Puasa Sebagai Jalan Meraih Ketakwaan, Bukan Hanya Menahan Lapar dan Haus

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Cecep Taufikurrohman mengajak warga Persyarikatan dan umat Islam menyambut Ramadan 1447 Hijriah dengan kesadaran iman, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Menurutnya, Ramadan merupakan momentum pendidikan ruhani yang menuntut kesiapan diri dan keluarga agar ibadah dapat dijalani dengan kualitas yang lebih baik.

Buya Cecep, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya memahami dasar kewajiban puasa sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 183–184.

Ayat tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi perlu dipahami dan diamalkan sebagai jalan untuk mencapai tujuan utama puasa, yakni meraih derajat ketakwaan.

Dalam kajiannya, ia juga mengulas hadis yang diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi tentang keutamaan Ramadan.

Meski hadis tersebut dinilai daif oleh sebagian ulama, Buya Cecep menjelaskan bahwa kandungan maknanya sejalan dengan Al-Qur’an dan hadis sahih lainnya, sehingga dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan semangat dan kualitas ibadah.

Ia menyampaikan bahwa Ramadan adalah bulan yang agung, bulan kesabaran, dan bulan kedermawanan. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya.

Bahkan, satu kewajiban di bulan Ramadan nilainya setara dengan tujuh puluh kewajiban di luar Ramadan, sementara amal sunah dihargai seperti amal wajib. Hal itu ia sampaikan saat mengisi kajian GSM Aisyiyah Jawa Barat, Jumat (13/02/2026).

Buya Cecep juga menyoroti keutamaan memberi makanan berbuka puasa. Rasulullah SAW, kata dia, menjanjikan pahala yang sama bagi orang yang memberi buka puasa kepada orang lain, meskipun hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air, selama dilakukan dengan niat ikhlas dan tidak mengabaikan kebutuhan keluarga.

Ia menjelaskan bahwa secara bahasa Ramadan berarti “panas”, yang tidak hanya bermakna fisik, tetapi juga spiritual.

Puasa melatih umat Islam menahan lapar dan haus, sekaligus mengendalikan hawa nafsu serta menjaga lisan dari dusta, ghibah, dan ucapan yang menyakiti orang lain. Dalam konteks ini, puasa menjadi latihan disiplin menyeluruh dalam kehidupan.

Menurutnya, puasa sejatinya adalah perisai yang melindungi seseorang dari keburukan dan api neraka. Namun, perisai tersebut dapat rusak apabila puasa hanya sah secara fikih tanpa dibarengi akhlak yang baik.

Oleh karena itu, Buya Cecep mengingatkan agar Ramadan dijalani dengan kesungguhan total, layaknya pendidikan intensif, sehingga mampu melahirkan “alumni Ramadan” yang lebih sabar, jujur, dermawan, dan istikamah dalam kebaikan setelah bulan suci berlalu.***(FA)