Blog

Kabar UMBandung

Rektor UM Bandung Tekankan Ekonomi Digital Harus Inklusif dan Berkelanjutan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan pentingnya membangun ekonomi digital yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi keberlanjutan dan inklusivitas.

Hal itu disampaikannya dalam International Conference on Digital Economics 2026 (INCODE) ke-3 yang digelar di UM Bandung pada 25–28 April 2026.

Lebih jauh, Herry menyoroti bahwa ekonomi digital tidak semata dibangun melalui teknologi, tetapi melalui keterhubungan antara riset, masyarakat, dan dunia usaha.

Dia menyebut, inovasi akan lebih berdampak ketika hasil penelitian tidak berhenti di jurnal, tetapi diterapkan langsung di komunitas, pasar, dan sektor UMKM.

Menurutnya, ekosistem yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, dan masyarakat terbukti mampu mempercepat adopsi teknologi digital.

Oleh karena itu, peran kampus menjadi krusial dalam menjembatani inovasi agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Herry juga menekankan bahwa digitalisasi membawa peluang besar, seperti menekan biaya transaksi, membuka akses pasar, serta memperluas kesempatan ekonomi.

Namun, dia mengingatkan bahwa tanpa nilai dan tata kelola yang baik, teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.

“Ketika platform digital dirancang untuk efisiensi dan inklusi, serta didukung tata kelola data yang baik, maka pertumbuhan ekonomi akan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menyoroti pentingnya sistem pembiayaan digital yang terintegrasi. Menurutnya, ekosistem ekonomi digital membutuhkan dukungan dari berbagai instrumen, seperti fintech, investasi berdampak, instrumen syariah, hingga skema pembiayaan berbasis komunitas.

Dalam konteks regional, Herry menilai Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi digital nasional.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan didominasi generasi muda, wilayah ini dinilai memiliki kekuatan dalam mendorong inovasi, mulai dari technopreneur di Bandung hingga UMKM kreatif di berbagai daerah.

Dia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat solusi bagi persoalan nyata di masyarakat.

Kampus, kata dia, tidak lagi sekadar ruang belajar, tetapi laboratorium hidup yang mampu melahirkan inovasi berbasis kebutuhan daerah.

“Sejatinya riset akademik harus menghasilkan kebijakan berbasis data yang dapat langsung diterapkan, bukan hanya menjadi laporan yang tersimpan,” tegasnya.

Herry mengajak kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah.

Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci dalam menciptakan inovasi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.***(FA)

Selengkapnya

Kasus Daycare Jadi Momentum Evaluasi Sistem Pengasuhan Anak di Indonesia

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kasus dugaan kekerasan fisik dan psikis terhadap anak di sebuah daycare di Yogyakarta yang viral memicu beragam reaksi publik.

Di tengah keprihatinan tersebut, muncul perdebatan di media sosial yang membandingkan antara ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja.

Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah Bandung Rizka Saputri SPdI MPd menilai narasi yang berkembang cenderung menyederhanakan persoalan.

Menurutnya, komentar seperti anjuran berhenti bekerja atau anggapan bahwa pengasuhan terbaik hanya oleh ibu berpotensi menambah beban psikologis bagi perempuan.

Ia menjelaskan, pandangan tersebut mengandung asumsi problematis karena mereduksi persoalan yang kompleks menjadi sekadar pilihan personal.

Padahal, isu pengasuhan anak seharusnya dilihat secara lebih luas dan sistematis.

Rizka menegaskan bahwa pengasuhan tidak dapat diukur hanya dari kehadiran fisik ibu.

Dalam perspektif pendidikan anak usia dini, pengasuhan merupakan proses kolaboratif antara orang tua dan lingkungan yang mampu memberikan rasa aman, kehangatan, serta stimulasi yang konsisten.

Ia juga mengingatkan bahwa anak usia dini berada pada fase emas perkembangan yang membutuhkan pola asuh tepat.

Mengacu pada teori kelekatan John Bowlby, kualitas hubungan emosional sejak usia 0–2 tahun menjadi fondasi penting bagi pembentukan konsep diri anak.

Lebih lanjut, Rizka memandang daycare sebagai bagian dari sistem pengasuhan yang lebih luas, bukan pengganti peran ibu.

