Boleh Gak Sih Belajar Agama Pada AI?

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Mau tahu hukum suatu ibadah, mencari penjelasan ayat Al-Qur'an, atau bertanya soal agama? Sekarang semuanya bisa dilakukan dalam hitungan detik melalui kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tinggal mengetik pertanyaan, jawaban langsung muncul. Praktis, cepat, dan mudah dipahami.

Namun, di balik kemudahan tersebut, ada hal penting yang tidak boleh dilupakan. Jawaban AI yang terdengar meyakinkan belum tentu sepenuhnya benar. Apalagi jika menyangkut persoalan agama yang membutuhkan pemahaman mendalam, sumber terpercaya, dan penjelasan sesuai konteks.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya tempat belajar agama.  Menurutnya, teknologi memang membantu manusia memperoleh informasi, tetapi tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran ulama dan guru agama.

"Sekarang orang bisa bertanya apa saja kepada AI, termasuk masalah agama. Namun, kita harus memahami bahwa AI itu hanya alat bantu untuk mendapatkan informasi, bukan sumber utama dalam memahami ajaran agama," ujar Dadang, dikutip dari YouTube TVMU Channel, Senin (2/11/2026).

Guru besar sosiologi agama tersebut menjelaskan bahwa AI bekerja dengan mengolah berbagai data dan informasi. Artinya, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan dan berpotensi memberikan jawaban keliru, terutama ketika sumber informasinya kurang akurat atau tidak sesuai dengan persoalan yang ditanyakan.

Persoalan lainnya adalah munculnya kebiasaan serba instan. Karena jawaban mudah didapatkan, seseorang bisa merasa sudah memahami suatu persoalan agama hanya setelah membaca beberapa paragraf. Padahal, memahami agama tidak sesederhana mencari jawaban di mesin pencari ataupun aplikasi AI.

Dadang menegaskan bahwa belajar agama bukan hanya urusan mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh. Ada proses memahami nilai keimanan, membangun akhlak, serta menghayati ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu membutuhkan proses pembelajaran dan keteladanan.

"Belajar agama itu bukan sekadar mengetahui hukum atau tata cara ibadah. Ada nilai keimanan, akhlak, dan penghayatan yang harus ditanamkan. Itu membutuhkan bimbingan guru dan keteladanan, sesuatu yang tidak bisa diberikan sepenuhnya oleh AI," jelasnya.

Oleh karena itu, kehadiran guru agama dan ulama tetap penting. Mereka tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi membantu menjelaskan konteks, meluruskan kesalahpahaman, dan membimbing seseorang memahami ajaran Islam berdasarkan perangkat keilmuan seperti tafsir, hadis, dan ushul fikih.

Lantas, apakah menggunakan AI untuk belajar agama berarti salah? Tentu tidak. Teknologi tetap bisa dimanfaatkan untuk mencari informasi awal, memahami istilah keagamaan, atau menemukan referensi bacaan. Namun, jawabannya perlu diperiksa kembali, terutama jika berkaitan dengan hukum agama dan persoalan yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Dalam hal ini, Dadang mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip tabayyun, yakni memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya kepada orang lain. "Al-Qur'an mengajarkan kita untuk melakukan tabayyun. Jadi, ketika mendapatkan informasi dari AI, jangan langsung dipercaya begitu saja. Periksa kembali sumbernya dan tanyakan kepada orang yang benar-benar memahami persoalan agama," tegasnya.

Pesan tersebut relevan dengan kebiasaan generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi digital. Di era ketika jawaban dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan layar, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat seseorang malas membaca, memeriksa sumber, atau berdiskusi dengan orang yang memiliki keahlian.

Di sisi lain, perkembangan AI juga menjadi peluang bagi lembaga pendidikan Islam dan organisasi keagamaan untuk menghadirkan sumber pembelajaran yang lebih menarik, kredibel, dan mudah dijangkau. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya mendapatkan akses informasi yang cepat, tetapi memiliki rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, AI bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, melainkan teknologi yang perlu digunakan secara bijak. Jadikan AI sebagai teman untuk mencari informasi dan memperluas wawasan, tetapi tetap tempatkan ulama, guru, serta sumber keilmuan yang terpercaya sebagai rujukan utama dalam memahami agama.

Sebab, belajar agama bukan perlombaan siapa yang paling cepat mendapatkan jawaban. Namun, proses memahami ilmu, menghayati nilai, dan mengamalkannya dalam kehidupan.***(FA)