UMBANDUNG.AC.ID, Garut -- Dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus sejarawan muslim Sopaat Rahmat Selamet menegaskan bahwa penulisan buku sejarah di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah memiliki arti strategis sebagai upaya menjaga ingatan kolektif dan mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi mendatang.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa penulisan sejarah harus dilakukan secara metodologis, sistematis, dan bertanggung jawab secara akademik.
“Menulis buku sejarah itu tidak bisa langsung menulis begitu saja. Ada tahapan-tahapan penting yang harus dilalui,” ujar Sopaat. Ia menjelaskan, tahapan tersebut mencakup proses heuristik atau pengumpulan sumber, verifikasi dan kritik sumber—baik primer maupun sekunder, lisan, tulisan, maupun artefak—hingga tahap interpretasi dan historiografi atau penulisan sejarah.
Penegasan tersebut disampaikan Sopaat saat menjadi pengarah dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) penulisan sejarah yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat PDM Garut pada Senin (05/01/2026) ini merupakan tindak lanjut dari lomba penulisan esai bertema “Sejarah Muhammadiyah Garut” dalam rangka Milad ke-113 Muhammadiyah.
Menurut Sopaat, karya-karya peserta lomba memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sebuah buku sejarah dalam format antologi atau bunga rampai. “Lomba penulisan esai ini sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi buku sejarah, tentu setelah melalui prosedur dan metode riset sejarah yang benar,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa hasil penilaian menunjukkan sekitar 80 persen karya peserta telah tergolong baik. Namun demikian, masih diperlukan proses ulasan dan revisi lanjutan. “Secara umum sudah bagus, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, terutama terkait prosedur kerja riset sejarahnya,” katanya.
Sopaat menambahkan, sebagian tulisan sudah kuat dari sisi narasi deskriptif, tetapi masih perlu diperdalam dari segi analisis. “Ada juga yang sumbernya belum lengkap, atau proses verifikasi, kritik, dan interpretasinya belum maksimal,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, melalui pendampingan dan penyuntingan yang berkelanjutan, ia berharap karya-karya tersebut dapat berkembang menjadi buku sejarah yang berkualitas dan layak dijadikan rujukan.
Dalam Bimtek tersebut juga disepakati bahwa program penulisan buku sejarah Muhammadiyah Garut ditargetkan rampung dan diluncurkan pada Februari 2026, menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Penyuntingan buku akan ditangani oleh sejarawan dari UM Bandung yang juga merupakan putra daerah Garut.
Selain buku bunga rampai tersebut, Sopaat mengusulkan agar PDM Garut ke depan dapat melanjutkan program penulisan buku sejarah yang lebih komprehensif. “Anggap saja buku antologi ini sebagai pemantik untuk melahirkan karya-karya sejarah berikutnya yang lebih mendalam,” ujarnya.
Ia pun menegaskan pentingnya dukungan penuh dari PDM Garut terhadap program penulisan sejarah ini. Menurutnya, buku sejarah bukan sekadar dokumentasi peristiwa, melainkan warisan literasi yang bernilai bagi kader Muhammadiyah di masa depan.
Ke depan, buku-buku tersebut direncanakan akan didistribusikan ke sekolah-sekolah Muhammadiyah, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta organisasi otonom (ortom), khususnya di wilayah Garut yang dikenal sebagai salah satu daerah awal berkembangnya Muhammadiyah di Jawa Barat.