Krisis Ekologis Berakar dari Hilangnya Jati Diri Manusia sebagai Bagian dari Alam
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Sopaat Rahmat Selamet menegaskan bahwa akar utama krisis ekologis global adalah hilangnya kesadaran manusia terhadap jati dirinya sebagai bagian integral dari alam.
Sopaat menekankan bahwa Al-Qur'an telah memberikan landasan spiritual yang kokoh, di mana tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta seharusnya mengarahkan manusia untuk membangun etika ekologis.
Dalam pemaparannya pada Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat, Sopaat menjelaskan bahwa Islam memandang manusia bukan sebagai penguasa absolut, melainkan sebagai khalifah yang diberi amanah untuk memelihara keberlanjutan bumi.
Ia mengutip QS Ar-Rum ayat 41, yang secara eksplisit menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Perspektif ini, menurut Sopaat, telah lama menjadi tradisi intelektual Islam, seperti pandangan Imam Al-Ghazali yang menganalogikan struktur tubuh manusia (mikrokosmos) dengan unsur-unsur alam semesta.
Sopaat lebih jauh menyoroti pentingnya memperkuat kesadaran ekologis melalui kearifan lokal Nusantara, khususnya budaya Sunda. Tradisi Sunda, dengan konsep seperti leuweung titipan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan, telah memiliki sistem pembagian kawasan hutan yang terstruktur berdasarkan fungsi sakral dan pemanfaatan. Sistem ini terbukti efektif menjaga kelestarian alam jauh sebelum adanya pendekatan modern.
Menurut sejarawan Muhammadiyah ini, kerusakan lingkungan saat ini tidak terlepas dari cara pandang antroposentris dan kapitalistik yang hanya menempatkan alam sebagai objek eksploitasi. Sikap ini bertentangan dengan etika Islam yang menyerukan kasih sayang kepada seluruh makhluk, sesuai hadis Nabi.
Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan kesadaran ekologis sebagai bagian dari ibadah sehari-hari dan melakukan "taubat ekologis" untuk memperbaiki hubungan yang rusak dengan alam.***