Fenomena LGBT Kian Mengemuka, Dekan FAI UM Bandung Serukan Penguatan Pendidikan Agama

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) menjadi salah satu tantangan sosial yang perlu disikapi secara bijak oleh umat Islam.

Di tengah derasnya arus informasi digital, penguatan iman, ketahanan keluarga, dan pendidikan agama menjadi benteng utama agar generasi muda tetap tumbuh sesuai fitrahnya.

Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman saat mengisi Kajian GSM pada Kamis lalu.

Dalam kajiannya, Buya Cecep mengajak umat Islam menghadapi fenomena LGBT melalui pendekatan edukatif, dakwah bil hikmah, dan penguatan nilai-nilai Islam sejak usia dini.

Menurutnya, Islam telah memberikan pedoman yang jelas tentang fitrah manusia, yakni hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan yang sah.

"Menjaga fitrah merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang sakinah sekaligus melahirkan generasi yang berakhlak mulia," ujar alumnus Universitas Al-Azhar Mesir tersebut.

Ia menegaskan, fenomena LGBT tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan tantangan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.

Oleh karena itu, keluarga, sekolah, kampus, masjid, dan masyarakat harus bersinergi memperkuat pendidikan agama.

Di samping memperkuat pembentukan karakter dan nilai-nilai moral agar generasi muda memiliki benteng yang kokoh menghadapi berbagai pengaruh negatif.

Menurut Buya Cecep, perkembangan media sosial dan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru.

Kemudahan mengakses berbagai informasi membuat literasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

"Orang tua, pendidik, dan tokoh masyarakat harus aktif mendampingi anak-anak agar mampu memilah informasi sekaligus memahami nilai-nilai Islam secara benar. Ketahanan keluarga harus dimulai dari rumah melalui pendidikan agama, komunikasi yang hangat, perhatian terhadap pergaulan anak, dan pendampingan dalam menggunakan media digital," jelasnya.

Meski demikian, Buya Cecep mengingatkan bahwa menyikapi fenomena LGBT tidak boleh dilakukan dengan kebencian atau tindakan yang merendahkan martabat manusia.

Islam mengajarkan dakwah bil hikmah, yaitu menyampaikan kebenaran dengan kebijaksanaan, kasih sayang, dialog, dan pembinaan.

Menurutnya, pendekatan yang penuh hikmah jauh lebih efektif daripada sikap menghakimi.

Sebab, tujuan dakwah bukan untuk mencela seseorang, melainkan mengajak manusia kembali kepada ajaran Allah SWT melalui keteladanan dan cara-cara yang baik.

Melalui kajian tersebut, Buya Cecep berharap umat Islam semakin memahami pentingnya menjaga fitrah, memperkuat ketahanan keluarga, dan meningkatkan literasi digital di tengah perkembangan zaman.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun lingkungan yang religius, edukatif, dan saling menguatkan demi menjaga masa depan generasi bangsa.***(FA)