Blog

Kabar UMBandung

Junjung Integritas dan Profesionalisme, Apoteker UM Bandung Siap Layani Masyarakat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto mendorong apoteker lulusan UM Bandung menjadi tenaga profesional yang berintegritas dan berkomitmen memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Herry setelah prosesi pengambilan sumpah 12 apoteker angkatan pertama Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu (3/10/2026).

Seluruh lulusan dinyatakan lulus 100 persen dalam ujian kompetensi nasional. Herry menyebut capaian tersebut menjadi langkah awal bagi para lulusan untuk membangun reputasi profesi apoteker UM Bandung.

“Anda sekalian adalah pelopor yang ikut membentuk reputasi apoteker UM Bandung dengan prestasi yang membanggakan,” ujar Herry.

Ia meminta para apoteker terus memperbarui kompetensi, mengikuti perkembangan ilmu farmasi, teknologi kesehatan, dan regulasi, serta membangun kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya.

“Jadilah apoteker yang peduli kepada masyarakat dan teruslah memperkuat layanan kesehatan masyarakat,” katanya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung Dadang Kahmad berpesan agar para lulusan menjadi apoteker yang andal, amanah, berakhlak, dan terus mengembangkan keilmuan.

Menurutnya, kompetensi profesional perlu diperkuat dengan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan soft skill.

Sementara itu, Dekan Farmasi UM Bandung Dwintha Lestari menegaskan bahwa sumpah apoteker merupakan landasan moral dan profesional dalam menjalankan tugas.

“Di mana pun Anda mengabdi, junjung tinggi etika dan profesionalisme. Teruslah belajar karena dunia kefarmasian terus berkembang,” ujarnya.

Apoteker Katolik di UM Bandung

Salah satu lulusan, Fransisca Natalia Hedy, meraih IPK tertinggi dengan nilai 3,96. Apoteker Katolik tersebut mengaku nyaman menjalani pendidikan profesi di UM Bandung meskipun kampus tersebut berada di bawah naungan Muhammadiyah.

“Saya enjoy bisa kuliah di UM Bandung. Tidak ada diskriminasi terkait latar belakang agama,” ucap Fransisca.

Saat mengikuti mata kuliah agama, Fransisca memilih memahami persamaan dan menghargai perbedaan. Menurutnya, sikap tersebut membuat proses pembelajaran berjalan baik dalam suasana saling menghormati.

Sebagai apoteker angkatan pertama, Fransisca berkomitmen menjalankan profesinya dengan menjunjung kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang.

Selain Fransisca, 11 apoteker lainnya yakni Andriyani Putri Kusuma, Azra Syafira, Eka Nurhayati, Fikta Rialas Lina, Ganjar Permana, Intan Putri Kurniati, Jasmine Trialisa, Mohammad Al-Hafiz, Nafilah Azzahra, Novia Dwiyanti, dan Sintia.

Dari 12 lulusan tersebut, 10 orang meraih predikat pujian, sedangkan dua lainnya meraih predikat sangat memuaskan dan memuaskan.

Prosesi ini menjadi pengambilan sumpah apoteker pertama yang digelar Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung dan berlangsung tertib serta khidmat dengan disaksikan pimpinan universitas dan keluarga lulusan.***(FA)

Selengkapnya

Teknologi Mengubah Cara Umat Islam Mencari Ilmu dan Memahami Agama

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah pola komunikasi. Namun, memengaruhi cara umat muslim mencari pengetahuan, menjalankan ibadah, dan mengekspresikan keberagamaan.

Ruang keagamaan yang sebelumnya banyak berlangsung secara langsung kini semakin meluas ke ruang digital. 

Media sosial dan berbagai platform digital menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan memperoleh informasi keagamaan.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Daryadi mengatakan, perubahan tersebut merupakan konsekuensi perkembangan teknologi informasi yang membuat masyarakat semakin terkoneksi.

Menurutnya, ruang digital kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pendidikan dan aktivitas keagamaan.

