Dakwah Nabi di Makkah Jadi Fondasi Peneguhan Iman dan Akhlak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Bandung sekaligus sejarawan Muhammadiyah Sopaat Rahmat Selamet mengatakan bahwa mengkaji sirah Nabi Muhammad merupakan hal penting bagi setiap muslim. Menurutnya, sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fakta untuk mempersiapkan karya bagi masa depan.

Ia menegaskan bahwa sejarah harus dipahami secara kritis-analitis agar tidak berubah menjadi dongeng semata. Hal ini sejalan dengan pesan Al-Quran surah Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan manusia untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya demi masa depan.

Dalam Kajian Sirah Nabawiyah di Gedung Dakwah PDM Garut, Ahad (14/09/2025), Sopaat memaparkan konteks sosial Arab ketika Nabi Muhammad lahir. Abad ke-7 Masehi ditandai dengan krisis kepercayaan, krisis sosial, dan konflik antara dua adidaya, Romawi dan Persia.

Bangsa Arab kala itu hidup dalam situasi sulit dan terjerat tradisi jahiliah, seperti perbudakan, diskriminasi perempuan, dan penyembahan berhala. Ajaran samawi Yahudi dan Nasrani pun tidak memberi solusi karena terhegemoni kepentingan politik besar, sementara pengaruh asing makin menggerus ajaran hanif peninggalan Nabi Ibrahim.

Sopaat menjelaskan bahwa lahirnya Nabi Muhammad di Hijaz merupakan jawaban doa Nabi Ibrahim sekaligus solusi bagi kerusakan peradaban. Kehadiran Rasulullah membawa misi tauhid dan perbaikan akhlak sebagai dasar membangun masyarakat yang beradab.

Ia menekankan bahwa dakwah Nabi di Makkah selama 12 tahun berfokus pada penanaman akidah dan akhlak mulia. Sebanyak 85 dari 114 surah Al-Quran turun di Makkah dengan ayat-ayat pendek yang meneguhkan iman, seruan universal, dan penekanan pada akhirat.

Menurut Sopaat, ketulusan Nabi karena Allah, akhlak mulia, serta dukungan umat kalangan bawah menjadi kunci keberhasilan dakwah. Spirit inilah yang juga diteladani KH Ahmad Dahlan dalam membangun Muhammadiyah dengan tauhid, kesabaran, dan amal nyata yang kini berkembang luas.***(FA)