Berita

Inilah Pentingnya Amar Makruf Nahi Munkar Dalam Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah Menurut Buya Cecep

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan FAI Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman mengatakan bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia menganut paham aqidah ahlussunnah wal jama’ah.

Termasuk juga di antaranya Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.

Hal itu Buya Cecep—sapaan akrabnya—sampaikan saat mengisi materi Mimbar Iqra edisi keenam yang berlangsung di Balkon Lantai 4 UM Bandung pada Selasa (31/10/2023).

“Aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dianut mayoritas umat Islam di Indonesia, sangat cocok dengan watak masyarakat Indonesia yang ramah dan toleran. Hal ini yang menjadikan karakter umat Islam di Indonesia tidak sama dengan masyarakat Islam di tempat-tempat lain,” tutur Buya Cecep.

“Oleh karena itu, konsep dan paham lain, misalnya saja Syiah atau Khawarij, sangat tidak cocok diterapkan di Indonesia,” imbuh Buya Cecep.

Tidak boleh memberontak

Lebih jauh Buya Cecep menyampaikan beberapa keyakinan yang dianut dalam aqidah ahlussunnah wal jama’ah.

Antara lain tidak boleh memberontak kepada pemimpin yang sah, selama pemimpin tersebut tidak melakukan kekufuran yang nyata.

“Hanya saja, ahlussunah wal jama’ah bukan berarti diam ketika ada pemimpin yang berbuat tidak baik, sebab mereka mengimani kewajiban amar makruf nahi munkar," ungkap Buya Cecep.

"Dalam memahami amar makruf nahi munkar ini, terdapat dua golongan yang menafsirkannya secara ekstrem.

Pertama, mereka yang sama sekali tidak mau melakukan amar makruf nahi munkar (tafrith/ekstrem kanan) dengan dalih bahwa amar makruf nahi munkar akan menimbulkan bencara dan konflik," kata Buya Cecep.

"Sehingga mereka benar-benar tidak mau mengoreksi pemimpin yang keliru. Mereka berdalih dengan ayat-ayat yang melarang terjadinya kerusakan. Di antara yang meyakini pandangan ini adalah Murji’ah, Jabariyah, dan Syiah Imamiyyah," tegas alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini.

"Kedua, mereka yang menafsirkannya dengan cenderung ekstrem kiri (ifrath), yakni mereka membolehkan melawan dan memberontak kepada setiap pemimpin yang lalim. Mereka adalah Khawarij, Mu’tazilah, dan sebagian Syiah Zaidiyyah dan Ismailiyyah," terang Buya Cecep.

"Adapun ahli sunnah, mereka menerapkan amar makruf tersebut secara seimbang, berada di antara dua kutub ekstrem tersebut. Oleh karena itu, ahlussunnah berkeyakinan mereka tidak memberontak kepada pemimpin yang sah, selama pemimpin tersebut tidak melakukan kekufuran yang nyata,” tandas Buya Cecep.

Buya Cecep juga menambahkan bahwa kaum Sunni (ahlussunnah wal jama’ah) juga menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan dan agama serta tidak boleh memaksakan keyakinan. Mereka juga tidak boleh serampangan dalam mengkafirkan ahli kiblat lainnya.

Piagam Madinah

Dalam konteks mengelola negara yang penduduknya heterogen, Buya Cecep menyinggung keberhasilan Piagam Madinah di zaman Rasulullah SAW sehingga dapat memberikan peraturan yang adil kepada seluruh penduduk Madinah, baik muslim maupun penganut agama lainnya.

“Saat Rasulullah SAW mendirikan negara Madinah, di sana bukan hanya ada umat Islam, melainkan ada Yahudi, Nasrani, dan kaum pagan. Meskipun demikian, keragaman tersebut tidak menjadikan penduduk Madinah bersitegang. Semua tunduk pada aturan dan kesepakatan yang dituangkan dalam Piagam Madinah," kata Buya Cecep.

"Piagam Madinah tersebut terdiri atas 47 pasal. Sebanyak 23 pasal mengatur hubungan antar umat Islam (Muhajirin dan Anshar). Sementara itu, 24 pasal mengatur tentang hubungan umat Islam dengan agama lain (Yahudi, Nasrani, dan Kaum Pagan),” pungkas Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Barat ini.

Tambahan informasi, selain penggagas Mimbar Iqra, Roni Tabroni, hadir juga pada kesempatan kali ini Wakil Rektor I UM Bandung, Kaprodi PAI, dosen, dan juga puluhan mahasiswa dari berbagai prodi.

