Berita

Duta Literasi Manajemen UM Bandung Gelar Webinar GEMARI, Anak Muda Diharapkan Tidak Golput

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung — Duta Literasi Manajemen UM Bandung menggelar webinar ”Gemar Literasi” (GEMARI) pada Sabtu (03/02/2024) dalam rangka membedah berbagai isu politik dan kepemimpinan nasional di kalangan mahasiswa.

Webinar ini mengangkat tema ”Bijak dalam Memilih Pemimpin Untuk Masa Depan Indonesia”. Hadir dalam acara ini Ketua Program Studi Manajemen UM Bandung, Ketua Duta Literasi Manajemen, dan para mahasiswa.

Ketua Pelaksana Adhitya Kamil menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai literasi politik masyarakat.

Peserta webinar banyak mendapatkan informasi dan pengetahuan seputar pemilihan umum yang akan digelar beberapa hari lagi.

”Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya kita dalam mencegah terjadinya golput dan kesalahan pemimpin pada pemilu di lingkungan kampus,” ucap Adhitya.

Adhitya menyampaikan kegiatan ini berupaya mengajak peserta saling berdiskusi seputar kontestasi pemilu di tahun ini.

”Kita mengajak para peserta saling berdiskusi mengenai situasi kontestasi pemilu agar nantinya dapat memilih pemimpin dengan bijak,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi salah satu media informasi bagi para mahasiswa seputar pemilu.

”Kami berharap kegiatan ini dapat menjadikan konsentrasi pemilu lebih sehat dengan keterbukaan para mahasiswa pada situasi politik saat ini untuk tidak golput dan bijak dalam memilih pemimpin,” ujar Adhitya.

Literasi politik

Menanggapi hal yang sama, Ketua Duta Literasi Manajemen Santi Nuraeni menegaskan bahwa kegiatan diskusi ini sangat penting bagi para mahasiswa.

Pada era digital saat ini, menurut Santi, masyarakat sangat mudah mengakses informasi khususnya seputar politik.

Maka dari itu, literasi politik sangat penting bagi masyarakat khususnya pada saat kondisi pemilu saat ini.

”Masyarakat perlu dibekali pengetahuan tentang politik agar dapat berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya dalam kegiatan pemilu,” ungkap Santi.

Santi berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah bagi para peserta dalam meningkatkan literasi politik.

”Kegiatan ini kita harapkan dapat memberikan kontribusi yang positif dalam meningkatkan literasi politik di Indonesia,” harap Santi.

Pemilih baru

Sementara itu, Ketua Program Studi Manajemen Indra Sasangka sangat bangga atas terselenggara kegiatan ini.

Kegiatan ini menjadi momen tepat bagi para peserta khususnya sebagai pemilih baru.

”Kegiatan perdana Duta Literasi Manajemen ini menjadi hal yang tepat bagi para pemilih baru,” kata Indra.

Ia mengatakan, kegiatan ini dapat memberikan masukan bagi para peserta saat melaksanakan pemilihan umum.

”Adanya keaktifan mahasiswa dalam memberikan suara bagi para calon pemimpin akan menjadi suatu penentu nasib bagi bangsa ini ke depannya,” tandas Indra.

Adapun yang mengupas tema webinar "Bijak dalam Memilih Pemimpin untuk Masa Depan Indonesia" adalah Koordinator Divisi Pencegahan, Parmas, dan Humas Bawaslu Kota Bandung.***(FK)

Administrator

Lima Karakteristik Jurnalisme Profetik Menurut Ketua BPH UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Ponorogo – Ketua Badan Pembina Harian (BPH) sekaligus Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad mengatakan bahwa jurnalisme profetik itu identik dengan kuatnya membaca dan belajar terus-menerus.

Hal itu Dadang sampaikan dalam dalam Seminar Nasional dan Focus Group Discussion di UM Ponorogo bertema “Jurnalisme Profetik Perspektif Islam Berkemajuan” belum lama ini.

“Kalau kita ingin mengikuti jurnalisme profetik ya membaca. Itu tugas utamanya. Jadi, seorang jurnalis itu harus ahli baca yang luar biasa. Jangan mengandalkan kepada pendengaran saja. Membaca itu bagian yang sangat penting,” kata Dadang.

Bicara jurnalisme profetik, ujar Dadang, berarti jurnalisme kenabian dan cinta. Nabi diutus oleh Allah SWT untuk memberikan daya guna dan manfaat bagi masyarakat.

Dadang menegaskan bahwa hal pertama yang harus diperhatikan dalam jurnalisme profetik itu ialah menulis sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Tidak menulis sesuatu yang bermudarat bagi masyarakat.

