Dampak Buruk Gas Metan Mengintai TPA, Gerakan Pilah Sampah Mandiri Jadi Solusi
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Persoalan sampah sejatinya tidak selesai begitu saja saat armada pengangkut membawanya dari depan rumah.
Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tumpukan sampah organik yang membusuk tanpa oksigen justru memicu masalah baru dengan menghasilkan gas metan, salah satu gas rumah kaca berbahaya penyebab pemanasan global.
"Masalah sampah tidak selesai di TPA. Justru di sanalah masalah besar dimulai," tegas Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UM Bandung, Luthfia Hastiani Muharam, dalam webinar Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertema “Tuntas Sampah dari Rumah” pada Sabtu (06/06/2026).
Dalam paparannya, Luthfia mengajak masyarakat untuk segera mengubah pola pengelolaan sampah dari sistem linear konvensional yang mengandalkan kumpul-angkut-buang, menjadi sistem sirkular yang memandang limbah sebagai sumber daya bernilai.
"Di Jawa Barat, sekitar 70 persen sampah rumah tangga adalah organik. Bayangkan potensinya jika semua itu diolah menjadi kompos, bukan dibuang ke TPA," ujar Luthfia.
Kunci dari efisiensi ini dimulai dari pemilahan langsung di dapur rumah tangga menjadi tiga kategori utama. Apa saja?
Yakni sampah organik yang bisa dikomposkan, sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus yang bernilai ekonomi jika disetor ke bank sampah, serta sampah residu yang benar-benar tidak dapat diolah lagi.
Untuk memudahkan masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan dan takut akan bau menyengat, tim UM Bandung memperkenalkan inovasi bernama oktagonal komposter.
Keranjang bulat yang memanfaatkan pelapis kardus dan sabut kelapa ini terbukti ampuh mempercepat dekomposisi sampah menjadi kompos matang hanya dalam waktu dua hingga empat minggu.
Luthfia menjelaskan bahwa banyak orang tidak mau mengompos karena takut bau, namun dengan media yang tepat seperti komposter ini, kendala tersebut bisa diatasi dengan mudah.
Luthfia juga meluruskan persepsi keliru masyarakat mengenai kehadiran magot atau larva lalat black soldier fly yang kerap dianggap menjijikkan dalam proses pengomposan.
Menurutnya, kehadiran larva tersebut justru menjadi indikator keberhasilan penguraian alami yang sangat efisien.
"Magot bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari. Mereka adalah aktor alami yang justru membantu proses pengomposan berjalan lebih baik," tegasnya.
Guna mendukung efisiensi pengolahan tersebut, tim peneliti UM Bandung bahkan telah menciptakan mesin pencacah berkapasitas 20 kilogram yang mampu mengubah sampah organik menjadi bubur halus agar lebih cepat diurai oleh magot maupun mikroorganisme.
Pada akhir sesi, Luthfia menekankan bahwa solusi krisis lingkungan ini tidak melulu bertumpu pada teknologi canggih.
Namun, pada kekuatan kolaborasi komunitas melalui gerakan bank sampah komunal di tingkat RW, sekolah, hingga kampus.
"Perubahan terbesar dimulai dari hal paling sederhana, misal memilah sampah di dapur kita sendiri. Jika setiap rumah tangga melakukan itu, beban TPA bisa berkurang drastis, emisi gas metan turun, dan kualitas hidup kita semua membaik," pungkasnya.***(FK)