Selesai pemaparan materi, peserta Mimbar Iqra pun terlibat diskusi dengan narasumber. Mereka berdikusi secara kritis seputar tema yang menjadi pemabahasan.

Diskusi Mimbar Iqra berjalan santai, serius, sambil ditemani dengan jagung, ubi, dan kacang rebus, ditambah dengan katimus, sehingga suasana tampak antusias.***(FA)

Administrator

Peran Orang Tua Kunci Dalam Pencegahan Kekerasan Seksual Terhadap Anak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen UM Bandung Esty Faatinisa mengatakan bahwa berdasarkan data kasus pelecehan atau kejahatan seksual kepada anak, ternyata pelakunya cenderung orang dekat dengan korban.

”Ini menjadi miris dan memprihatinkan tentunya. Harus ada upaya-upaya agar pelecehan dan apalagi kekerasan seksual terhadap anak tidak terjadi,” ujar Esty di kampus UM Bandung belum lama ini.

Esty menjelaskan, satu di antara upaya agar pelecehan seksual tidak terjadi terhadap anak, yakni dengan cara orang tua memberikan edukasi seputar seks kepada anak-anaknya sejak dini.

Anak harus diberi pengetahuan misalkan mengenal tempat privat dan tempat umum. Kemudian anak juga diajari cara ganti pakaian atau membuka area privasi dilakukan di kamar sendiri (kalau di rumah).

”Jadi, anak diberi pengetahuan dan diajari mengenai apa yang harus dilakukan terkait dengan dirinya sendiri. Kalau misalkan buka baju atau buka area privasi tubuhnya, maka harus di tempat privasi," kata Esty.

"Di mana saja tempat privasi itu? Nah, itu harus dijelaskan oleh orang tua kepada anak dari mulai usia dini sehingga mereka mengerti teknisnya, enggak hanya teori,” tutur Esty.

Lebih lanjut Esty mengatakan, hal kedua yang harus dilakukan yakni anak harus diberi tahu bagian mana saja dari tubuhnya yang termasuk privasi.

”Mana saja bagian tubuh yang bisa dan tidak boleh disentuh orang lain. Sampai kalau di tingkat anak usia dini, edukasi hal ini sampai ada nyanyiannya, jadi nyanyian tubuh yang tidak boleh dan yang bisa disentuh, semua itu harus diketahui oleh anak, tentu dengan bimbingan orang tua,” ujar Esty.

Tuntunan Islam

Esty mengungkapkan bahwa sebetulnya dalam Islam, pendidikan seputar seks untuk anak di usia dini itu sudah tersirat dan diberlakukan sejak kecil.

Contohnya, anak sudah pisah dari ayah-ibunya dari umur dua tahun dan idealnya sudah harus punya kamar sendiri. Kemudian, jangan disatukan antara kakak laki-laki dan adik perempuan atau sebaliknya.

”Kelihatannya hal tersebut sederhana, tetapi sejatinya memang harus seperti itu, mereka harus punya ranah privasi masing-masing walaupun di rumah sendiri sehingga mereka akan terbiasa dan bisa memahami,” ungkap Esty.

Islam sudah mengatur mengenai keharusan menutup aurat. Oleh karena itu, harus diperkenalkan kepada anak apa itu aurat dan batasannya. Tidak boleh aurat itu dipertontonkan kepada orang lain.

Misalkan anak laki-laki tidak boleh mempertontonkan auratnya kepada anak perempuan ataupun  sebaliknya. Semua itu adalah teknis, ujar Esty, tetapi itu kadang-kadang tidak diketahui dan dipahami.

”Kita juga sebagai orang tua, kan kalau anak kita, misalnya saat renang, terus ganti bajunya di tempat umum, padahal di situ ada toilet khusus atau ruang ganti pakaian, sebetulnya itu tidak boleh. Orang tua harus disiplin. Ganti baju anak ya harus di sana (kamar ganti khusus) dan orang tua harus mendampinginya,” kata Esty.

“Apabila orang tua tidak disiplin, anak-anak akan merasa bahwa buka pakaian di tempat terbuka juga ternyata tidak apa-apa. Seakan-akan menjadi pembenaran bahwa kalau buka pakaian di mana saja itu boleh-boleh saja,” ujar Esty.

Di samping memberi anak pengetahuan mengenai pendidikan seks, hal yang tidak kalah penting menurut Esty yakni menstimulasi anak agar memiliki sikap asertif (tegas menolak).

