Zikir Disebut Sebagai Mindfulness dalam Perspektif Islam

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Sopaat Rahmat Selamet menegaskan pentingnya penerapan pola hidup holistik di tengah dinamika kehidupan modern yang semakin kompleks.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Sopaat itu, pola hidup holistik menjadi pendekatan yang relevan untuk menjaga keseimbangan hidup manusia.

Konsep ini memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh yang mencakup aspek fisik, mental, emosional, dan spiritual.

“Manusia tidak bisa dipisahkan antara tubuh, pikiran, emosi, dan ruh. Semuanya saling terhubung dan saling memengaruhi,” ujarnya saat mengisi program GSM, Senin (13/04/2026).

Ia menjelaskan, penerapan pola hidup holistik dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menjaga pola makan sehat, mengelola stres, serta melatih kesadaran diri melalui praktik mindfulness dan meditasi.

Upaya tersebut dinilai mampu membantu seseorang mencapai keseimbangan hidup secara menyeluruh.

Dalam pemaparannya, Sopaat juga menyoroti kearifan lokal Sunda yang selaras dengan prinsip holistik.

Salah satunya adalah tradisi ngaleuhang, yakni terapi uap berbahan rempah-rempah yang bermanfaat untuk relaksasi dan menjaga kesehatan tubuh. 

Selain itu, praktik pijat dan seni bela diri seperti silat turut berperan dalam menjaga keseimbangan fisik.

Tak hanya itu, sejarawan Muhammadiyah tersebut juga mengungkapkan bahwa olah eling, sebagai bentuk meditasi khas Nusantara, memiliki peran penting dalam mengendalikan emosi sekaligus menyucikan hati.

“Olah eling bukan sekadar meditasi, tetapi juga proses membersihkan hati agar manusia menjadi lebih tenang dan sadar,” jelasnya.

Lebih lanjut, dalam perspektif Islam, konsep hidup holistik juga tercermin dalam berbagai ajaran, seperti tibun nabawi.

Praktik bekam, zikir, serta konsumsi nutrisi sunah seperti madu dan habbatussauda menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan lahir dan batin.

Menurutnya, zikir dan doa tidak hanya berfungsi sebagai ibadah, tetapi juga sebagai terapi spiritual yang mampu menenangkan jiwa.

“Zikir merupakan bentuk mindfulness dalam Islam yang langsung terhubung dengan Allah, sehingga memberikan dampak spiritual yang lebih mendalam,” ungkapnya.

Sopaat juga menekankan pentingnya tingkat kesadaran dalam menentukan kualitas hidup seseorang.

Mengutip pandangan David Hawkins dalam Power vs Force, ia menjelaskan bahwa emosi negatif seperti marah dan takut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan, sementara emosi positif seperti kasih sayang dan penerimaan justru memperkuat kondisi fisik dan mental.

Di akhir pemaparannya, ia menegaskan bahwa keseimbangan antara raga, jiwa, dan ruh menjadi kunci utama dalam meraih kehidupan yang berkualitas.

“Jika manusia mampu menjaga keseimbangan tersebut, maka ia akan lebih siap menghadapi berbagai persoalan hidup dan menuju derajat insan kamil,” pungkasnya.***(FA