Blog

Kabar UMBandung

Kuliah di Bioteknologi UM Bandung, Mahasiswa Tak Hanya Belajar, Tapi Menciptakan Inovasi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Menjadi mahasiswa Bioteknologi tidak hanya belajar teori di ruang kelas atau praktikum di laboratorium. Di Prodi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, mahasiswa juga didorong untuk mengembangkan ide, melakukan riset, hingga membangun inovasi yang menjawab berbagai persoalan di masyarakat.

Komitmen tersebut tercermin melalui Biotechnology of Champions, sebuah kompetisi akademik yang dirancang sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyusun gagasan ilmiah, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi riset dan kewirausahaan tingkat nasional.

Melalui kegiatan bertema Unlocking Potential Through Competition and Research Innovation itu, mahasiswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berlatih mengembangkan solusi berbasis ilmu bioteknologi terhadap berbagai isu aktual, seperti pengembangan pangan fungsional, teknologi ramah lingkungan, inovasi kesehatan, hingga pengembangan obat.

Ketua Pelaksana Biotechnology of Champions Mela Komalasari mengatakan, kompetisi tersebut merupakan program unggulan Bidang Riset dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Bioteknologi (Himabit) yang menjadi bagian dari upaya membangun budaya riset sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat meningkatkan pola pikir kritis mahasiswa, mengasah kemampuan memecahkan masalah, dan menumbuhkan minat yang kuat terhadap dunia riset di bidang bioteknologi," ujarnya.

Menurut Mela, pengalaman belajar di Bioteknologi tidak berhenti pada penguasaan materi perkuliahan. Mahasiswa juga dibiasakan mengembangkan ide menjadi proposal ilmiah, menyusun solusi berbasis riset, hingga mengenal proses kompetisi yang banyak diikuti mahasiswa di tingkat nasional.

Karena itu, Biotechnology of Champions menghadirkan simulasi penyusunan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Simulasi tersebut memberi pengalaman awal bagi mahasiswa sebelum mengikuti kompetisi yang sesungguhnya.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menyusun karya ilmiah. Namun, melatih kemampuan bekerja dalam tim, berpikir sistematis, serta menawarkan solusi yang aplikatif dan berdampak bagi masyarakat.

"Kami berharap pengalaman dari kegiatan ini mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam ajang PKM dan P2MW, sehingga ide-ide inovatif yang lahir di kampus dapat berkembang menjadi solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat," kata Mela.

Sementara itu, Ketua Prodi Bioteknologi UM Bandung Wulan Pertiwi menilai budaya kompetisi menjadi salah satu cara efektif membangun ekosistem akademik yang sehat sekaligus memperkuat kualitas lulusan.

Menurutnya, mahasiswa membutuhkan ruang untuk menguji kemampuan, memperluas wawasan, serta membiasakan diri menghadapi tantangan riset dan inovasi sejak dini.

"Kegiatan seperti ini sangat penting untuk mengasah kompetensi, wawasan, dan semangat kompetitif mahasiswa di bidang bioteknologi, sekaligus menjadi wadah untuk menumbuhkan jiwa juara yang kelak bermanfaat bagi bangsa dan negara," ujarnya.

Ia menambahkan, pembelajaran di Prodi Bioteknologi UM Bandung dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep-konsep bioteknologi. Namun, mampu menerapkannya dalam bentuk riset, inovasi, maupun pengembangan produk yang memiliki manfaat nyata.

Melalui berbagai kegiatan akademik, riset, organisasi kemahasiswaan, hingga kompetisi, mahasiswa didorong membangun portofolio sejak kuliah. Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan siap melanjutkan studi, berkarier di industri, menjadi peneliti, ataupun mengembangkan usaha berbasis inovasi bioteknologi.

Bagi calon mahasiswa yang ingin belajar di lingkungan yang mendorong lahirnya inovasi, budaya riset, dan pengalaman akademik yang aplikatif, Prodi Bioteknologi UM Bandung menghadirkan ruang untuk bertumbuh sekaligus mengembangkan potensi menjadi solusi bagi masyarakat.***(FK/HMA)

Selengkapnya

Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung Bangun Portofolio Lewat Kompetisi Nasional

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bukan hanya soal belajar teori komunikasi di ruang kelas. Mahasiswanya juga didorong untuk menghasilkan karya, mengikuti kompetisi, dan menguji kemampuan di tingkat nasional.

Hal itu kembali dibuktikan dalam ajang SILAT APIK PTMA ke-5 Tahun 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta, pada 24–26 Juni 2026. Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung sukses membawa pulang deretan prestasi dari berbagai kategori kompetisi.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas mahasiswa berkembang di banyak bidang. Bukan hanya produksi media, tetapi juga fotografi, film, public relations, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga esports.