Hal ini yang memang agak kurang (diajarkan) karena ada kebiasaan budaya timur yang enggak enakan, manut, susah untuk bilang "enggak, aku enggak suka," misalkan, padahal itu harus diajarkan tentu dengan adab-adab tersendiri.

Soal kurikulum

Bicara lebih jauh mengenai tindakan pencegahan agar pelecehan seksual bisa dicegah, Esty menilai seharusnya ada langkah konkret bahwa pendidikan seks sejak dini itu sudah masuk dan terintegrasi dengan kurikulum.

”Integrasi kurikulum itu apa? Sebetulnya sudah ada sih kalau kita sebagai guru bisa jeli. Ada tema ‘diriku’ kalau di TK, SD, di situ bisa dibilang tadi bahwa ‘tubuh saya ini miliki saya yang mana saja sih’, kan itu bentuk pengenalan juga,” ungkap Esty.

Berkaca kepada kasus pelecehan seksual terhadap anak yang akhir-akhir ini mengemuka, khususnya yang sangat menghebohkan yang terjadi di boarding school di Kota Bandung, Esty mengajak semua pihak menyadari kasus semacam itu bisa terjadi di lingkungan terdekat dan melibatkan orang dekat.

”Bahkan kasus pelecehan seksual terjadi di lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak selain rumah mereka," kata Esty.

"Satu di antara upaya mencegah hal itu terjadi yakni dengan keterlibatan orang tua dalam mengedukasi anak-anaknya sedini mungkin mengenai pendidikan seks dan juga mengenali tubuhnya sendiri. Tentu tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus ada keterlibatan dan kerja sama semua pihak,” pungkas Esty.***(FK/FA)

Administrator

Kaprodi Pendidikan Agama Islam UM Bandung Soroti Kelebihan dan Hambatan Pemanfaatan Teknologi AI di Bidang Pendidikan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung – Kaprodi PAI UM Bandung Iim Ibrohim mengatakan bahwa kecanggihan teknologi artificial intellegence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan salah satu inovasi dari pengembangan IPTEK yang luar biasa.

Manfaat AI saat ini, kata Iim, dapat dirasakan oleh banyak umat manusia. Para pendidik juga sejatinya dituntut mampu mengambil sisi positif dari kehadirannya.

“Pada beberapa aspek, unsur kognitif, misalnya, penggunaan teknologi AI dipastikan akan lebih mempermudah dan mempercepat pencapaian pendidikan. Selain itu, kreativitas juga pastinya dapat terbangun,” ujar Iim di kampus UM Bandung pada Rabu (10/01/2024).

Siap tidak siap, tambah Iim, sistem pendidikan tetap harus terus berupaya untuk mempersiapkan diri dengan baik. Penggunaan kecanggihan teknologi AI tentunya dapat dilakukan cecara bertahap dengan memperhatikan modal yang dimiliki, salah satunya SDM.

SDM dan fasilitas belajar menjadi kunci pemanfaatan perangkat teknologi. Namun, kata Iim, ada prinsip yang harus menjadi catatan bahwa ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu, yakni jika belum mampu secara semuanya, jangan ditinggalkan semuanya.

“Kita dapat memanfaatkan teknologi sesuai dengan potensi yang dimiliki. IPTEK itu terus berkembang dan globalisasi terus menerjang. Oleh karena itu, kita harus terus berupaya untuk berlayar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” tutur Iim.

Lebih jauh, Iim menerangkan bahwa generasi Z atau milenial memang dilahirkan pada era teknologi dan akrab dengan hal itu. Berbeda dengan generasi Y, X, apalagi Babyboomer.

Idealnya cara belajar mereka, kata Iim, baik di sekolah maupun luar sekolah, dengan memaksimalkan kecanggihan teknologi seperti yang berkembang saat ini.

Namun, perlu dicatat bahwa memaksimalkan teknologi dalam pembelajaran baru pada aspek tertentu saja. Belum bisa pada semua aspek pencapaian.

“Aspek lainnya seperti apektif dan live together tentu dibutuhkan penjiwaan tulus dari para pendidik,” ujar Iim.

Terkait konsep ideal yang dapat dilakukan oleh para penyelenggara pendidikan, lanjut Iim, tentu dengan memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki. Termasuk teknologi.

Bagi sekolah yang SDM dan fasilitas belajarnya sudah mumpuni, pada beberapa aspek, baik itu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut dapat memaksimalkan kehadiran teknologi.

Iim menjelaskan bahwa keberadaan teknologi merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh insan pendidikan saat ini.

Para penyelenggara pendidikan juga dapat memilih dan memilah mana yang sekiranya bagus.

“Dari delapan standar pendidikan itu, mana yang dapat dimaksimalkan untuk pemanfaatan AI dan mana yang perlu penguatan secara manual. Bagi sekolah yang belum siap, terlebih takut dengan dampak negatifnya, dapat melakukan sesuai dengan proporsinya,” tandas Iim.

Meski kecanggihan teknologi, AI, misalnya, saat ini bisa menunjang pendidikan, Iim mengingatkan pegiat pendidikan agar tetap hati-hati dengan dampak negatif. “Maslahat dan madaratnya harus terus diperhatikan dengan saksama tanpa melupakan fitrah dasar siswa yang telah dilahirkan pada abad 21 ini,” pungkas Iim.***(FA)

Administrator

Dekan FAI UM Bandung Tekankan Dakwah Islam Harus Dinamis Mengikuti Zaman Agar Tetap Relevan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung – Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UM Bandung Afif Muhammad mengatakan bahwa strategi dan ekosistem dakwah harus terus diperbarui di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini.

“Sejak revolusi 4.0 ditambah ada covid-19 beberapa waktu ke belakang, banyak perubahan yang sangat cepat dan di luar prediksi selama ini,” kata Afif seperti dikutip dari Youtube KPI Studio pada Selasa (21/11/2023).

Termasuk di dalamnya perkembangan sistem informasi dan pesatnya digitalisasi dalam berbagai bidang, tidak terkecuali media dan metode dakwah yang semakin bergeser ke virtual.

”Saat ini, dakwah banyak dilakukan di Youtube dan media sosial lainnya. Oleh karena itu, ketika saya mengaji di beberapa masjid, ya sepi jamaah, peminatnya kurang. Itulah fenomenanya saat ini, dakwah tidak melulu dilakukan di dunia nyata,” kata Afif.

Fenomena dakwah tersebut, kata Afif, harus direspons dengan sesuatu yang baru pula.

Sesuatu yang baru tidak bisa dihadapi dengan sesuatu yang sudah lama atau usang.

Dakwah Islam membutuhkan kreasi dan inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Tidak lagi menoton dengan cara-cara dakwah zaman dahulu agar cakupannya lebih masif dan luas.

Interpretasi dakwah bil hal, kata Afif, salah satunya dengan keteladanan.

Saat ini, lanjut Afif, bagaimana bisa melihat dan menunjukkan keteladanan, kalau semua orang ramai-ramai pengajiannya pindah ke Youtube.

”Oleh sebab itu, hal ini perlu pengembangan-pengembangan baru terkait strategi dan komunikasi dakwah. Kalau hari ini saja fenomenanya sudah begini, saya tidak tahu sepuluh tahun yang akan datang akan seperti apa dan bagaimana. Saya berharap kita semua siap dengan hal ini,” tegas Afif.

Afif tidak menampik bahwa perkembangan teknologi saat ini banyak memberikan kemudahan dan manfaat luar biasa kepada manusia. Termasuk masifnya dunia dakwah virtual.

Namun, Afif khawatir bahwa hal itu bisa menjadi jalan tercampurnya al haq wal bathil (kebaikan dan keburukan).

Pada saat yang sama juga anak-anak milenial sudah terlanjur menjadi bagian dari perkembangan teknologi saat ini. Mereka sudah ada di dalamnya.

Agar terhindari dari tercampur dan samarnya perkara al haq wal bathil akibat penggunaan teknologi yang kurang tepat, kata Afif, perlu ada strategi, ekosistem, dan teknologi dakwah yang dikembangkan terus-menerus.***(FA)

Administrator

Untuk Apa Cakap Digital?

Oleh: Roni Tabroni, Kepala Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung – Menjelang akhir Desember 2022, saya agak fokus pada koran Republika. Membaca versi print-nya setiap hari. Tidak kesulitan karena di ruangan selalu tersedia (berlangganan).

Sejak ada kabar koran ini akan berakhir, tidak seperti media pada umumnya, Republika secara pelan-pelan melakukan edukasi, menyadarkan akan datangnya perubahan, agar publik tidak kaget ketika salah satu platformnya hilang.

Sementara media lain kalau mau berakhir, ya pergi meninggalkan pembaca begitu saja. Sebagiannya lagi mungkin memberikan pengumuman di hari terakhir menjelang “ajal”.

Sampai hari ini, saya masih menangkap dua poin penting dari Republika.

Pertama, yang namanya perubahan tidak bisa dilawan.

Perkembangan teknologi tidak ada yang bisa menghindarinya sehingga berubah adalah pilihan cerdas.

Kedua, janji Republika untuk tidak menanggalkan ideologinya.

Saya mendapat keyakinan dari Direktur Republika Aris Hilman ketika berbicang secara zoom, kendati Republika akan bermain pada platform digital secara penuh, tetapi aspek ideologi tidak akan berubah.

Saya termasuk yang tidak paham secara praktis bagaimana bisnis media apalagi membandingkan cetak dengan digital.

Di tengah budaya digital yang tidak sepenuhnya positif, termasuk dalam persaingan binis media (berbasis digital), mempertahankan kualitas, ideologi, dan tradisi jurnalistik hampir tidak mungkin.

Nyatanya, beberapa media yang bermain di platform digital, kemudian melonggarkan banyak hal untuk keuntungan semata.

Soal idealisme

Bermain di dunia digital saya rasa tidak mudah. Banyak jebakan dan godaan di mana setiap orang dapat menjadi mengubah dirinya, mengorbankan idealismenya, apalagi dengan tujuan mencari keuntungan semata.

Lembaga-lembaga media yang begitu ketat dengan tata aturan, mulai undang-undang dan kode etik yang berlapis pun terkadang bobol dibuatnya.

Ketika Republika berjanji tidak akan menggeser idealismenya tentu menjadi jalan terang.

Bisa jadi sebagian media lain juga sudah dan sedang mempertahankan idealisme mati-matian ketika berada di ranah digital.

Untuk level individu, berselancar di dunia digital tentu lebih rumit lagi.

Kita akan tenang jika setiap orang mampu berstatement menjamin konten positif di setiap akun sendiri dan akan sopan ketika berkomentar di akun orang lain.

Setiap diri diharapkan lebih beradab dan menjaga etikanya ketika berinteraksi di dunia digital, tidak berkarya kecuali yang positif, tidak berkomentar kecuali yang baik.

Nihil substansi

Banyaknya hoaks dan ujaran kebencian tiada lain cermin diri yang belum siap masuk pada peradaban digital yang serba terbuka.

Ketidaksiapan bukan pada aspek teknis dan keterampilan, melainkan lebih pada mental dan kemampuan literasi.

Kecepatan tangan seringkali mengalahkan pergerakan hati yang sulit berempati dan pikiran yang sulit mengerti.

Miskinnya nalar karena biasa hidup instan membuat keterampilan nihil substansi.

Kecakapan digital, kesimpulan dari keterampilan dan pemahaman yang baik dari sosok manusia yang berada pada era baru, serba virtual.

Bukan hanya tahu seluk-beluk dunia digital, bukan hanya terampil menggunakannya, melainkan mengerti mengapa dan bagaimana aktif di dunia digital.

Secara program, cakap digital merupakan kelanjutan dari literasi digital.

Artinya, sebelum dapat memainkan barang (perangkat), setiap orang mesti paham dulu (literate) seluk-beluk dan adab-adaban berinteraksi dan berkarya di dunia digital.

Cermin terang

Seperti halnya di dunia nyata, keaktifan seseorang di dunia virtual juga mencerminkan siapa dia yang sesungguhnya.

Kendati sering menemukan sifat dan kebiasaan yang berbeda, tetapi antara yang nyata dan yang maya tidak ada bedanya.

Kita yang baik, dapat dipandang buruk ketika status dan konten medsos kita tidak mendidik.

Kita berkata sok pinter, tetapi di media sosial kita hanya mampu mempublikasikan kedunguan, tentu menjadi tidak relevan.

Dunia digital merupakan kepanjangan tangan, bahkan menjadi cermin yang terang tentang siapa kita yang sesungguhnya.

Sudah lama perusahaan-perusahaan atau lembaga tertentu akan sangat berhati-hati menerima karyawan, sebelum memeriksa kebiasaannya dalam mengunggah konten di media sosial.

Konten yang rasis, suka menghina, mengumbar kebencian, ataupun menyebar hoaks, menjadi catatan penting tentang siapa orang itu sesungguhnya.

Anak-anak muda yang masih panjang kariernya, memiliki kesempatan yang luas untuk menentukan masa depan.