“Kehadiran ruang digital turut mengubah pola hubungan sosial dan sumber pengetahuan masyarakat,” ujar Yudi, seperti dikutip dari GSM Aisyiyah Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).

Menurut Yudi, kehidupan modern juga mendorong masyarakat mencari ketenangan dan pemenuhan spiritual.

Di tengah kemajuan material, karier, dan teknologi, kebutuhan terhadap kehidupan spiritual tetap muncul sebagai bagian dari pencarian makna hidup.

Perubahan juga terjadi pada otoritas keagamaan. Jika sebelumnya masyarakat banyak menjadikan ulama, kiai, ustaz, guru agama, pesantren, atau majelis taklim sebagai rujukan, kini pengetahuan agama dapat diperoleh dari berbagai tokoh dan konten di media sosial.

“Ruang digital ini memunculkan aktor-aktor baru di luar arus utama,” kata Yudi. Masyarakat kini dapat menemukan beragam corak pemikiran keagamaan melalui TikTok, YouTube, dan platform digital lainnya.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan. Pengguna dapat menerima suatu pandangan keagamaan tanpa mengetahui latar belakang keilmuan maupun sumber pengetahuannya.

Yudi juga menyoroti fenomena “muslim tanpa masjid”, yakni kecenderungan masyarakat mencari pengetahuan dan pengalaman keberagamaan di luar jalur formal seperti pesantren, madrasah, majelis taklim, dan masjid. Pengetahuan agama kini juga dicari melalui ruang digital.

Menurut Yudi, fenomena tersebut memiliki dua sisi. Ruang digital memperluas akses terhadap pengetahuan agama dan membuka jalan bagi pencarian spiritualitas.

Namun, belajar agama tanpa bimbingan guru juga dapat menimbulkan persoalan. 

“Satu sisi, kecenderungan masyarakatnya bagus kepada hal-hal yang spiritual, tetapi di sisi lain, bahaya juga kalau tanpa guru,” tegasnya.

Perubahan ruang keberagamaan juga membuat praktik ibadah semakin mudah tampil di ruang publik.

Aktivitas yang sebelumnya bersifat personal kini dapat dipublikasikan melalui media sosial sehingga keberagamaan sekaligus menjadi bagian dari cara seseorang menampilkan identitas. 

“Cara beragama di ruang sekarang itu adalah bukan saja saya melakukan ibadah, tapi saya sedang menunjukkan identitas,” kata Yudi.

Yudi menilai algoritma media sosial turut membentuk corak keberagamaan masyarakat. Konten yang terus dilihat, diklik, dan diulang akan semakin banyak muncul dalam linimasa pengguna.

“Produksi pengetahuan itu berdasarkan rumus algoritma. Kalau itu terus diulang-ulang, ya sudah, itu sebagai ruang pengetahuan bagi kita,” ujarnya.

Karena itu, keberagamaan di era digital tidak cukup diukur dari banyaknya pengetahuan atau aktivitas keagamaan yang ditampilkan di media sosial.

Pemahaman agama harus tercermin dalam kehidupan nyata, terutama melalui hubungan sosial dan kepedulian terhadap masyarakat.

Dalam perspektif Muhammadiyah, Yudi menegaskan bahwa keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan kesalehan personal, tetapi juga kepedulian sosial.

Masyarakat tidak perlu menutup diri dari perkembangan teknologi, tetapi harus memiliki kearifan dalam memilih dan menyaring informasi.

“Kita tidak bisa mematok orang menjadi harus begini, harus begitu. Namun, ya itulah risikonya ruang digital,” katanya.

Oleh karena itu, pemahaman keagamaan perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata dengan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. 

Keberagamaan di era digital, menurut Yudi, pada akhirnya tidak berhenti pada apa yang diketahui atau ditampilkan di layar.

