Prinsip Tawazun Jadi Kunci Generasi Z Raih Sukses Tanpa Kehilangan Ketenangan Jiwa
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan persaingan dunia kerja di era digital, generasi muda dituntut untuk tidak hanya cerdas dan profesional, tetapi mampu menjaga keseimbangan hidup.
Bagi generasi Z, keberhasilan sejati bukan sekadar soal pencapaian karier, melainkan juga tentang ketenangan batin dan keberkahan hidup.
Hal tersebut disampaikan oleh dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Wandy Zulkarnaen SE MM dalam program Kajian Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Rabu (11/03/2026).
Dalam kajian tersebut, dia mengajak generasi muda untuk membangun mental yang kuat, etos kerja yang baik, serta arah karier yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Menurutnya, ketenangan hati menjadi fondasi utama kesehatan mental bagi seorang muslim dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan modern.
Tantangan seperti budaya kerja yang kompetitif, kelelahan mental atau burnout, hingga kecemasan terhadap masa depan sering kali menghampiri generasi muda di era saat ini.
“Ketenangan hati merupakan kunci agar generasi Z mampu bertahan di tengah tekanan hidup yang semakin kompetitif,” ujar Wandy.
Ia menjelaskan bahwa ketenangan tersebut dapat dibangun melalui kedekatan spiritual dengan Allah SWT.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak zikir, yang diyakini mampu menenangkan jiwa sekaligus memperkuat ketahanan mental.
Selain itu, Wandy juga mengingatkan pentingnya melakukan digital detox berbasis keimanan.
Menurutnya, generasi muda perlu sesekali menjauh dari arus informasi di media sosial agar tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
“Digital detox penting dilakukan agar kita tidak terus-menerus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wandy menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk mencari nafkah.
Bekerja juga merupakan bentuk ibadah dan sarana mengekspresikan potensi diri secara positif.
“Bekerja keras dengan niat menafkahi keluarga dan mengharap rida Allah akan bernilai pahala setiap saatnya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa profesionalisme dalam menjalankan pekerjaan juga termasuk bagian dari ibadah yang mulia.
Ketika seseorang memperbaiki niat dalam bekerja, setiap tugas dan tanggung jawab yang dijalankan dapat menjadi investasi amal yang bernilai untuk kehidupan akhirat.
“Jika kita memperbaiki niat bekerja, maka setiap proyek dan tugas kantor yang kita selesaikan akan menjadi investasi amal untuk akhirat,” jelas Wandy.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya menerapkan prinsip tawazun atau keseimbangan dalam kehidupan.
Menurutnya, generasi Z tidak boleh terjebak hanya mengejar target duniawi, tetapi juga harus menjaga nilai spiritual dan keberkahan hidup.
“Generasi Z tidak boleh hanya terjebak pada target duniawi semata, tetapi harus tetap menjaga keberkahan hidup,” ungkapnya.
Wandy menjelaskan bahwa prinsip tawazun dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten.
Contohnya seperti memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan bermanfaat, terus meningkatkan keterampilan diri, dan menjaga konsistensi dalam beribadah.
Dengan menerapkan keseimbangan tersebut, dia meyakini bahwa kesuksesan materi yang diraih tidak akan mengorbankan kesehatan mental maupun spiritual seseorang.
“Ketika prinsip tawazun diterapkan dengan baik, kesuksesan materi tidak akan mengorbankan kesehatan jiwa dan raga,” terangnya.
Di akhir kajian, Wandy mengajak generasi muda untuk menanamkan sikap tawakal dalam setiap perjalanan hidup.
Setelah berusaha secara maksimal, hasil akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
“Dengan niat yang benar, kesuksesan duniawi akan berjalan selaras dengan kebahagiaan ukhrawi,” pungkasnya.***(FA/FK)