Penguatan Ekonomi Jadi Kunci Kemandirian Warga Muhammadiyah
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Haedar Nashir menegaskan pentingnya penguatan ekonomi sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian warga Muhammadiyah.
Menurutnya, sektor ekonomi saat ini memiliki posisi strategis karena mampu memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk arah politik.
Oleh karena itu, warga Muhammadiyah, khususnya di Jawa Barat, didorong untuk memiliki keberdayaan ekonomi agar tidak bergantung kepada pihak lain.
Pernyataan tersebut disampaikan Haedar saat mengisi Pengajian PWM Jawa Barat di Auditorium KH Ahmad Dahlan lantai tiga kampus UM Bandung, Sabtu (16/05/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi perkembangan Muhammadiyah Jawa Barat yang dinilai menunjukkan kemajuan yang positif dan inspiratif.
“Muhammadiyah Jawa Barat saat ini memiliki sinar, harapan, dan jejak baru yang sangat bagus. Dan ini tentu merupakan inspirasi yang sangat penting,” ujar Haedar yang disambut tepuk tangan peserta pengajian.
Haedar menjelaskan bahwa penguatan ekonomi tidak bisa dipandang sebagai aspek pelengkap dalam gerakan Muhammadiyah.
Menurutnya, majelis ekonomi memiliki peran yang sama penting dengan majelis tablig. Aktivitas dakwah dan pengajian, kata dia, harus berjalan seiring dengan penguatan kesejahteraan masyarakat agar tercipta kemandirian yang nyata.
“Mengaji harus berjalan baik, tetapi kondisi ekonomi juga harus terjaga. Jika ingin banyak pendapatan, janganlah terlalu banyak pendapat,” katanya.
Selain penguatan ekonomi, Haedar juga menekankan pentingnya kedisiplinan dan tata kelola organisasi yang baik. Menurutnya, pengelolaan organisasi yang tertib menjadi faktor penting agar
Muhammadiyah terhindar dari konflik internal maupun persoalan hukum yang dapat menghambat gerak persyarikatan.
Lebih jauh, Haedar mengajak warga Muhammadiyah untuk terus berlomba dalam kebaikan sebagaimana pesan Surah Al-Baqarah ayat 148.
Ia menegaskan bahwa semangat beragama tidak cukup diwujudkan dalam ibadah personal.
Namun, harus hadir dalam bentuk kontribusi nyata di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan kebangsaan.
Menurut Haedar, Muhammadiyah harus terus menjadi gerakan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Prinsip khairunnas anfauhum linnas atau sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama harus menjadi pijakan utama dalam gerakan Muhammadiyah.
“Ketika ada masyarakat marginal, Muhammadiyah harus hadir di situ. Ketika bangsa memerlukan, Muhammadiyah juga harus hadir,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan agar seluruh amal usaha dan lembaga Muhammadiyah, termasuk institusi pendidikan seperti UM Bandung, terus bergerak menjadi lembaga yang unggul, berkemajuan, berdaya saing, dan berdampak nyata.
Menurutnya, keunggulan bukan sekadar slogan, tetapi harus dibuktikan melalui kualitas, prestasi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat luas.***