Kecakapan digital wajib dikuasai saat ini, bukan hanya terampil, melainkan juga mengerti.

Kebiasaan memproduksi konten positif bukan hanya untuk menunjukkan bahwa kita mampu, melainkan juga terbiasa berbagi kebaikan bagi orang lain.

Semakin hari semakin berkarya, semakin mahir, bertambah portofolio.

Mengisi ruang digital dengan hal baik, sekaligus menunjukkan bahwa kita generasi muda yang positif, siap menerima segala perubahan dan tantangan zaman dengan tetap menjaga etika dan adab.***

Administrator

UM Bandung dan UMRI Jalin Kerja Sama, Siap Cetak Entrepreneur Muda Berkualitas

UMBANDUNG.AC.ID, Riau -- Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengunjungi Kota Pekanbaru pada Kamis (29/12/2022).

Di sela-sela kunjungannya itu rektor menyempatkan diri berkunjung ke kampus utama Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) di Jalan Tuanku Tambusai Ujung Nomo 1 dalam rangka silaturahmi sekaligus penandatanganan MoU.

Kunjungan itu disambut hangat oleh Rektor UMRI Saidul Amin beserta jajaran, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMRI HM Nazir, dan anggota Usman Tang.

Pada pertemuan itu juga disepakati kerja sama akademik antara kedua Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) tersebut.

Mengawali penandatanganan MoU, Rektor UMRI Saidul Amin dalam sambutannya berterima kasih atas kunjungan yang dilakukan oleh Rektor UM Bandung ini dan mengatakan bahwa pihaknya telah mengagendakan kunjungan ke UM Bandung tetapi belum terealisasi.

“Sebenarnya kami sudah lama berencana untuk berkunjung ke UM Bandung. Kami sangat ingin belajar bagaimana bisa menjadi kampus yang berinovasi. Dan kerja sama ini merupakan langkah awal UMRI untuk melakukan inovasi-inovasi seperti yang dilakukan Pak Rektor semasa menjadi Rektor di IPB dulu dan di UM Bandung sekarang,” katanya.

Lebih lanjut Rektor UMRI menyampaikan hasratnya untuk mengirim mahasiswa UMRI belajar ke UM Bandung dalam skema pertukaran mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Sinergi dalam kemajuan

Sementara itu Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto merasa senang bisa berkunjung ke UMRI. Ia menegaskan bahwa sudah seharusnya sesama PTMA untuk bersinergi dalam kemajuan.

“UM Bandung masih berusia 6 tahun. Tapi alhamdulillah kami sudah memiliki 18 program studi. Agar cita-cita besar UM Bandung terwujud untuk melahirkan para teknopreneur muda Islami, yang selain memiliki kemampuan akademis, tapi juga memiliki sikap mental dan entrepreneur skill/kewirausahaan, maka kerja sama dengan UMRI ini menjadi suatu keharusan,” jelas mantan Rektor IPB ini.

Lebih lanjut Rektor UM Bandung menjelaskan tentang pengalamannya di IPB dulu tentang pentingnya menumbuhkan kesadaran dosen untuk berinovasi.

Hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan reward kepada dosen berprestasi sehingga bisa memotivasi dosen lainnya untuk ikut berinovasi.

UMKM Center

Ide lainnya yang bisa dilakukan UMRI sesuai pemaparan Rektor UM Bandung adalah membentuk UMKM Center berbasis teknologi yang bisa menjadi kebanggaan sivitas akademika UMRI.

Selain membuat usaha-usaha, UMKM Center ini nantinya juga diharapkan mampu membuat database produk-produk yang digunakan oleh warga Muhammadiyah sehingga bisa diidentifikasi untuk dibuatkan platform yang menyediakan segala macam kebutuhan warga Muhammadiyah.

Dalam sesi diskusi dimana dari UMRI turut hadir para Wakil Rektor, Badan Pembina Harian, para dekan, lembaga, UPT, dan kantor, muncul ide-ide cemerlang yang bisa dilakukan UMRI ke depannya. Ide-ide ini disambut baik oleh seluruh pimpinan UMRI yang hadir.

Selanjutnya Rektor UMRI berencana mengirim tim untuk belajar langsung ke UM Bandung bagaimana inovasi-inovasi yang mereka lakukan sudah menghasilakan income generating yang sangat luar biasa.

Di antaranya pendirian perusahaan yang bergerak di bidang software adalah contoh nyata yang sudah dilakukan oleh UM Bandung.***

___

Sumber: umri.ac.id

Editor: FA

Administrator