A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fopen(/var/lib/php/sessions/ci_sessionapm8cspmpuvrck7e3nrqnv2628r09dqn): failed to open stream: No space left on device

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 177

Backtrace:

File: /var/www/umbandung/html/application/controllers/Welcome.php
Line: 23
Function: __construct

File: /var/www/umbandung/html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Failed to read session data: user (path: /var/lib/php/sessions)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 137

Backtrace:

File: /var/www/umbandung/html/application/controllers/Welcome.php
Line: 23
Function: __construct

File: /var/www/umbandung/html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Beranda - Universitas Muhammadiyah Bandung

Blog

Kabar UMBandung

Dosen UM Bandung Ungkap Cara Artis Hijrah Bangun Kesalehan di Media Sosial

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Media sosial kini menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk menampilkan sekaligus memaknai keberagamaan.

Fenomena ini diteliti Femi Fauziah Alamsyah, dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, melalui riset tentang identitas kesalehan artis hijrah di Instagram.

Dalam disertasinya berjudul “Identitas Kesalehan Populer Artis Hijrah di Media Sosial”, Femi mengkaji akun Instagram Shireen Sungkar, Larissa Chou, Ricky Harun, dan Arie Untung.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi terhadap 40 konten berupa foto, video, caption, dan komentar pengikut.

Disertasi tersebut dipertahankan dalam sidang terbuka promosi doktor pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Aula Selatan Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Femi menempuh Program Doktor Studi Agama-Agama dengan konsentrasi Agama dan Media.

Kesalehan Tak Sekadar Simbol

Femi menemukan bahwa identitas kesalehan di media sosial tidak dibangun hanya melalui simbol-simbol agama.

Visual, narasi kehidupan sehari-hari, dan pesan emosional ikut membentuk cara audiens mengenali dan memaknai kesalehan figur publik.

“Ketika ditampilkan melalui media sosial, simbol-simbol Islam memperoleh nilai tertentu atau sign value yang kemudian dipahami, dibicarakan, dan dinegosiasikan oleh para pengikut,” ujar Femi.

Interaksi pengikut juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Komentar dan percakapan digital dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, memberikan validasi sosial, sekaligus menegosiasikan makna keberagamaan.

Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar tempat mempublikasikan aktivitas keagamaan.

Platform digital juga menjadi ruang interaktif yang ikut membentuk identitas dan pengalaman keberagamaan penggunanya.

Konsep Kesalehan Sirkulatif

Salah satu kontribusi utama penelitian Femi adalah konsep kesalehan sirkulatif (circulative piety).

Konsep ini menjelaskan bahwa kesalehan dapat bergerak melalui konten, simbol, respons, dan interaksi pengguna, sehingga pemaknaan keagamaan terus berkembang di ruang digital.

Penelitian tersebut juga menghasilkan model sirkulasi kesalehan populer di media sosial.

Model ini menggambarkan bagaimana narasi dan simbol keagamaan diproduksi, ditampilkan, mendapat respons sosial, kemudian kembali beredar melalui interaksi digital.

Menurut Femi, temuan tersebut penting bagi pengembangan kajian komunikasi keagamaan, khususnya dalam memahami perubahan pola dakwah di era digital.

Pesan agama kini tidak hanya berjalan satu arah, tetapi dapat berkembang melalui percakapan dan partisipasi audiens.

“Bagi kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam, penelitian ini menunjukkan semakin pentingnya memahami media sosial sebagai ruang baru komunikasi keagamaan,” katanya.

Penelitian ini sekaligus memberikan perspektif bagi masyarakat agar lebih kritis dalam memahami konten keagamaan di media sosial.

Kesalehan yang tampil secara digital tidak hanya perlu dilihat dari simbol yang tampak. Namun, dari konteks, narasi, interaksi, dan makna yang terbentuk di baliknya.

Sidang promosi doktor Femi dipimpin Dindin Solahudin sebagai ketua sidang dan M Yusuf Wibisono sebagai sekretaris.

Tim promotor terdiri atas Agus Ahmad Safei, Moch Fakhruroji, dan Dadang Darmawan.***

Selengkapnya

Timbangan IoT UM Bandung Bantu Kader Pantau Balita

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Teknologi akan lebih bermakna ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Hal inilah yang coba dilakukan tim dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Posyandu Mayasari 3, Kabupaten Bandung.

