Lindungi Anak dari Grooming, Dosen UM Bandung Tekankan Edukasi Aurat dan Literasi Digital
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Rizka Saputri mengingatkan para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman child grooming yang semakin marak di era digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan peluang bagi predator anak untuk mendekati korban melalui perangkat digital yang sering digunakan anak-anak, seperti ponsel dan tablet.
Rizka menjelaskan bahwa child grooming adalah tindakan manipulatif yang dilakukan oleh pelaku dengan cara membangun kedekatan emosional dengan anak. Pendekatan tersebut biasanya dilakukan melalui perhatian, pujian, atau pemberian hadiah palsu dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi terhadap anak.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi ancaman serius apabila anak tidak berada dalam pengawasan yang memadai dari orang tua.
“Anak merupakan amanah dari Allah yang harus dijaga kesuciannya dengan sebaik-baiknya. Perlindungan itu tidak hanya secara fisik, tetapi juga dari ancaman digital yang sering kali tersembunyi,” ujarnya saat menyampaikan kajian Ramadhan di kanal YouTube UM Bandung pada Sabtu (07/03/2026).
Tiga strategi perlindungan anak
Dalam pemaparannya, Rizka menguraikan tiga langkah penting yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari ancaman child grooming.
Pertama, orang tua perlu memberikan edukasi kepada anak mengenai batasan aurat dan bagian tubuh yang bersifat pribadi. Pemahaman ini penting agar anak mengetahui area tubuh yang tidak boleh dilihat atau disentuh oleh orang lain.
“Anak-anak perlu dilatih dan didorong untuk berani melapor kepada orang tua apabila ada pihak yang mencoba melihat atau menyentuh area sensitif tersebut,” tegasnya.
Langkah kedua adalah membangun kehadiran emosional yang kuat dalam keluarga. Rizka menilai bahwa anak yang merasa kesepian atau kurang mendapatkan perhatian cenderung lebih rentan menjadi target predator.
Karena itu, ia mengingatkan agar orang tua senantiasa hadir sebagai pendengar yang baik bagi anak.
“Orang tua harus terbuka terhadap setiap cerita anak. Kehadiran kita secara utuh akan mengurangi kemungkinan anak mencari perhatian dari orang asing yang memiliki niat buruk,” jelasnya.
Langkah ketiga adalah meningkatkan literasi digital sekaligus melakukan pengawasan terhadap penggunaan teknologi oleh anak.
Selain mendampingi anak ketika menggunakan gawai, ia menyarankan orang tua untuk memanfaatkan fitur keamanan digital yang tersedia.
“Gunakan fitur parental control dan tetap dampingi anak saat mereka menonton atau bermain menggunakan perangkat digital agar aktivitasnya tetap terpantau dengan aman,” katanya.
Pentingnya benteng spiritual
Di samping langkah teknis tersebut, Rizka juga menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai tauhid kepada anak sejak usia dini.
Orang tua, lanjutnya, perlu mengenalkan konsep bahwa Allah Maha Melihat atau muraqabah. Kesadaran spiritual ini akan menumbuhkan kontrol diri pada anak sehingga mereka tetap menjaga perilaku meskipun tidak berada dalam pengawasan orang tua.
Ia juga mengajak para orang tua menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap pola pengasuhan dalam keluarga.
Menurut Rizka, kualitas kehadiran orang tua dalam kehidupan anak merupakan faktor utama yang dapat melindungi mereka dari berbagai ancaman.
Rizka berharap generasi masa kini dapat tumbuh sebagai generasi Qurani yang kuat, berakhlak mulia, dan mampu meraih masa depan yang gemilang.
“Semoga momentum Ramadhan ini menguatkan kita dalam mendidik anak-anak menjadi generasi berakhlak mulia. Kita memohon perlindungan kepada Allah agar anak-anak kita senantiasa dijauhkan dari segala bentuk kejahatan, khususnya grooming di dunia digital,” pungkasnya.***(FK)