Membaca Warisan Sunda Melalui Nada, Puisi, dan Motif Tekstil
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mengolah naskah kuno Sunda Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) menjadi karya musik balada dan desain permukaan tekstil. Karya tersebut dipamerkan dalam kegiatan di Lobi Berundak, kampus UM Bandung, Selasa (13/10/2026).
Ketua PISN 2026 UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik mengatakan, pertunjukan dan pameran tersebut merupakan luaran program hibah yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI.
Menurutnya, mengolah naskah berusia lebih dari lima abad menjadi narasi, visual, dan karya seni membutuhkan proses kreatif sekaligus pemahaman mendalam terhadap isi naskah.
“Bagaimana kami menerjemahkan sebuah naskah menjadi narasi, menjadi visual dalam beberapa karya yang sudah kami tampilkan hari ini, itu bukanlah sesuatu hal yang mudah,” ujar Ken Atik.
Ia menjelaskan, Sanghyang Siksa Kandang Karesian memuat beragam ajaran tentang kehidupan, mulai dari nilai moral, budi pekerti, adat istiadat, hingga berbagai profesi masyarakat pada masa lalu.
Tim PISN berupaya mengenalkan kembali nilai-nilai tersebut melalui pendekatan seni agar lebih mudah diapresiasi masyarakat. Salah satunya melalui syair, puisi, musik balada, dan desain tekstil yang dikembangkan bersama komunitas seni dan musik Manjing-Manjang.
Ken berharap karya-karya tersebut dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya Sunda sekaligus mengenalkan kearifan leluhur kepada generasi masa kini.
Ia mengajak pengunjung menikmati pertunjukan dan pameran tersebut sebagai ruang untuk memahami pesan kehidupan yang terkandung dalam naskah kuno.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung Ijang Faisal mengapresiasi upaya tim dalam menerjemahkan hasil riset menjadi karya seni yang dapat dinikmati publik.
Menurutnya, hibah penelitian bukan sekadar dukungan pendanaan, melainkan bentuk kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan melalui karya nyata dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kalau yang lain, dapat hibah itu tujuan, kalau Bu Ken dapat hibah itu fasilitator saja, untuk menghubungkan bagaimana bisa menyampaikan kepada publik. Hibah itu bentuk kepercayaan, sedangkan karya adalah wujud tanggung jawab dan harus ada kebermanfaatannya,” kata Ijang.
Ia menambahkan, LPPM UM Bandung akan terus mendorong publikasi dan pemanfaatan hasil penelitian dosen, termasuk melalui verifikasi dan pameran karya. Dengan demikian, hasil riset tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi dapat dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.***(FK)