Blog

Kabar UMBandung

Mahasiswa UM Bandung Diajak Jadikan Donor Darah sebagai Budaya Berbagi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Program Studi Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar donor darah pada Sabtu (10/10/2026) untuk membantu memenuhi kebutuhan darah dan mengajak mahasiswa lebih peduli terhadap sesama.

Kegiatan ini menargetkan 75 pendonor dan melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UM Bandung, Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI), serta Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Garut.

Sebelum mendonorkan darah, peserta menjalani registrasi, mengisi formulir, dan menjalani pemeriksaan kesehatan. Peserta yang memenuhi persyaratan kemudian mengikuti proses donor dengan pendampingan tim medis UTD PMI Kabupaten Garut.

Ketua Pelaksana Sri Rahayu mengatakan, kegiatan ini digelar karena kebutuhan darah masyarakat belum sebanding dengan ketersediaan stok di PMI. Ia berharap donor darah tersebut dapat membantu menambah pasokan bagi pasien yang membutuhkan.

“Semoga dengan diadakannya kegiatan ini, stok darah di PMI bisa bertambah,” ujar Sri.

Ketua Himprofar Surya Khairul menyebut donor darah sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang sejalan dengan catur dharma perguruan tinggi. Kolaborasi dengan BEM UM Bandung juga dilakukan untuk memperluas keterlibatan mahasiswa.

“Melalui kegiatan ini, kita bisa berkontribusi secara langsung, memberikan bantuan berupa darah yang nantinya akan disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan,” jelas Surya.

Ketua PDDI Kota Bandung Tulus Baedi mengapresiasi keterlibatan mahasiswa. Menurutnya, kampus memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran generasi muda tentang kebutuhan darah. “Donor darah harus jadi budaya dan jadi kebutuhan,” tegas Tulus.

Ia mengatakan, rasa takut terhadap jarum suntik dan darah serta kurangnya pemahaman tentang manfaat donor darah masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat. Karena itu, edukasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar semakin banyak orang bersedia menjadi pendonor.

Tulus berharap UM Bandung dapat mengadakan donor darah secara rutin dan menjadi contoh bagi perguruan tinggi lainnya. PDDI, katanya, siap mendukung upaya menjadikan donor darah sebagai kebiasaan masyarakat.

Sementara itu, staf umum UTD PMI Kabupaten Garut Sesep Nugraha menjelaskan bahwa darah yang terkumpul harus melalui pemeriksaan laboratorium sebelum disalurkan ke rumah sakit. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan darah layak digunakan oleh pasien.

Sesep menyebut kebutuhan darah di Kabupaten Garut mencapai sekitar 2.500 kantong per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, UTD PMI terus mengajak masyarakat yang memenuhi persyaratan agar berpartisipasi dalam donor darah.

Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkala untuk membantu menjaga ketersediaan darah. “Setetes darah kita, nyawa bagi mereka,” ujarnya.

Bagi Shafa Jauza Azzahra, mahasiswa Program Studi Farmasi UM Bandung, kegiatan ini menjadi pengalaman pertamanya mendonorkan darah. Ia mengaku ingin membantu orang lain, meski proses donornya harus dihentikan sebelum selesai karena mengalami mual dan pusing.

“Menurut aku penting banget, karena tanpa kita tahu, ternyata banyak juga orang-orang yang memang perlu darah kita ini,” ungkap Shafa.

Himprofar UM Bandung berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap kebutuhan darah sekaligus mendorong donor darah menjadi kebiasaan berbagi dan bentuk kepedulian terhadap sesama.***(Aziz/Kartika/Pierly)

Selengkapnya

Dosen UM Bandung Ajak Guru Jadikan Keteladanan sebagai Bagian dari Dakwah Pendidikan

UMBANDUNG.AC.ID, Sumedang -- Sesungguhnya guru di lingkungan lembaga pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan.

Namun, mereka juga berperan penting dalam menanamkan upaya nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan kepada peserta didik.

Hal tersebut disampaikan dosen Universitas Muhammadiyah Bandung sekaligus Wakil Ketua PDM Sumedang Dr Supala MAg saat memberikan materi tentang Muqaddimah Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah dalam kegiatan Baitul Arqam bagi guru SLB Muhammadiyah dan TK Aisyiyah se-Sumedang Utara pada Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kompleks Perguruan Muhammadiyah, Jalan Mayor Abdurrahman Nomor 219, Sumedang, tersebut bertujuan memperkuat pemahaman ideologi, politik, dan organisasi (ideopolitor) para pendidik di lingkungan persyarikatan.

