Prodi PAI UM Bandung Dorong Pendidikan Islam Adaptif di Era Global
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pendidikan Islam di negara dengan populasi muslim minoritas menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tengah masyarakat yang multikultural dan sistem kenegaraan yang sekuler.
Kondisi tersebut menjadi perhatian para akademisi untuk merumuskan model pendidikan Islam yang tetap relevan, inklusif, dan mampu menjawab perkembangan zaman.
Merespons isu tersebut, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar seminar internasional bertajuk "Mapping the Future: Memetakan Masa Depan Pendidikan Islam dalam Kerangka Multikultural dan Sekuler di Negeri Minoritas Muslim (Thailand dan Tiongkok)".
Seminar yang berlangsung secara hybrid di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Selasa (07/07/2026), menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus upaya merumuskan arah pengembangan pendidikan Islam di tingkat global.
Ketua Prodi PAI UM Bandung Iim Irohim mengatakan, pengalaman pendidikan Islam di Thailand dan Tiongkok memberikan banyak pelajaran mengenai kemampuan lembaga pendidikan Islam untuk bertahan dan berkembang di tengah berbagai keterbatasan.
Menurutnya, kedua negara tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat tetap eksis dengan terus beradaptasi terhadap perubahan sosial, budaya, ataupun kebijakan negara tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman.
Senada dengan itu, Dekan FAI UM Bandung Afif Muhammad menilai kurikulum pendidikan Islam harus mampu hadir dan berkontribusi di ruang publik yang semakin beragam.
Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu membangun pendekatan yang terbuka, moderat, dan mampu berdialog dengan masyarakat multikultural.
Sementara itu, Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana menyampaikan dukungan penuh universitas terhadap pengembangan kajian-kajian internasional yang membahas isu strategis umat Islam di berbagai belahan dunia.
Ia juga mendorong Prodi PAI UM Bandung agar tidak berhenti pada penyelenggaraan seminar internasional, tetapi mampu menginisiasi konferensi internasional dengan menghadirkan akademisi dan pakar dari berbagai negara.
Pada sesi utama, seminar menghadirkan Muhammad Aziz, Penasihat sekaligus Ketua PCIM Tiongkok periode 2019–2022, yang mengangkat tema "Pendidikan Islam dan Dinamika Kehidupan Muslim di Tiongkok: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan".
Ia menjelaskan bagaimana lembaga pendidikan Islam di Tiongkok beradaptasi dengan regulasi negara yang ketat. Sekaligus memanfaatkan kemajuan teknologi digital sebagai sarana memperluas dakwah dan literasi Islam.
Perspektif lain disampaikan Preecha Roengsamut, Vice Director Sangkhom Islam Wittaya School, Thailand, melalui materi "Transformasi Pendidikan Islam di Thailand dalam Masyarakat Multikultural".
Ia memaparkan bahwa sekolah-sekolah Islam di Thailand Selatan berhasil mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam dan budaya lokal sehingga mampu mencetak generasi muslim yang kompetitif sekaligus inklusif di tengah masyarakat mayoritas Buddha.
Sebagai pembicara penutup, dosen PAI UM Bandung Supala mengulas konsep Islam Berkemajuan dalam konteks masyarakat muslim minoritas. Menurutnya, pendidikan Islam tidak boleh bersifat eksklusif.
Namun, harus menjadi ruang dialog yang menghadirkan nilai-nilai rahmatan lil 'alamin serta memberikan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan universal.
Seminar yang diikuti 425 peserta dari kalangan dosen, peneliti, praktisi pendidikan, dan mahasiswa tersebut berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai strategi pengembangan pendidikan Islam di negara minoritas muslim.
Melalui forum ini, Prodi PAI FAI UM Bandung berharap lahir rekomendasi akademik yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam di Indonesia. Sekaligus memperkuat posisi UM Bandung sebagai pusat kajian pendidikan Islam yang adaptif terhadap dinamika global.***(FA)