Sela dan Pelajaran yang Tak Ada di Ruang Kelas
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Bagi Sela Lazma, KKN Internasional bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, menjalankan program, lalu pulang membawa laporan.
Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung itu justru menemukan ruang belajar baru ketika bertemu masyarakat, budaya, dan kehidupan yang berbeda.
Melalui program International Community Services pada Agustus 2026, Sela bersama tim menjalani berbagai kegiatan pengabdian dan aktivitas intercultural di Malaysia dan Singapura.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat secara langsung sekaligus menerapkan ilmu yang selama ini dipelajari di bangku kuliah.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan berlangsung di Sanggar Bimbingan Muhammadiyah (SBM) Kepong.
Bersama tim, Sela memberikan psikoedukasi kepada anak-anak sekolah dasar, termasuk materi tentang pengenalan dan pengelolaan emosi.
Dari kegiatan tersebut, Sela menyadari bahwa ilmu psikologi tidak cukup hanya dipahami secara teori. Cara menyampaikannya juga harus disesuaikan dengan usia dan karakter anak.
“Menyampaikan ilmu psikologi kepada anak tidak bisa hanya dengan menjelaskan teori. Namun, perlu menyesuaikan dengan usia dan karakter mereka,” ujar Sela di kampus UM Bandung pada Kamis (3/9/2026).
Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa ilmu akan terasa manfaatnya ketika dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Bagi Sela, di situlah mahasiswa belajar bukan hanya menjadi akademisi, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat.
Perjalanan kemudian berlanjut ke KRT Desa Jati, Negeri Sembilan. Di sana, Sela dan tim berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan kebiasaan warga setempat.
Kunjungan ke sejumlah tempat ikonik dan bersejarah di Malaysia juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Sela mengunjungi Petronas Twin Towers, Masjid Negara, Batu Caves, Istana Bukit Serene, serta sejumlah kawasan bersejarah lainnya.
Namun, tempat-tempat tersebut tidak hanya ia lihat sebagai destinasi wisata.
Sela mencoba memahami keberagaman budaya dan agama, kehidupan masyarakat, serta perkembangan wilayah dan perkotaan Malaysia.
Pengalaman itu berlanjut ketika Sela dan tim berada di Singapura. Mereka mengunjungi Gardens by the Bay, Merlion Park, Marina Bay Sands, dan sejumlah kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Meski begitu, kemegahan Singapura bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian Sela.
Ia justru tertarik pada bagaimana negara tersebut mampu berkembang dengan mengelola berbagai keterbatasan yang dimiliki.
“Saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus berkembang. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan dan mengelola apa yang kita miliki sebaik mungkin,” katanya.
KKN Internasional juga mengajarkan Sela tentang pentingnya beradaptasi.
Berada di lingkungan baru membuatnya belajar berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, memahami kebiasaan yang berbeda, dan melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Pengalaman tersebut perlahan membuat cara pandangnya semakin terbuka.
“Kita belajar beradaptasi, berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, dan lebih terbuka terhadap perbedaan. Ilmu yang didapat di perkuliahan juga bisa dilihat bagaimana penerapannya secara langsung di lapangan,” tuturnya.
Bagi Sela, pengalaman tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk bercermin.
Melihat pendidikan, budaya, kehidupan masyarakat, hingga perkembangan Malaysia dan Singapura membuatnya bisa memikirkan kembali apa yang sudah baik di Indonesia dan apa yang masih bisa dipelajari dari negara lain.
Pengalaman itu pun menjadi bekal untuk masa depannya.
Sela bercita-cita menjadi psikolog sekaligus penyanyi, dua bidang yang menurutnya sama-sama membutuhkan kemampuan memahami manusia dan menyampaikan pesan.
Di sela perkuliahan, ia juga gemar menyanyi dan membaca.
Saat ini, Sela tengah membaca Start With Why karya Simon Sinek dan Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta untuk memperluas wawasan dan melihat berbagai perspektif.
Pada akhirnya, KKN Internasional bagi Sela bukan hanya cerita tentang Malaysia dan Singapura.
Perjalanan tersebut menjadi proses untuk berbagi ilmu, memahami perbedaan, belajar beradaptasi, sekaligus mengenal dirinya sendiri.
Dari ruang kelas ke tengah masyarakat, Sela menemukan bahwa belajar bisa berlangsung di mana saja.
Ketika mahasiswa berani keluar dari ruang nyamannya, dunia menjadi lebih luas dan ilmu yang dipelajari pun menemukan bentuk kebermanfaatannya.***(FA)