UM Bandung Ajak UMKM Terapkan Etika Bisnis dan Dakwah Humanis
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Yudi Haryadi, menekankan pentingnya menjalankan bisnis secara etis dan bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai Islam.
Pesan tersebut ia sampaikan dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat yang digelar belum lama ini. Menurutnya, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang etika bisnis serta tanggung jawab sosial yang harus diemban pelaku usaha.
Dalam pemaparannya, Yudi menyoroti sejumlah praktik pelanggaran etika yang kerap terjadi di masyarakat, seperti manipulasi takaran di pom bensin mini, penipuan harga di pasar, hingga label halal yang tidak transparan.
Ia menegaskan bahwa semua tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip dasar Islam yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan integritas dalam berbisnis.
Yudi mengingatkan bahwa pelaku usaha harus menjunjung tinggi transparansi dan kepatuhan terhadap hukum, serta tidak mengabaikan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan.
Menurutnya, bisnis yang berkelanjutan bukan hanya soal laba, melainkan tentang menciptakan keseimbangan antara keuntungan ekonomi, kemaslahatan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Lebih lanjut, Yudi menegaskan bahwa dalam Islam, bisnis merupakan bagian dari ibadah. Oleh karena itu, orientasi utama seorang pengusaha seharusnya adalah mencari keridaan Allah, bukan semata-mata mengejar keuntungan materi.
Ia pun mengajak para pelaku usaha untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dalam praktik bisnis mereka agar mendapatkan keberkahan.
Menghadapi tantangan era digital, Yudi juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan pendidikan kewirausahaan yang berbasis nilai-nilai Islam.
Ia menambahkan bahwa pendekatan dakwah yang humanis perlu dikembangkan untuk membangun kesadaran etika bisnis di kalangan pelaku UMKM dan masyarakat secara umum.
Dalam penutupnya, Yudi menggarisbawahi pentingnya pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bagian dari spiritualitas pengusaha muslim. CSR tidak boleh hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi harus menyentuh pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Ia berharap pelaku usaha Muhammadiyah mampu menginternalisasi prinsip-prinsip etika bisnis Islam sehingga mampu memberi manfaat luas bagi umat dan menciptakan bisnis yang profesional, adil, serta berkelanjutan.***(FA)