Jurnalisme yang baik, ungkap Dadang, ialah yang mengikuti nabi. Nabi itu akhlaknya Al-Quran. Dalam surah Ali Imran 16 dan 17 diterangkan bahwa ada enam karakter dan inspirasi yang bisa dimiliki oleh seorang jurnalis profetik.

Pertama, beriman kepada Allah SWT. Jadi, diniatkan menjadi jurnalis itu ialah ibadah kepada Allah SWT. Itu hal pertama yang harus dilakukan.

“Kedua, jurnalis yang baik jurnalis profetik itu ialah orang yang sabar. Tidak mudah emosi. Tidak mudah tersulut. Dia mau menyeleksi semua berita yang dia dapatkan dan mampu memverifikasi dengan sabar. Tidak cepat me-reposting,” imbuh Dadang.

Ketiga, punya sifat jujur. Jujur dalam membuat berita jujur, memproduksi sesuatu, dan menulis. Jujur tidak boleh curang.

Keempat, selalu taat aturan. Taat kepada aturan jurnalistik, undang-undang, dan sebagainya. Seorang jurnalis tidak boleh melanggar aturan. Terutama dalam hal konstitusi.

Kelima, mudah memberikan berita. Tidak pelit informasi. Keenam, mengakui kesalahan kalau berbuat salah. Cepat meralat apa yang sudah dia repost dan meminta maaf.

Jurnalisme yang berbasis profetik itu, tegas Dadang, ialah jurnalisme yang mengikuti kaidah dan aturan agama seperti perilaku Nabi Muhammad SAW.

Adapun berkemajuan itu artinya jurnalisme yang berorientasi ke masa depan. Islam yang dianut bukan Islam yang berorientasi ke masa lalu dalam bab muamalah, melainkan berorientasi masa depan.

“Bermuamalah dalam Muhammadiyah harus banyak kreativitas, boleh melakukan apa pun asal tidak melanggar aturan Allah SWT. Itu yang disebut dengan itihad yang terus dibuka,” kata Dadang.

“Kalau kita ingin mengusung jurnalisme profetik yang berkemajuan, yakni jurnalisme yang punya enam karakter. Ditambah dengan jurnalisme yang bisa membawa masyarakat kita kepada arah yang maju,” pungkas Dadang.***(FA)

Administrator

Duta Literasi Manajemen dan GIS UM Bandung Edukasi Pelajar Soal Literasi Digital Hingga Finansial

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung — Duta Literasi Manajemen bersama Galeri Investasi Syariah (GIS) UM Bandung mengadakan kegiatan roadshow bertajuk Literasi Tour (LITERATOUR) pada Senin (05/02/2024).

Acara yang mengangkat tema ”Menjadi Generasi FATAL (Faham Digital) dengan Keseimbangan Finansial” ini berlangsung di Pesantren Lima Menara, Kompleks Bumi Panyileukan, Kota Bandung.

Hadir dalam acara ini Ketua Pesantren Lima Menara, Pembina dan Ketua Paguyuban Duta Literasi Manajemen.

Acara ini juga dihadiri oleh para santri Pesantren Lima Menara tingkat SMP dan SMA sebagai peserta.

Ketua Duta Literasi Manajemen UM Bandung Santi Nuraeni mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi rangkaian program Duta Literasi Manajemen.

”Kegiatan di Pesantren Lima Menara ini menjadi yang perdana bagi kami dalam rangka roadshow ke beberapa sekolah,” ucap Santi.

Santi menjelaskan bahwa pelaksanaan roadshow ini bertujuan untuk memberikan pemahaman seputar digitalisasi kepada para siswa.

”Selain pemahaman, para siswa juga diharapkan mampu memanfaatkan digital dalam keseimbangan finansial,” ujar Santi.

Pada acara itu pula Santi menjadi salah satu narasumber dengan menyampaikan materi seputar literasi digital.

Ia mengatakan, peserta perlu menerapkan digitalisasi dengan etika. 

”Dalam digitalisasi, kita harus menggunakan etika agar selalu bijak dalam menjalankan hal tersebut,” kata Santi.

Literasi finansial

Selain Santi, hadir juga sebagai narasumber yakni perwakilan dari GIS UM Bandung Wijdan Fauzan Haqiqi.

Dirinya menyampaikan materi seputar literasi finansial kepada peserta.

Ia mengatakan para peserta perlu menerapkan manajemen finansial dalam mengatur keuangan sejak dini.

”Manajemen finansial sangat dibutuhkan agar dana yang kita miliki dapat teralokasikan dengan baik untuk jangka pendek ataupun jangka panjang,” ungkap Wijdan.