Namun, pada sejauh mana nilai agama memberi manfaat bagi kehidupan bersama.***(FA)

Selengkapnya

Jangan Jadi Generasi yang Pintar Memakai AI Tapi Malas Berpikir

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendorong mahasiswa dan dosen memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan akademik secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Dekan FAI UM Bandung Cecep Taufikurrohman MA PhD menegaskan, kemajuan teknologi dalam pendidikan harus tetap berjalan seiring dengan adab dan etika.

Menurutnya, adab merupakan fondasi utama dalam proses menuntut ilmu.

“Sejatinya sebelum ilmu itu intinya adab dulu. Kalau adabnya bagus, ilmunya juga pasti bagus. Kalau adabnya tidak bagus, ilmunya pun sama tidak bagus,” ujar Buya Cecep saat membuka Stadium Generale FAI UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Rabu (30/09/2026).

Stadium Generale merupakan tradisi akademik FAI UM Bandung yang digelar untuk mengawali tahun akademik sekaligus membangun semangat belajar sivitas akademika.

Tahun ini, kegiatan tersebut mengangkat tema pemanfaatan teknologi informasi dan AI untuk mendukung pembelajaran, penulisan karya ilmiah, penelitian, hingga penyelesaian tugas akhir.

Cecep mengatakan, perkembangan AI merupakan bagian dari kemajuan peradaban yang kini telah memasuki berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan dan keagamaan.

Karena itu, AI tidak semestinya dihindari. Teknologi tersebut perlu dipahami dan dimanfaatkan secara tepat.

“AI jangan dibiarkan, dihindari, apalagi dimusuhi. Teknologi ini harus kita pahami dan manfaatkan secara bijak agar tidak justru membuat manusia bergantung, malas berpikir, dan kehilangan kemampuan untuk berkembang,” katanya.

Di lingkungan perguruan tinggi, pemanfaatan AI juga harus tetap berpijak pada integritas akademik.

Mahasiswa dan dosen perlu memiliki pemahaman etika serta pedoman penggunaan yang jelas agar AI tidak digunakan untuk memanipulasi tugas atau menghasilkan karya akademik tanpa proses berpikir yang memadai.

Untuk memperkuat pemahaman tersebut, FAI UM Bandung menghadirkan Dosen Kelompok Keahlian Fisika Teoretik Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Wahyu Hidayat SSi MSi sebagai narasumber utama.

Wahyu menjelaskan, transformasi digital di perguruan tinggi tidak cukup hanya ditandai dengan kemampuan menggunakan teknologi.

Dosen dan mahasiswa juga perlu memahami cara memanfaatkannya secara kritis dan bertanggung jawab.

Menurut Wahyu, AI dapat menjadi alat bantu dalam pembelajaran, penulisan karya ilmiah, dan penelitian.

Namun, AI bukan mesin yang mengetahui seluruh informasi secara mutlak. Teknologi ini merupakan sistem yang dilatih menggunakan data dalam jumlah besar untuk menghasilkan prediksi, rekomendasi, maupun konten.

Karena itu, penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis.

Setiap informasi yang dihasilkan AI perlu diperiksa kembali kebenaran dan relevansinya sebelum digunakan dalam kegiatan akademik.

Wahyu juga menekankan pentingnya etika, integritas akademik, dan prinsip responsible AI.

Pemanfaatan AI dalam pembelajaran, penelitian, maupun asesmen perlu mempertimbangkan manfaat sekaligus risiko yang mungkin ditimbulkannya.

“Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu dosen dan mahasiswa meningkatkan kualitas akademik. Sementara itu, tanggung jawab intelektual, proses berpikir, dan keputusan akhir tetap berada pada manusia,” jelasnya.

Menutup kegiatan, Cecep berharap Stadium Generale tidak hanya menambah wawasan sivitas akademika FAI UM Bandung mengenai perkembangan AI.

Kegiatan tersebut juga diharapkan memperkuat kesadaran untuk tetap mengedepankan adab dalam setiap proses pembelajaran.

Ia berharap Stadium Generale menjadi majelis ilmu yang memberikan manfaat sekaligus keberkahan bagi seluruh peserta.***(FA)

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap