Kearifan Lokal Jadi Benteng Penjaga Identitas Budaya di Era Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Daryadi mengajak masyarakat untuk bijak menyaring informasi dan pengaruh budaya di tengah derasnya arus globalisasi.

Penguatan nilai-nilai kearifan lokal diperlukan agar identitas budaya tetap terjaga tanpa menghambat keterbukaan terhadap perkembangan zaman.

Yudi menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam Workshop Pendidikan dan Bedah Buku Kearifan Lokal yang diselenggarakan IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, kampus UM Bandung, Kamis (22/10/2026).

Menurut Yudi, perkembangan media telah membuat berbagai wilayah di dunia semakin terhubung.

Kondisi ini memungkinkan informasi dan pengaruh budaya dari berbagai belahan dunia masuk dengan cepat ke kehidupan masyarakat.

"Sekarang kita sudah memasuki era globalisasi. Globalisasi itu ya mengglobekan dunia, yakni menyatukan semua kawasan oleh media, yang kita tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi sebelumnya," ungkap Yudi.

Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai luhur budaya Sunda dapat menjadi bekal masyarakat dalam menghadapi perubahan tersebut.

Salah satunya melalui panca karakter orang Sunda, yakni cager, bager, benar, pintar, dan singer, yang dapat menjadi pedoman dalam membentuk pribadi berkarakter.

Oleh karena itu, Yudi mendorong para pendidik untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik sejak dini. 

Menurutnya, kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi perlu diimbangi dengan kemampuan menyaring pengaruh yang masuk agar identitas budaya tetap terpelihara.

"Maka dari itu, perlu ada penyaring dalam menghadapi globalisasi tersebut," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Dini Nurjanah mengatakan bahwa Workshop Pendidikan dan Bedah Buku Kearifan Lokal bertujuan membekali para pendidik agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran yang menyenangkan di pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK).

"Alhamdulillah hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi kami. Dalam satu panggung kami dipertemukan dengan dua karya luar biasa dan saling melengkapi," ujar Dini.

Ia berharap para guru TK dapat menjadikan kearifan lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran sehari-hari.

Dengan demikian, anak-anak tidak hanya mengenal budaya daerah, tetapi juga terbiasa menerapkan nilai kesantunan, kepedulian terhadap lingkungan, dan perilaku positif dalam kehidupan mereka.

"Kami ingin mengembalikan ruh pendidikan PAUD, khususnya TK, yakni anak yang cinta budaya Sunda, santun, peduli lingkungan, dan berkarakter," kata Dini.

Ketua IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung Ela Nurlaila menambahkan bahwa seminar dan workshop kearifan lokal merupakan agenda tahunan organisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru TK.

Menurut Ela, pemahaman mengenai kearifan lokal perlu diwujudkan dalam praktik pembelajaran di sekolah.

Guru diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut sesuai dengan tahap perkembangan anak sehingga pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan teori.

"Tujuan kami mengadakan workshop dan webinar ini agar kompetensi guru-guru TK se-Kabupaten Bandung terus bertambah, profesionalismenya juga meningkat, dan tentunya bisa mengabdi untuk negeri," tutur Ela.

Ela juga menekankan pentingnya memperkenalkan bahasa, tradisi, dan budaya Sunda kepada anak-anak sejak usia dini.

Pengenalan tersebut diharapkan membantu anak memahami akar budayanya sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah.

Melalui pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran, para pendidik diharapkan dapat membentuk generasi yang terbuka terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri.***(FK)