Hadapi Perubahan Zaman, Generasi Muda Harus Terus Perbarui Kompetensi
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Direktur Bina Intala Kemnaker RI Teguh Djatmiko menegaskan bahwa Indonesia tidak kekurangan generasi muda berprestasi. Namun, bangsa ini membutuhkan anak muda yang memiliki integritas, kompetensi, kemampuan berkolaborasi, dan keberanian mengambil keputusan dalam menghadapi tantangan dunia kerja.
Hal tersebut disampaikan Teguh saat menjadi narasumber kunci dalam kegiatan Strategic Youth Leadership yang digelar SYLPRO bersama Kemenristek BEM Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung. Kegiatan bertema "Become a Pentahelix Youth Leader" tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, UM Bandung, pada Sabtu (31/10/2026).
"Indonesia sejatinya tidak kekurangan generasi muda berprestasi. Namun, kita membutuhkan anak muda yang berintegritas, memiliki kompetensi, mampu berkolaborasi, dan berani mengambil keputusan," ujar Teguh.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak selalu menjamin seseorang mampu menjadi pemimpin dan penggerak perubahan. Sebaliknya, ada individu dengan tingkat pendidikan lebih rendah yang justru mampu menggerakkan masyarakat, menunjukkan kepemimpinan, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan.
"Ada orang berpendidikan tinggi, tetapi tidak mampu menjadi pemimpin dan penggerak. Sebaliknya, ada juga orang yang pendidikannya rendah, tetapi mampu menggerakkan orang lain, bahkan menciptakan lapangan kerja," katanya.
Teguh menjelaskan bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik, tetapi kemampuan membaca dinamika, memahami perubahan, dan mengambil keputusan secara tepat. Oleh karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, keberanian bertanya, serta kesiapan menghadapi perkembangan zaman.
Ia juga menyoroti besarnya peluang Indonesia melalui bonus demografi, kemajuan teknologi, dan kekayaan sumber daya alam. Namun, seluruh potensi tersebut tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan bila tidak didukung sumber daya manusia yang memiliki integritas, kompetensi, dan perilaku dan adab yang baik.
"Indonesia memiliki bonus demografi, perkembangan teknologi yang luar biasa, dan potensi sumber daya alam. Namun, semua itu tidak otomatis menjadi modal kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Persoalan utamanya adalah integritas, kompetensi, dan perilaku atau adab," tegasnya.
Dalam paparannya, Teguh turut menyoroti tantangan ketenagakerjaan nasional yang tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, tetapi kualitas pekerjaan. Berdasarkan data terbaru, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,65 persen, proporsi pekerja informal mencapai 59,30 persen, dan sekitar 87 persen pekerja berpendidikan SMA/SMK atau di bawahnya.
Menurut Teguh, pekerjaan layak atau decent work harus memenuhi empat pilar utama, yakni kesempatan kerja produktif, pemenuhan hak-hak pekerja, perlindungan sosial, dan dialog sosial. Keempat aspek tersebut penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang berkualitas sekaligus memberikan kesempatan bagi pekerja untuk berkembang.
"Pekerjaan yang layak harus memiliki empat pilar, yaitu kesempatan kerja produktif, hak-hak di tempat kerja, perlindungan sosial, dan dialog sosial," jelasnya.
Selain itu, Teguh mengingatkan bahwa kompetensi tenaga kerja harus terus diperbarui seiring perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia industri. Generasi muda tidak boleh cepat merasa puas dengan kemampuan yang dimiliki karena dunia kerja terus mengalami perubahan.
"Kompetensi itu harus terus diperbarui. Jangan stagnan. Kalau dibiarkan, kita akan tertinggal," pesannya.
Teguh menambahkan bahwa berbagai persoalan ketenagakerjaan juga harus dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan perbaikan dan pengembangan diri. Oleh karena itu, generasi muda diharapkan tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan. Namun, mampu meningkatkan kemampuan, melahirkan inovasi, dan menciptakan peluang kerja bagi masyarakat.
"Kalau banyak masalah, berarti banyak peluang untuk berkembang," pungkasnya. Acara ini diikuti ratusan mahasiswa dari kampus yang ada di Bandung Raya dan berlangsung dua hari.***(FA)