Alumnus KPI UM Bandung Jadi Atlet Wanita Asia Pertama di Ajang Camel Race Internasional

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Aqilla Haurah, atlet putri camel race Indonesia yang juga alumnus Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Bandung, berhasil menembus 10 besar ajang Camel Race Islamic Solidarity Games yang berlangsung di Riyadh belum lama ini.

Pada debut perdananya di level senior, Aqilla finis di posisi kedelapan. Ia menyebut capaian tersebut sebagai pengalaman berharga yang mendorongnya untuk terus meningkatkan kemampuan.

Keikutsertaan Indonesia dalam cabang camel race sendiri berawal dari diplomasi olahraga antara penyelenggara Islamic Solidarity Games dan perwakilan Indonesia. Pada edisi tahun ini, perlombaan diikuti oleh 58 negara.

Aqilla menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang mendukungnya, terutama Ketua Umum NOC Indonesia dan Ketua Umum Federasi Indonesia Camel Sport.

“Dukungan ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk menghadirkan prestasi yang lebih baik di kesempatan berikutnya,” ujarnya pada Sabtu (29/11/2025).

Meskipun bukan berasal dari latar belakang camel race, Aqilla tetap percaya diri berkat dukungan kuat dari berbagai pihak.

Ia sebelumnya memiliki pengalaman panjang dalam horse riding selama hampir tujuh tahun. Namun, tidak pernah membayangkan akan mewakili Indonesia dalam cabang olahraga yang benar-benar baru baginya.

Camel race, yang merupakan olahraga tradisional populer di Arab Saudi, akhirnya menjadi jalan bagi Aqilla tampil di panggung internasional setelah melalui proses diplomasi antara Indonesia dan Arab Saudi.

Proses pencarian atlet Indonesia untuk cabang ini tidaklah mudah mengingat minimnya pengalaman dan belum adanya tradisi camel racing di tanah air.

Aqilla terpilih melalui seleksi cepat—mengirimkan paspor, CV, dan mengikuti wawancara—hingga akhirnya dipastikan mewakili Indonesia. 

Dalam waktu satu bulan sejak seleksi hingga keberangkatan, ia langsung menjalani training camp intensif di Riyadh.

Setibanya di Arab Saudi, Aqilla mengikuti latihan padat selama empat hari. Meski belum pernah melihat unta secara langsung sebelumnya, ia berlatih hingga tujuh jam per hari untuk mempelajari teknik dasar mengendalikan unta, memahami ritme perlombaan, serta menyesuaikan diri dengan kondisi arena.

Usai pelatihan singkat tersebut, ia langsung turun dalam babak kualifikasi dan bersaing dengan atlet-atlet berpengalaman dari berbagai negara.

Dari total 18 negara peserta, hanya lima yang melaju ke babak final. Walaupun Indonesia belum berhasil mencapai final pada debutnya, Aqilla merasa bangga dapat meraih peringkat kedelapan.

“Saya belajar banyak tentang strategi, teknik, hingga penguatan mental saat berlomba. Pengalaman ini membuka peluang kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan Arab Saudi dalam pengembangan camel racing,” ungkapnya.

Indonesia menjadi negara Asia pertama yang ambil bagian dalam kompetisi balap unta tingkat internasional, yang selama ini didominasi negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yaman, dan Qatar.

Aqilla berharap keikutsertaan ini menjadi pintu awal untuk memperkenalkan Indonesia dalam cabang olahraga baru tersebut. “Semoga ke depan saya bisa memberikan hasil yang lebih baik untuk Indonesia,” ujarnya.

Sebagai tambahan, Aqilla juga merupakan atlet wanita Asia pertama yang tampil dalam ajang camel race ini—prestasi membanggakan di kancah internasional.

Sebelumnya, ia telah menorehkan berbagai prestasi nasional maupun internasional pada kompetisi balap kuda di Malaysia dan Turki, bahkan sukses masuk jajaran top 10 dalam liga memanah berkuda Malaysia.***