Tim menghadirkan timbangan balita ramah anak berbasis Internet of Things (IoT) yang terhubung dengan dashboard digital.

Inovasi tersebut dipadukan dengan edukasi Prophetic Parenting agar pemantauan tumbuh kembang anak tidak hanya berbasis data, tetapi juga diperkuat dengan peran orang tua di rumah.

Program bertajuk “Pemberdayaan Posyandu melalui Inovasi Timbangan Balita Ramah Anak Berbasis IoT dan Penyuluhan Prophetic Parenting di Posyandu Mayasari 3” ini dipimpin dosen Prodi Teknik Informatika UM Bandung Dianti Eka Aprilia.

Program tersebut merupakan Skema Pengabdian Masyarakat Pemula dengan pendanaan dari Kemdiktisaintek.

Dianti mengatakan, inovasi ini berangkat dari kebutuhan yang ditemukan langsung di lapangan.

Tim terlebih dahulu melakukan Focus Group Discussion (FGD), observasi layanan, dan analisis kebutuhan bersama kader Posyandu Mayasari 3 serta bidan desa pada 20 Juli 2026.

“Fokus utama kegiatan ini adalah membantu mewujudkan layanan posyandu yang lebih efisien, ramah anak, berbasis teknologi, sekaligus mendorong keterlibatan orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak,” ujar Dianti.

Tim PKM terdiri atas Dianti Eka Aprilia sebagai ketua, bersama Mulki Rezka Budi Pratama dari Prodi Teknik Elektro dan Dian Kusumawati dari Prodi PIAUD.

Tim juga melibatkan mahasiswa Sultan Fadhilah Hilmiqashmal dan Zahra Hariah Attin dari Prodi Teknik Informatika serta Ridwan Romadlon dari Prodi Teknik Elektro.

Timbangan IoT Ramah Anak

Salah satu inovasi utama program ini adalah timbangan balita berbasis IoT dengan desain menyerupai mobil-mobilan. Bentuk tersebut dirancang agar anak merasa lebih nyaman dan tidak terlalu tegang saat menjalani penimbangan.

Hasil pengukuran juga dapat dikirim secara digital ke dashboard posyandu. Dengan cara ini, kader dapat mengurangi pencatatan manual dan menyimpan data pertumbuhan balita secara lebih rapi.

Timbangan tersebut nantinya terintegrasi dengan Rasi Balita, dashboard berbasis web yang digunakan untuk mencatat, menyimpan, dan memantau data pertumbuhan balita.

Sistem ini diharapkan membantu kader bekerja lebih efisien sekaligus memudahkan orang tua mengetahui perkembangan anak.

“Teknologi yang kami hadirkan diharapkan bukan hanya menjadi alat, tetapi benar-benar membantu kader dalam memberikan pelayanan dan membantu orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak,” kata Dianti.

Teknologi Bertemu Pengasuhan

Program ini tidak hanya berfokus pada perangkat teknologi. Tim UM Bandung juga memberikan edukasi Prophetic Parenting kepada orang tua untuk memperkuat pola pengasuhan di rumah.

Materi diberikan melalui modul pengasuhan anak usia 0–8 tahun yang membahas kasih sayang, keteladanan, kesehatan, kecintaan terhadap ilmu, serta pendampingan penggunaan teknologi. Sebanyak 50 eksemplar modul telah diserahkan kepada posyandu dan orang tua balita.

Penyuluhan pada 18 Agustus 2026 di Posyandu Mayasari 3, Kampung Cikalamiring RT 01 RW 03, Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, diikuti 38 orang tua balita.

Sebanyak 35 peserta mengikuti pre-test dan post-test, disertai diskusi mengenai pengalaman dan tantangan dalam mendampingi anak.

Dianti menilai, pemantauan tumbuh kembang tidak cukup dilakukan ketika anak berada di posyandu. Data pertumbuhan akan lebih berarti jika diikuti perhatian dan pendampingan orang tua secara konsisten di rumah.

“Orang tua perlu memahami bahwa tumbuh kembang anak merupakan proses yang harus dipantau secara berkelanjutan. Karena itu, teknologi dan edukasi pengasuhan perlu berjalan bersama,” jelasnya.

