Gaji Besar Belum Tentu Bikin Tenang, Yuk Belajar Kelola Keuangan dari Sekarang!

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Punya gaji besar tentu jadi impian banyak orang. Namun, penghasilan tinggi ternyata belum tentu membuat kondisi keuangan aman. Kalau pengeluaran tidak terkontrol, uang bisa habis begitu saja tanpa sempat menjadi tabungan atau aset untuk masa depan.

Hal ini disampaikan dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Haryadi saat menjadi narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) 'Aisyiyah Jawa Barat, Kamis (05/11/2026).

Dalam kajian bertema "Optimalisasi Menjemput Rezeki", Yudi mengingatkan bahwa mencari uang memang penting. Namun, kemampuan mengelola penghasilan juga tidak kalah penting agar kondisi keuangan tetap sehat dan kebutuhan masa depan lebih terjamin.

Menurutnya, persoalan keuangan sering kali bukan hanya soal berapa banyak uang yang masuk, melainkan juga seberapa bijak seseorang menggunakannya. Penghasilan yang terus bertambah bisa saja tidak terasa manfaatnya apabila pengeluaran ikut meningkat.

Yudi memberikan contoh sederhana. Seseorang yang memiliki penghasilan Rp10 juta per bulan tetap bisa mengalami masalah keuangan jika pengeluarannya lebih besar. Sebaliknya, jika pengeluaran dapat dibatasi menjadi Rp8 juta, masih ada Rp2 juta yang bisa disisihkan untuk dana darurat, investasi, ataupun sedekah.

Artinya, punya penghasilan besar saja tidak cukup. Kebiasaan mengatur uang, mengendalikan belanja, dan menyiapkan tabungan justru menjadi bekal penting untuk membangun keuangan yang lebih stabil.

"Jangan hanya sibuk mencari uang, tetapi belajarlah mengelola rezeki, membangun aset, dan menjadikan harta sebagai jalan menuju keberkahan hidup," ujar Yudi.

Selain belajar mengatur pengeluaran, Yudi juga mengajak masyarakat untuk mulai memikirkan sumber penghasilan tambahan. Tidak harus langsung membuka bisnis besar, langkahnya bisa dimulai dari mengembangkan keterampilan, merintis usaha kecil, atau membangun aset produktif sesuai kemampuan.

Menurutnya, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan dapat membantu menjaga kondisi keuangan keluarga. Ketika salah satu sumber pendapatan terganggu, masih ada sumber lain yang berpotensi menopang kebutuhan hidup.

Meski begitu, keinginan mendapatkan penghasilan tambahan jangan sampai membuat seseorang terburu-buru berinvestasi. Yudi mengingatkan pentingnya memahami risiko, memeriksa legalitas lembaga investasi, dan tidak mudah tergiur janji keuntungan besar.

Ia juga menyarankan agar uang untuk kebutuhan sehari-hari tidak digunakan untuk investasi berisiko, apalagi sampai harus berutang demi mengejar keuntungan.

Yudi menjelaskan bahwa kebebasan finansial atau financial freedom bukan berarti harus menjadi orang superkaya. Kondisi tersebut lebih berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, memiliki dana darurat, mengelola utang, dan mempunyai aset yang bisa menghasilkan pendapatan.

Dengan keuangan yang lebih tertata, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Waktu dan energi pun tidak hanya habis untuk memikirkan persoalan uang, tetapi juga bisa digunakan untuk keluarga, ibadah, dan kegiatan yang bermanfaat.

Dalam pandangan Islam, Yudi menambahkan bahwa rezeki juga tidak melulu soal saldo rekening. Kesehatan, ketenangan hati, keluarga, dan berbagai nikmat kehidupan merupakan bagian dari rezeki yang patut disyukuri.

Oleh karena itu, uang yang diperoleh perlu dikelola dengan cara yang baik dan halal. Selain memenuhi kebutuhan pribadi, sebagian penghasilan juga bisa dimanfaatkan untuk membantu sesama melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Pada akhirnya, Yudi mengingatkan bahwa tujuan mengelola keuangan bukan sekadar mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Hal yang lebih penting adalah bagaimana penghasilan dapat membuat kehidupan lebih sejahtera, masa depan lebih terencana, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Pesannya sederhana: jangan hanya fokus pada cara mendapatkan uang, tetapi mulai biasakan diri mengatur, menyimpan, dan memanfaatkannya dengan bijak. Sebab, kondisi keuangan yang sehat bukan ditentukan oleh seberapa besar penghasilan, melainkan juga bagaimana uang tersebut dikelola.***(FA)