UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Menjadi sarjana bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk mengamalkan ilmu bagi kehidupan.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang diikuti 684 calon wisudawan dan wisudawati di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kamis (10/09/2026).
Salah satu pembekalan dalam BAPS mengangkat materi “Sarjana Berkemajuan” yang disampaikan Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung Dr Dikdik Dahlan Lukman MHum.
Ia mengajak calon lulusan melihat kembali makna kesarjanaan di tengah perubahan dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan (AI), tuntutan kompetensi, serta pentingnya nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
Menurut Dikdik, keberhasilan seorang sarjana tidak cukup diukur dari ijazah atau seberapa cepat memperoleh pekerjaan.
Lulusan UM Bandung perlu memiliki lima karakter utama, yakni beriman, berilmu, berintegritas, berkemajuan, dan berkemanfaatan. Kelima karakter tersebut menjadi fondasi agar kompetensi akademik dan profesional berjalan seiring dengan iman, integritas, serta kepedulian sosial.
“Sarjana berkemajuan bukan hanya sarjana yang berilmu. Namun, sarjana yang ilmunya berorientasi kepada Allah, memiliki integritas, terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, dan memberikan manfaat bagi kehidupan,” ujar Dikdik.
Pesan kebermanfaatan menjadi semakin relevan ketika para lulusan memasuki dunia yang berubah cepat.
Perkembangan teknologi dan AI membuat pengetahuan serta keterampilan terus berkembang sehingga sarjana perlu memiliki kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, dan kebiasaan mengembangkan diri sepanjang hayat.
Dalam perspektif Al-Islam Kemuhammadiyahan, ilmu tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi memiliki dimensi pengabdian kepada masyarakat.
Perspektif mengenai hubungan pendidikan dan kehidupan juga disampaikan Wakil Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung Dr Yudi Daryadi MAg.
Ia menjelaskan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar peluang memperoleh pekerjaan, pendapatan, dan kualitas hidup yang lebih baik. Namun, pendidikan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesejahteraan seseorang.
“Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih tinggi, dan kualitas hidup yang lebih layak,” ujar Yudi.
Yudi menjelaskan bahwa hubungan antara pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan kualitas hidup juga dipengaruhi kondisi sosial-ekonomi, keluarga, gender, lokasi tempat tinggal, kesempatan kerja, serta akses terhadap layanan publik.
Untuk memperkuat perspektif tersebut, ia mengaitkannya dengan sejumlah gagasan, antara lain Human Capital Theory Gary S. Becker, Signaling Theory Michael Spence, perspektif Pierre Bourdieu, dan Capability Approach Amartya Sen.
Dari berbagai perspektif tersebut, calon sarjana diajak memahami bahwa pendidikan memang dapat memperbesar peluang meningkatkan kesejahteraan, tetapi tidak bekerja secara otomatis.
Setelah lulus, mereka tetap perlu memperkuat kompetensi, membangun jejaring, membaca peluang, dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan agar ilmu yang dimiliki dapat menjadi modal untuk berkembang.
Karena itu, Yudi mendorong para calon sarjana UM Bandung agar tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar. Kesempatan melanjutkan pendidikan masih terbuka melalui berbagai program beasiswa dan jalur pengembangan kompetensi.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kelulusan bukan titik akhir, melainkan fase baru untuk memperdalam keahlian, memperluas wawasan, membangun jejaring, dan menemukan ruang kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.***(FA/FK)


