Kesuksesan Tertinggi Seorang Hamba Adalah Meraih Rida Allah SWT

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman menegaskan bahwa kesuksesan tidak memiliki satu ukuran tunggal dan tidak semestinya dinilai hanya dari pencapaian materi.

Ia menjelaskan, standar keberhasilan setiap individu berbeda-beda, sangat dipengaruhi oleh latar belakang serta cara pandang hidup yang dianut. Mereka yang berpijak pada perspektif materialistik, kata Cecep, umumnya menakar sukses melalui harta, jabatan, dan prestise sosial.

Sebaliknya, orang yang berpegang pada nilai-nilai spiritual memaknai kesuksesan sebagai sesuatu yang lebih mendalam, sarat makna, dan berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan.

Cecep mengakui bahwa memaknai kesuksesan sebagai tercapainya tujuan duniawi tidak sepenuhnya keliru. Namun, ukuran tersebut masih bersifat “liar” apabila tidak disertai dengan timbangan etika. Ketika kesuksesan dilepaskan dari nilai moral dan akhlak, seseorang berisiko terjerumus pada kesuksesan semu yang justru menyesatkan.

“Dalam perspektif Islam, kesuksesan tertinggi adalah ketika seseorang meraih rida Allah SWT. Saat Allah telah rida, itulah kemenangan dan kesuksesan yang paling hakiki, karena Allah menjanjikan surga bagi hamba-hamba-Nya yang diridai,” ujar Cecep di UM Bandung pada Senin (02/03/2026).

Ia merujuk firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang menyebutkan, “…Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS At-Taubah: 100). Ayat tersebut, menurutnya, menegaskan orientasi akhir dari kesuksesan seorang muslim.

Lebih lanjut, Cecep mengingatkan bahwa kesuksesan tidak hadir secara instan tanpa usaha dan kerja keras. Islam telah memberikan tuntunan yang jelas tentang jalan menuju kesuksesan sejati, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW melalui sabda dan keteladanan hidupnya.

Ia juga menyinggung hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling memberi manfaat bagi sesama. Menghadirkan kebahagiaan, meringankan kesulitan, melunasi utang, hingga mengentaskan kelaparan orang lain merupakan amal-amal yang sangat dicintai Allah SWT.

Pesan tersebut, lanjut Cecep, menjadi semakin relevan saat umat Islam menjalani ibadah puasa Ramadhan. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kepedulian sosial, kepekaan nurani, serta dorongan untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada sesama.

“Kesuksesan orang yang berpuasa adalah ketika ia mampu meraih ketakwaan. Setidaknya, nilai-nilai kebaikan yang dilatih selama Ramadhan—seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, salat sunah, berzikir, dan menahan hawa nafsu—dapat terus dijaga dan diamalkan setelah Ramadhan berakhir,” pungkas dosen yang juga penulis buku Menuju Kiblat Ilmu: Panduan Studi di Universitas Al-Azhar Mesir tersebut.***(FA)