Puasa Sebagai Proses Upgrade Iman dan Akhlak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fajar Rachmadani berpesan agar puasa Ramadan jangan sampai berlalu begitu saja tanpa makna. Fajar mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari subuh hingga magrib.

Lebih dari itu, puasa Ramadhan adalah proses pembentukan karakter dan spiritual seorang muslim agar naik level menjadi pribadi yang bertakwa. Menjadi pribadi yang lebih baik daripada bulan-bulan sebelum Ramadhan.

“Apakah ada puasa yang sia-sia?” Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut sudah lama disampaikan Rasulullah SAW melalui berbagai hadis. Salah satunya tentang orang yang bertemu Ramadan, tetapi justru gagal meraih ampunan Allah.

Fajar kemudian mengisahkan sebuah riwayat ketika Nabi Muhammad saw. tiba-tiba mengucapkan “amin” sebanyak tiga kali. Saat para sahabat bertanya, Nabi menjelaskan bahwa Malaikat Jibril mendoakan keburukan bagi tiga golongan manusia, dan salah satunya adalah mereka yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan dosa.

“Dipertemukannya kita dengan Ramadan itu bukan hal biasa. Itu privilege dari Allah,” ujar Fajar. Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang diberi kesempatan yang sama. Ada yang tahun lalu masih beribadah bersama, namun kini telah wafat atau tidak lagi mampu menjalankan puasa karena sakit.

Menurutnya, seseorang akan benar-benar merugi jika menyia-nyiakan Ramadan dengan aktivitas yang tidak bernilai ibadah. Padahal, pintu pahala terbuka lebar dan peluang memperbaiki diri hadir sangat dekat selama bulan suci ini.

Fajar juga mengutip hadis populer Rasulullah SAW tentang orang yang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Ia menjelaskan, puasa bisa kehilangan makna ketika tidak diikuti perubahan sikap dan perilaku. “Seperti mahasiswa yang rajin kuliah, tapi tidak ikut ujian akhir. Capek iya, hasilnya nol,” katanya, disambut senyum jamaah.

Puasa, lanjut Fajar, bukan formalitas tahunan. Tujuannya membentuk dimensi moral, spiritual, dan sosial. Ia menyinggung Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menyapa “orang-orang yang beriman”, bukan mereka yang sudah sempurna imannya. Artinya, puasa adalah sarana upgrade diri—dari sekadar beriman menuju bertakwa.

Ia pun memaparkan indikator puasa yang tidak sia-sia. Pertama, mampu menjaga lisan dan perilaku, termasuk di media sosial. “Bully, gibah, komentar negatif—itu semua bisa merusak nilai puasa, meski cuma lewat tulisan,” tegasnya.

Kedua, tumbuhnya keikhlasan. Menurut Fajar, puasa adalah ibadah paling sunyi karena tidak bisa dipamerkan. Puasa melatih seseorang berbuat baik tanpa butuh validasi manusia. “Puasa ngajarin kita cukup cari penilaian Allah,” ujarnya.

Menutup ceramah, Fajar mengingatkan bahwa kualitas puasa seharusnya melahirkan perubahan nyata setelah Ramadan. Bukan hanya rajin ibadah selama sebulan, tapi juga lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli, dan lebih baik sebagai manusia.

Ia pun menepis anggapan bahwa seseorang harus menjadi saleh dulu baru beribadah. “Jangan tunggu jadi baik dulu baru ibadah. Justru ibadah itulah yang bikin kita jadi lebih baik,” katanya.

Selama Allah masih memberi napas dan kesempatan bertemu Ramadan, Fajar menegaskan, pintu perbaikan diri selalu terbuka. Ramadan pun menjadi momentum terbaik untuk memulai perubahan hidup.***

Sumber foto: Istockphoto