Keselarasan Guru, Orang Tua, dan Lingkungan Jadi Kunci Pendidikan Berkualitas
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung Iim Ibrohim menyoroti semakin kompleksnya tantangan dalam membentuk generasi unggul di tengah derasnya arus digital serta dinamika perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut adanya transformasi pendekatan pendidikan yang tidak lagi semata berorientasi pada capaian akademik.
Ia menegaskan bahwa penguatan karakter, pembiasaan perilaku positif, serta internalisasi nilai-nilai menjadi kebutuhan yang mendesak dalam sistem pendidikan saat ini.
Tanpa fondasi tersebut, generasi muda berisiko kehilangan arah di tengah beragam pengaruh eksternal yang semakin masif.
Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menghadirkan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dalam pemaparannya pada program Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat, Senin (06/04/2026), Iim menyampaikan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman.
Ia menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kuat, kebiasaan yang baik, serta nilai-nilai yang kokoh sebagai landasan dalam membangun generasi yang berdaya saing dan berintegritas.
Lebih lanjut, ia mengidentifikasi bahwa persoalan utama pendidikan saat ini bukan terletak pada minimnya program atau kebijakan, melainkan pada belum optimalnya keselarasan antar pemangku kepentingan.
Sinergi antara guru, peserta didik, orang tua, dan lingkungan dinilai masih perlu diperkuat agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara holistik dan berkelanjutan.
Iim juga menyoroti hasil asesmen ISMUBA tingkat SMA di Jawa Barat yang menunjukkan capaian belum optimal, khususnya pada aspek Kemuhammadiyahan dan bahasa Arab.
Temuan tersebut menjadi indikator bahwa penguatan fondasi nilai keagamaan dan pemahaman spiritual di kalangan generasi muda masih memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait.
Selain itu, fenomena penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa turut menjadi perhatian. Seperti apa faktanya?
Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki kebiasaan mengakses media sosial sebelum tidur.
Hal itu secara tidak langsung berdampak pada berkurangnya waktu belajar, menurunnya kualitas istirahat, dan beralihnya fokus dari aktivitas produktif ke aktivitas konsumtif.
Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi melemahkan kualitas generasi Indonesia, baik dari sisi intelektual maupun spiritual.
Ia menilai bahwa pembentukan kebiasaan hidup sehat, disiplin, dan bernilai harus menjadi bagian integral dari proses pendidikan, dengan melibatkan peran aktif seluruh elemen yang berkepentingan.
Menutup pemaparannya, Iim menegaskan bahwa upaya mewujudkan generasi masa depan yang unggul memerlukan keseriusan, konsistensi, serta kolaborasi lintas sektor.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem. Namun, oleh komitmen dan ketulusan para pemegang amanah dalam menjalankan perannya masing-masing.***(FA)