Blog

Kabar UMBandung

KPM UM Bandung Perkuat Solidaritas Organisasi pada Milad ke-9

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung merayakan milad ke-9 melalui kegiatan GLORY 9.0 pada Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan bertajuk “Roll the Story Reveal The Glory” tersebut berlangsung di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752.

Pada perayaan tahun ini, KPM UM Bandung menjadikan milad sebagai momentum untuk mengenang perjalanan organisasi, mempererat solidaritas, dan mendorong anggota agar terus berkontribusi.

Ketua Pelaksana GLORY 9.0 Muhammad Dzulfikar Alim mengatakan, berbagai kendala selama persiapan dapat diatasi berkat kerja sama tim, komunikasi yang baik, dan solidaritas seluruh panitia.

“Saya selaku ketua pelaksana mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara pada hari ini,” ujar Dzulfikar.

Ia berharap milad ke-9 menjadi kesempatan bagi anggota untuk mengenali sejarah organisasi sekaligus memperkuat semangat untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi KPM UM Bandung.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, mengenang perjalanan organisasi, serta memperkuat semangat kita untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi KPM UM Bandung,” tambahnya.

Ketua KPM UM Bandung Tania Kirana Aprilia mengatakan, pencapaian organisasi hingga saat ini tidak terlepas dari perjuangan, pengorbanan, dan doa para pendahulu serta senior yang telah membangun fondasi organisasi.

“Jika boleh saya jujur, saya sangat terharu berada di sini berdiri sebagai Ketua KPM UM Bandung sebagai orang yang berada di perjalanannya KPM UM Bandung selama 9 tahun ini,” kata Tania.

Ia berharap KPM UM Bandung terus menjadi ruang bagi anggotanya untuk bertumbuh sekaligus tempat pulang yang selalu membanggakan.

“Semoga rumah ini akan selalu menjadi tempat untuk pulang. Selalu menjadi tempat untuk selalu bisa kita banggakan. Semoga rumah ini akan menjadi tempat untuk selalu kita ingat sepanjang masa,” tuturnya.

Pembina KPM UM Bandung Rovi Husnaini mengungkapkan, kiprah organisasi tersebut mendapat apresiasi dari Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah karena dinilai konsisten menaati aturan dan tata birokrasi persyarikatan.

“KPM UM Bandung adalah sebagai pelopor juga bagi teman-teman dan mendapatkan acungan jempol dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” ungkap Rovi.

Menurutnya, apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi KPM UM Bandung untuk terus mengembangkan peran dan memperluas kontribusinya sebagai organisasi mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah.

“Mudah-mudahan KPM UM Bandung bisa mengembangkan sayapnya melalui senior-seniornya juga untuk mendampingi selalu adik-adik KPM UM Bandung,” pungkasnya.***(FK)

Selengkapnya

Lonjakan Populasi 2030 Tantangan Baru Bagi Muhammadiyah

Oleh: Dadang Kahmad [Ketua BPH UM Bandung]

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Di antara tantangan utama yang dihadapi oleh Muhammadiyah dalam waktu dekat ini adalah lonjakan populasi tahun 2030.

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun itu diproyeksikan akan mencapai angka sekitar 297 juta jiwa. 

Data tersebut bukan sekadar angka statistik. Namun, realitas yang akan menentukan arah masa depan bangsa, sekaligus menguji kesiapan organisasi sosial-keagamaan seperti Muhammadiyah. 

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah Muhammadiyah siap mengelola pertumbuhan ini menjadi kekuatan atau justru akan menjadi beban sosial yang berkepanjangan bagi Muhammadiyah dan bangsa.

Walaupun saat ini Muhammadiyah dikenal sebagai pilar penting dalam bidang pendidikan dan kesehatan serta gerakan sosial.

Namun, peningkatan jumlah penduduk yang besar akan membawa konsekuensi langsung pada membengkaknya kebutuhan layanan dasar masyarakat. 

Sekolah akan semakin padat, rumah sakit semakin sibuk, dan pelayanan sosial akan kewalahan, sementara kualitas pelayanan dituntut tetap prima.

Di titik ini, Muhammadiyah perlu evaluasi dari sekarang, karena tidak cukup hanya berkembang secara kuantitas, tetapi perlunya peningkatan secara kualitas dan efisiensi menjadi keniscayaan.

Lebih jauh, urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota) yang tak terhindarkan akan melahirkan wajah-wajah baru kemiskinan di perkotaan.

Kawasan padat penduduk, pengangguran, hingga kesenjangan sosial berpotensi meningkat. 

Jika Muhammadiyah ingin tetap relevan, maka dakwah di luar mimbar harus lebih digalakan.

Muhammadiyah harus turun langsung mengadakan aksi nyata: pemberdayaan ekonomi, penguatan UMKM, dan pendampingan masyarakat marginal.

Bonus demografi yang sering dielu-elukan juga menyimpan potensi masalah. Jumlah usia produktif yang besar hanya akan menjadi berkah jika tersedia lapangan kerja dan keterampilan yang memadai.

Tanpa itu, ia bisa berubah menjadi masalah sosial besar dengan adanya ledakan pengangguran.

Di sinilah Muhammadiyah ditantang untuk lebih serius menggarap pendidikan vokasi, kewirausahaan, dan inovasi berbasis kebutuhan zaman.

Namun tantangan terbesar bagi Muhammadiyah barangkali bukan hanya pada aspek ekonomi semata, melainkan juga pada ketahanan nilai dan agama.

Generasi muda pada waktu itu hidup dalam arus digital yang cepat, terbuka, dan sering kali tanpa filter.

Jika tidak diimbangi dengan penguatan nilai-nilai keislaman yang relevan dan kontekstual, maka krisis moral bukanlah hal yang mustahil yang benihnya sekarang sudah nampak. 

Muhammadiyah perlu berani bertransformasi dalam metode dakwah, memanfaatkan teknologi digital tanpa kehilangan substansi merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi..

Lonjakan populasi pada waktu itu bagaikan pisau bermata dua. Ia bisa menjadi kekuatan besar untuk mendorong kemajuan umat atau sebaliknya menjadi sumber masalah sosial yang kompleks yang rumit untuk dicari jalan keluarnya.

Yang dibutuhkan mulai hari ini bukan sekadar optimisme, tetapi langkah konkret dari para pimpinan dan keberanian untuk berubah.

Sebab 2030 bukan masa depan yang jauh tetapi zaman yang sedang kita hadapi hari ini.

Dalam Qs Al-Anfal: 60, Allah memerintahkan umat Islam untuk menyiapkan kekuatan dan strategi sebaik mungkin.

Ini mencakup persiapan fisik, mental, hingga ilmu pengetahuan untuk menghadapi tantangan masa depan. Wallahu a’lam. 

Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah edisi 16-31 Agustus 2026

Selengkapnya

Menjaga Akhlak di Dunia Nyata dan Digital Bagian dari Menjauhi Fahsya

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bandung Ayi Yunus Rusyana mengingatkan umat Islam agar menjauhi fahsya.

Apakah itu fahsya? Fahsya adalah perbuatan keji dan tercela yang dapat merusak akhlak, merugikan orang lain, dan mengganggu kehidupan sosial.

"Keberagamaan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah ritual. Namun, harus tercermin dalam kejujuran, kepedulian sosial, tanggung jawab, dan perilaku sehari-hari," ujar Ayi seperti dikutip dari channel YouTube TVMU pada Sabtu (17/10/2026).

Menurut Ayi, fahsya memiliki cakupan luas. Perilaku tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan moral pribadi.

Namun, juga mencakup sikap yang merugikan masyarakat. Misal keengganan berbagi, penyebaran fitnah, dan tindakan yang mengabaikan ketentuan agama.

Salah satu perilaku yang perlu dihindari adalah sifat bakhil atau kikir. Terutama keengganan menunaikan zakat dan membantu orang yang membutuhkan. 

Dalam Islam, harta tidak hanya digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi, tetapi memiliki tanggung jawab sosial.

Bagi warga Muhammadiyah, semangat berbagi menjadi bagian penting dalam mendukung dakwah dan pelayanan masyarakat.

Kontribusi melalui zakat, infak, sedekah, dan bentuk kebaikan lainnya turut menopang berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Selain kepedulian ekonomi, Ayi juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan perilaku di ruang digital.

Kebiasaan menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya dapat merusak reputasi seseorang, merugikan pihak lain, hingga memicu konflik di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, umat Islam perlu membiasakan tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

Sikap itu menjadi bagian dari tanggung jawab moral dalam menggunakan media sosial, termasuk dengan tidak menyebarkan fitnah dan berita bohong.

Pemahaman tentang fahsya juga berkaitan dengan tanggung jawab dalam aktivitas ekonomi.

Seorang muslim perlu memperhatikan ketentuan halal dan haram, baik dalam memilih makanan dan minuman maupun dalam memperoleh penghasilan.

Keuntungan materi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan prinsip-prinsip agama.

Dalam kehidupan pribadi, larangan zina mengingatkan umat Islam untuk menjaga kehormatan diri dan membangun hubungan keluarga yang bertanggung jawab.

Sementara itu, menjauhi kemusyrikan merupakan bagian dari menjaga kemurnian akidah dan meneguhkan prinsip tauhid.

Berbagai aspek tersebut menunjukkan bahwa menjauhi fahsya membutuhkan komitmen menyeluruh.

Mulai dari menjaga hubungan dengan Allah hingga membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia.

Ayi juga menekankan pentingnya menjadikan salat sebagai sarana pembentukan akhlak.

Dalam Surah Al-Ankabut ayat 45, Allah menjelaskan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Dengan demikian, ibadah tidak semestinya berhenti pada gerakan dan bacaan, tetapi perlu membentuk karakter serta mengarahkan seseorang untuk berbuat baik.

Nilai-nilai salat seharusnya terlihat dalam tindakan nyata. Misalnya bersikap jujur, menghindari perilaku yang merugikan orang lain, menunaikan tanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Hal itu, kata Ayi, berlaku dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, masyarakat, maupun aktivitas di media sosial.

Kajian tersebut sekaligus mengingatkan warga Muhammadiyah untuk mengamalkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) dalam berbagai aspek kehidupan.

Pedoman ini perlu diwujudkan melalui perilaku konkret, bukan sekadar dipahami sebagai dokumen tertulis.

Dengan memahami dan menjauhi fahsya, umat Islam diharapkan mampu meningkatkan kualitas ibadah sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Kesalehan tidak hanya tercermin dalam hubungan dengan Allah, tetapi dalam kejujuran, kepedulian, dan akhlak mulia terhadap sesama.***(FA)

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap