Kearifan Lokal Jadi Jembatan Dakwah dan Penguat Silaturahmi Umat
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kepala LPPAIK UM Bandung Dikdik Dahlan Lukman mengungkapkan bahwa secara etimologis nama “Sunda” bermakna bersih atau terang. Makna tersebut, menurutnya, sejalan dengan karakter masyarakat Sunda yang dikenal someah atau ramah serta religius.
Ia menjelaskan, identitas kultural tersebut berpadu selaras dengan ajaran Islam dan melahirkan tradisi-tradisi yang kaya nilai spiritual. Hal itu disampaikannya dalam Program Gerakan Subuh Mengaji yang tayang pada Selasa (10/02/2026).
Dalam pemaparannya, Dikdik menyebut masyarakat Sunda selalu menyambut datangnya Ramadan dengan suka cita. Kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat, katanya, tidak bertentangan dengan syariat, melainkan menjadi sarana untuk menguatkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sosial.
Ia menerangkan, dalam kalender Sunda bulan Syakban dikenal sebagai Rewah yang berakar dari kata arwah. Pada bulan ini, terdapat sejumlah tradisi sebagai persiapan menyambut Ramadan, salah satunya nyekar atau nadran, yakni ziarah ke makam keluarga sekaligus membersihkan area pemakaman secara gotong royong sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Tradisi bersih-bersih rumah dan tempat ibadah juga menjadi kebiasaan yang mengakar. Masjid dan musala dibersihkan bersama, karpet serta mukena dicuci secara massal, mencerminkan semangat kolektif menyongsong bulan suci.
Selain itu, terdapat tradisi munggahan yang berasal dari kata unggah atau naik. Tradisi ini dimaknai sebagai upaya meningkatkan kesiapan mental dan mempererat kebersamaan melalui makan bersama keluarga besar sebelum memasuki Ramadan. Ada pula munjungan atau nyorog, yakni berbagi makanan kepada orang tua dan tetangga sebagai wujud penghormatan dan sedekah.
Masyarakat Sunda juga mengenal kuramas, mandi besar yang melambangkan pembersihan diri secara lahiriah sebelum menjalani ibadah puasa. Rangkaian tradisi tersebut mengandung pesan agar umat Islam memasuki Ramadan dengan hati dan jiwa yang bersih.
Memasuki bulan puasa, sejumlah kebiasaan tetap dijalankan, seperti ngabuburit yang diisi dengan kegiatan positif sambil menunggu waktu berbuka. Di pesantren dan masjid, tradisi ngaji pasaran digelar dengan mengkaji kitab kuning tertentu secara intensif dari awal hingga akhir Ramadan untuk memperdalam pemahaman agama.
Pada sepuluh hari terakhir, masyarakat melaksanakan lilikuran dengan menghidupkan malam-malam ganjil demi meraih keutamaan lailatul qadar. Tabuhan dulag atau bedug pun masih digunakan sebagai penanda waktu sahur, tarawih, dan menjelang Idul Fitri, menjadi bagian dari syiar Islam yang menyatu dengan budaya lokal.
Di akhir kajiannya, Dikdik menyampaikan sejumlah pepatah Sunda sebagai nasihat menjaga kualitas puasa. “Letah leuwih seukeut batan peso” mengingatkan pentingnya menjaga lisan dari gibah dan fitnah. “Panon nu lalawora, hate nu cilaka” mengajarkan agar menjaga pandangan. Sementara “Hadé ku niat, goréng ku pamér” menegaskan pentingnya keikhlasan dan menjauhi riya.
Ia menutup dengan penegasan bahwa budaya Sunda tidak mengubah ajaran Islam, melainkan menjadi instrumen dakwah yang memperindah pelaksanaan ibadah sekaligus mempererat silaturahmi, termasuk melalui tradisi munggahan dan munjungan yang sarat nilai edukatif bagi generasi muda.***