LPPAIK UM Bandung Perkuat Rekonstruksi Kurikulum AIK dari Teks ke Konteks

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) menggelar Seminar dan Workshop Kurikulum Akademik bertema “Transformasi Kurikulum & Pembelajaran Nyata Al-Islam Kemuhammadiyahan: Rekonstruksi Epistemologis dari Teks ke Konteks” pada Selasa (10/02/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan ini menghadirkan dua narasumber dari Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yakni Prof Dr Sutrisno MAg dan Prof Dr Suyadi MPdI.

Kepala LPPAIK UM Bandung Dr Dikdik Dahlan Lukman MHum menjelaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki karakter khas yang membedakannya dari kampus lain di Indonesia.

Karena itu, nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) harus menjadi ruh dalam setiap aktivitas pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan karyawan. 

“Rekonstruksi kurikulum menjadi langkah penting agar AIK semakin terintegrasi dalam seluruh mata kuliah,” ujarnya.

Ia menambahkan, integrasi tersebut diharapkan mampu mendukung visi UM Bandung sebagai islamic technopreneurial university, sekaligus melahirkan lulusan yang mandiri, terampil, melek teknologi, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan fondasi keagamaan dan kebangsaan.

Pembaruan kurikulum juga dipandang penting mengingat kurikulum yang ada telah berjalan hampir satu dekade sehingga perlu ditinjau kembali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui seminar dan workshop ini, UM Bandung menargetkan implementasi AIK dapat memberikan dampak nyata bagi mahasiswa, terutama dalam penguatan kemampuan dasar keagamaan seperti baca tulis Al-Qur’an dan pembiasaan ibadah praktis.

Kampus juga berkomitmen merekonstruksi kurikulum sekaligus memperkuat penerapan nilai-nilai AIK dalam seluruh aspek kehidupan kampus agar pendidikan tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga membentuk karakter religius dan integritas mahasiswa secara berkelanjutan.

Narasumber pertama, Prof Sutrisno, menekankan bahwa internalisasi pendidikan holistik berkarakter menjadi fokus utama penguatan kurikulum AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Menurutnya, AIK harus diposisikan tidak hanya sebagai mata kuliah, tetapi sebagai nilai hidup yang menjiwai seluruh aktivitas akademik dan budaya kampus. 

Implementasi penguatan tersebut dilakukan melalui integrasi kurikulum, pembinaan karakter mahasiswa, serta keterlibatan seluruh sivitas akademika.

Ia juga menjelaskan bahwa penguatan kurikulum AIK dapat dikembangkan melalui pendekatan Outcome Based Education (OBE) dan Project Based Education (PBE) yang menekankan pembelajaran integratif, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Program mentoring AIK, Baitul Arqam, pembiasaan ibadah, serta pengembangan budaya kampus islami menjadi bagian dari strategi internalisasi nilai-nilai tersebut agar PTMA mampu melahirkan lulusan unggul sekaligus berkarakter Islam Berkemajuan.

Sementara itu, Prof Suyadi menegaskan bahwa transformasi kurikulum AIK di PTMA menuntut integrasi dan interkoneksi keilmuan sebagai sebuah keniscayaan.

Paradigma ini berkembang dari konsep islamisasi sains dan saintifikasi Islam menuju integrasi keilmuan yang menempatkan nilai-nilai Islam sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan modern. 

Implementasinya dilakukan melalui penyusunan pedoman integrasi keilmuan, pelatihan dosen, serta penyusunan peta jalan kurikulum yang memastikan setiap mata kuliah memuat dimensi integratif antara AIK dan disiplin ilmu masing-masing program studi.

Menurutnya, integrasi tersebut tidak berhenti pada kurikulum, tetapi juga diwujudkan dalam penelitian, publikasi ilmiah, penerbitan buku integratif, serta pengembangan program riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak.

Mata kuliah seperti Islam, sains, dan teknologi menjadi contoh konkret integrasi AIK dengan keilmuan program studi sekaligus mendorong keterlibatan mahasiswa dalam riset dan program kampus berdampak, sehingga PTMA diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi keilmuan modern sekaligus berlandaskan nilai-nilai Islam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.***