Puasa Bukan Tentang Menahan Lapar Tapi Bagaimana Menata Jiwa
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor III UM Bandung Zamah Sari menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk menguji sekaligus merefleksikan kegembiraan sejati dalam menjalankan ibadah puasa, bukan sekadar kegembiraan yang bersifat lahiriah.
Hal tersebut ia sampaikan saat mengisi Kajian Ramadan di kanal YouTube Universitas Muhammadiyah Bandung, Kamis (19/02/2026).
Ia menjelaskan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki beragam tradisi lokal dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi-tradisi tersebut tumbuh dari budaya, kebersamaan, dan nilai sosial yang mengakar kuat, sehingga menjadi ekspresi kegembiraan kolektif masyarakat.
Menurut Zamah, berbagai daerah mengekspresikan suka cita Ramadhan dengan cara yang khas, mulai dari pawai obor, makan bersama, mandi ritual, hingga kegiatan sosial. “Tradisi ini menandakan bahwa Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang dinanti dan disambut dengan sukacita,” ujarnya.
Ia mencontohkan tradisi Cucurak di tanah Sunda sebagai simbol kebersamaan dan saling memaafkan, Megibung di Bali yang menegaskan nilai kesetaraan, Marpangir di Sumatera Utara serta Balimau di Sumatera Barat sebagai ritual pembersihan diri, hingga Padusan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai persiapan spiritual menjelang Ramadhan.
Meski demikian, Zamah mengingatkan bahwa kegembiraan Ramadhan tidak boleh hanya bertumpu pada hawa nafsu dan kesenangan jasmani. “Kalau kegembiraan itu hanya soal perut dan suasana ramai, maka makna puasa justru hilang, karena puasa mengajarkan kita menahan lapar dan haus,” tegasnya.
Ia juga menilai kegembiraan yang hanya didasarkan pada akal dan nalar memiliki keterbatasan. Akal memang mampu memahami manfaat puasa secara fisik, tetapi pada saat yang sama sering kali menegosiasikan ketentuan syariat sesuai dengan kepentingan pribadi.
Lebih lanjut, Zamah menekankan bahwa yang benar-benar diuji dalam ibadah puasa adalah hati nurani dan iman. “Yang dipanggil Allah dalam puasa itu bukan perut dan bukan akal, tetapi hati kita,” katanya. Karena itu, Ramadhan harus menjadi ruang introspeksi atas perjalanan hidup selama sebelas bulan sebelumnya.
Menurutnya, Ramadhan merupakan momentum tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Sekaligus peneguhan kalimah tauhid agar manusia tidak menuhankan selain Allah, baik harta, jabatan, keluarga, maupun hawa nafsu. Dalam dimensi sosial, zakat fitrah juga menjadi sarana membersihkan harta dan menumbuhkan kepedulian.
Zamah menyimpulkan bahwa kegembiraan sejati Ramadhan lahir dari hati yang bersih dan merdeka dalam iman. “Kegembiraan yang hakiki itu ketika hati kita mampu mengatakan tidak pada dosa dan kompromi,” pungkasnya, seraya menegaskan bahwa tradisi Ramadhan boleh dirayakan, namun kesungguhan hati tetap menjadi kunci utama kualitas ibadah puasa.***(FA)