Supala menjelaskan, Muqaddimah AD Muhammadiyah tidak sekadar dokumen organisasi.

Namun, landasan pemikiran dan perjuangan yang perlu dipahami serta diterapkan oleh setiap pendidik.

Menurutnya, pemahaman ideologis yang kuat akan tercermin dalam sikap, keteladanan, dan cara guru mendidik peserta didik.

Termasuk juga anak-anak berkebutuhan khusus di SLB dan anak usia dini di TK Aisyiyah.

Melalui Baitul Arqam, para guru diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesionalisme.

Namun, juga memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai Muhammadiyah.

Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi sarana dakwah untuk membentuk generasi yang berakhlak, berkemajuan, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.***

Selengkapnya

Dadang Kahmad Ungkap Tiga Cara Agama Menghadapi Sains dan Teknologi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Muhammadiyah perlu menjadikan agama sebagai kekuatan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan zaman.

Agama, menurut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad, tidak cukup hanya dipertahankan dalam ruang normatif. Agama juga harus mampu hadir untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Dadang saat meluncurkan bukunya, Muhammadiyah dan Masa Depan Agama, di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Senin (05/10/2026).

Buku yang diterbitkan Suara Muhammadiyah tersebut merupakan refleksi Dadang selama puluhan tahun berada di lingkungan Muhammadiyah sekaligus sebagai akademisi sosiologi agama.

Dadang menjelaskan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak dahulu telah memunculkan pertanyaan mengenai masa depan agama.

Pertanyaan itu muncul sejak era positivisme, revolusi industri, perkembangan teknologi informasi, hingga hadirnya kecerdasan buatan atau AI.

Menurut Dadang, terdapat tiga kecenderungan dalam merespons modernisasi, sains, dan teknologi.

Pertama, kelompok yang menolak modernisasi dan memilih bertahan dalam ortodoksi. Kelompok ini cenderung menarik diri dari perubahan dan perkembangan zaman.

Kedua, kelompok yang larut dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga semakin jauh dari agama. Fenomena agnostisisme dan ateisme, menurut Dadang, menjadi salah satu contohnya.

Ketiga, kelompok yang mampu beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip agama. Kelompok ini terbuka terhadap perkembangan zaman sekaligus memanfaatkan teknologi untuk kemajuan kehidupan.

“Ortodoksi dalam ibadah, tetapi kuat dan maju dalam muamalah. Teknologi, AI, dan berbagai kecanggihan zaman dimanfaatkan untuk kemajuan agama. Islam berkemajuan relevan dengan posisi ini,” ujar Dadang.

Ia menilai pendekatan tersebut sejalan dengan karakter Muhammadiyah yang tetap berpegang pada prinsip keagamaan, tetapi terbuka terhadap kemajuan dalam kehidupan sosial.

Dadang mengatakan, buku tersebut lahir dari pengalaman panjangnya sebagai warga Muhammadiyah dan pengajar.

Ia telah aktif di Muhammadiyah sejak 1980-an, mulai dari tingkat ranting hingga dipercaya menjadi bagian dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menilai buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Menurut Herry, buku tersebut mengajak pembaca melihat kembali posisi agama, Islam, dan Muhammadiyah dalam menghadapi masa depan yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital.

Muhammadiyah, kata Herry, memiliki peran penting dalam menghadirkan pencerahan, pembaruan, dan kemajuan di tengah perubahan tersebut.

Ia menilai gagasan dalam buku Dadang juga relevan dengan berbagai persoalan kontemporer, mulai dari pendidikan dan lingkungan hingga tantangan teknologi digital.

Peluncuran buku tersebut dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas, Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, serta Rektor Uhamka Jakarta Gunawan Suryoputro.

Hadir pula Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan bersama jajaran pleno PWM Jawa Barat, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Azrul Tanjung, dan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujung Berung Tatang Zakaria.

Dari unsur pemerintahan dan pendidikan, hadir anggota Dewan Pendidikan Nasional Tiar Anwar Bachtiar dan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Muchlas Rowi.

Sejumlah pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah juga hadir, di antaranya Rektor UAD Muchlas, Rektor UMMI Reny Sukmawani, Rektor UM Kuningan, serta Ketua Stikes Muhammadiyah Ciamis.

Turut hadir Ketua Senat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Mahmud, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ahmad Sarbini, serta Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung Wahyudin Darmalaksana.

Para pimpinan organisasi otonom Muhammadiyah Jawa Barat serta pimpinan majelis dan lembaga PWM Jawa Barat juga turut menghadiri kegiatan tersebut.***(FA)

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap