Blog

Kabar UMBandung

Budaya Populer Bisa Menjadi Media Dakwah yang Efektif

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi KPI Universitas Muhammadiyah Bandung Ahmad Rifai menilai fenomena lagu viral dan budaya populer saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai hiburan sesaat yang muncul lalu menghilang. 

Menurutnya, di balik popularitas sebuah karya sering tersimpan pesan sosial, nilai kemanusiaan, hingga refleksi keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Ahmad Rifai saat mengisi Program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (12/05/2026).

Dalam kesempatan itu, ia mengangkat lagu viral Siti Marwani sebagai objek kajian budaya populer dari perspektif filsafat seni dan dakwah kultural.

Menurut Rifai, lagu yang ramai diperbincangkan di berbagai platform digital tersebut tidak sekadar menjadi fenomena hiburan biasa.

Ia menilai Siti Marwani menyimpan kritik sosial yang kuat serta menggambarkan berbagai persoalan yang dekat dengan realitas masyarakat.

"Fenomena budaya populer hari ini tidak bisa dipandang sekadar hiburan yang lewat begitu saja. Lagu viral sering kali menyimpan pesan sosial, kritik, bahkan suara masyarakat yang mungkin tidak tersampaikan melalui ruang-ruang formal,” ujar Ahmad Rifai.

Ia menjelaskan bahwa dalam filsafat seni terdapat dua pendekatan utama untuk membaca fenomena budaya populer.

Pertama, seni dipahami sebagai ekspresi yang menjadi ruang penyaluran emosi dan pengalaman otentik penciptanya.

Kedua, seni dipandang sebagai kritik sosial yang berfungsi menyuarakan ketidakadilan dan menghadirkan perlawanan simbolik terhadap realitas masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, karya seni tidak hanya dinikmati, tetapi juga dapat dimaknai secara lebih mendalam.

Rifai menilai salah satu alasan Siti Marwani mudah diterima masyarakat adalah karena memiliki kejujuran emosional yang kuat.

Meski dikemas secara sederhana, lagu tersebut dianggap mampu menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kadang-kadang masyarakat tidak mencari karya yang rumit. Mereka mencari sesuatu yang terasa dekat dengan pengalaman hidupnya. Kejujuran emosional itu yang membuat lagu seperti Siti Marwani mudah diterima,” kata Ketua LSBO PWM Jawa Barat tersebut.

Lebih jauh, Rifai menjelaskan bahwa lagu Siti Marwani juga memiliki dimensi identitas budaya yang kuat.

Nama tersebut disebut sebagai representasi masyarakat Sumatera Utara, khususnya Labuhan Batu, yang digunakan untuk menghubungkan pesan lagu dengan realitas sosial setempat.

Menurutnya, lirik lagu tersebut memuat kritik terhadap penyalahgunaan narkoba, ketidakadilan hukum, hingga ketimpangan ekonomi.

Mengaitkan hal itu dengan perspektif Muhammadiyah, Rifai menegaskan bahwa budaya populer dapat menjadi bagian dari dakwah kultural yang relevan di era digital.

“Dakwah hari ini perlu masuk ke ruang-ruang budaya populer dan media sosial. Selama substansi nilainya baik dan membawa pesan kebaikan, budaya dapat menjadi jembatan dakwah yang efektif,” pungkasnya.***(FA)

Selengkapnya

Dosen UM Bandung Kenalkan Konsep Islamic Academic Climate di Panggung Akademik Global

UMBANDUNG.AC.ID, Thailand -- Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Nurlaela Hamidah, kembali menorehkan kiprah akademik di tingkat internasional.

Ia tampil sebagai presenter dalam seminar internasional yang diselenggarakan di Faculty of Social Sciences and Humanities, Mahidol University, Salaya, Thailand, Selasa (12/05/2026).

Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan beragam isu strategis global, mulai dari persoalan sosial, pendidikan, kesehatan mental, hingga tantangan lingkungan di era modern. 

Di tengah ruang akademik yang mempertemukan berbagai perspektif keilmuan itu, Nurlaela membawa gagasan yang menawarkan pendekatan baru dalam psikologi pendidikan, khususnya dari perspektif nilai-nilai Islam.

Dalam forum tersebut, Nurlaela mempresentasikan artikel ilmiah berjudul “Goal Orientation, Student Engagement, and Academic Climate in Higher Education: A Systematic Literature Review Toward Conceptualizing Islamic Academic Climate as a Moderator.”

Penelitian yang dipresentasikannya merupakan hasil kajian berbasis Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis bibliometrik menggunakan perangkat VOSviewer.

Pendekatan ini digunakan untuk memetakan perkembangan penelitian serta mengidentifikasi arah kecenderungan kajian dalam bidang psikologi pendidikan.

Kajian tersebut berangkat dari sebuah temuan penting: pembahasan mengenai iklim akademik selama ini lebih banyak dibangun dari perspektif Barat dan sekuler.

Sementara itu, dimensi nilai dan spiritualitas Islam masih relatif jarang dihadirkan sebagai variabel formal dalam model ilmiah.

Berangkat dari celah tersebut, Nurlaela menawarkan konsep Islamic Academic Climate atau iklim akademik Islami sebagai variabel moderator yang dapat menjelaskan dinamika proses belajar mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam secara lebih komprehensif dan terukur.

Penelitian dilakukan dengan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) melalui tahapan identifikasi, penyaringan, kelayakan, hingga proses inklusi literatur.

Sumber kajian diperoleh dari dua basis data internasional bereputasi, yaitu Scopus dan Web of Science. Data kemudian dianalisis menggunakan beberapa pendekatan bibliometrik, seperti keyword co-occurrence, co-authorship, citation, dan co-citation analysis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian mengenai goal orientation, student engagement, dan academic climate kini berkembang menjadi bidang multidimensional yang tidak lagi hanya menyoroti aspek psikologis individu, tetapi melibatkan dimensi sosial, kontekstual, hingga aspek nilai.

Menariknya, pemetaan menggunakan VOSviewer menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam penelitian pendidikan.

Jika sebelumnya pendekatan individual lebih dominan, kini berkembang menuju perspektif ekologis yang lebih holistik dan mempertimbangkan berbagai faktor lingkungan.

Nurlaela menjelaskan bahwa konsep Islamic Academic Climate yang ditawarkannya bekerja melalui empat mekanisme utama.

Pertama, memperkuat mastery goal orientation melalui internalisasi nilai ihsan, sehingga mahasiswa terdorong memaknai aktivitas belajar sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian.

Kedua, mengurangi dampak negatif performance-avoidance melalui atmosfer rahmah yang menciptakan lingkungan akademik aman secara psikologis.

Ketiga, membangun sense of academic community melalui semangat ukhuwah akademik yang mendorong kolaborasi serta solidaritas antarmahasiswa.

Keempat, menghadirkan makna transendental dalam proses pembelajaran sehingga motivasi intrinsik mahasiswa menjadi lebih kuat, mendalam, dan berkelanjutan.

Konsep tersebut tidak berdiri sendiri. Nurlaela menjelaskan bahwa gagasannya diperkuat oleh berbagai penelitian empiris dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia.

Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasis Islam, supervisi akademik, serta iklim organisasi yang berlandaskan nilai Islam memiliki kontribusi signifikan terhadap kualitas atmosfer akademik.

Menurut Nurlaela, penelitian ini memiliki kontribusi pada dua level sekaligus: teoretis dan praktis. Dari sisi teoretis, penelitian ini memperluas literatur global mengenai iklim akademik dengan memasukkan dimensi nilai dan spiritualitas Islam.

Sementara dari sisi praktis, penelitian tersebut menawarkan kerangka analisis yang lebih relevan secara kultural bagi pengambil kebijakan di perguruan tinggi Islam, termasuk di lingkungan Universitas Muhammadiyah.

