Era AI Buka Peluang Dakwah Lebih Luas Bagi Generasi Muslim Digital
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Agung Tirta Wibawa menegaskan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Perkembangan teknologi tersebut, menurutnya, tidak dapat dihindari sehingga masyarakat perlu memanfaatkannya secara bijak.
Agung menyampaikan bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra kerja yang efektif, khususnya bagi para dai dalam memperluas jangkauan dakwah Islam di ruang digital. Hal tersebut ia sampaikan dalam kajian Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Jumat (13/03/2026).
Menurutnya, pemanfaatan AI membuka peluang besar untuk meningkatkan produktivitas pembuatan konten Islami. Momentum Ramadhan, lanjutnya, menjadi waktu yang sangat tepat untuk menghadirkan berbagai konten dakwah yang lebih kreatif, informatif, dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
“Teknologi AI tidak bisa kita hindari ataupun kita lawan. Sebaliknya, kita perlu memanfaatkannya sebagai alat bantu dalam berbagai aktivitas, termasuk dalam kegiatan dakwah,” ujar Agung.
Ia menegaskan bahwa AI sejatinya hanyalah sebuah alat, bukan unsur utama dalam proses dakwah. Peran manusia tetap menjadi faktor utama dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman, sementara teknologi hanya berfungsi sebagai sarana pendukung untuk meningkatkan efektivitas kerja.
Dengan bantuan AI, proses penyusunan materi dakwah hingga pembuatan ilustrasi visual dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi ini bahkan mampu membantu menghasilkan berbagai elemen konten tanpa memerlukan proses penyuntingan manual yang kompleks.
Agung menambahkan bahwa teknologi AI juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan video dakwah yang lebih menarik bagi generasi digital. Melalui teknologi ini, visualisasi tokoh-tokoh Islam klasik dapat disajikan secara lebih kreatif sehingga mampu menarik perhatian audiens yang kini lebih akrab dengan media digital.
“Kita bisa menghadirkan konten dakwah yang lebih segar dan komunikatif sehingga mampu menjangkau masyarakat yang saat ini lebih dekat dengan dunia digital dibandingkan media konvensional,” jelasnya.
Namun demikian, Agung mengingatkan bahwa penggunaan AI juga harus disertai dengan sikap kritis dan kehati-hatian. Mahasiswa doktoral UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut menilai bahwa teknologi AI masih memiliki keterbatasan dalam hal akurasi informasi.
Ia mencontohkan bahwa dalam beberapa kasus, AI dapat menggabungkan sumber informasi yang kurang tepat, seperti mencampurkan referensi Al-Qur’an dengan sumber yang tidak valid atau keliru dalam mengidentifikasi ungkapan bahasa Arab sebagai hadis.
Karena itu, menurutnya, setiap konten yang dihasilkan dengan bantuan AI perlu melalui proses verifikasi ulang, terutama ketika berkaitan dengan pengutipan ayat Al-Qur’an maupun hadis Nabi.
“Peran manusia tetap tidak tergantikan dalam menyempurnakan konten. Verifikasi diperlukan agar materi yang disampaikan benar-benar sesuai dengan sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah,” tegasnya.
Di akhir penyampaiannya, Agung mengingatkan agar masyarakat tetap bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi AI. Ia menilai penggunaan teknologi tersebut seharusnya tidak berlebihan apalagi sampai menimbulkan ketergantungan.
“Yang terpenting adalah bagaimana inovasi dakwah di era digital ini tetap berlandaskan syariat, sehingga mampu membentuk masyarakat muslim yang semakin taat kepada Allah SWT di tengah transformasi teknologi,” pungkasnya.***(FA/FK)