Akidah Islamiah Dorong Etos Kerja Disiplin, Amanah, dan Tanggung Jawab

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Bandung Cecep Taufikurrohman menegaskan bahwa akidah Islamiah merupakan elemen vital sekaligus sumber kekuatan utama dalam kehidupan seorang muslim. 

Menurut Buya Cecep, begitu beliau akrab disapa, manusia memiliki dominasi kekuatan pada jiwa dan rohani, berbeda dengan hewan yang hanya mengandalkan fisik terbatas.

Dengan membangun kekuatan rohani melalui akal dan keyakinan, manusia mampu menaklukkan lingkungan bahkan jagat raya.

Hal itu sekaligus menjadi cara untuk mengatasi berbagai keterbatasan jasmaninya.

Cecep menjelaskan, secara prinsip akidah bermakna netral, yaitu semua keyakinan yang dianggap benar oleh manusia.

Namun, akidah Islamiah adalah satu-satunya keyakinan yang benar karena bersumber dari Islam.

Ia mencontohkan keyakinan keliru seperti menyembah berhala, meyakini pohon besar memiliki berkah, atau menjadikan materi sebagai Tuhan.

Semua itu tidak akan memberikan manfaat sebagaimana akidah Islamiah yang terbukti mendorong lahirnya peradaban agung.

Sejarah, kata Cecep, menunjukkan akidah Islamiah melahirkan etos kerja yang kuat, mencakup disiplin, amanah, kerja keras, tanggung jawab, dan keikhlasan.

Tanpa akidah yang benar, seorang muslim akan kehilangan daya untuk berkarya.

Ia menegaskan iman harus diwujudkan dalam amal nyata, baik dalam ibadah ritual maupun sosial.

Termasuk di antaranya menepati janji, peduli sesama, serta terus berkarya sepanjang hayat.

Cecep juga menyinggung QS Al-Baqarah ayat 177 yang menekankan kebaikan sejati bukan sekadar simbol menghadap kiblat. 

Ayat ini menegaskan kebaikan diwujudkan dengan iman, amal nyata, dan kepedulian sosial terhadap anak yatim, fakir miskin, hingga membebaskan hamba sahaya.

Menurutnya, seorang muslim tidak memiliki waktu untuk bermalas-malasan karena hidup harus diisi dengan karya bermanfaat. 

“Pekerjaan seorang muslim tidak boleh asal-asalan, sebab akan diperiksa oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, bukan sekadar atasan,” pungkasnya.***