Oleh: Ace Somantri*
SUMPAH Pemuda bukan sekadar untuk diperingati secara seremonial, apalagi hanya dijadikan romantisme sejarah. Zaman terus bergerak mengikuti perjalanan waktu yang tidak mungkin kembali ke masa lalu. Oleh karena itu, semangat Sumpah Pemuda harus terus dihidupkan sesuai dengan tantangan yang dihadapi generasi muda pada setiap zamannya.
Pada masa lalu, Sumpah Pemuda lahir dari kebutuhan untuk membangun persatuan dan kesatuan. Para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk membangkitkan kesadaran kebangsaan, memperjuangkan kemerdekaan, dan melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme yang secara nyata melakukan penindasan terhadap bangsa Indonesia.
Hari ini kasusnya berbeda, justru generasi muda yang saat ini terjajah oleh kedaulatan diri yang tidak lagi ada kemandirian. Gerakan kebangkitan generasi muda sudah nyaris tak dapat diandalkan, pasalnya di era digital sangat rentan terhadap perilaku durabilitas anak muda yang kian hari terus menurun.
Kita lihat beberapa peristiwa memilukan dan sangat miris penuh ironis pada sebuah harapan. Jauh dari fakta dan realita kekinian, sebagian pemuda saat ini hanya mempertontonkan dan menunjukkan sikap seolah-olah berdaya tahan tinggi, tetapi saat diuji lapangan, test drive, durabilitasnya terlihat di bawah standar.
Tidak sedikit pendidik memberinya label generasi Z disebut sebagai generasi stroberi. Faktual dan nyata, memang tidak dapat ditolak, fenomena tersebut benar adanya.
Begitupun ungkapan dari Wamendiktisaintek Profesor Stella bahwa lulusan perguruan tinggi saat ini, mereka identik sebagai generasi muda yang tidak menunjukan kemampuan dan kekuatan yang seharusnya dimiliki.
Pasalnya, ada peristiwa yang berulang saat mereka para generasi muda saat dunia kerja tidak mampu bertahan dalam tekanan keras. Lebih baik membayar denda untuk keluar kerja dibandingkan dengan harus bertahan melawan tekanan kerja, artinya durabilitasnya sangat lemah bin lembek.
Sumpah pemuda setiap tahun direfleksikan, seremonial selalu dirayakan, dengan istilah hari sumpah pemuda. Flyer bertebaran terlihat pada wajah-wajah media sosial.
Pertanyaannya apakah dengan beredar flyer ucapan Selamat Hari Raya Sumpah Pemuda mampu menggugah selera untuk bangkit atau sekedar meramaikan semata?
Berjajar, foto-foto deretan pejabat negara, entitas, dan lembaga-lembaga ramai-ramai membuat postingan pada layar kaca smartphone. Hitungan jam, kemudian ganti hari berikutnya sudah tak ada lagi berseliweran flyer tersebut dalam tangkapan layar. Lupa dengan cepat, tetapi makna sumpah pemuda hanya bersifat informatif semata.
Hari ini, sumpah pemuda jika refleksi tidak berpengaruh kepada sikap pemuda untuk pada sebuah kebangkitan. Untuk apa diperingati?
Tujuan adanya hari besar nasional, selain mengenang sikap heroik pemuda kala itu, juga sangat diharapkan dari kisah tersebut ada keterpanggilan nurani generasi muda tampil di tengah masyarakat membangkitkan mereka agar ikut bangkit bersama untuk melawan perilaku neoliberalisme yang menjajahnya.
Sikap apatis acuh tak acuh pada realita, ketidakadilan yang membuat frustasi masyarakat, hingga membangun tradisi anarkis dalam setiap penyelesaian masalah.
Viral terus-menerus di layar kaca media sosial menghiasi cerita konten, peristiwa kekerasan dan pembunuhan oleh sekelompok pemuda. Atas nama komunitas anak-anak muda, dengan bendera kelompok yang sangat mencolok, tetapi aktivitasnya jauh dari kata mulia.
Indonesia, tidak masuk negara dengan rasa aman yang tinggi, melainkan sebaliknya. Gangster anak-anak muda sulit terkendali atau memang ada unsur kesengajaan agar negara ini selalu ada dalam bayang-bayang kekacauan?
Namun, cukup ngeri dan memprihatinkan hanya karena berbeda bendera kelompok harus mempertontonkan keakuannya dengan cara melakukan kekerasan yang menelan korban jiwa.
Sadarlah generasi muda! Penjajahan neoliberalisme sudah masuk dalam ideologi anak muda sebagai racun yang membunuh masa depannya.
Saat saling serang dengan lantang bersuara keras, seolah-olah jagoan yang tidak terkalahkan, sementara saat tak memiliki uang mengemis-ngemis kepada orang tua, sambil menangis dan marah-marah.
Ketika kerja tak memiliki keterampilan dan keahlian apa pun, begitupun saat kerja tak memiliki daya tahan yang kuat dan tangguh. Banyak alasan ini dan itu, ujungnya mengandalkan orang tua lagi merengek-rengek minta ini dan itu. Di mana sosok mudamu jika sesuatu hanya bisanya merengek dan mengemis pada orang tua dan keluarga lainnya?
Sumpah pemuda, harus bersumpah pada diri sendiri dan berikrar sepenuh hati dengan tekad bulat. Aku bersumpah! Satu, menjunjung tinggi martabat diri. Dua, tidak membebani orang tua dan keluarga. Tiga, akan bangkit bersama menjadi generasi kuat dalam medan laga kehidupan di mana pun. Empat, akan berupaya keras membantu siapa pun masyarakat yang layak dibantu. Lima, akan selalu tetap optimis bergerak menjalankan setiap apa saja yang menjadi tanggung jawab untuk diamalkan.
Kira-kira, itu hal penting yang harus disumpahi generasi muda dalam berikrar pada dirinya. Hal demikian menjadi spirit dan motivasi yang kuat bagi setiap anak muda untuk tampil menjadi pemuda Indonesia yang tangguh dan kuat.
Durabilitas yang dimiliki pemuda harus direvitalisasi sistem injeksinya, komponen-komponennya tidak hanya untuk asal jalan. Namun, wajib untuk dimodifikasi agar generasi muda tidak lembek, mudah lelah, dan putus asa.
Pendidikannya wajib menerapkan sistem yang membangun sikap yang meningkatkan daya tahan, baik dalam menghadapi tekanan dalam diri pribadi maupun tekanan dari luar dirinya.
Ada konsekuensi yang harus dilakukan oleh siapa pun yang menjadi bagian di dalamnya.
Mendidik generasi muda saat ini tidak sekadar untuk lulus secara kuantitatif. Namun, harus lulus atas dasar ketangguhan dan daya tahan menjalani setiap rintangan dalam proses pembelajaran berlangsung.
Sumpah pemuda adalah ikrar batin dan zahir setiap generasi muda untuk menaklukan kemalasan dan mampu ngegas untuk menghempas segala halang rintang yang menghalanginya. Wallahualam.
*Dosen dan Kepala LP3K UM Bandung