Kasus Daycare Jadi Momentum Evaluasi Sistem Pengasuhan Anak di Indonesia
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kasus dugaan kekerasan fisik dan psikis terhadap anak di sebuah daycare di Yogyakarta yang viral memicu beragam reaksi publik.
Di tengah keprihatinan tersebut, muncul perdebatan di media sosial yang membandingkan antara ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja.
Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah Bandung Rizka Saputri SPdI MPd menilai narasi yang berkembang cenderung menyederhanakan persoalan.
Menurutnya, komentar seperti anjuran berhenti bekerja atau anggapan bahwa pengasuhan terbaik hanya oleh ibu berpotensi menambah beban psikologis bagi perempuan.
Ia menjelaskan, pandangan tersebut mengandung asumsi problematis karena mereduksi persoalan yang kompleks menjadi sekadar pilihan personal.
Padahal, isu pengasuhan anak seharusnya dilihat secara lebih luas dan sistematis.
Rizka menegaskan bahwa pengasuhan tidak dapat diukur hanya dari kehadiran fisik ibu.
Dalam perspektif pendidikan anak usia dini, pengasuhan merupakan proses kolaboratif antara orang tua dan lingkungan yang mampu memberikan rasa aman, kehangatan, serta stimulasi yang konsisten.
Ia juga mengingatkan bahwa anak usia dini berada pada fase emas perkembangan yang membutuhkan pola asuh tepat.
Mengacu pada teori kelekatan John Bowlby, kualitas hubungan emosional sejak usia 0–2 tahun menjadi fondasi penting bagi pembentukan konsep diri anak.
Lebih lanjut, Rizka memandang daycare sebagai bagian dari sistem pengasuhan yang lebih luas, bukan pengganti peran ibu.
Dalam realitas sosial saat ini, keberadaan daycare perlu dipahami secara objektif agar dapat dikembangkan menjadi layanan yang aman dan berkualitas.
Menurutnya, kasus ini seharusnya menjadi refleksi bersama untuk memperbaiki sistem pengasuhan, bukan saling menyalahkan.
Ia menekankan bahwa setiap anak, baik diasuh di rumah maupun di daycare, berhak mendapatkan pengasuhan yang aman, manusiawi, dan berkualitas.***