Tak Hanya Jadi Apoteker Klinis, Mahasiswa Farmasi UM Bandung Didorong Berinovasi untuk Masyarakat
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus mendorong lahirnya farmasis yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing melalui Seminar Brand Craft 2026 bertema "Be Different, Be You: Finding Your Way in Pharmacy" yang digelar pada Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Apoteker Klinis dan Komunitas sekaligus influencer Risnawa Puji Astuti sebagai narasumber utama untuk membekali mahasiswa menghadapi tantangan dunia kefarmasian yang terus berkembang.
Dalam pemaparannya, Risna menegaskan bahwa inovasi di bidang farmasi tidak selalu identik dengan teknologi canggih ataupun penemuan baru.
Menurutnya, inovasi berawal dari kemampuan seorang farmasis dalam memahami permasalahan yang dihadapi pasien, kemudian menghadirkan solusi yang lebih efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pola pikir inovatif, kata dia, menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki calon tenaga kefarmasian agar mampu menjawab kebutuhan layanan kesehatan yang semakin kompleks.
Ia mencontohkan rendahnya kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sebagai salah satu persoalan yang memerlukan pendekatan inovatif.
Selama ini, edukasi kerap menjadi solusi utama, padahal masih banyak alternatif yang dapat dikembangkan, seperti aplikasi pengingat minum obat, kalender terapi, smart pill box, pengingat melalui WhatsApp, hingga video edukasi.
Menurutnya, inovasi yang baik lahir dari pemahaman terhadap akar persoalan, mulai dari rasa takut terhadap efek samping, keterbatasan biaya, lupa mengonsumsi obat, hingga kurangnya pemahaman pasien mengenai terapi yang dijalani.
Selain inovasi, Risna juga mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai mitra strategis dalam praktik kefarmasian.
AI dinilai mampu membantu pencarian guideline, merangkum jurnal ilmiah, membandingkan hasil penelitian, menyusun materi edukasi, hingga menganalisis data secara lebih cepat dan efisien.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak akan menggantikan peran apoteker karena nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, komunikasi, penilaian klinis, dan pertimbangan etika tetap menjadi fondasi utama dalam pelayanan kesehatan.
Sementara itu, Ketua Himprofar UM Bandung Surya Khairul Rizky menilai bahwa selain kompetensi akademik, seorang farmasis juga perlu membangun personal branding yang kuat.
Menurutnya, branding bukan sekadar mengejar popularitas, melainkan membangun reputasi melalui kompetensi, integritas, etika, serta kontribusi nyata dalam pelayanan dan edukasi kesehatan.
Dengan personal branding yang baik, seorang farmasis akan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan karier dan memperluas jejaring kolaborasi.
Sekaligus juga menjadi sumber informasi kesehatan yang terpercaya di tengah masyarakat.
Pembina Himprofar UM Bandung Muhammad Iqbal Rhamadianto mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut sebagai wadah pengembangan kapasitas mahasiswa.
Ia berharap kegiatan seperti Brand Craft 2026 mampu membuka wawasan mahasiswa bahwa profesi farmasis memiliki ruang pengabdian yang sangat luas.
Tidak hanya terbatas pada bidang klinis, tetapi sebagai inovator, edukator, peneliti, komunikator kesehatan, hingga entrepreneur.
Melalui seminar ini, UM Bandung menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan farmasi yang tidak hanya unggul secara akademik.
Namun, siap berinovasi, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.***