“Perguruan tinggi Islam memiliki modal nilai yang sangat kaya. Sudah saatnya modal itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi dikonseptualisasikan secara ilmiah dan diintegrasikan dalam model-model psikologi pendidikan,” ujar Nurlaela dalam presentasinya.

Presentasi tersebut mendapatkan respons positif dari peserta seminar internasional. Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif, melibatkan akademisi serta praktisi lintas negara yang mendalami posisi konstruk berbasis nilai keislaman dalam kerangka psikologi pendidikan modern.

Partisipasi Nurlaela di Mahidol University juga menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi akademisi Indonesia di panggung global.

Sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Asia Tenggara, Mahidol University selama ini dikenal sebagai ruang strategis bagi kolaborasi akademik lintas disiplin dan lintas budaya.

Keikutsertaan Nurlaela dalam forum tersebut sekaligus mencerminkan komitmen Universitas Muhammadiyah Bandung dalam mendorong lahirnya akademisi yang tidak hanya unggul secara intelektual.

Namun, mampu menghadirkan perspektif keilmuan Islam berkemajuan dalam percakapan akademik dunia.***

Selengkapnya

Kalahkan Ribuan Mahasiswa, Althof dari UM Bandung Raih Tiket Google Student Ambassador 2026

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siapa sangka, rasa penasaran gara-gara sering scrolling media sosial bisa berbuah pencapaian besar.

Itulah yang dialami Nisa Aghnia Nurul Al Thof, atau yang biasa disapa Althof, mahasiswi prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang berhasil menembus seleksi ketat Google Student Ambassador (GSA) 2026. 

Dari lebih dari 81.800 mahasiswa yang mendaftar dari sekitar 1.900-an universitas se-Indonesia, hanya 2.000 orang yang terpilih dan Althof jadi salah satunya.

Ceritanya sederhana. Althof sering melihat informasi soal GSA berseliweran di media sosial, dan rasa penasaran itu akhirnya mendorongnya untuk mencari tahu lebih jauh.

Dia mulai menelusuri akun resmi GSA, membaca pengalaman para alumni tahun sebelumnya, lalu pelan-pelan memahami sendiri pola dan proses seleksinya, dari nol, secara mandiri.

Perjalanan Althof tentu bukan tanpa hambatan. Masa onboarding GSA ternyata bentrok dengan jadwal lomba yang sedang dia ikuti, sehingga dia harus pintar-pintar membagi waktu antara dua hal sekaligus.

Belum lagi, dia mengaku belum punya pengalaman sebagai content creator, salah satu bagian dari proses seleksi GSA. Tapi justru di situlah serunya. 

Tantangan itu malah jadi ruang belajar baru bagi Althof, yang akhirnya terjun langsung ke dunia pembuatan konten digital dan personal branding lewat pendekatan learning by doing.

Program GSA sendiri ternyata bukan cuma soal teknologi dan kecerdasan buatan. Althof mengaku banyak hal lain yang dia petik selama mengikuti program ini, mulai dari kemampuan komunikasi, kreativitas, hingga cara beradaptasi di era digital yang terus bergerak cepat. 

"Program Google Student Ambassador sendiri mendorong para mahasiswa untuk menjadi agen perubahan di lingkungan kampus dengan membawa semangat inovasi, kolaborasi, dan literasi teknologi yang lebih luas," ujarnya di kampus UM Bandung, Jumat (15/05/2026).

Ada satu pesan yang rupanya membekas kuat di benak Althof sejak inaugurasi Google, "jangan mendegradasi otak dengan AI." 

Baginya, kalimat itu bukan larangan, tapi pengingat penting. AI seharusnya jadi alat bantu untuk mendongkrak produktivitas dan kreativitas, bukan pelarian dari kerja berpikir kritis. 

Ke depan, Althof berharap kehadiran GSA di kampus bisa mendorong lebih banyak mahasiswa memanfaatkan AI secara bijak, maksimal dalam konteks akademik, tapi tetap dalam koridor regulasi yang berlaku.

Karena pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun saat ini, tetap saja membutuhkan manusia atau SDM yang mau berpikir.***

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap