Rektor UM Bandung Ajak Mahasiswa Jadi Kreator Sinema Berkarakter Bangsa
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Film bukan sekadar hiburan. Di balik setiap adegan dan cerita, tersimpan nilai budaya yang mampu membentuk cara pandang masyarakat. Karena itu, kemampuan memilih dan memaknai tontonan menjadi bagian penting dari literasi yang harus dimiliki setiap orang.
Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto saat membuka kegiatan LSF Goes to Campus bertajuk Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung, Kamis (9/7/2026).
Menurut Herry, kualitas budaya suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari film-film yang dihasilkannya. Sinema tidak hanya merekam realitas, tetapi mampu membentuk tren, memengaruhi pola pikir, hingga menjadi wajah budaya suatu negara di mata dunia.
Ia mencontohkan dominasi industri film Hollywood yang telah lama menjadi rujukan global. Di kawasan Asia, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok juga berhasil menghadirkan karya-karya yang diminati penonton internasional sekaligus memperkenalkan identitas budaya masing-masing melalui layar lebar.
Dalam konteks tersebut, Herry menilai budaya sensor mandiri menjadi semakin relevan. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memiliki kemampuan menyaring pesan yang terkandung dalam film dan memilih tontonan yang sesuai dengan usia serta nilai-nilai yang ingin dibangun.
Mahasiswa, lanjutnya, memiliki peran strategis untuk menyebarluaskan pemahaman tersebut kepada masyarakat. Namun, ia berharap peran mahasiswa tidak berhenti sebagai penonton yang kritis, tetapi berkembang menjadi kreator yang mampu menghasilkan film berkualitas dengan mengangkat nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
"Jangan puas hanya menjadi konsumen film. Kalau bisa, kita harus mampu menciptakan film-film yang baik sebagai hasil penerjemahan nilai-nilai budaya bangsa yang tinggi," ujarnya.
Herry juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat kuat untuk diangkat menjadi karya sinema. Nilai moderasi, semangat Bhinneka Tunggal Ika, keramahan masyarakat, hingga keberagaman budaya merupakan modal besar untuk melahirkan film-film yang tidak hanya menghibur, tetapi mampu memperkuat persatuan bangsa.
Sebagai contoh, ia menyebut sejumlah film nasional yang dinilai berhasil menghadirkan pesan inspiratif, seperti "Laskar Pelangi", "Sang Pencerah", hingga film klasik "Bandung Lautan Api." Menurutnya, karya-karya tersebut menunjukkan bahwa film Indonesia mampu menghadirkan hiburan sekaligus menyampaikan nilai perjuangan, pendidikan, dan kebangsaan yang relevan lintas generasi.
Kegiatan LSF Goes to Campus turut menghadirkan Ketua Subkomisi Pemantauan Lembaga Sensor Film (LSF) Erlan Basri. Acara tersebut diikuti dosen dan mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat pentingnya membangun budaya menonton yang cerdas melalui penerapan sensor mandiri sebagai bagian dari penguatan literasi media di era digital.***(FA)