Dalam realitas sosial saat ini, keberadaan daycare perlu dipahami secara objektif agar dapat dikembangkan menjadi layanan yang aman dan berkualitas.

Menurutnya, kasus ini seharusnya menjadi refleksi bersama untuk memperbaiki sistem pengasuhan, bukan saling menyalahkan.

Ia menekankan bahwa setiap anak, baik diasuh di rumah maupun di daycare, berhak mendapatkan pengasuhan yang aman, manusiawi, dan berkualitas.***

Selengkapnya

Simposium HKI UM Bandung Bahas Keadilan dan Realitas Sosial dalam Hukum Keluarga Islam

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) bersama Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) HKI Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar Simposium Hukum Keluarga Islam pada Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang akademik yang tidak hanya menghadirkan diskusi ilmiah, tetapi juga mempererat silaturahmi antar sivitas akademika di lingkungan Prodi HKI.

Bertempat di Lantai 2 Ruang 3 Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, simposium mengangkat tema “Menelaah Hukum Keluarga Islam dalam Perspektif Keadilan dan Realitas Sosial”.

Tema tersebut dinilai kontekstual dengan dinamika sosial yang terus berkembang dan menuntut pendekatan hukum yang adaptif.

Ketua Pimpinan Komisariat IMM HKI UM Bandung Fadila Rizka Anggreani menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah yang konstruktif untuk membangun komunikasi akademik antara mahasiswa dan dosen.

Menurutnya, interaksi yang terjalin dalam forum seperti ini penting untuk menciptakan iklim akademik yang sehat dan kolaboratif.

Ia menegaskan bahwa simposium tidak sekadar menjadi ruang transfer pengetahuan, melainkan juga momentum untuk mempererat hubungan akademik dalam suasana yang lebih dialogis dan terbuka.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif terlibat dalam proses pertukaran gagasan.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah belajar, tetapi juga sebagai sarana bersilaturahmi antara mahasiswa dan dosen di Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Bandung,” ujar Fadila.

Lebih lanjut, Fadila menjelaskan bahwa simposium ini menjadi ruang produktif untuk mendiskusikan berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ia berharap dari forum ini lahir pemikiran kritis yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan Hukum Keluarga Islam di tengah masyarakat.

Menurutnya, keberadaan forum ilmiah seperti ini penting untuk melatih kepekaan akademik mahasiswa terhadap isu-isu aktual.

Dengan demikian, mahasiswa dapat mengembangkan perspektif yang lebih komprehensif dalam melihat fenomena hukum yang terjadi.

Fadila juga berharap seluruh peserta dapat memperoleh wawasan yang lebih luas serta manfaat jangka panjang dari kegiatan tersebut.

Ia menekankan bahwa ilmu yang diperoleh diharapkan tidak berhenti di forum, tetapi dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

“Semoga apa yang kita dapatkan pada acara kali ini bisa bermanfaat untuk hari ini, esok, dan seterusnya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi HKI Universitas Muhammadiyah Bandung, Yudi Daryadi, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

Ia menilai simposium tersebut relevan dengan perkembangan kehidupan manusia, khususnya dalam konteks keberagamaan yang terus mengalami dinamika.

Yudi mengungkapkan bahwa tema yang diangkat mencerminkan upaya untuk menyeimbangkan antara nilai keadilan dan realitas sosial.

Menurutnya, kajian Hukum Keluarga Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial yang terus berubah.

Ia juga menekankan pentingnya mahasiswa untuk selalu mengikuti perkembangan realitas sosial, baik dalam penelitian maupun dalam penyusunan karya ilmiah.

Hal ini dinilai penting agar kajian akademik tetap relevan dan memiliki dampak nyata di masyarakat.

Dalam simposium tersebut turut hadir Hakim Pengadilan Agama Kota Cimahi Ahmad Hidayat sebagai narasumber utama.

Kegiatan berlangsung dengan rangkaian pembukaan, dilanjutkan diskusi yang konstruktif dan edukatif mengenai perkembangan serta dinamika Hukum Keluarga Islam, yang diikuti oleh sivitas akademika Prodi HKI.***(FK)

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap