Blog

Kabar UMBandung

Hendar Riyadi: Isu Sosial Penting Kerap Tenggelam di Balik Konten Viral

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bandung Hendar Riyadi menegaskan perlunya transformasi paradigma dalam praktik jurnalisme filantropi.

Menurutnya, jurnalisme tidak boleh berhenti pada narasi belas kasih semata, tetapi harus menjadi instrumen perubahan sosial yang lebih substantif.

Hendar menilai jurnalisme perlu diarahkan untuk membangun kesadaran kritis masyarakat.

Selain itu, jurnalisme juga harus memperkuat nilai keadilan sosial di tengah kehidupan publik.

Pernyataan tersebut disampaikan Hendar saat memberikan sambutan dalam bedah buku Jurnalisme Filantropi: Media dan Visi Kesejahteraan karya Roni Tabroni.

Kegiatan tersebut digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Bandung pada Selasa (12/05/2026).

Dalam forum akademik itu, Hendar turut menyoroti perkembangan jurnalisme filantropi di tengah ekosistem media digital yang terus berubah.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah memengaruhi cara masyarakat memandang dan mengonsumsi informasi.

Pada awal pemaparannya, Hendar mengajak warga Muhammadiyah, khususnya di lingkungan pendidikan, untuk terus merawat tradisi diskusi dan budaya intelektual.

Ia menilai tradisi tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan organisasi Muhammadiyah.

Menurut Hendar, forum intelektual harus dipahami sebagai ruang pertukaran gagasan dan pengembangan wawasan.

Forum diskusi juga perlu menjadi tempat penguatan pemikiran secara kolektif.

“Tradisi itu penting untuk dijaga, tetapi jangan sampai menjadi beban intelektual. Saya berharap forum-forum diskusi bisa menjadi ruang berbagi gagasan dan mengembangkan pemikiran bersama,” ujar Hendar.

Lebih lanjut, Hendar menyoroti media sosial seperti WhatsApp, TikTok, dan YouTube yang dinilainya semakin sering menjadikan penderitaan manusia sebagai komoditas digital.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai industri kesedihan, yaitu praktik mengemas penderitaan menjadi konten demi perhatian publik dan kepentingan viralitas.

Menurutnya, persoalan kemanusiaan yang semestinya menjadi isu sosial justru sering berubah menjadi tontonan emosional.

“Penderitaan manusia pada akhirnya tidak lagi dipahami sebagai persoalan kemanusiaan yang harus diselesaikan, tetapi berubah menjadi komoditas yang dipertontonkan dan dipasarkan,” katanya.

Sebagai solusi, Hendar mendorong pergeseran paradigma dari charity journalism menuju justice journalism.

“Jurnalisme filantropi jangan hanya membantu orang miskin bertahan hidup, tetapi harus mampu mengubah struktur sosial yang menghasilkan kemiskinan,” pungkasnya.

 
Selengkapnya

Diskusi Buku di UM Bandung Kupas Masa Depan Jurnalisme Filantropi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Roni Tabroni menegaskan bahwa jurnalisme filantropi idealnya berfokus pada isu-isu lokal maupun tema tertentu, seperti lingkungan, politik, pendidikan, hingga ideologi.

Hal itu disampaikan dalam diskusi buku Jurnalisme Filantropi: Media dan Visi Kesejahteraan di Kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Selasa (12/05/2026).

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung tersebut menilai jurnalisme filantropi perlu diperkuat tidak hanya secara akademik, tetapi juga selaras dengan praktik di lapangan.

Menurutnya, tantangan utama saat ini ialah menyatukan kerangka keilmuan dengan dinamika industri media yang terus berkembang.

Roni mencontohkan perjalanan media Republika yang awalnya mengusung semangat jurnalisme filantropi.

Namun, di bawah gagasan Parni Hadi, semangat tersebut berkembang ke arah jurnalisme profetik. “Spirit yang dibawa profetik, tetapi praktiknya filantropis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, di Indonesia jurnalisme filantropi lebih dipahami sebagai kegiatan filantropi yang diberitakan media, sedangkan di luar negeri konsep ini dimaknai sebagai aktivitas jurnalistik nirlaba (non-profit).

Sejumlah media seperti The Guardian, Project Multatuli, Remotivi, dan Mongabay disebut memiliki semangat filantropi.

Roni juga menegaskan bahwa jurnalisme harus memiliki keberpihakan pada kebenaran dan kepentingan publik.

Menurutnya, objektivitas tetap memiliki arah karena setiap narasi membawa tujuan tertentu.

Dalam kesempatan yang sama, penanggap pertama Arief Permadi mendorong penyusunan kode etik serta pembakuan konsep dan model bisnis jurnalisme filantropi.

Sementara itu, CEO Relawan Nusantara Herlan Wilandari menilai perkembangan citizen journalism semakin memudahkan gerakan filantropi menjangkau perhatian publik.***

Selengkapnya

Penguatan Ekonomi Jadi Kunci Kemandirian Warga Muhammadiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Haedar Nashir menegaskan pentingnya penguatan ekonomi sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian warga Muhammadiyah.

Menurutnya, sektor ekonomi saat ini memiliki posisi strategis karena mampu memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk arah politik. 

Oleh karena itu, warga Muhammadiyah, khususnya di Jawa Barat, didorong untuk memiliki keberdayaan ekonomi agar tidak bergantung kepada pihak lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar saat mengisi Pengajian PWM Jawa Barat di Auditorium KH Ahmad Dahlan lantai tiga kampus UM Bandung, Sabtu (16/05/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi perkembangan Muhammadiyah Jawa Barat yang dinilai menunjukkan kemajuan yang positif dan inspiratif.

“Muhammadiyah Jawa Barat saat ini memiliki sinar, harapan, dan jejak baru yang sangat bagus. Dan ini tentu merupakan inspirasi yang sangat penting,” ujar Haedar yang disambut tepuk tangan peserta pengajian.

Haedar menjelaskan bahwa penguatan ekonomi tidak bisa dipandang sebagai aspek pelengkap dalam gerakan Muhammadiyah.

Menurutnya, majelis ekonomi memiliki peran yang sama penting dengan majelis tablig. Aktivitas dakwah dan pengajian, kata dia, harus berjalan seiring dengan penguatan kesejahteraan masyarakat agar tercipta kemandirian yang nyata.

“Mengaji harus berjalan baik, tetapi kondisi ekonomi juga harus terjaga. Jika ingin banyak pendapatan, janganlah terlalu banyak pendapat,” katanya.

Selain penguatan ekonomi, Haedar juga menekankan pentingnya kedisiplinan dan tata kelola organisasi yang baik. Menurutnya, pengelolaan organisasi yang tertib menjadi faktor penting agar

Muhammadiyah terhindar dari konflik internal maupun persoalan hukum yang dapat menghambat gerak persyarikatan.

Lebih jauh, Haedar mengajak warga Muhammadiyah untuk terus berlomba dalam kebaikan sebagaimana pesan Surah Al-Baqarah ayat 148.

Ia menegaskan bahwa semangat beragama tidak cukup diwujudkan dalam ibadah personal.

Namun, harus hadir dalam bentuk kontribusi nyata di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan kebangsaan.

Menurut Haedar, Muhammadiyah harus terus menjadi gerakan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Prinsip khairunnas anfauhum linnas atau sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama harus menjadi pijakan utama dalam gerakan Muhammadiyah.

“Ketika ada masyarakat marginal, Muhammadiyah harus hadir di situ. Ketika bangsa memerlukan, Muhammadiyah juga harus hadir,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar seluruh amal usaha dan lembaga Muhammadiyah, termasuk institusi pendidikan seperti UM Bandung, terus bergerak menjadi lembaga yang unggul, berkemajuan, berdaya saing, dan berdampak nyata.

Menurutnya, keunggulan bukan sekadar slogan, tetapi harus dibuktikan melalui kualitas, prestasi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat luas.***

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap