Berita

Kecerdasan Hakiki dalam Pandangan Islam Tak Hanya Soal Intelektual

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pemahaman tentang kecerdasan selama ini kerap dibatasi pada kemampuan intelektual atau kecakapan berpikir. Padahal, dalam perspektif Islam, kecerdasan memiliki makna yang lebih luas, mencakup dimensi spiritual, emosional, serta kesiapan manusia menghadapi kehidupan setelah kematian.

Hal tersebut disampaikan Kaprodi PAI Universitas Muhammadiyah Bandung Iim Ibrohim dalam kajian rutin di Masjid Mujahidin, Jalan Sancang Nomor 6, Kota Bandung, Senin (11/05/2026). Menurutnya, Islam menawarkan cara pandang yang lebih utuh mengenai hakikat kecerdasan manusia.

Dalam kesempatan itu, Iim mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat kesehatan dan kesempatan hidup yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa taala. Menurutnya, rasa syukur tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, tetapi perlu tercermin dalam upaya memperbaiki diri melalui ibadah, amal saleh, dan peningkatan kualitas spiritual.

“Selama Allah masih memberikan kesehatan dan kesempatan hidup, maka itu adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Jangan sampai umur yang Allah berikan berlalu tanpa mendekatkan diri kepada-Nya,” ujarnya.

Iim menjelaskan, masyarakat sering memaknai kecerdasan sebatas kemampuan akademik dan pencapaian duniawi. Padahal, Islam memandang kecerdasan sebagai kesatuan antara kemampuan berpikir, kedalaman iman, serta kematangan akhlak.

Ia menambahkan, Rasulullah SAW telah memberikan ukuran berbeda mengenai kemuliaan seorang mukmin. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, atau luasnya pengetahuan, melainkan oleh kualitas akhlaknya. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa sebaik-baik mukmin adalah mereka yang memiliki akhlak terbaik.

Lebih lanjut, Iim mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan ciri mukmin paling cerdas, yakni mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.

Menurutnya, hadis tersebut memberikan pesan mendalam bahwa kecerdasan hakiki tidak berhenti pada keberhasilan membangun masa depan dunia, melainkan juga kesiapan menghadapi kehidupan akhirat.

“Kecerdasan hakiki menurut Islam bukan sekadar kecerdasan akademik atau keberhasilan dunia. Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya,” katanya.

Ia menegaskan, kesadaran terhadap kematian bukanlah ajakan untuk hidup dalam ketakutan atau kecemasan. Sebaliknya, kesadaran tersebut dapat menjadi sarana refleksi agar manusia lebih memahami makna kehidupan dan menggunakan waktu yang dimiliki secara lebih bijaksana.

Menurut Iim, seseorang yang menyadari bahwa hidup memiliki batas waktu akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih bertanggung jawab terhadap setiap keputusan, serta lebih sungguh-sungguh dalam memperbaiki hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.

Dalam kajiannya, Iim juga menyinggung penjelasan Al-Qur’an mengenai perjalanan hidup manusia. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 28 yang menggambarkan proses manusia dari ketiadaan, kemudian dihidupkan, dimatikan, dan kelak dibangkitkan kembali.

Ayat tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi ibadah sepanjang hayat. Mengutip Surah Al-Hijr ayat 99, Iim menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk terus beribadah hingga datangnya kematian.

“Ibadah tidak mengenal masa pensiun. Sampai ajal datang, manusia diperintahkan untuk terus menjaga hubungan dengan Allah dan menjaga hubungan baik dengan sesama,” tuturnya.

Iim juga mengingatkan bahwa kematian merupakan ketentuan yang pasti dan tidak mengenal usia, jabatan, ataupun kondisi fisik. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu datangnya ajal selain Allah SWT, persiapan spiritual tidak seharusnya ditunda.

Menutup kajiannya, Iim mengajak jamaah menjadikan ingatan terhadap kematian sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperbaiki amal, bukan sebagai sumber kecemasan.

“Orang yang benar-benar mengingat kematian akan lebih berhati-hati menjaga amal, menjauhi maksiat, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan terus berharap meraih rida Allah. Dengan begitu, hidup menjadi lebih tenang, lebih bermakna, dan penuh keberkahan,” pungkasnya.***

Administrator

Kalahkan Ribuan Mahasiswa, Althof dari UM Bandung Raih Tiket Google Student Ambassador 2026

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siapa sangka, rasa penasaran gara-gara sering scrolling media sosial bisa berbuah pencapaian besar.

Itulah yang dialami Nisa Aghnia Nurul Al Thof, atau yang biasa disapa Althof, mahasiswi prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang berhasil menembus seleksi ketat Google Student Ambassador (GSA) 2026. 

Dari lebih dari 81.800 mahasiswa yang mendaftar dari sekitar 1.900-an universitas se-Indonesia, hanya 2.000 orang yang terpilih dan Althof jadi salah satunya.

Ceritanya sederhana. Althof sering melihat informasi soal GSA berseliweran di media sosial, dan rasa penasaran itu akhirnya mendorongnya untuk mencari tahu lebih jauh.

Dia mulai menelusuri akun resmi GSA, membaca pengalaman para alumni tahun sebelumnya, lalu pelan-pelan memahami sendiri pola dan proses seleksinya, dari nol, secara mandiri.

Perjalanan Althof tentu bukan tanpa hambatan. Masa onboarding GSA ternyata bentrok dengan jadwal lomba yang sedang dia ikuti, sehingga dia harus pintar-pintar membagi waktu antara dua hal sekaligus.

Belum lagi, dia mengaku belum punya pengalaman sebagai content creator, salah satu bagian dari proses seleksi GSA. Tapi justru di situlah serunya. 

Tantangan itu malah jadi ruang belajar baru bagi Althof, yang akhirnya terjun langsung ke dunia pembuatan konten digital dan personal branding lewat pendekatan learning by doing.

Program GSA sendiri ternyata bukan cuma soal teknologi dan kecerdasan buatan. Althof mengaku banyak hal lain yang dia petik selama mengikuti program ini, mulai dari kemampuan komunikasi, kreativitas, hingga cara beradaptasi di era digital yang terus bergerak cepat. 

"Program Google Student Ambassador sendiri mendorong para mahasiswa untuk menjadi agen perubahan di lingkungan kampus dengan membawa semangat inovasi, kolaborasi, dan literasi teknologi yang lebih luas," ujarnya di kampus UM Bandung, Jumat (15/05/2026).

Ada satu pesan yang rupanya membekas kuat di benak Althof sejak inaugurasi Google, "jangan mendegradasi otak dengan AI." 

Baginya, kalimat itu bukan larangan, tapi pengingat penting. AI seharusnya jadi alat bantu untuk mendongkrak produktivitas dan kreativitas, bukan pelarian dari kerja berpikir kritis. 

Ke depan, Althof berharap kehadiran GSA di kampus bisa mendorong lebih banyak mahasiswa memanfaatkan AI secara bijak, maksimal dalam konteks akademik, tapi tetap dalam koridor regulasi yang berlaku.

Karena pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun saat ini, tetap saja membutuhkan manusia atau SDM yang mau berpikir.***

Administrator

Dosen UM Bandung Kenalkan Konsep Islamic Academic Climate di Panggung Akademik Global

UMBANDUNG.AC.ID, Thailand -- Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Nurlaela Hamidah, kembali menorehkan kiprah akademik di tingkat internasional.

Ia tampil sebagai presenter dalam seminar internasional yang diselenggarakan di Faculty of Social Sciences and Humanities, Mahidol University, Salaya, Thailand, Selasa (12/05/2026).

Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan beragam isu strategis global, mulai dari persoalan sosial, pendidikan, kesehatan mental, hingga tantangan lingkungan di era modern. 

Di tengah ruang akademik yang mempertemukan berbagai perspektif keilmuan itu, Nurlaela membawa gagasan yang menawarkan pendekatan baru dalam psikologi pendidikan, khususnya dari perspektif nilai-nilai Islam.

Dalam forum tersebut, Nurlaela mempresentasikan artikel ilmiah berjudul “Goal Orientation, Student Engagement, and Academic Climate in Higher Education: A Systematic Literature Review Toward Conceptualizing Islamic Academic Climate as a Moderator.”

Penelitian yang dipresentasikannya merupakan hasil kajian berbasis Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis bibliometrik menggunakan perangkat VOSviewer.

Pendekatan ini digunakan untuk memetakan perkembangan penelitian serta mengidentifikasi arah kecenderungan kajian dalam bidang psikologi pendidikan.

Kajian tersebut berangkat dari sebuah temuan penting: pembahasan mengenai iklim akademik selama ini lebih banyak dibangun dari perspektif Barat dan sekuler.

Sementara itu, dimensi nilai dan spiritualitas Islam masih relatif jarang dihadirkan sebagai variabel formal dalam model ilmiah.

Berangkat dari celah tersebut, Nurlaela menawarkan konsep Islamic Academic Climate atau iklim akademik Islami sebagai variabel moderator yang dapat menjelaskan dinamika proses belajar mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam secara lebih komprehensif dan terukur.

Penelitian dilakukan dengan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) melalui tahapan identifikasi, penyaringan, kelayakan, hingga proses inklusi literatur.

Sumber kajian diperoleh dari dua basis data internasional bereputasi, yaitu Scopus dan Web of Science. Data kemudian dianalisis menggunakan beberapa pendekatan bibliometrik, seperti keyword co-occurrence, co-authorship, citation, dan co-citation analysis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian mengenai goal orientation, student engagement, dan academic climate kini berkembang menjadi bidang multidimensional yang tidak lagi hanya menyoroti aspek psikologis individu, tetapi melibatkan dimensi sosial, kontekstual, hingga aspek nilai.

Menariknya, pemetaan menggunakan VOSviewer menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam penelitian pendidikan.

Jika sebelumnya pendekatan individual lebih dominan, kini berkembang menuju perspektif ekologis yang lebih holistik dan mempertimbangkan berbagai faktor lingkungan.

Nurlaela menjelaskan bahwa konsep Islamic Academic Climate yang ditawarkannya bekerja melalui empat mekanisme utama.

Pertama, memperkuat mastery goal orientation melalui internalisasi nilai ihsan, sehingga mahasiswa terdorong memaknai aktivitas belajar sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian.

Kedua, mengurangi dampak negatif performance-avoidance melalui atmosfer rahmah yang menciptakan lingkungan akademik aman secara psikologis.

Ketiga, membangun sense of academic community melalui semangat ukhuwah akademik yang mendorong kolaborasi serta solidaritas antarmahasiswa.

Keempat, menghadirkan makna transendental dalam proses pembelajaran sehingga motivasi intrinsik mahasiswa menjadi lebih kuat, mendalam, dan berkelanjutan.

Konsep tersebut tidak berdiri sendiri. Nurlaela menjelaskan bahwa gagasannya diperkuat oleh berbagai penelitian empiris dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia.

Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasis Islam, supervisi akademik, serta iklim organisasi yang berlandaskan nilai Islam memiliki kontribusi signifikan terhadap kualitas atmosfer akademik.

Menurut Nurlaela, penelitian ini memiliki kontribusi pada dua level sekaligus: teoretis dan praktis. Dari sisi teoretis, penelitian ini memperluas literatur global mengenai iklim akademik dengan memasukkan dimensi nilai dan spiritualitas Islam.

Sementara dari sisi praktis, penelitian tersebut menawarkan kerangka analisis yang lebih relevan secara kultural bagi pengambil kebijakan di perguruan tinggi Islam, termasuk di lingkungan Universitas Muhammadiyah.

“Perguruan tinggi Islam memiliki modal nilai yang sangat kaya. Sudah saatnya modal itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi dikonseptualisasikan secara ilmiah dan diintegrasikan dalam model-model psikologi pendidikan,” ujar Nurlaela dalam presentasinya.

Presentasi tersebut mendapatkan respons positif dari peserta seminar internasional. Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif, melibatkan akademisi serta praktisi lintas negara yang mendalami posisi konstruk berbasis nilai keislaman dalam kerangka psikologi pendidikan modern.

Partisipasi Nurlaela di Mahidol University juga menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi akademisi Indonesia di panggung global.

Sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Asia Tenggara, Mahidol University selama ini dikenal sebagai ruang strategis bagi kolaborasi akademik lintas disiplin dan lintas budaya.

Keikutsertaan Nurlaela dalam forum tersebut sekaligus mencerminkan komitmen Universitas Muhammadiyah Bandung dalam mendorong lahirnya akademisi yang tidak hanya unggul secara intelektual.

Namun, mampu menghadirkan perspektif keilmuan Islam berkemajuan dalam percakapan akademik dunia.***

Administrator

Budaya Populer Bisa Menjadi Media Dakwah yang Efektif

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi KPI Universitas Muhammadiyah Bandung Ahmad Rifai menilai fenomena lagu viral dan budaya populer saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai hiburan sesaat yang muncul lalu menghilang. 

Menurutnya, di balik popularitas sebuah karya sering tersimpan pesan sosial, nilai kemanusiaan, hingga refleksi keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Ahmad Rifai saat mengisi Program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (12/05/2026).

Dalam kesempatan itu, ia mengangkat lagu viral Siti Marwani sebagai objek kajian budaya populer dari perspektif filsafat seni dan dakwah kultural.

Menurut Rifai, lagu yang ramai diperbincangkan di berbagai platform digital tersebut tidak sekadar menjadi fenomena hiburan biasa.

Ia menilai Siti Marwani menyimpan kritik sosial yang kuat serta menggambarkan berbagai persoalan yang dekat dengan realitas masyarakat.

"Fenomena budaya populer hari ini tidak bisa dipandang sekadar hiburan yang lewat begitu saja. Lagu viral sering kali menyimpan pesan sosial, kritik, bahkan suara masyarakat yang mungkin tidak tersampaikan melalui ruang-ruang formal,” ujar Ahmad Rifai.

Ia menjelaskan bahwa dalam filsafat seni terdapat dua pendekatan utama untuk membaca fenomena budaya populer.

Pertama, seni dipahami sebagai ekspresi yang menjadi ruang penyaluran emosi dan pengalaman otentik penciptanya.

Kedua, seni dipandang sebagai kritik sosial yang berfungsi menyuarakan ketidakadilan dan menghadirkan perlawanan simbolik terhadap realitas masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, karya seni tidak hanya dinikmati, tetapi juga dapat dimaknai secara lebih mendalam.

Rifai menilai salah satu alasan Siti Marwani mudah diterima masyarakat adalah karena memiliki kejujuran emosional yang kuat.

Meski dikemas secara sederhana, lagu tersebut dianggap mampu menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kadang-kadang masyarakat tidak mencari karya yang rumit. Mereka mencari sesuatu yang terasa dekat dengan pengalaman hidupnya. Kejujuran emosional itu yang membuat lagu seperti Siti Marwani mudah diterima,” kata Ketua LSBO PWM Jawa Barat tersebut.

Lebih jauh, Rifai menjelaskan bahwa lagu Siti Marwani juga memiliki dimensi identitas budaya yang kuat.

Nama tersebut disebut sebagai representasi masyarakat Sumatera Utara, khususnya Labuhan Batu, yang digunakan untuk menghubungkan pesan lagu dengan realitas sosial setempat.

Menurutnya, lirik lagu tersebut memuat kritik terhadap penyalahgunaan narkoba, ketidakadilan hukum, hingga ketimpangan ekonomi.

Mengaitkan hal itu dengan perspektif Muhammadiyah, Rifai menegaskan bahwa budaya populer dapat menjadi bagian dari dakwah kultural yang relevan di era digital.

“Dakwah hari ini perlu masuk ke ruang-ruang budaya populer dan media sosial. Selama substansi nilainya baik dan membawa pesan kebaikan, budaya dapat menjadi jembatan dakwah yang efektif,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Penelitian tentang TikTok dan Quarter-life Crisis Antar Mahasiswa UM Bandung Raih Prestasi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Tim mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Bandung yang terdiri atas Adelia Puspita, Aghnia Nurul Al Thof, dan Talitha Syifa Salsabila berhasil meraih prestasi pada Konferensi Nasional ke-10 Peneliti Muda Psikologi Indonesia yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UHAMKA pada 23–25 April 2026.

Dalam ajang tersebut, mereka meraih penghargaan kategori Artikel Terbaik melalui karya ilmiah berjudul “Resiliensi sebagai Buffer dalam Hubungan antara Intensitas Penggunaan TikTok dan Quarter-life Crisis pada Dewasa Awal.”

Adelia Puspita mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut. Dia mengatakan proses penelitian berlangsung selama kurang lebih dua bulan dan memberikan banyak pengalaman tentang pentingnya kerja sama, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi dalam tim.

“Awalnya kami fokus mencari alat ukur yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, lalu membagi tugas dan mengerjakan bagian masing-masing. Walaupun prosesnya cukup panjang, kami tetap saling membantu agar semuanya selesai tepat waktu,” ujar Adelia di kampus UM Bandung, Senin (11/05/2026).

Menurut Adelia, tantangan terbesar dalam penelitian adalah mencari partisipan yang sesuai target. Selain itu, perbedaan jadwal kuliah antaranggota tim juga membuat mereka cukup kesulitan menentukan waktu diskusi sehingga komunikasi harus dilakukan secara bergantian.

Meski demikian, seluruh anggota tim tetap saling mendukung dan berbagi peran sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari mencari partisipan, menyusun data, hingga mengatur jalannya diskusi kelompok.

Dosen pendamping tim, Novita Sari, mengapresiasi kerja keras para mahasiswa. Dia menjelaskan penelitian tersebut awalnya berasal dari tugas perkuliahan yang kemudian dikembangkan lebih lanjut karena melihat potensi dan kesungguhan tim selama proses pengerjaan.

“Bagi saya, penghargaan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghasilkan karya yang baik ketika diberi ruang untuk berkembang dan berani menjalani prosesnya dengan sungguh-sungguh,” tandas Novita.***(FA)

 

Administrator

Dosen UM Bandung Serukan Kurban Berkualitas, Ikhlas, dan Minim Sampah Plastik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman mengajak masyarakat memaknai ibadah kurban tidak hanya sebagai ritual penyembelihan hewan.

Namun, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Dalam kajian GSM Aisyiyah Jawa Barat pada Jumat (08/05/2026), Buya Cecep, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa Islam mengajarkan banyak jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Menurutnya, amalan kecil sekalipun dapat bernilai besar apabila dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh keikhlasan.

“Memotong hewan di hari Idul Adha dan hari Tasyrik bukan satu-satunya cara mendekatkan diri kepada Allah, melainkan salah satu media ibadah. Dekat dengan Allah bukan secara fisik, tetapi secara spiritual,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa kedekatan spiritual dengan Allah dapat dimaknai sebagai usaha menjadi pribadi yang mulia, memperoleh keberkahan hidup, dan mendapatkan perhatian dari Allah.

Buya Cecep mengibaratkan kedekatan itu seperti seorang anak yang merasa tenteram berada di dekat orang tuanya atau murid yang nyaman bersama gurunya.

Dalam pemaparannya, Buya Cecep juga menjelaskan istilah kurban dalam perspektif fikih. Dia menyebut bahwa istilah yang tepat untuk hewan yang disembelih pada hari Nahar dan Tasyrik adalah “udhiyah” atau “adahi”, sedangkan kurban merupakan tujuan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dia mengutip pendapat Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqhus Sunah yang menjelaskan bahwa udhiyah adalah hewan seperti unta, sapi, atau kambing yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha dan hari Tasyrik sebagai bentuk taqarub kepada Allah.

Selain menjelaskan aspek fikih, Buya Cecep juga menyoroti pentingnya keikhlasan dan kualitas dalam berkurban. Dia mengangkat kisah Kabil dan Habil dalam Surah Al-Maidah ayat 27 sebagai pelajaran tentang makna ketakwaan dan pengorbanan terbaik di hadapan Allah.

Menurutnya, Allah tidak melihat bentuk fisik kurban semata, melainkan ketulusan hati dan kualitas pengorbanan dari orang yang melaksanakannya.

“Dalam berkurban harus memberikan yang terbaik dari hasil yang halal, bukan sesuatu yang asal-asalan atau dipaksakan. Yang sampai kepada Allah bukan darah dan dagingnya, melainkan ketakwaannya,” katanya.

Buya Cecep juga menegaskan bahwa hewan kurban harus dibeli menggunakan harta pribadi yang halal. Sebab, ibadah kurban merupakan ibadah personal yang membutuhkan niat tulus dari individu yang berkurban.

Tak hanya itu, dia mengajak masyarakat untuk menghadirkan nilai sosial dan kepedulian lingkungan dalam pelaksanaan kurban.

Dia mendorong umat Islam untuk membagikan daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan sekaligus menggunakan pembungkus ramah lingkungan guna mengurangi sampah plastik saat distribusi daging kurban.

Menurutnya, semangat kurban sejatinya mengajarkan manusia untuk peduli kepada sesama dan menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.***(FA)

Administrator