Tiga Pilar Pemurnian Jiwa yang Wajib Dipahami Muslim
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kaprodi PAI UM Bandung Iim Ibrohim menegaskan bahwa Ramadhan yang baru saja berlalu merupakan momentum pembersihan diri yang luar biasa bagi setiap muslim untuk meraih derajat ketakwaan.
Sistem pemurnian jiwa itu dibangun secara menyeluruh melalui tiga instrumen ibadah utama, yakni salat, puasa, dan zakat fitrah.
Hal itu disampaikan Iim dalam kajian rutin mingguan di Masjid Raya Mujahidin (PWM Jawa Barat), Jalan Sancang Nomor 6, Kota Bandung, Selasa (31/03/2026).
Ia menekankan bahwa ketiga sarana tersebut merupakan sistem penghapus dosa yang dirancang Allah, selama hamba-Nya konsisten menjauhi kemaksiatan besar.
Iim menjelaskan bahwa ampunan Allah akan senantiasa mengalir bagi mereka yang berpuasa dengan landasan iman yang tulus.
Namun, ia memberikan catatan teologis bahwa kefitrahan pasca-Ramadhan sejatinya bukan akhir perjuangan, melainkan titik awal dari ujian konsistensi iman yang sesungguhnya.
Dalam membedah tantangan menjaga kesucian diri, Iim mengupas strategi tipu daya setan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 17.
Iblis, menurutnya, secara sistematis menyerang manusia dari empat penjuru sekaligus: depan, belakang, kanan, dan kiri.
"Serangan dari depan dan belakang sering kali berupa penanaman keraguan terhadap akhirat serta pembentukan ambisi duniawi yang berlebihan terhadap harta dan keturunan," ujar Iim.
Yang lebih mengejutkan, godaan dari arah kanan justru menyusup ke dalam amal saleh melalui penyakit hati seperti riya dan ujub, sementara godaan dari kiri berupa ajakan terang-terangan menuju kemaksiatan.
Menghadapi ancaman yang mengepung dari segala arah tersebut, Iim menawarkan solusi berbasis hadis sahih, yakni kekuatan istighfar dan tobat.
Rahmat Allah, tegasnya, jauh lebih luas daripada murka-Nya, sehingga manusia selalu memiliki senjata untuk melumpuhkan pengaruh setan selama tidak berhenti memohon ampunan.
Secara akademis, Iim juga menekankan prinsip hifzhun-nafs atau menjaga diri sebagai prioritas utama dalam maqashid syariah.
Ia mengingatkan bahwa siapa pun yang tidak menyibukkan dirinya dengan kebenaran, maka secara otomatis akan terseret ke dalam kebatilan, sehingga zikir dan membaca Al-Qur'an menjadi benteng yang mutlak diperlukan.
Sebagai peta jalan kematangan spiritual, Iim memperkenalkan tangga manzil ala Imam Al-Ghazali yang dimulai dari tobat, wara', zuhud, hingga bermuara pada makrifat.
Ia mengajak seluruh umat Islam untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam lisan, sikap, dan perbuatan sehari-hari, agar kefitrahan yang telah diraih terjaga kokoh sebagai manifestasi nyata dari pendidikan Islam yang berkemajuan.***(FA)