Harmoni Umat Dibangun dari Sikap Saling Memahami

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung Ace Somantri menilai dinamika perbedaan dalam praktik keagamaan merupakan hal yang wajar dan tidak perlu disikapi secara berlebihan.

Menurutnya, perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari proses ijtihad yang menunjukkan keberlangsungan pemikiran Islam dalam merespons perkembangan zaman.

“Perbedaan dalam praktik keagamaan adalah sesuatu yang wajar dan merupakan hasil dari proses ijtihad yang terus berkembang,” ujarnya.

Ace menjelaskan bahwa perbedaan pandangan dalam Islam bukanlah bentuk pertentangan, melainkan refleksi dari upaya intelektual dalam memahami ajaran agama secara kontekstual.

Ia menegaskan bahwa pendekatan adaptif terhadap perubahan sosial dan kemajuan ilmu pengetahuan menjadi penting tanpa harus meninggalkan prinsip dasar agama.

“Ini bukan soal benar atau salah semata, tetapi bagaimana umat mampu memahami ajaran secara kontekstual tanpa keluar dari nilai dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah memandang perbedaan sebagai keniscayaan dalam ranah cabang (furuiyah) yang seharusnya disikapi dengan sikap terbuka.

Oleh karena itu, nilai toleransi dan saling menghormati perlu terus diperkuat guna menjaga harmoni dalam kehidupan beragama.

“Perbedaan di wilayah furuiyah tidak seharusnya menjadi sumber konflik, tetapi harus dirawat dengan sikap saling menghargai,” tegas Ace.

Lebih lanjut, Ace menilai bahwa pendekatan keagamaan yang rasional dan berbasis ilmu pengetahuan menjadi salah satu faktor yang membuat Muhammadiyah tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menghadirkan wajah Islam yang moderat, inklusif, dan berkemajuan.

“Pendekatan rasional dan ilmiah inilah yang membuat Muhammadiyah tetap diterima oleh berbagai kalangan,” ungkapnya.

Secara sosiologis, ia juga menyoroti meningkatnya minat generasi muda terhadap lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Fenomena ini terlihat dari banyaknya peserta didik yang berasal dari latar belakang non-Muhammadiyah.

“Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki daya tarik yang kuat, bahkan bagi mereka yang bukan berasal dari lingkungan Muhammadiyah,” katanya.

Menurutnya, keterbukaan Muhammadiyah dalam membangun ruang dialog menjadi faktor penting dalam menarik perhatian generasi milenial dan generasi Z.

Ia menilai generasi muda saat ini cenderung lebih kritis dan objektif dalam menyikapi perbedaan.

“Generasi sekarang membutuhkan ruang dialog yang terbuka, bukan pendekatan yang kaku dan tertutup,” ujarnya.

Selain itu, kehadiran media sosial turut memperluas ruang interaksi dan pertukaran gagasan di kalangan generasi muda.

Ace melihat bahwa fenomena ini dapat menjadi peluang untuk memperkuat literasi keagamaan yang lebih rasional, selama diiringi dengan pendampingan yang tepat.

“Media sosial bisa menjadi sarana edukasi jika dimanfaatkan dengan baik dan diarahkan secara bijak,” tambahnya.

Menutup pandangannya, Ace menegaskan bahwa perbedaan dalam praktik keagamaan seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.

Sebaliknya, perbedaan perlu dijadikan sebagai sarana untuk memperkuat sikap saling memahami dan menghargai.

“Perbedaan harus menjadi kekuatan untuk membangun harmoni, bukan justru memecah belah umat,” pungkasnya.***(FA)