Dadang Kahmad Dorong Media Muhammadiyah Jadi Kekuatan Strategis di Era Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Perubahan teknologi digital yang berlangsung semakin cepat telah mengubah lanskap komunikasi secara fundamental.

Masyarakat kini tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dapat memproduksi dan menyebarluaskannya dalam hitungan detik.

Kondisi tersebut menuntut Muhammadiyah untuk memperkuat kapasitas dan kualitas medianya. Muhammadiyah dinilai tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi.

Namun, perlu tampil sebagai produsen informasi yang kredibel, bernilai, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad menyampaikan hal tersebut saat membuka Jambore Media AfiliasiMu #3 bertema “Penguatan Media AfiliasiMu dalam Era Digital” di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 12–13 Agustus 2026.

Dadang yang juga menjabat Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung menilai, keberadaan Media AfiliasiMu memiliki posisi strategis dalam memperkuat gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan ekosistem komunikasi yang semakin dinamis.

Ia mengapresiasi panitia yang telah menyelenggarakan jambore tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum pertemuan para pengelola media.

Namun, menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah.

“Jambore ini bukan sekadar pertemuan para pengelola media. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk memperkuat kesadaran kita bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan zaman yang sangat cepat,” ujarnya.

Menurut Dadang, pola masyarakat dalam memperoleh informasi telah berubah secara drastis.

Jika dahulu informasi banyak diperoleh melalui surat kabar, radio, dan televisi, kini masyarakat dapat mengakses berbagai informasi melalui telepon pintar dalam hitungan detik.

Perubahan tersebut sekaligus membuat batas antara produsen dan konsumen informasi semakin tipis.

Setiap orang memiliki kemampuan untuk membuat, mengemas, sekaligus menyebarkan informasi kepada publik.

Dalam situasi tersebut, Muhammadiyah menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Organisasi tidak cukup hanya mengikuti arus informasi.

Namun, harus memiliki kemampuan untuk memproduksi konten yang akurat, bernilai, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Namun, Muhammadiyah harus menjadi produsen informasi yang berkualitas, terpercaya, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” tegasnya.

Dadang juga mendorong media Muhammadiyah untuk memperluas orientasinya. Media tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai kanal publikasi kegiatan organisasi.

Namun, perlu menjadi ruang bagi gagasan, ilmu pengetahuan, dakwah, pendidikan, kebudayaan, serta berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Menurutnya, ukuran keberhasilan media tidak semata-mata terletak pada kecepatan menyajikan berita, jumlah pengikut, ataupun tingginya angka tayangan.

Lebih jauh, media harus mampu membangun kepercayaan publik melalui informasi yang benar, bermutu, dan memiliki tanggung jawab sosial.

“Kita membutuhkan media yang tidak hanya cepat, tetapi juga benar. Tidak hanya ramai, tetapi juga bermutu. Tidak hanya mengejar jumlah penonton dan pengikut, tetapi mampu membangun kepercayaan publik,” katanya.

Tantangan tersebut semakin besar di tengah derasnya arus informasi digital. Masyarakat saat ini tidak lagi menghadapi kekurangan informasi.

Namun, justru berhadapan dengan limpahan berita, opini, video, gambar, dan komentar dari berbagai platform.

Persoalannya, tidak seluruh informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Fakta dapat bercampur dengan hoaks, sementara konten edukatif dapat berkelindan dengan informasi yang provokatif dan menyesatkan.

Oleh karena itu, Dadang menekankan pentingnya media Muhammadiyah mengambil peran sebagai penjaga kualitas informasi.

Prinsip tabayyun perlu ditempatkan sebagai salah satu landasan etis dalam menjalankan kerja jurnalistik dan mengelola berbagai produk media.

Ia mengingatkan agar kecepatan produksi konten tidak mengorbankan akurasi dan kebenaran.

Demikian pula popularitas tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan etika dan tanggung jawab kepada publik.

“Kecepatan tidak boleh mengalahkan ketepatan. Popularitas tidak boleh mengalahkan kebenaran. Dan kepentingan mendapatkan perhatian publik tidak boleh mengalahkan akhlak serta tanggung jawab,” tegas Dadang.

Ia berharap Media AfiliasiMu mampu membangun jurnalisme Muhammadiyah yang cepat, akurat, berimbang, beretika, mencerdaskan, dan mencerahkan.

Hal tersebut semakin penting karena media digital memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi dan opini publik.

Di sisi lain, Dadang melihat perkembangan teknologi digital sebagai peluang yang tidak boleh dilewatkan.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), media sosial, video pendek, podcast, live streaming, hingga mesin pencari dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah dan gagasan Muhammadiyah.

Menurutnya, teknologi memungkinkan gagasan dari kader Muhammadiyah di daerah menjangkau masyarakat yang lebih luas, bahkan lintas negara.

Ceramah, penelitian, gagasan pendidikan, maupun karya intelektual dapat dikemas dalam berbagai format digital sehingga lebih mudah diakses publik.

Namun, pemanfaatan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas lebih dari sekadar kemampuan teknis.

Insan media Muhammadiyah juga harus memiliki wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan, kompetensi jurnalistik, literasi digital, integritas, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.

“Jangan hanya berbicara tentang bagaimana membuat konten yang viral, tetapi juga bagaimana membuat konten yang bernilai.

Karena tujuan akhir media Muhammadiyah bukan sekadar viralitas, tetapi kemanfaatan,” ujarnya.

Dadang menilai keberhasilan media Muhammadiyah seharusnya diukur dari seberapa besar pengaruh positif yang dapat dihadirkannya di tengah masyarakat.

Pertumbuhan pengikut dan jumlah tayangan penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Atas dasar itu, ia mendorong Jambore Media AfiliasiMu menjadi ruang pembelajaran bersama bagi para pengelola media Muhammadiyah.

Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengalaman, tetapi berkembang menjadi ruang penguatan kapasitas, inovasi, dan kolaborasi.

Ke depan, Dadang berharap terbentuk ekosistem media Muhammadiyah yang kuat dan terintegrasi.

Media di tingkat pusat, wilayah, daerah, perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, amal usaha, organisasi otonom, hingga komunitas kader perlu saling terhubung dan memperkuat.

Ia menawarkan semangat “Satu gerakan, banyak kanal; banyak kanal, satu nilai.”

Menurutnya, Muhammadiyah dapat menggunakan beragam platform dan gaya komunikasi.

Namun, seluruhnya harus tetap berangkat dari nilai yang sama, yakni Islam Berkemajuan, dakwah yang mencerahkan, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, kebangsaan, dan kemaslahatan.

Pada akhirnya, Dadang berharap Jambore Media AfiliasiMu menghasilkan tiga capaian utama.

Apa saja? Yakni peningkatan kapasitas insan media, peningkatan kualitas konten, serta penguatan kolaborasi antarmedia Muhammadiyah.

“Dengan demikian, Media AfiliasiMu tidak hanya menjadi jaringan media Muhammadiyah. Namun, menjadi kekuatan komunikasi digital Muhammadiyah yang mampu menghadirkan gagasan Islam Berkemajuan kepada masyarakat luas,” pungkasnya.

Jambore Media AfiliasiMu #3 diharapkan menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem media Muhammadiyah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Lebih dari sekadar mengikuti perubahan digital, media Muhammadiyah diharapkan mampu mengarahkan teknologi untuk memperluas dakwah, memperkuat literasi publik, serta menghadirkan informasi yang mencerdaskan, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat.***