Menurut Wijdan, manajemen finansial menjadi bekal peserta agar bisa mengatur keuangan dengan bijak.

”Nantinya ketika para peserta bijak mengatur keuangannya, otomatis keperluannya pun tidak hanya berorientasi pada dunia, tetapi pada akhirat,” imbuh Wijdan.

Para peserta sangat antusias dengan pemaparan materi yang disampaikan narasumber.

Mereka mengikuti kegiatan ini dari awal hingga selesai dengan khidmat. Hal tersebut terlihat dari keaktifan mereka bertanya kepada narasumber.***(FK)

Administrator

Konsep Ulil Amri Menurut Buya Cecep: Tunduk dan Taat dalam Berbagai Konteks Kepemimpinan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung – Wakil Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung Cecep Taufikurrohman menjelaskan bahwa ulil amri tidak terbatas pada kepemimpinan politik, tetapi mencakup berbagai aspek kepemimpinan.

Allah SWT dalam Al-Quran telah menegaskan urgensi kepemimpinan dalam QS An-Nisa ayat 59 dengan menyebutkan frasa “ulil amri.”

“Ulil amri tidak bisa dimaknai hanya pemerintah. Tidak boleh dibatasi hanya itu. Yang namanya ulil amri itu mencakup semua orang yang mengurusi urusan kita yang bertanggung jawab kepada kita, itu ulil amri,” ucap Cecep dalam Gerakan Subuh Mengaji pada Kamis (01/02/2024).

Menurut Buya Cecep—begitu sapaan akrabnya—ulil amri dapat diartikan sebagai otoritas dalam berbagai konteks.

Misalnya wali murid yang menjadi ulil amri bagi anak-anaknya atau panglima perang yang menjadi ulil amri bagi pasukan di bawahnya.

Buya Cecep menekankan bahwa konsep ulil amri tidak terlepas dari perintah Al-Quran dalam QS An-Nisa ayat 59 dan umat Islam diarahkan untuk tunduk dan taat terhadap ulil amri.

Bagi orang beriman, taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya juga mencakup ketaatan kepada pemimpin yang mengurus urusan mereka.

“Di antara konsekuensi orang beriman yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya ialah taat kepada orang yang mengurusi urusan kita,” terangnya.

Pandangan Buya Cecep terkait ulil amri sejalan dengan pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang tertuang dalam kitab Tafsir Al-Manar.

Menurut keduanya, ulil amri dapat diartikan sebagai “ahlu al-halli wa al-‘aqdi“, yakni kelompok orang yang memiliki keahlian profesional dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Ulama Muhammadiyah, Yunahar Ilyas, mendukung pandangan Abduh dan Ridha yang dianggapnya sebagai definisi yang lebih tepat terkait ulil amri.

Menurutnya, konsep ulil amri melibatkan berbagai bidang kehidupan yang memiliki ulil amri-nya masing-masing. Sebagai contoh, panglima perang, ulama, umara, dan sebagainya.

Ulama, baik secara perorangan maupun lembaga, seperti lembaga-lembaga fatwa, juga dianggap sebagai bagian dari ulil amri.

Artinya, semua pemimpin masyarakat dalam bidangnya masing-masing termasuk dalam lingkup ulil amri.

Dengan demikian, konsep ulil amri tidak hanya berlaku dalam konteks politik, tetapi merangkul seluruh spektrum kehidupan masyarakat.***

____

Sumber: muhammadiyah.or.id

Editor: FA

 

Administrator

Sejak Berdiri, Muhammadiyah Sudah Menyadari Pentingnya Dakwah Melalui Tulisan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UM Bandung Dadang Kahmad mengatakan bahwa kelahiran Muhammadiyah tidak bisa lepas dari dunia jurnalistik.

Sejak awal berdiri, kata Dadang, Muhammadiyah sudah menyadari betapa pentingnya dakwah melalui tulisan.

Oleh karena itu, lanjut Dadang, pada 1915 lahirlah majalah ”Suara Muhammadiyah” yang sampai hari ini usianya sudah lebih dari 100 tahun. 

“Itu adalah bukti bahwa Muhammadiyah adalah sangat memperhatikan dunia jurnalistik," Dadang dalam Seminar Nasional dan Focus Group Discussion di UM Ponorogo belum lama ini. 

Kita tahu bahwa dakwah itu tidak hanya bersifat lisan, tetapi bersifat tulisan, bahkan sekarang berbentuk digital dan audiovisual,” lanjut Dadang.

Namun, Dadang menyayangkan bahwa bangsa Indonesia melompat dari bahasa lisan ke bahasa audiovisual.

