Blog

Kabar UMBandung

Masjid Perlu Dihidupkan Sebagai Pusat Ilmu dan Pemberdayaan Umat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Masjid atau rumah Allah jangan hanya hidup ketika azan berkumandang. Masjid seharusnya juga menjadi tempat umat belajar, bertumbuh, saling menguatkan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Cecep Taufikurrohman MA PhD saat menjadi pembicara dalam Program GSM Aisyiyah Jawa Barat pada Jumat (4/9/2026).

Buya Cecep, sapaan akrabnya, mengajak umat Islam melihat kembali makna memakmurkan masjid. Menurutnya, memakmurkan masjid bukan sekadar membangun gedung yang megah, tetapi bagaimana fungsi dan aktivitasnya benar-benar hidup.

“Memakmurkan masjid bukan hanya membangun fisiknya, tetapi bagaimana umat Islam bisa menghidupkan fungsi dan aktivitasnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW. Selain menjadi tempat salat, masjid juga menjadi pusat pendidikan, pertemuan umat, pelayanan sosial, dan pembinaan masyarakat.

Dari masjid, kata Buya Cecep, dapat tumbuh masyarakat yang kuat secara spiritual, intelektual, sosial, dan kepemimpinan. Iman memberi arah hidup, ilmu membentuk cara berpikir, akhlak membangun karakter, ukhuwah menumbuhkan kepedulian, dan amal menghadirkan solusi nyata.

Namun, masjid saat ini masih menghadapi tantangan. Aktivitasnya sering lebih banyak berpusat pada kegiatan ritual, sementara potensi masjid untuk pendidikan, pemberdayaan, dan penguatan ekonomi umat belum sepenuhnya dikembangkan.

Karena itu, masjid perlu dihidupkan sebagai pusat pendidikan dan pembinaan. Kajian, tahsin dan tahfiz Al-Qur’an, pembinaan imam, khatib, dai, guru, hingga kader umat dapat berjalan berdampingan dengan perpustakaan dan ruang diskusi.

Anak Muda Harus Merasa Memiliki Masjid

Buya Cecep juga menyoroti pentingnya mendekatkan masjid dengan generasi muda. Menurutnya, masjid harus menjadi ruang yang aman, ramah, kreatif, dan mendidik agar anak muda merasa nyaman sekaligus memiliki ruang untuk berkontribusi.

Keterlibatan mereka bisa diwujudkan melalui media sosial, podcast, desain, komunitas olahraga, kajian, kegiatan sosial, hingga dakwah digital. Anak muda tidak cukup hanya menjadi peserta, tetapi perlu diberi kepercayaan sebagai pengelola dan inovator.

Masjid pun dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan pelayanan sosial. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat dikelola secara amanah dan produktif untuk beasiswa, bantuan sosial, pelayanan kesehatan, pendampingan masyarakat, serta pengembangan UMKM jamaah.

Buya Cecep menawarkan gagasan masjid sebagai “third place”, yakni ruang yang bisa menjadi tempat generasi muda beribadah, belajar, berdiskusi, berkumpul, dan berkarya.

Dengan begitu, masjid tidak berhenti pada pola “datang, salat, lalu pulang”, tetapi menjadi ruang yang mempertemukan ibadah, ilmu, komunitas, kreativitas, dan kontribusi.

Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menegaskan, ukuran kemakmuran masjid bukan hanya kemegahan bangunan atau banyaknya kegiatan.

Hal yang lebih penting adalah seberapa jauh masjid mampu melahirkan umat yang beriman, berilmu, berakhlak, peduli, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan.

“Sejatinya masjid yang hidup akan melahirkan umat yang hidup. Sementara itu, umat yang hidup akan mampu membangun peradaban,” pungkas Buya Cecep.***(FA)

Sumber foto: Istock

Selengkapnya

Sela dan Pelajaran yang Tak Ada di Ruang Kelas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Bagi Sela Lazma, KKN Internasional bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, menjalankan program, lalu pulang membawa laporan.

Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung itu justru menemukan ruang belajar baru ketika bertemu masyarakat, budaya, dan kehidupan yang berbeda.

Melalui program International Community Services pada Agustus 2026, Sela bersama tim menjalani berbagai kegiatan pengabdian dan aktivitas intercultural di Malaysia dan Singapura.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat secara langsung sekaligus menerapkan ilmu yang selama ini dipelajari di bangku kuliah.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan berlangsung di Sanggar Bimbingan Muhammadiyah (SBM) Kepong.

Bersama tim, Sela memberikan psikoedukasi kepada anak-anak sekolah dasar, termasuk materi tentang pengenalan dan pengelolaan emosi.

Dari kegiatan tersebut, Sela menyadari bahwa ilmu psikologi tidak cukup hanya dipahami secara teori. Cara menyampaikannya juga harus disesuaikan dengan usia dan karakter anak.

“Menyampaikan ilmu psikologi kepada anak tidak bisa hanya dengan menjelaskan teori. Namun, perlu menyesuaikan dengan usia dan karakter mereka,” ujar Sela di kampus UM Bandung pada Kamis (3/9/2026).

Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa ilmu akan terasa manfaatnya ketika dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Bagi Sela, di situlah mahasiswa belajar bukan hanya menjadi akademisi, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat.

Perjalanan kemudian berlanjut ke KRT Desa Jati, Negeri Sembilan. Di sana, Sela dan tim berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan kebiasaan warga setempat.

Kunjungan ke sejumlah tempat ikonik dan bersejarah di Malaysia juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Sela mengunjungi Petronas Twin Towers, Masjid Negara, Batu Caves, Istana Bukit Serene, serta sejumlah kawasan bersejarah lainnya.

Namun, tempat-tempat tersebut tidak hanya ia lihat sebagai destinasi wisata.

Sela mencoba memahami keberagaman budaya dan agama, kehidupan masyarakat, serta perkembangan wilayah dan perkotaan Malaysia.

Pengalaman itu berlanjut ketika Sela dan tim berada di Singapura. Mereka mengunjungi Gardens by the Bay, Merlion Park, Marina Bay Sands, dan sejumlah kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Meski begitu, kemegahan Singapura bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian Sela.

Ia justru tertarik pada bagaimana negara tersebut mampu berkembang dengan mengelola berbagai keterbatasan yang dimiliki.

“Saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus berkembang. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan dan mengelola apa yang kita miliki sebaik mungkin,” katanya.

KKN Internasional juga mengajarkan Sela tentang pentingnya beradaptasi.

Berada di lingkungan baru membuatnya belajar berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, memahami kebiasaan yang berbeda, dan melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

Pengalaman tersebut perlahan membuat cara pandangnya semakin terbuka.

“Kita belajar beradaptasi, berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, dan lebih terbuka terhadap perbedaan. Ilmu yang didapat di perkuliahan juga bisa dilihat bagaimana penerapannya secara langsung di lapangan,” tuturnya.

Bagi Sela, pengalaman tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk bercermin.

Melihat pendidikan, budaya, kehidupan masyarakat, hingga perkembangan Malaysia dan Singapura membuatnya bisa memikirkan kembali apa yang sudah baik di Indonesia dan apa yang masih bisa dipelajari dari negara lain.

Pengalaman itu pun menjadi bekal untuk masa depannya.

Sela bercita-cita menjadi psikolog sekaligus penyanyi, dua bidang yang menurutnya sama-sama membutuhkan kemampuan memahami manusia dan menyampaikan pesan.

Di sela perkuliahan, ia juga gemar menyanyi dan membaca.

Saat ini, Sela tengah membaca Start With Why karya Simon Sinek dan Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta untuk memperluas wawasan dan melihat berbagai perspektif.

Pada akhirnya, KKN Internasional bagi Sela bukan hanya cerita tentang Malaysia dan Singapura.

Perjalanan tersebut menjadi proses untuk berbagi ilmu, memahami perbedaan, belajar beradaptasi, sekaligus mengenal dirinya sendiri.

Dari ruang kelas ke tengah masyarakat, Sela menemukan bahwa belajar bisa berlangsung di mana saja.

Ketika mahasiswa berani keluar dari ruang nyamannya, dunia menjadi lebih luas dan ilmu yang dipelajari pun menemukan bentuk kebermanfaatannya.***(FA)

Selengkapnya

Hidup Sederhana tapi Berkelimpahan, Begini Cara Mengelola Rezeki dengan Bijak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan. Justru, kesederhanaan dapat menjadi jalan untuk menemukan keberlimpahan yang sesungguhnya.

Keberlimpahan bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang kemampuan merasa cukup, mengelola rezeki dengan bijak, serta menjadikannya sumber kebaikan dan ketenteraman.

Pesan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Bandung Yudi Haryadi dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (1/9/2026).

Mengangkat tema “Hidup Sederhana tapi Berkelimpahan”, Yudi mengajak umat Islam mengubah cara pandang tentang arti kaya dan berkecukupan.

Menurutnya, ukuran keberlimpahan tidak selalu ditentukan oleh jumlah harta. Kekayaan hati, keberkahan rezeki, dan ketenangan hidup juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

“Cara pandang ini penting di tengah kehidupan modern yang membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Ukuran keberhasilan akhirnya sering bergeser menjadi soal seberapa banyak yang dimiliki, apa yang bisa dibeli, atau seperti apa gaya hidup yang ditampilkan,” ujar Yudi.

Ia mengatakan, banyaknya harta belum tentu membuat seseorang lebih tenang. Penghasilan besar dan berbagai fasilitas tidak akan banyak berarti jika keinginan terus bertambah dan rasa cukup tidak pernah hadir.

Oleh karena itu, kesederhanaan bukan sekadar mengurangi pengeluaran. Lebih dari itu, kesederhanaan berarti mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, mengendalikan gaya hidup, serta menempatkan harta sebagai sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Dalam perspektif ekonomi syariah, rezeki juga bukan hanya tentang bagaimana seseorang mendapatkan penghasilan.

