Kalahkan Ribuan Mahasiswa, Althof dari UM Bandung Raih Tiket Google Student Ambassador 2026
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siapa sangka, rasa penasaran gara-gara sering scrolling media sosial bisa berbuah pencapaian besar.
Itulah yang dialami Nisa Aghnia Nurul Al Thof, atau yang biasa disapa Althof, mahasiswi prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang berhasil menembus seleksi ketat Google Student Ambassador (GSA) 2026.
Dari lebih dari 81.800 mahasiswa yang mendaftar dari sekitar 1.900-an universitas se-Indonesia, hanya 2.000 orang yang terpilih dan Althof jadi salah satunya.
Ceritanya sederhana. Althof sering melihat informasi soal GSA berseliweran di media sosial, dan rasa penasaran itu akhirnya mendorongnya untuk mencari tahu lebih jauh.
Dia mulai menelusuri akun resmi GSA, membaca pengalaman para alumni tahun sebelumnya, lalu pelan-pelan memahami sendiri pola dan proses seleksinya, dari nol, secara mandiri.
Perjalanan Althof tentu bukan tanpa hambatan. Masa onboarding GSA ternyata bentrok dengan jadwal lomba yang sedang dia ikuti, sehingga dia harus pintar-pintar membagi waktu antara dua hal sekaligus.
Belum lagi, dia mengaku belum punya pengalaman sebagai content creator, salah satu bagian dari proses seleksi GSA. Tapi justru di situlah serunya.
Tantangan itu malah jadi ruang belajar baru bagi Althof, yang akhirnya terjun langsung ke dunia pembuatan konten digital dan personal branding lewat pendekatan learning by doing.
Program GSA sendiri ternyata bukan cuma soal teknologi dan kecerdasan buatan. Althof mengaku banyak hal lain yang dia petik selama mengikuti program ini, mulai dari kemampuan komunikasi, kreativitas, hingga cara beradaptasi di era digital yang terus bergerak cepat.
"Program Google Student Ambassador sendiri mendorong para mahasiswa untuk menjadi agen perubahan di lingkungan kampus dengan membawa semangat inovasi, kolaborasi, dan literasi teknologi yang lebih luas," ujarnya di kampus UM Bandung, Jumat (15/05/2026).
Ada satu pesan yang rupanya membekas kuat di benak Althof sejak inaugurasi Google, "jangan mendegradasi otak dengan AI."
Baginya, kalimat itu bukan larangan, tapi pengingat penting. AI seharusnya jadi alat bantu untuk mendongkrak produktivitas dan kreativitas, bukan pelarian dari kerja berpikir kritis.
Ke depan, Althof berharap kehadiran GSA di kampus bisa mendorong lebih banyak mahasiswa memanfaatkan AI secara bijak, maksimal dalam konteks akademik, tapi tetap dalam koridor regulasi yang berlaku.
Karena pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun saat ini, tetap saja membutuhkan manusia atau SDM yang mau berpikir.***