Prestasi tertinggi diraih tim mahasiswa angkatan 2023 yang berhasil menyabet Juara 1 Public Service Announcement (PSA) melalui karya bertema pelayanan publik. Tim tersebut terdiri atas Amesha Habibah, Kahla Almalikah, Mutia Agita Ardianti, M Fawaz Hawari, Wulan Cahya Indika Azahra, dan Zahra Annisha Rizky.

Tak kalah membanggakan, tim mahasiswa angkatan 2022 yang beranggotakan Nada Salsabila, Nadzri Adhlani, Nasywa Salsa Aulia, dan Yoga Muhammad Gumelar berhasil meraih Juara 3 Practicum Work Product Competition kategori Podcast.

Prestasi juga datang dari berbagai kategori lainnya. Kaisan Nailus (2023) sukses menjadi Juara 1 Fotografi kategori Lifestyle, sementara Muhammad Dzulfikar (2024) meraih Juara 1 AI Generated Poster Competition sekaligus membawa pulang penghargaan Best Innovation berkat kreativitasnya memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Di bidang perfilman, Ikhsan Fadillah (2023) meraih Juara 2 Short Semi Documentary. Putri Aulia (2023) berhasil memperoleh Juara 2 Community-Based Public Relations Campaign kategori Problem Solving, sedangkan Rahman Hakim (2023) meraih Juara 3 AI Generated Video Competition.

Menariknya lagi, prestasi mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung tidak hanya hadir di bidang akademik dan industri kreatif. Maulana Putra (2023) juga berhasil meraih Juara 3 Mobile Legends Competition, menambah daftar capaian mahasiswa dalam ajang tersebut.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UM Bandung Agung Tirta Wibawa mengatakan, prestasi yang diraih mahasiswa menunjukkan bahwa dunia komunikasi saat ini menuntut kemampuan yang semakin beragam. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga didorong aktif berkarya, berkolaborasi, dan mengikuti perkembangan teknologi.

"Keberhasilan para mahasiswa ini mencerminkan luasnya kompetensi yang dikembangkan Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung. Mulai dari produksi media digital, fotografi, perfilman, hubungan masyarakat, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, hingga industri kreatif dan esports," ujarnya.

Menurut Agung, proses pembelajaran di Prodi Ilmu Komunikasi dirancang agar mahasiswa memiliki pengalaman nyata sebelum lulus. Mereka didorong mengikuti kompetisi, mengerjakan proyek kreatif, membangun portofolio, hingga mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri komunikasi digital.

Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain untuk terus mengasah kemampuan dan berani mencoba berbagai tantangan.

"Keberhasilan ini sekaligus mempertegas komitmen Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung dalam mencetak lulusan yang profesional, adaptif, kreatif, dan siap bersaing," tegasnya.

Deretan prestasi ini menjadi gambaran bahwa kuliah di Ilmu Komunikasi UM Bandung bukan sekadar mengejar nilai di kelas. Mahasiswa diberi ruang untuk bereksplorasi, membangun portofolio, memanfaatkan teknologi terkini, hingga membuktikan kemampuannya di panggung nasional.

Bagi calon mahasiswa yang ingin belajar sambil berkarya dan siap menghadapi dunia industri kreatif, pengalaman seperti inilah yang terus dibangun di Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung.***(FA)

Selengkapnya

Pangan Lokal Tak Sekadar Tradisi, Tapi Solusi Kesehatan dan Ketahanan Pangan Bangsa

UMBANDUNG.COM, Bandung -- Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah dan berpotensi besar menjadi fondasi bagi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena pola konsumsi masyarakat semakin bergeser ke arah pangan ultraolahan (ultra-processed food) dan produk impor.

Hal itu disampaikan Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Ketua Halal Center UM Bandung Dr Saepul Adnan MSi saat menjadi narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Rabu lalu.

Menurut Saepul, Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia. Kekayaan tersebut tidak hanya tercermin dari keanekaragaman flora dan fauna.

Namun, beragam komoditas pangan lokal yang tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing.

Ironisnya, di tengah kekayaan hayati tersebut, masyarakat justru semakin meninggalkan pangan tradisional dan lebih memilih makanan yang telah melalui proses industri panjang.

Padahal, semakin tinggi tingkat pengolahan suatu makanan, semakin besar pula risiko hilangnya kandungan gizi alami serta meningkatnya penggunaan bahan tambahan pangan.

"Semakin jauh makanan dari bentuk aslinya, maka semakin besar pula risiko yang perlu kita waspadai. Sudah saatnya kita kembali mengenal, mencintai, dan memanfaatkan pangan lokal sebagai bagian dari gaya hidup sehat," ujarnya.

Saepul menjelaskan bahwa pangan lokal tidak semata-mata berfungsi sebagai sumber energi atau karbohidrat.

Lebih dari itu, pangan lokal merupakan bagian dari identitas budaya bangsa, hasil kearifan masyarakat yang diwariskan lintas generasi, sekaligus anugerah Allah SWT yang harus dijaga, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Ia menyoroti fenomena yang cukup paradoks. Ketika masyarakat Indonesia mulai meninggalkan pangan tradisional, berbagai negara justru mengembangkan artisan food.

Yakni produk pangan yang diolah secara alami dengan mengutamakan kualitas bahan baku, nilai gizi, dan keberlanjutan.

Oleh karena itu, Saepul mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan diversifikasi pangan.

Menurutnya, ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber pangan utama perlu dikurangi dengan memanfaatkan berbagai komoditas lokal yang tidak kalah bernilai gizi.

Indonesia memiliki banyak sumber pangan alternatif, seperti hanjeli, sorgum, ganyong, gadung, porang, umbi garut, hingga gembili yang berpotensi mendukung pola konsumsi yang lebih sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Kebergantungan terhadap satu jenis pangan bukan hanya meningkatkan kerentanan terhadap krisis pangan, tetapi mengurangi keberagaman asupan gizi masyarakat. Diversifikasi pangan menjadi langkah penting untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan," jelasnya.

Saepul mencontohkan Jawa Barat sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan pangan lokal sangat melimpah.

Kondisi geografis yang beragam, mulai dari wilayah pesisir, pegunungan, lembah, hingga dataran rendah, memungkinkan tumbuhnya berbagai komoditas yang memiliki potensi ekonomi maupun kesehatan.

Selain kaya nutrisi, sejumlah pangan lokal juga memiliki sifat fungsional yang bermanfaat bagi tubuh.

Gadung, misalnya, mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan, antidiabetes, dan antiinflamasi apabila diolah dengan benar.

Ganyong memiliki kandungan serat dan amilosa yang tinggi sehingga baik untuk membantu mengendalikan kadar gula darah.

Sementara itu, umbi garut dapat diolah menjadi beras analog dengan indeks glikemik rendah yang berpotensi menjadi alternatif pangan bagi penderita diabetes.

Adapun gembili mengandung prebiotik alami, seperti inulin dan glukomanan, yang bermanfaat menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Meski demikian, Saepul menilai tantangan terbesar dalam pengembangan pangan lokal bukan terletak pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada aspek hilirisasi.

Pengembangan teknologi pengolahan, penguatan rantai pasok, peningkatan investasi, dan perluasan akses pasar menjadi faktor penting agar pangan lokal mampu bersaing dengan produk modern.

Ia menegaskan bahwa industrialisasi pangan lokal tidak selalu identik dengan pembangunan pabrik berskala besar.

Pengembangannya dapat dimulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas masyarakat, hingga kolaborasi antardaerah yang tetap menjaga karakter dan nilai budaya lokal.

"Yang terpenting adalah bagaimana pangan lokal memiliki nilai tambah, berkualitas, aman dikonsumsi, mampu bersaing di pasar, tetapi tetap mempertahankan identitas dan keunikannya," katanya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan pangan lokal, UM Bandung telah menghadirkan Teaching Factory sebagai laboratorium inovasi yang mengembangkan berbagai produk berbasis komoditas lokal.

Beragam hasil penelitian, mulai dari roti berbahan hanjeli, produk berbasis sorgum, hingga inovasi aneka umbi lokal terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Menurut Saepul, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penghasil riset, teknologi, dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi mitra utama dalam proses produksi, pengembangan usaha, hingga hilirisasi hasil penelitian.

Kolaborasi antara kampus, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, lanjutnya, menjadi kunci agar inovasi pangan lokal tidak berhenti di laboratorium.

Namun, mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada kesempatan itu, Saepul juga mengajak masyarakat untuk kembali menggali potensi pangan khas daerah masing-masing.

Pengetahuan lokal dan pengalaman masyarakat dinilai menjadi sumber informasi yang sangat berharga bagi pengembangan riset pangan di masa depan.

"Kita tidak bisa membangun generasi unggul hanya melalui pendidikan. Generasi yang sehat lahir dari pangan yang bergizi, beragam, dan berasal dari kekayaan negeri sendiri," imbuhnya.

Oleh karena itu, mencintai pangan lokal sejatinya merupakan bagian dari ikhtiar membangun masa depan bangsa sekaligus mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia," pungkasnya.***(FA)

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap