Profesionalisme Kerja dalam Islam Berlandaskan Amanah dan Kompetensi
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Suparjiman MM menegaskan bahwa manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam perspektif Islam merupakan pendekatan yang komprehensif yang memadukan produktivitas kerja dengan pembentukan karakter yang kuat.
Dalam ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola berbagai aspek kehidupan, termasuk organisasi dan dunia kerja.
Menurutnya, pengelolaan SDM tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai syariat yang menekankan amanah, integritas, dan profesionalisme.
Nilai-nilai tersebut menjadi landasan penting agar setiap individu mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara benar serta memberikan kontribusi positif bagi organisasi.
Hal tersebut disampaikan Suparjiman dalam kultum Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Rabu (11/03/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa profesionalisme dalam bekerja memiliki dasar teologis yang kuat dalam Al-Qur’an, khususnya Surah An-Nisa ayat 58.
Ia menerangkan bahwa ayat tersebut menegaskan pentingnya menunaikan amanah dengan menyerahkan pekerjaan kepada orang yang memiliki keahlian dan kompetensi di bidangnya.
“Ayat tersebut menekankan kewajiban menyerahkan amanah atau pekerjaan kepada ahlinya. Menyerahkan pekerjaan kepada orang yang tidak profesional atau tidak kompeten hanya akan mengakibatkan kehancuran bagi organisasi,” ujarnya.
Karena itu, Suparjiman menegaskan bahwa profesionalisme bukan sekadar pilihan dalam dunia kerja, melainkan kewajiban yang harus ditegakkan dalam pengelolaan SDM berbasis nilai-nilai Islam.
Ia menambahkan bahwa SDM yang profesional harus memiliki sejumlah karakteristik penting agar mampu menjalankan tugas secara optimal.
Salah satu unsur utama yang harus dimiliki adalah kompetensi yang tinggi, yaitu kemampuan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pekerjaan sehingga setiap tugas dapat diselesaikan secara tepat dan berkualitas.
Selain itu, profesionalisme juga perlu didukung oleh dedikasi serta motivasi kerja yang kuat, di mana semangat bekerja tidak hanya didorong oleh kepentingan materi, tetapi juga oleh niat untuk memberikan manfaat bagi kemakmuran umat dan meraih rida Allah SWT.
Sebagai penutup, Suparjiman menegaskan bahwa pengelolaan SDM dalam Islam tidak boleh hanya berorientasi pada hasil kerja semata, tetapi pada pembentukan karakter dan akhlak pegawai.
Dengan mengintegrasikan kompetensi teknis dan kekuatan moral, profesionalisme diharapkan mampu menghadirkan keberhasilan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat serta mendapatkan rida Allah SWT.***(FA/FK)