Di Balik Kecanggihan AI, Ada Risiko yang Perlu Dipahami Mahasiswa
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siddhartha Paul Tiwari, Head of Policy and Planning, Android & Mobile Technologies, Google Asia Pacific, mengatakan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut manusia untuk terus belajar, berpikir kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Hal itu disampaikan Siddhartha dalam kuliah umum bertajuk “Generative AI and The Future of Indonesia’s Digital Talent” di Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, AI tidak hanya mengubah cara manusia mengakses informasi, tetapi memengaruhi dunia kerja, pendidikan, dan kehidupan sosial.
Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Siddhartha mengutip AI Index Report 2026 dari Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI), yang menunjukkan bahwa tingkat adopsi AI generatif mencapai 53 persen dalam tiga tahun.
Perkembangan tersebut berlangsung lebih cepat dibandingkan internet dan komputer personal pada tahap yang sama.
Kemampuan AI dalam menyelesaikan tugas juga mengalami peningkatan. Dalam pengujian OSWorld, yang mengukur kemampuan agen AI menjalankan tugas melalui komputer, tingkat keberhasilan sistem terbaik meningkat dari sekitar 5 persen pada 2024 menjadi 66,3 persen pada 2025.
Meski demikian, Siddhartha mengingatkan bahwa AI masih dapat menghasilkan jawaban yang keliru.
Pengguna perlu memeriksa informasi yang dihasilkan sebelum menjadikannya sebagai rujukan atau dasar pengambilan keputusan.
“AI bisa sangat canggih dalam menjawab persoalan ilmiah tingkat doktoral, tetapi pada saat yang sama masih bisa keliru membaca jam analog. Oleh karena itu, kita harus memeriksa jawabannya sebelum mempercayainya,” ujarnya.
Dalam dunia kerja, Siddhartha menilai AI tidak semata-mata menjadi ancaman bagi keberadaan pekerjaan manusia.
Perkembangan teknologi juga dapat mengubah jenis pekerjaan, menghadirkan peran baru, dan meningkatkan kebutuhan terhadap keterampilan tertentu.
Ia mencontohkan kekhawatiran pegawai bank ketika komputer mulai digunakan di kantor-kantor cabang.
Saat itu, para pegawai khawatir teknologi akan menggantikan pekerjaan mereka.
Namun, seiring perkembangan teknologi, sektor perbankan dan keuangan turut berkembang serta membuka peluang kerja baru.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan manusia untuk mempelajari keterampilan baru.
Menurut Siddhartha, kompetensi masa depan perlu memadukan kemampuan teknis dengan keterampilan manusiawi.
“Kompetensi masa depan perlu menggabungkan penguasaan teknologi dan kemampuan manusiawi. Keterampilan teknis seperti AI, analisis data, jaringan, dan keamanan siber perlu berjalan beriringan dengan kreativitas, pertimbangan yang matang, ketangguhan, serta kemampuan beradaptasi,” katanya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan tersebut.
Kampus tidak cukup hanya mengenalkan teknologi AI. Namun, perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan menggunakannya secara bijak, memverifikasi informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.
Siddhartha juga mengutip survei terhadap mahasiswa sarjana di Inggris yang menunjukkan bahwa 95 persen responden menggunakan AI dalam berbagai bentuk, sedangkan 94 persen memanfaatkannya untuk mendukung tugas perkuliahan.
Menurutnya, tingginya penggunaan AI perlu diimbangi dengan peningkatan literasi digital.
Mahasiswa tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi atau prompt kepada AI.
Namun, harus bisa menilai kualitas jawaban, mengenali kesalahan, dan memahami kapan suatu persoalan membutuhkan pertimbangan manusia.
Kuliah umum tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, dan diikuti sekitar 1.200 mahasiswa.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi. Siddhartha juga menyampaikan komitmennya untuk kembali berkunjung ke UM Bandung.***