UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Nawangwulang, Wawan Gunawan, menegaskan bahwa politik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Menurutnya, berbagai pilihan yang kerap dianggap personal, seperti cara berpakaian, berkerudung, hingga keputusan berkuliah, sejatinya merupakan bentuk ekspresi politik dalam kehidupan sehari-hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Wawan saat menjadi narasumber dalam Kuliah Umum bertema “Gen Z dan Politik” yang diselenggarakan Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Rabu (14/01/2026).
Dalam paparannya, Wawan menjelaskan bahwa politik pada dasarnya bersifat netral. Politik menjadi kotor bukan karena hakikatnya, melainkan karena cara manusia menjalankannya. Ia menegaskan, kekuasaan yang diperoleh melalui cara-cara tidak etis seperti suap akan mencederai nilai-nilai politik itu sendiri.
Menanggapi pertanyaan mengenai masih adanya politisi yang bersih, Wawan mengakui bahwa hal tersebut bukan persoalan mudah. Meski demikian, ia menekankan pentingnya kesadaran kritis masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak bersikap apatis dan justru terlibat aktif memperbaiki praktik politik.
Lebih lanjut, Wawan mengutip pandangan budayawan Gus Mus yang membagi politik ke dalam tiga bentuk, yakni politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan politik kekuasaan. Menurutnya, politik kerakyatan tercermin melalui upaya pemberdayaan serta keberpihakan kepada kepentingan masyarakat luas.
Ia pun mengajak mahasiswa UM Bandung untuk menentukan sikap dan pilihan politiknya. Wawan menegaskan bahwa individu yang tidak memiliki posisi politik berpotensi menjadi korban dari dinamika politik yang berlangsung.
Sementara itu, Kaprodi Hukum Keluarga Islam UM Bandung Yudi Daryadi menilai kuliah umum tersebut penting untuk memperkuat literasi politik generasi Z. Ia menegaskan bahwa politik tidak semata-mata soal perebutan kekuasaan, melainkan juga kesadaran membangun bangsa. Melalui pemanfaatan media sosial, generasi Z diharapkan semakin peduli dan kritis terhadap persoalan kebangsaan.***