Kiai Sudja, Tokoh di Balik Gagasan Haji yang Humanis dan Berkemajuan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kepala LPPAIK Universitas Muhammadiyah Bandung Dikdik Dahlan Lukman mengatakan bahwa sejarah Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui pendidikan dan dakwah.

Namun, melalui tradisi pelayanan sosial yang menjadikan agama hadir untuk menjawab persoalan konkret masyarakat.

Menurutnya, salah satu tokoh yang mencerminkan semangat tersebut adalah Kiai Muhammad Sudja, sosok yang dikenal sebagai pelopor Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) sekaligus perintis pembenahan pelayanan haji bagi umat Islam Indonesia.

Kisah dan gagasan Kiai Sudja tersebut disampaikan Dikdik saat mengisi Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (11/8/2026).

Dikdik mengajak warga Muhammadiyah melihat Kiai Sudja tidak semata sebagai tokoh masa lalu. Namun, sebagai figur yang mewariskan cara berpikir progresif dalam membangun pelayanan umat. 

“Kalau kita berbicara tentang PKO Muhammadiyah, Kiai Sudja merupakan tokoh yang sangat penting. Beliau menunjukkan bahwa ajaran agama tidak cukup hanya dipahami dan disampaikan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada manusia,” ujarnya.

Kiai Muhammad Sudja lahir di Yogyakarta pada 1882 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mendapatkan pembinaan keagamaan dari KH Ahmad Dahlan.

Dalam perjalanan Muhammadiyah, namanya lekat dengan pengembangan PKO melalui pendirian klinik, rumah yatim, dan berbagai bentuk pelayanan sosial yang pada masanya merupakan terobosan dalam menerjemahkan ajaran Islam ke dalam kerja kemanusiaan.

Namun, kiprah Kiai Sudja ternyata jauh melampaui bidang pelayanan sosial. Dikdik mengungkapkan, Kiai Sudja juga memiliki perhatian besar terhadap penyelenggaraan ibadah haji ketika perjalanan umat Islam Indonesia ke Tanah Suci masih menghadapi berbagai persoalan. 

Mulai dari transportasi, administrasi, keterbatasan informasi, hingga regulasi kolonial yang membatasi ruang gerak jemaah.

“Bagi Kiai Sudja, pelayanan haji itu bukan sekadar mengantarkan orang sampai ke Tanah Suci. Ada amanah kemanusiaan di dalamnya. Jemaah harus mendapatkan pengetahuan, pendampingan, keamanan, dan pelayanan yang baik,” kata Dikdik.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa sejak awal Muhammadiyah telah berusaha menempatkan pelayanan keagamaan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.

Salah satu terobosan Kiai Sudja adalah perhatian terhadap pendidikan manasik secara menyeluruh. Ia tidak hanya membicarakan tata cara ritual haji, tetapi memikirkan persiapan sebelum keberangkatan, perlengkapan, administrasi, hingga aspek teknis perjalanan. 

“Yang menarik dari Kiai Sudja adalah beliau tidak hanya bicara tentang bagaimana orang berhaji secara ritual. Beliau juga memikirkan apa yang harus dipersiapkan sebelum berangkat dan bagaimana perjalanan itu dilakukan,” jelas Dikdik.

Kiai Sudja juga menunjukkan sikap kritis terhadap kecenderungan menjadikan haji sekadar simbol status sosial. Menurut Dikdik, kritik tersebut memperlihatkan upaya Kiai Sudja mengembalikan makna haji pada substansi ibadah dan perubahan sosial.

“Bagi beliau, orang yang sudah berhaji seharusnya mengalami perubahan dalam kehidupan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Jadi, yang penting bukan sekadar gelarnya, tetapi nilai dan dampak dari ibadah itu sendiri,” ungkapnya.

Visi Kiai Sudja bahkan menyentuh persoalan kemandirian infrastruktur haji. Pada dekade 1920-an hingga 1940-an, Muhammadiyah bersama umat Islam Indonesia pernah menggagas kepemilikan kapal sendiri untuk mengangkut jemaah menuju Tanah Suci.

“Ini menarik karena pada masa itu sudah muncul pikiran untuk memiliki kapal sendiri. Artinya, umat Islam Indonesia sudah berpikir tentang kemandirian dalam pelayanan haji,” tutur Dikdik.

Meski gagasan tersebut belum berhasil diwujudkan, menurut Dikdik, rencana itu memiliki arti penting dalam sejarah gerakan Islam Indonesia.

“Walaupun kapal itu akhirnya belum terealisasi, gagasan tersebut penting secara historis. Ada kesadaran bahwa pelayanan umat membutuhkan kemandirian,” tambahnya.

Gagasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan ibadah sejak masa itu telah dipandang berkaitan dengan aspek teknologi, transportasi, manajemen, dan kedaulatan pelayanan.

Kiprah Kiai Sudja juga berlangsung melalui advokasi dan diplomasi dengan pemerintah kolonial maupun otoritas di Arab. Upaya tersebut dilakukan untuk mendorong perbaikan perjalanan dan perlindungan jemaah.

“Kiai Sudja bukan hanya seorang ulama yang mengajarkan manasik. Beliau juga seorang organisator dan negosiator yang memperjuangkan pelayanan yang lebih baik bagi jemaah Indonesia,” kata Dikdik.

Bagi Dikdik, seluruh kiprah tersebut memiliki satu benang merah, yakni menjadikan agama sebagai kekuatan yang menghadirkan kemaslahatan.

“Kalau kita tarik benang merahnya, PKO, rumah yatim, klinik, pelayanan haji, semuanya berangkat dari satu prinsip bahwa agama harus hadir untuk menyelesaikan persoalan manusia,” jelasnya.

Oleh karena itu, pelayanan haji dalam pemikiran Kiai Sudja tidak dapat dipisahkan dari nilai ihsan, yakni memastikan jemaah memperoleh pelayanan yang menjaga keselamatan, martabat, dan kemaslahatannya.

Atas luasnya kontribusi tersebut, Dikdik mendorong agar sejarah Kiai Muhammad Sudja mendapatkan perhatian lebih besar, termasuk melalui kajian untuk pengusulan sebagai pahlawan nasional.

“Menurut saya, Kiai Muhammad Sudja sangat layak untuk dikaji dan dipertimbangkan sebagai pahlawan nasional. Kepeloporan beliau dalam PKO, pelayanan sosial, literasi haji, dan perjuangan memperbaiki pelayanan jemaah merupakan kontribusi yang tidak kecil,” ujarnya.

Ia menilai pengenalan kembali sosok Kiai Sudja penting bukan hanya sebagai upaya merekonstruksi sejarah. Namun, untuk menemukan kembali model keberagamaan yang berbasis ilmu, profesionalisme, keberanian berorganisasi, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.

Dikdik menegaskan, warisan terbesar Kiai Sudja bukan hanya berupa lembaga dan gagasan, tetapi cara menghadapi persoalan umat secara sistematis dan solutif.

“Yang diwariskan Kiai Sudja kepada kita bukan hanya lembaga, tetapi cara berpikir. Kalau umat menghadapi masalah, jangan hanya mengeluh. Harus dicari ilmunya, diorganisasi, dicarikan solusinya, lalu diwujudkan menjadi pelayanan,” pungkasnya.

Jejak tersebut menempatkan Kiai Muhammad Sudja sebagai salah satu figur penting dalam sejarah pembaruan Muhammadiyah—seorang tokoh yang menerjemahkan nilai keislaman bukan berhenti pada wacana, melainkan menjadi pelayanan nyata bagi kemanusiaan.***