Seni Bukan Musuh Agama, Tapi Bisa Menjadi Sarana Dakwah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Akademisi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Ahmad Rifai MAg menilai bahwa seni dan budaya tidak seharusnya dipertentangkan dengan ajaran Islam. Menurutnya, kesenian dapat menjadi sarana dakwah untuk memperkuat keimanan, ketakwaan, dan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Rifai dalam dialog interaktif program KACIDA di RRI Pro 4 Bandung pada Selasa (03/11/2026). Rifai yang juga Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat hadir bersama mahasiswa UM Bandung dari UKM Rumpaka Sahita.

Dialog yang awalnya membahas kebudayaan di era digital itu berkembang menjadi diskusi mengenai pandangan Islam terhadap seni, termasuk perdebatan halal dan haramnya kesenian yang kerap muncul di media sosial.

Rifai menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki pandangan terbuka terhadap seni dan budaya melalui konsep dakwah kultural. Pendekatan tersebut telah dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih di Jakarta pada tahun 2000.

Menurutnya, seni bukan sekadar hiburan, melainkan dapat menjadi media pendidikan, pembentukan karakter, dan penyampaian pesan-pesan keislaman kepada masyarakat. Rifai mengatakan bahwa kecintaan terhadap keindahan merupakan fitrah yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia.

Oleh karena itu, berkesenian pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan manusia. "Kesenian adalah fitrah insaniah," ujar Rifai.

Ia menjelaskan bahwa hukum kesenian tidak hanya dilihat dari bentuknya, tetapi juga dari tujuan, isi, dan dampaknya. Seni dapat menjadi sesuatu yang dilarang apabila mengandung kemusyrikan atau mendorong kemaksiatan. Sebaliknya, seni dapat memberikan manfaat apabila mampu meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Rifai juga mengaitkan kesenian dengan tiga dimensi utama ajaran Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan. Menurutnya, seni berkaitan dengan ihsan karena mengandung nilai keindahan dan kebaikan. Dengan demikian, aktivitas berkesenian dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan tujuan yang baik dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Ia menambahkan bahwa dakwah tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah atau kegiatan keagamaan formal. Seni dan budaya juga dapat menjadi sarana penyampaian nilai-nilai Islam yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, Rifai mendorong generasi muda, termasuk mahasiswa, untuk mengembangkan kreativitas seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan moral dan nilai-nilai keislaman.

Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah memberikan ruang bagi pengembangan seni dan budaya sebagai media dakwah selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, kebebasan berekspresi melalui kesenian tetap harus disertai tanggung jawab moral dan spiritual agar karya yang dihasilkan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, seni dan budaya dapat menjadi sarana dakwah yang edukatif sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman di tengah perkembangan zaman.***(FA)