Disiapkan untuk Jangka Panjang

Tahap berikutnya, tim akan menyerahkan timbangan IoT dan aplikasi Rasi Balita kepada Posyandu Mayasari 3. Tim juga menyiapkan pelatihan penggunaan alat dan aplikasi, implementasi, pendampingan, hingga evaluasi.

Langkah tersebut dilakukan agar inovasi tidak berhenti sebagai produk PKM. Harapannya, teknologi tersebut dapat digunakan dan dipelihara oleh mitra secara berkelanjutan.

Melalui perpaduan IoT dan Prophetic Parenting, UM Bandung ingin membantu menghadirkan layanan posyandu yang lebih praktis, ramah anak, tertata, dan dekat dengan kebutuhan keluarga.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi solusi sederhana yang manfaatnya bisa dirasakan langsung masyarakat.***

Selengkapnya

Umat Islam Sudah Punya Pedoman, Tantangannya Kini Membaca dan Menjawab Zaman

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kebangkitan umat Islam tidak cukup dengan mengingat kejayaan masa lalu. Mengenang sejarah masa lalu harus jadi spirit.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana umat mampu membaca kondisi saat ini, memahami persoalan yang dihadapi, lalu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan modern.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini dalam Dialog Nasional Keagamaan Awaken Chapter 2 bertajuk “Persatuan Umat Islam: Spirit Kemerdekaan Menuju Kebangkitan Umat” yang digelar BEM UM Bandung bersama Rumah Pemuda Madani, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Adian, umat Islam memiliki modal penting untuk bangkit, yakni Al-Qur’an sebagai sumber ajaran dan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, tantangannya bukan mencari pedoman baru. Namun, bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan sesuai dengan kebutuhan zaman.

“Manusia dan panduannya sama. Sekarang kita tinggal mengaktualisasikannya dengan disesuaikan dengan kondisi saat ini,” ujar Adian.

Ia menegaskan, kebangkitan umat tidak hanya berkaitan dengan politik. Kebangkitan juga harus terlihat dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, kehidupan sosial, sains, teknologi, dan kebudayaan.

Dalam konteks pendidikan, Adian mengajak umat mengevaluasi apakah sistem pendidikan saat ini sudah mampu melahirkan manusia yang berilmu, berkarakter, dan memiliki orientasi kehidupan yang baik.

Adian juga menilai perbedaan latar belakang organisasi tidak seharusnya menjadi penghalang persatuan.

Pengalamannya belajar di pesantren hingga kemudian terlibat dalam Majelis Tablig Pimpinan Pusat Muhammadiyah menunjukkan bahwa titik temu umat tetap dapat dibangun di atas sumber ajaran Islam dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Ia kemudian mengajak peserta melihat sejarah Islam secara lebih kritis. Setelah hijrah Rasulullah SAW pada 622 Masehi, umat Islam berkembang menjadi kekuatan besar dan melahirkan berbagai pusat peradaban, termasuk di Andalusia.

Namun, sejarah tidak semestinya hanya menjadi bahan kebanggaan. Sejarah perlu menjadi cermin untuk melihat posisi umat saat ini.

Sekaligus menjawab pertanyaan: apakah perjuangan umat sudah berhasil, di mana kelemahannya, dan apa yang perlu diperbaiki?

Adian mengingatkan pesan Mohammad Natsir tentang pentingnya mengetahui “sekarang pukul berapa”.

Pesan ini mengajarkan bahwa setiap perjuangan membutuhkan kemampuan membaca keadaan, memahami persoalan, dan menentukan langkah yang tepat.

Dalam konteks Indonesia, Adian juga membedakan antara kemerdekaan dan kemampuan mengisi kemerdekaan.

Setelah terbebas dari penjajahan, tantangan berikutnya adalah memastikan kemerdekaan membawa kemajuan melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, karakter, dan kehidupan sosial.

Dengan begitu, semangat kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan sejarah, tetapi menjadi dorongan untuk membangun masa depan.

Bagi Adian, umat Islam sudah memiliki sumber ajaran dan teladan yang kuat; tantangannya adalah menjadikannya kekuatan nyata untuk menjawab persoalan zaman.

Dialog tersebut turut menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Usep Sudrajat dan dosen Universitas Brawijaya A Dedi Mulawarman.***

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap