data kesehatan diakses orang lain. 

Oleh karena itu, sistem digital perlu dirancang dengan mempertimbangkan kebiasaan dan kondisi sosial masyarakat.

Menurut Siddhartha, penguasaan teknologi tidak cukup hanya dengan mengadopsi produk yang tersedia.

Negara perlu memperkuat sumber daya manusia, membangun institusi yang mampu mengelola teknologi secara berkelanjutan, mengembangkan riset sesuai kebutuhan lokal, serta memperluas kemitraan lintas sektor.

Dalam hal ini, perguruan tinggi berperan menyiapkan talenta digital melalui pendidikan, penelitian, dan kolaborasi dengan pemerintah, industri, serta masyarakat.

Lulusan perlu memiliki keterampilan teknis sekaligus kemampuan berpikir kritis agar dapat mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan publik.

Siddhartha menyampaikan tiga pesan dalam menghadapi perkembangan AI. Apa saja?

Yakni menggunakan AI untuk memperkuat kemampuan berpikir, memadukan keahlian teknis dengan pertimbangan manusiawi, dan membangun kepercayaan dalam pengembangan sistem digital.

Ia menegaskan, pemanfaatan AI perlu disertai sikap kritis dan tanggung jawab agar kemajuan teknologi tidak hanya menghadirkan kemudahan.

Namun, harus lebih dari itu, yakni bagaimana bisa memberikan manfaat nyata bagi kebutuhan masyarakat.***

Selengkapnya

Di Balik Kecanggihan AI, Ada Risiko yang Perlu Dipahami Mahasiswa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siddhartha Paul Tiwari, Head of Policy and Planning, Android & Mobile Technologies, Google Asia Pacific, mengatakan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut manusia untuk terus belajar, berpikir kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Hal itu disampaikan Siddhartha dalam kuliah umum bertajuk “Generative AI and The Future of Indonesia’s Digital Talent” di Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, AI tidak hanya mengubah cara manusia mengakses informasi, tetapi memengaruhi dunia kerja, pendidikan, dan kehidupan sosial.

Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Siddhartha mengutip AI Index Report 2026 dari Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI), yang menunjukkan bahwa tingkat adopsi AI generatif mencapai 53 persen dalam tiga tahun.

Perkembangan tersebut berlangsung lebih cepat dibandingkan internet dan komputer personal pada tahap yang sama.

Kemampuan AI dalam menyelesaikan tugas juga mengalami peningkatan. Dalam pengujian OSWorld, yang mengukur kemampuan agen AI menjalankan tugas melalui komputer, tingkat keberhasilan sistem terbaik meningkat dari sekitar 5 persen pada 2024 menjadi 66,3 persen pada 2025.

Meski demikian, Siddhartha mengingatkan bahwa AI masih dapat menghasilkan jawaban yang keliru.

Pengguna perlu memeriksa informasi yang dihasilkan sebelum menjadikannya sebagai rujukan atau dasar pengambilan keputusan.

“AI bisa sangat canggih dalam menjawab persoalan ilmiah tingkat doktoral, tetapi pada saat yang sama masih bisa keliru membaca jam analog. Oleh karena itu, kita harus memeriksa jawabannya sebelum mempercayainya,” ujarnya.

Dalam dunia kerja, Siddhartha menilai AI tidak semata-mata menjadi ancaman bagi keberadaan pekerjaan manusia.

Perkembangan teknologi juga dapat mengubah jenis pekerjaan, menghadirkan peran baru, dan meningkatkan kebutuhan terhadap keterampilan tertentu.

Ia mencontohkan kekhawatiran pegawai bank ketika komputer mulai digunakan di kantor-kantor cabang.

Saat itu, para pegawai khawatir teknologi akan menggantikan pekerjaan mereka.

Namun, seiring perkembangan teknologi, sektor perbankan dan keuangan turut berkembang serta membuka peluang kerja baru.

Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan manusia untuk mempelajari keterampilan baru.

Menurut Siddhartha, kompetensi masa depan perlu memadukan kemampuan teknis dengan keterampilan manusiawi.

“Kompetensi masa depan perlu menggabungkan penguasaan teknologi dan kemampuan manusiawi. Keterampilan teknis seperti AI, analisis data, jaringan, dan keamanan siber perlu berjalan beriringan dengan kreativitas, pertimbangan yang matang, ketangguhan, serta kemampuan beradaptasi,” katanya.

Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan tersebut.

Kampus tidak cukup hanya mengenalkan teknologi AI. Namun, perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan menggunakannya secara bijak, memverifikasi informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.

Siddhartha juga mengutip survei terhadap mahasiswa sarjana di Inggris yang menunjukkan bahwa 95 persen responden menggunakan AI dalam berbagai bentuk, sedangkan 94 persen memanfaatkannya untuk mendukung tugas perkuliahan.

Menurutnya, tingginya penggunaan AI perlu diimbangi dengan peningkatan literasi digital.

Mahasiswa tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi atau prompt kepada AI.

Namun, harus bisa menilai kualitas jawaban, mengenali kesalahan, dan memahami kapan suatu persoalan membutuhkan pertimbangan manusia.

Kuliah umum tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, dan diikuti sekitar 1.200 mahasiswa.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi. Siddhartha juga menyampaikan komitmennya untuk kembali berkunjung ke UM Bandung.***

Selengkapnya

Alhamdulillah! UM Bandung Resmi Buka Program Sarjana Rekayasa Kosmetik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Alhamdulillah, Universitas Muhammadiyah Bandung resmi memperoleh izin pembukaan Program Studi Sarjana Rekayasa Kosmetik berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1224/B/O/2026.

Program studi ini berada di bawah Fakultas Farmasi UM Bandung. Kehadiran program studi baru ini menjadi langkah strategis dalam mengembangkan pendidikan tinggi di bidang kosmetik. Semoga program ini melahirkan lulusan yang kompeten, inovatif, dan mampu bersaing di industri kosmetik nasional maupun global.

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap