Berita

Efisiensi Anggaran Perpusnas Jangan Sampai Mengorbankan Masa Depan Literasi Indonesia

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak membuat peran perpustakaan berkurang. Sebaliknya, perpustakaan justru menjadi fondasi utama dalam membangun budaya literasi, riset, dan berpikir kritis.

Hal itu disampaikan Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Muhsin Jazuli menanggapi kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Menurutnya, efisiensi anggaran merupakan kebijakan pemerintah yang perlu dihormati. Namun, Perpusnas tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran karena memiliki peran strategis dalam menopang pendidikan, penelitian, dan inovasi.

"Perpustakaan Nasional bukan beban, tetapi infrastruktur pengetahuan yang menopang lahirnya masyarakat pembelajar," ujar Muhsin.

Ia menilai anggapan bahwa AI akan menggantikan perpustakaan merupakan pemahaman yang keliru. AI dan perpustakaan justru saling melengkapi. AI mampu mengolah informasi dengan cepat, sedangkan perpustakaan menyediakan sumber pengetahuan yang kredibel sekaligus mengajarkan masyarakat membaca, memverifikasi informasi, dan berpikir kritis.

"AI ibarat mesin, sedangkan perpustakaan menyediakan bahan bakarnya berupa buku, jurnal, dan data yang telah dikurasi," katanya.

Muhsin mengingatkan, pengurangan investasi pada perpustakaan berisiko melemahkan fondasi literasi nasional. Padahal, kualitas AI juga bergantung pada data dan sumber ilmu yang berkualitas.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah terus memperkuat Perpusnas sebagai pusat literasi, riset, dan pengembangan pengetahuan. Menurutnya, perpustakaan merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan sumber daya manusia yang cerdas, inovatif, dan siap bersaing di era kecerdasan buatan.***

Administrator

Media Harus Jadi Penggerak Perubahan dalam Dunia Pendidikan

UMBANDUNG.AC.ID, Depok -- Pemberitaan pendidikan di Indonesia masih didominasi kabar tentang persoalan, mulai dari tawuran pelajar, perundungan, hingga polemik kebijakan pendidikan. Padahal, media memiliki peran yang jauh lebih besar, yakni menghadirkan solusi dan mendorong perubahan yang berdampak bagi masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Roni Tabroni MSi saat diskusi dan bedah buku "Jurnalisme untuk Kemanusiaan: Panduan Praktik Jurnalisme Filantropi" di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Depok, Kamis (30/7/2026).

Menurut Roni, dunia pendidikan membutuhkan pendekatan jurnalisme yang tidak hanya berfokus pada kritik, tetapi juga mengangkat praktik baik dan mengawal lahirnya solusi.

"Jurnalisme filantropi tidak berhenti pada pemberitaan masalah. Media harus mampu menghadirkan dampak, memperkuat kolaborasi, dan mendorong perubahan yang bermanfaat bagi pendidikan," ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan sebuah berita tidak semestinya diukur dari jumlah pembaca atau tingkat viralitas, tetapi dari kontribusinya dalam memperbaiki kualitas pendidikan.

Roni juga menilai masih banyak kisah inspiratif yang belum mendapat perhatian, seperti dedikasi para guru yang terus mengabdi meski menghadapi berbagai keterbatasan.

Menurutnya, cerita-cerita tersebut layak diangkat sebagai inspirasi sekaligus penggerak kepedulian publik.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pelaporan pascakebijakan agar masyarakat dapat mengetahui dampak nyata dari setiap kebijakan pendidikan.

Melalui buku yang ditulisnya, Roni menawarkan jurnalisme filantropi sebagai pendekatan yang menempatkan media bukan sekadar penyampai informasi.

Namun, mitra strategis dalam membangun pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas, humanis, dan berkelanjutan.***

Administrator

Integrasi AI dalam Dunia Farmasi Harus Diimbangi Regulasi dan Sentuhan Humanis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah dunia kefarmasian. Profesi apoteker kini tidak lagi identik dengan meracik atau menyerahkan obat kepada pasien.

Namun, berkembang menjadi profesi strategis yang memadukan teknologi, regulasi, dan pelayanan klinis.

Hal tersebut disampaikan akademisi sekaligus content creator, Dila Anggraeni, dalam Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bertajuk "Navigasi Farmasi Modern: Persimpangan Antara Teknologi, Regulasi, dan Realitas Profesi" yang digelar di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, UM Bandung, Rabu (29/07/2026).

Menurut Dila, transformasi dunia farmasi saat ini didorong oleh pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah cara tenaga kesehatan bekerja sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

"Profesi ini telah berevolusi menjadi sistem kompleks yang didorong oleh kecanggihan digital, dibatasi hukum yang ketat, dan dihidupkan oleh keahlian klinis manusia," ujarnya.

Ia menjelaskan, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah membuka banyak peluang baru di bidang kefarmasian.

Teknologi tersebut mampu membantu memprediksi interaksi obat, mempercepat proses penemuan obat baru, hingga mendukung otomatisasi robotik dan layanan telepharmacy untuk mengurangi risiko human error.

Meski demikian, Dila menegaskan bahwa pemanfaatan AI di sektor kesehatan tidak boleh berjalan tanpa pengawasan.

Menurutnya, inovasi teknologi harus selalu berada dalam koridor regulasi yang jelas agar keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama.

"Sektor kesehatan menuntut transisi dari sistem AI kotak hitam menuju sistem berbasis aturan klinis yang transparan dan dapat diaudit demi keamanan pasien," tegasnya.

Selain tantangan regulasi, dunia farmasi juga dihadapkan pada persoalan di lapangan, seperti tingginya beban kerja tenaga kesehatan yang berpotensi menimbulkan burnout.

Di sisi lain, perguruan tinggi dituntut untuk menghadirkan kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital sekaligus memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai etika penggunaan AI.

Dila juga menyoroti perubahan peran apoteker yang kini semakin berorientasi pada pelayanan klinis.

Menurutnya, otomatisasi memungkinkan apoteker mengurangi pekerjaan administratif sehingga dapat lebih fokus memberikan konseling, edukasi kepada pasien, serta memperkuat kolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan sepenuhnya peran manusia dalam pelayanan kesehatan.

Verifikasi manual, pengecekan riwayat alergi, hingga penolakan pembelian antibiotik tanpa resep tetap membutuhkan pertimbangan profesional seorang apoteker.

"Navigasi farmasi modern adalah tentang bagaimana menggunakan teknologi yang cerdas untuk efisiensi, mematuhi regulasi demi keselamatan, dan mempertahankan kepedulian apoteker sebagai fondasi utama penyembuhan," pungkasnya.

Seminar nasional tersebut menjadi puncak rangkaian Dies Natalis ke-9 Himprofar UM Bandung yang mengusung semangat inovasi, kolaborasi, dan pengembangan kapasitas mahasiswa.

Wakil Ketua Himprofar Ahlamah Syifaul Fatinah mengatakan perjalanan sembilan tahun organisasi menjadi bukti semangat dan komitmen mahasiswa Farmasi UM Bandung untuk terus berkembang serta memberikan kontribusi nyata bagi civitas akademika.

Sementara itu, Ketua Program Studi Farmasi UM Bandung Mutiara Imansari mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan teknologi di bidang kefarmasian sekaligus memperluas jejaring dengan akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

"Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi wadah yang baik untuk memperluas kolaborasi dan membangun relasi positif dengan akademisi maupun mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi," tuturnya.***(FK)

Administrator

Jurnalisme Filantropi, Konsep Baru yang Menyatukan Media dan Gerakan Kemanusiaan

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Di tengah derasnya arus informasi dan disrupsi media digital, dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Roni Tabroni MSi menawarkan sebuah paradigma baru melalui buku terbarunya berjudul "Jurnalisme Filantropi: Media dan Visi Kesejahteraan" yang diterbitkan Penerbit Suara Muhammadiyah.

Buku tersebut diluncurkan dan dibedah dalam sebuah forum yang diselenggarakan Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Penerbit Suara Muhammadiyah di Aula Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (29/07/2026).

Roni menjelaskan, gagasan jurnalisme filantropi lahir dari kegelisahan akademiknya melihat dua fenomena besar yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Di satu sisi, dunia jurnalisme menghadapi tekanan akibat disrupsi digital dan banjir informasi.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia memiliki tradisi filantropi yang kuat, tetapi belum terhubung secara optimal dengan praktik jurnalistik.

Menurutnya, arus informasi yang melimpah belum tentu mampu menggerakkan perubahan sosial.

Selama ini, jurnalisme lebih banyak berhenti pada fungsi menyampaikan informasi dan kontrol sosial, tanpa mendorong masyarakat untuk terlibat secara nyata dalam penyelesaian persoalan.

"Buku ini digagas untuk menjembatani dua potensi besar tersebut. Dengan konsep jurnalisme filantropi, saya menawarkan sebuah disiplin keilmuan baru yang bersifat interdisipliner serta melahirkan paradigma dan konsep baru dalam bidang jurnalisme," ujarnya.

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menegaskan, jurnalisme filantropi tidak berhenti pada pelaporan fakta atau pemberitaan tentang penderitaan masyarakat.

Lebih dari itu, media didorong untuk mengawal isu hingga mampu memobilisasi kepedulian publik dan mendorong lahirnya aksi kolektif dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Baginya, peran media tidak hanya menjadi saksi atas sebuah masalah, tetapi juga menjadi bagian dari proses perubahan.

Oleh karena itu, keberhasilan jurnalisme filantropi diukur dari dampak nyata yang dihasilkan, yakni ketika persoalan yang diangkat dapat diselesaikan dan melahirkan perubahan sosial.

"Ukuran keberhasilan jurnalisme filantropi bukan pada banyaknya berita atau seberapa viral sebuah pemberitaan, tetapi pada seberapa besar dampaknya bagi kehidupan masyarakat. Jurnalisme filantropi juga memiliki keberpihakan yang tegas, yakni pada kebenaran, kemanusiaan, dan kesejahteraan sosial," pungkas Roni.***(FA)

Administrator

UM Bandung Jadikan KKN Laboratorium Kepemimpinan dan Pemberdayaan Masyarakat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menegaskan komitmennya menjadikan kuliah kerja nyata (KKN) sebagai ruang pembelajaran yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

Tahun ini, sebanyak 1.200 mahasiswa akan diterjunkan ke 44 desa dan kelurahan di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung dengan membawa misi pemberdayaan berbasis potensi lokal.

Pengabdian yang melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi tersebut tidak hanya bertujuan menjalankan kewajiban akademik. Namun, memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan masyarakat. 

Salah satu fokus utama KKN 2026 ialah Verifikasi Faktual Data Anak Tidak Sekolah (ATS) sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Barat.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung Ijang Faisal mengatakan, mahasiswa perlu memandang KKN sebagai proses belajar yang sesungguhnya.

Menurutnya, masyarakat merupakan ruang pembelajaran yang tidak dapat digantikan oleh perkuliahan di dalam kelas.

"Pembekalan KKN bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal transformasi mahasiswa dari pembelajar di ruang kelas menjadi pembelajar di tengah laboratorium terbesar kehidupan, yaitu masyarakat," ujarnya saat pembekalan KKN 2026 di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan pada Selasa (28/7/2026).

Ia menekankan bahwa keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan. Namun, dari kemampuan mahasiswa membangun hubungan yang baik dengan masyarakat.

Oleh karena itu, peserta diminta menjaga akhlak, kedisiplinan, dan nama baik almamater selama berada di lokasi pengabdian.

Ijang juga mengingatkan agar mahasiswa tidak datang dengan posisi merasa paling tahu.

Sebaliknya, mereka harus mampu membangun komunikasi yang santun, memahami kebutuhan warga, lalu bersama-sama mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Jangan datang untuk menggurui masyarakat. Namun, datanglah untuk mendengar, memahami, lalu membersamai mereka dalam menemukan solusi yang memberikan manfaat nyata," tegasnya.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menambahkan, mahasiswa yang terjun ke lapangan membawa peran sebagai representasi kampus sekaligus calon pemimpin masa depan.

Oleh karena itu, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi bekal penting untuk memahami persoalan riil yang terjadi di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi.

Menurutnya, program prioritas berupa verifikasi data anak tidak sekolah menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menghasilkan data yang akurat sekaligus memahami kondisi sosial masyarakat secara langsung.

"Saya harapkan para mahasiswa belajar memahami fenomena di tengah masyarakat. Tolong dicek betul data-data seperti anak tidak sekolah di lapangan agar mahasiswa memahami keadaan masyarakat yang sebenarnya," ujar Herry.

Melalui KKN 2026 yang mengusung tema "Inovasi Berbasis Potensi Lokal untuk Desa Mandiri dan Berkelanjutan", UM Bandung ingin memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan masyarakat.

Pengabdian tidak berhenti pada pelaksanaan program kerja, tetapi diarahkan untuk melahirkan solusi yang relevan, membangun kolaborasi dengan warga, dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan.***(FK)

Administrator

UM Bandung Kirim Delegasi Lintas Prodi untuk Bangun Desa Berkemajuan di Malang

UMBANDUNG.AC.ID, Malang -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat.

Sebanyak 60 mahasiswa resmi diberangkatkan untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Antar Semester (KKN MAS) Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) 2026 yang akan berlangsung di sejumlah desa di Kabupaten Malang.

Pelepasan peserta dilakukan dalam rangkaian Pelepasan KKN 2026 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (28/7/2026).

Kegiatan ini mempertemukan peserta dari empat skema KKN, yakni KKN Reguler Berdampak, KKN MAS, KKN Internasional, dan KKN Gentaskin, dengan tema besar "Penguatan Masyarakat Desa yang Berkelanjutan melalui Pemberdayaan SDM dan Potensi Lokal."

Pada KKN MAS tahun ini, delegasi UM Bandung mengusung tema "Mewujudkan Desa Berkemajuan melalui Ketahanan Pangan dan Penguatan Potensi Lokal."

Selama masa pengabdian hingga 3 September 2026, mahasiswa akan melaksanakan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan, pengembangan potensi lokal, serta peningkatan kapasitas masyarakat desa di Kabupaten Malang.

Delegasi UM Bandung terdiri atas 60 mahasiswa dari sebelas program studi lintas fakultas. Prodi Psikologi menjadi penyumbang peserta terbanyak dengan 17 mahasiswa, disusul Prodi Manajemen sebanyak 13 mahasiswa.

Selebihnya berasal dari Prodi Akuntansi, Ilmu Komunikasi, Farmasi, Teknologi Pangan, Administrasi Publik, Bioteknologi, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Pendidikan Agama Islam, serta Pendidikan Islam Anak Usia Dini.

Seluruh peserta didampingi empat Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Iis Dewi Fitriani, Nurlaela Hamidah, Hani Humaeriyah, dan Yuti Yuniarti.

Sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian, seluruh delegasi mengikuti prosesi pelepasan di kampus UMM yang ditandai dengan foto bersama di depan UMM Dome.

Momen tersebut menjadi simbol dimulainya pengabdian mahasiswa UM Bandung dalam membawa kompetensi akademik dan semangat kolaborasi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pada kesempatan itu, Ketua Bidang Pendidikan, Kebudayaan, dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, secara resmi melepas 1.601 mahasiswa dari 59 PTMA se-Indonesia.

Ia menegaskan bahwa KKN bukan sekadar agenda akademik, melainkan wujud komitmen kader Muhammadiyah untuk menghadirkan solusi bagi umat, bangsa, dan negara melalui aksi nyata di tengah masyarakat.

Irwan juga mendorong mahasiswa untuk memberikan perhatian pada isu-isu strategis, seperti penguatan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas pendidikan, dan digitalisasi desa.

Menurutnya, keberhasilan KKN tidak diukur dari banyaknya program kerja atau tebalnya laporan, melainkan dari sejauh mana kehadiran mahasiswa mampu memberikan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Senada dengan itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur Dyah Sawitri menyebut mahasiswa peserta KKN MAS sebagai agent of change yang diharapkan mampu berkontribusi dalam penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, pemberdayaan UMKM, ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, penurunan stunting, hingga pemanfaatan sains dan teknologi sebagai solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

Sementara itu, Rektor UMM Nazaruddin Malik menegaskan bahwa penyelenggaraan KKN PTMA berlandaskan teologi Al-Ma'un sebagai ruh gerakan Muhammadiyah dalam membangun kepedulian sosial.

Ia berharap seluruh peserta, termasuk delegasi UM Bandung, mampu menjadi kader intelektual yang unggul secara akademik, berjiwa kepemimpinan, serta memiliki semangat pengabdian untuk mewujudkan masyarakat dan desa yang semakin maju.***

Administrator