Bangsa Indonesia kata Dadang tidak melalui dulu bahasa tulisan sehingga masyarakat Indonesia lemah daya baca dan tulisnya. 

Produk-produk buku dari Indonesia tidak pernah menyebar keluar. Berbeda halnya dengan pesantren-pesantren kita yang kebanyakan pakai produk-produk luar negeri.

“Kitab-kitab turasnya adalah kitab-kitab yang ditulis para ulama dari India, Arab, dan dari Afrika, sedangkan ulama-ulama kita sangat sedikit melahirkan tulisan-tulisan,” tutur Dadang.

Ada missing link

Menurut hasil penelitian Dadang bersama Julian Millie—salah seorang profesor di Monash University—menyimpulkan bahwa kenapa dakwah lisan di Indonesia masih populer dan banyak pendukungnya karena ada missing link.

“Memang terjadi missing link (terputus) orang Indonesia dari tradisi lisan ke tradisi tulis dan tradisi audovisual. Jadi, keburu datang teknologi televisi dan media sosial sehingga kita lupa kepada budaya tulisan,” tegas Dadang.

“Selain itu, daya baca masyarakat kita itu rendah. Dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang menjadi ahli dan suka baca. Padahal, agama kita mengajarkan untuk membaca sebagaimana ayat yang pertama kali turun,” tandas Dadang.***(FA)

Administrator

Pergaulan Lingkungan Berpotensi Sebabkan Penyalahgunaan Napza

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung – Belakangan ini penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (Napza) kian meningkat di kalangan masyarakat. Padahal, hal tersebut sebetulnya bisa digunakan secara baik sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Begitulah salah satu poin penting yang mengemuka pada talkshow inspiratif prodi Farmasi UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan lantai tiga kampus pada Rabu (13/07/2022).

Dwintha Lestari sebagai pembicara acara mengatakan bahwa dalam dunia medis obat-obatan yang tergolong narkotika digunakan untuk pengobatan. Kemudian digunakan juga saat melakukan operasi pada pasien.

”Namun, beberapa obat tersebut sering disalahgunakan oleh kalangan tertentu, seperti artis untuk meningkatkan adrenalin mereka,” ucap Dwintha Lestari.

Perempuan yang didapuk menjadi salah satu dosen terbaik UM Bandung ini juga menyoroti penyalahgunaan narkotika pada kalangan remaja yang semakin mengkhawatirkan kondisinya.

Menurut Dwintha Lestari, penyalahgunaan narkotika di kalangan yang sangat rentan ini diakibatkan oleh pergaulan lingkungan sekitar yang kurang terkontrol.

”Hal ini yang mesti diwaspadai oleh kita semua. Dari pergaulan ini biasanya diawali dengan ajakan untuk merokok yang kemudian beberapa di antaranya menjurus penggunaan obat suntik,” lanjut Dwintha Lestari.

Hidup sehat

Dosen Farmasi UM Bandung ini mengungkapkan tak sedikit efek yang dirasakan ketika seseorang menggunakan Napza.

Misalnya, memberikan efek senang, bertenaga, bergairah, tenang, dan beberapa efek negatif lainnya.

”Padahal, semua itu sebetulnya bisa kita dapatkan tanpa harus menggunakan Napza. Kita bisa memulainya dari pola hidup sehat sehingga kita tetap bisa bahagia dan bergairah,” tandasnya.

Pembicara yang lain, yakni Asti Yunia Rindarwati, menyoroti soal penggunaan Napza yang berlebihan.

Menurut Asti, jika ada seseorang yang ketergantungan Napza, maka itu akan sulit dilepaskan dan dihentikan.

Jangan coba-coba

Zat adiktif, sambung Asti, susah untuk dilepaskan. Oleh karena itu, ia mengimbau agar jangan coba-coba menggunakan Napza.

Selain itu, kata Asti jangan pula disalahgunakan karena bisa berpengaruh pada perilaku dan psikologi.

Tidak hanya itu, bila obat yang digunakan tidak sesuai dengan petunjuk tidak akan menimbulkan efek terapi, tapi menimbulkan efek toxic atau efek samping yang kurang baik.

”Penggunaan dengan cara tersebut akan berakibat atau bereaksi toxic dan menimbulkan adiksi, hal itu juga ditimbulkan akibat penggunaan yang sangat berlebihan,” katanya.

Sejak 2015, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengatur alur produksi obat-obatan seperti pemroduksian dan penjualan.

”BPOM waktu itu membuat suatu aturan untuk pelayanan distribusi, penyimpanan, dan pelaporan obat-obat tertentu,” terangnya.*** (FK)

Administrator