UM Bandung Hadirkan Riset Berbasis Bukti demi Masa Depan Pertanian Berkelanjutan
UMBANDUNG.AC.ID, Klaten -- Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan paling mendesak dalam pembangunan pertanian Indonesia.
Menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini mendorong perlunya kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Namun, mampu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih inovatif, adaptif, dan menarik bagi kaum muda.
Berangkat dari isu tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung penerima Hibah BIMA Program Penelitian Dosen Pemula (PDP) Tahun 2026 tengah mengembangkan penelitian bertajuk "Evaluasi Kebijakan Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan pada Petani di Eks-Keresidenan Surakarta, Jawa Tengah."
Penelitian ini diarahkan untuk mengukur efektivitas implementasi kebijakan pertanian berkelanjutan sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih responsif terhadap tantangan di lapangan.
Salah satu tahapan penelitian dilakukan melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) bersama Komunitas Petani Muda Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (11/7/2026).
Forum tersebut menjadi ruang bagi para peneliti untuk menggali pengalaman, kebutuhan, dan perspektif petani muda sebagai aktor utama dalam transformasi sektor pertanian.
Diskusi turut melibatkan 25 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sumber.
Kehadiran mereka memperkaya proses penelitian melalui pertukaran perspektif akademik sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghasilkan solusi berbasis kebutuhan lapangan.
Ketua tim peneliti, Mohammad Hilal Nu'man, mengatakan penelitian ini memiliki urgensi yang tinggi mengingat keberlanjutan sektor pertanian sangat ditentukan oleh kualitas kebijakan yang mampu menjawab tantangan regenerasi petani.
"Penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi terhadap kebijakan sistem budidaya pertanian berkelanjutan yang telah berjalan. Selain itu, hasil penelitian juga dapat menjadi rekomendasi kebijakan yang lebih adaptif, khususnya dalam mendorong keterlibatan generasi muda sebagai aktor utama pembangunan pertanian di masa depan," ujarnya.
Menurut Hilal, hasil kajian awal menunjukkan bahwa persoalan regenerasi petani bukan hanya menjadi tantangan di Jawa Tengah. Namun, dialami berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bandung Raya, Jawa Barat.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa upaya menarik minat generasi muda ke sektor pertanian memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif daripada sekadar program pendampingan.
Ia menilai pembangunan pertanian berkelanjutan perlu didukung oleh kebijakan yang mengintegrasikan teknologi, digitalisasi, kewirausahaan, dan penguatan komunitas.
Pendekatan tersebut dinilai lebih sesuai dengan karakter generasi muda sekaligus mampu meningkatkan daya saing sektor pertanian di tengah perubahan sosial dan ekonomi.
Sebagai perguruan tinggi yang mengusung visi Islamic Technopreneurial University, UM Bandung memosisikan riset sebagai instrumen strategis dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).
Melalui kolaborasi multidisiplin, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian berkelanjutan, penguatan ketahanan pangan, serta penyusunan kebijakan yang lebih aplikatif bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Penelitian ini dipimpin oleh Mohammad Hilal Nu'man (Ilmu Hukum) dengan anggota Rikki Maulana Yusup (Administrasi Publik), Abin Suarsa (Manajemen Keuangan Berkelanjutan), dan Eni Kusumawati (Agribisnis). Tim lapangan diperkuat oleh Mety Mediastuti Sofyan (Administrasi Publik) bersama Sukri Ramadhan (Manajemen Industri Pangan/Pertanian).***