Ada amanah yang harus dijalankan, yaitu menggunakan harta secara baik, memenuhi kebutuhan keluarga, menghindari sikap berlebihan, dan memberi manfaat kepada orang lain.

Dengan begitu, mengelola keuangan bukan sekadar persoalan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Mengelola rezeki juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberkahan hidup.

Penghasilan yang dikelola dengan bijak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan, mempersiapkan masa depan, membantu sesama, sekaligus menghindarkan diri dari perilaku konsumtif.

“Kesederhanaan bukan berarti menolak kemajuan atau harus hidup serba kekurangan. Justru, kesederhanaan membuat hidup lebih terarah karena seseorang tahu apa yang benar-benar dibutuhkan dan untuk apa rezekinya digunakan,” imbuh Yudi.

Menurutnya, kebiasaan hidup sederhana dapat dimulai dari keluarga. Misalnya dengan membuat skala prioritas, tidak mudah mengikuti gaya hidup orang lain, mengurangi konsumsi yang tidak perlu, menggunakan penghasilan secara bertanggung jawab, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi.

Kesederhanaan juga mengajarkan qanaah, yaitu kemampuan untuk merasa cukup atas apa yang Allah karuniakan tanpa berhenti berusaha. Rasa cukup bukan berarti pasrah atau malas, tetapi membantu seseorang tetap tenang sembari terus berikhtiar.

Yudi menegaskan bahwa kaya secara materi dan kaya secara hati merupakan dua hal yang berbeda. Harta akan menjadi nikmat ketika diperoleh dengan cara yang baik dan digunakan untuk menghadirkan manfaat.

“Rezeki yang berkah bukan sekadar membuat hidup terasa cukup, melainkan mampu menjadi jalan menghadirkan manfaat bagi keluarga, sesama, dan lingkungan,” tandasnya.

Pada akhirnya, hidup sederhana bukan tentang memiliki sesedikit mungkin. Kesederhanaan adalah kemampuan menempatkan segala sesuatu secara proporsional: bekerja dengan sungguh-sungguh, menikmati rezeki tanpa berlebihan, memenuhi kebutuhan dengan bijak, dan berbagi ketika memiliki kelebihan.

Sebab, keberlimpahan tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak yang masuk ke rekening, tetapi juga dari seberapa banyak kebaikan yang lahir dari rezeki tersebut.

Bagi seorang muslim, yang terpenting bukan hanya seberapa banyak rezeki yang Allah titipkan, tetapi seberapa baik amanah itu dikelola dan seberapa luas manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

(FA)

Selengkapnya

UMBandung

Islamic Technopreneurial University

Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) berdasarkan Surat Izin Kemenristek Dikti No. 205/KPT/I/2016 yang diterbitkan pada tanggal 14 Juni 2016 menyelenggarakan 18 Program Studi unggulan. Cita-cita besar UMBandung adalah melahirkan para Teknopreneur Muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan enterpreneur skill/ kewirausahaan, serta memiliki kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan demikian, lulusan UMBandung Insya Allah akan memiliki peluang yang besar untuk membangun kehidupan yang lebih baik untuk dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

UMBandung

Sambutan Rektor

Dengan bangga, saya memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, saat ini UM Bandung telah memperoleh Akreditasi Institusi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2024. Didirikan pada tahun 2016 di Kota Bandung, Jawa Barat, UM Bandung merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang mengusung semangat Islamic Technopreneurial University. Sejak awal berdirinya, UM Bandung telah menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menciptakan suasana pembelajaran yang penuh warna. Sejalan dengan visinya, UM Bandung berkomitmen untuk mencetak generasi yang memiliki karakter Islami dan technopreneurial serta siap berkontribusi dan mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara Indonesia.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU.

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung

UMBandung

Keunggulan UM Bandung

Terakreditasi Baik Sekali

Berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 323/SK/BAN-PT/Ak/PT/III/2024

Islamic Integrated Curriculum

Kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam yang memiliki karakter "Islamic Technopreneur"

Aplikasi Kurikulum

Aplikasi kurikulum diarahkan pada inovasi penemuan produk baru yang berbasis teknopreneurship dengan pendekatan hardskill dan softskill agar mahasiswa memeiliki karakter kreatif, mandiri, dan produktif.

Dosen Profesional

Dosen UMBandung merupakan lulusan S2,S3, dan profesor dari perguruan tinggi ternama.

Sarana & Prasarana Lengkap

Laboratorium, perpustakaan digital, ruang belajar variatif, digital class, dan ballroom.

Kampus di Lokasi Strategis

Gedung baru yang siap menunjang seluruh kebutuhan dan aktivitas perkuliahan serta riset dan pengembangan ilmu pengetahuan

Terdapat Banyak Beasiswa

UMBandung menyediakan banyak beasiswa bagi calon mahasiswa UMBandung.

Mahasiswa

Lulusan

Dosen Tetap