Dosen UM Bandung: Tradisi Sunda Satu Napas dengan Islam dalam Menjaga Lingkungan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Bandung Sopaat Rahmat Selamet menjelaskan bahwa manusia memiliki dua peran utama dalam kehidupan, yaitu sebagai hamba Allah (‘abdullah) yang beribadah dan sebagai khalifah fil ardh yang bertugas mengelola bumi.

Menurutnya, kesempurnaan ibadah tidak akan lengkap tanpa dibarengi tanggung jawab sosial dan kepedulian ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Ia kemudian menyoroti bagaimana kearifan lokal Sunda sejalan dengan spirit khalifah fil ardh yang diajarkan Islam.

Karakter masyarakat Sunda yang ramah, egaliter, serta peduli pada kelestarian alam tercermin dalam falsafah hidup seperti silih asah, silih asih, silih asuh. 

Nilai-nilai ini menjadi landasan penting dalam membangun keharmonisan sosial dan menjaga lingkungan.

Lebih jauh, Sopaat menyebut konsep tata ruang tradisional Sunda sarat dengan nilai ekologis.

Berbagai aturan hidup mengajarkan pentingnya menjaga gunung, sumber air, sungai, sawah, hingga pantai sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. 

Hal ini menunjukkan adanya kesadaran tinggi akan pentingnya keseimbangan antara manusia dan alam.

“Tradisi Sunda menempatkan alam sebagai bagian penting dari kehidupan spiritual. Praktik menjaga leuweung titipan, leuweung tutupan, hingga leuweung garapan adalah bentuk kesadaran ekologis yang selaras dengan ajaran Islam,” tutur Sopaat.

Ia menambahkan, nilai ini juga sejalan dengan maqasid syariah yang menekankan pentingnya hifzul biah atau menjaga lingkungan.

Dalam pandangan Sopaat, sejarah juga mengingatkan bahwa modernisasi sejak era Renaisans membawa tantangan besar berupa materialisme, kolonialisme, dan sekularisme.

Dampak negatifnya, alam dieksploitasi secara berlebihan dan pendidikan kerap hanya berfokus pada aspek material, sehingga mengikis kesadaran spiritual dan nilai kemanusiaan.

Meski demikian, Sopaat menilai Muhammadiyah memiliki kesadaran ekologis yang kuat.

Hal ini tergambar dalam logo matahari yang menyinari alam tanpa merusaknya serta dalam pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah yang menekankan pentingnya merawat lingkungan.

Ia menekankan bahwa harmonisasi ajaran Islam dengan kearifan lokal menjadi kunci untuk membangun peradaban yang berkelanjutan.

Menurutnya, nilai-nilai lokal yang baik perlu dirawat dan dipadukan dengan ajaran Islam agar bisa menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan zaman.

“Dengan cara ini, umat Islam dapat menjaga ketahanan budaya, ketahanan pangan, dan kelestarian lingkungan di tengah arus globalisasi,” tandas Sopaat.

Ia menegaskan, harmonisasi antara Islam dan kearifan lokal akan menjadi fondasi penting bagi lahirnya masyarakat yang tangguh dan berperadaban.***(FA)