Berita

Kuliah Agribisnis di UM Bandung, Belajar Teori Sekaligus Berani Bangun Bisnis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Apa jadinya kalau kuliah bukan cuma soal mengejar nilai, tetapi juga menjadi tempat untuk mencoba membangun bisnis?

Hal itulah yang dirasakan Albar Yuwar Dhanuwinata, mahasiswa Prodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Ketua Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri).

Baginya, kuliah Agribisnis terasa menarik karena mahasiswa tidak hanya belajar teori. Namun, mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

Salah satu pengalaman tersebut hadir melalui mata kuliah pengembangan bisnis. Mahasiswa diajak menyusun rencana usaha sekaligus mencoba menjalankannya secara berkelompok.

Mulai dari menentukan produk, mengatur proses produksi, menyusun strategi pemasaran, hingga memikirkan pengembangan usaha.

Dengan begitu, mahasiswa bisa merasakan sendiri bagaimana sebuah bisnis dibangun, termasuk ketika menghadapi kendala atau mengalami kegagalan.

“Enggak cuma belajar teori di kelas, tetapi langsung praktik bikin usaha. Dari semester ke semester, mahasiswa dibimbing membuat rencana bisnis sampai benar-benar menjalankan usaha kecil-kecilan secara berkelompok,” ujar Albar di UM Bandung, Senin (7/9/2026).

Pengalaman praktik juga hadir melalui kegiatan lapangan. Mahasiswa bisa turun langsung ke kebun, mengunjungi UMKM mitra, melakukan observasi, hingga membuat produk sendiri untuk dipasarkan.

Suasana belajar pun menjadi lebih dekat dengan persoalan nyata. Mahasiswa dapat melihat bagaimana petani bekerja, memahami kebutuhan pasar, sekaligus belajar mencari solusi ketika menemukan masalah di lapangan.

Bagi Albar, pengalaman seperti ini menjadi bekal penting karena dunia kerja dan bisnis tidak selalu berjalan sesuai teori.

Mahasiswa perlu terbiasa mengambil keputusan, berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan beradaptasi dengan kondisi yang berubah.

Menariknya, pembelajaran Agribisnis juga tidak berhenti pada kegiatan produksi pertanian.

Mahasiswa mempelajari sektor pertanian secara lebih menyeluruh, mulai dari hulu, proses produksi atau on farm, hingga hilir.

Di dalamnya terdapat pembelajaran tentang kewirausahaan, manajemen, pemasaran, keuangan, analisis bisnis, hingga kepemimpinan.

Bekal tersebut membuat mahasiswa memiliki ruang yang lebih luas untuk mengeksplorasi minat dan potensinya.

Selain perkuliahan, pengalaman mahasiswa juga berkembang melalui organisasi. Himagri menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan yang dibutuhkan di dunia profesional.

Mulai dari belajar memimpin tim, mengelola kegiatan, menyusun program, membangun komunikasi, hingga memperluas jejaring.

“Di Himagri, mahasiswa belajar leadership, project management, dan jejaring yang enggak selalu didapat di ruang kelas,” kata Albar.

Sebagai mahasiswa di kampus Muhammadiyah, Albar juga melihat adanya bekal lain yang menarik, yakni penerapan prinsip syariah dalam aktivitas bisnis. Pengetahuan tersebut dapat dipadukan dengan jejaring Muhammadiyah yang luas.

Artinya, mahasiswa tidak hanya diajak memahami bagaimana bisnis bisa tumbuh. Namun, bagaimana bisnis dijalankan dengan etika dan memberi manfaat.

Buat calon mahasiswa yang masih menganggap Agribisnis hanya berkaitan dengan pertanian, Albar punya pandangan berbeda.

Menurutnya, lulusan Agribisnis memiliki banyak pilihan karier. Mereka bisa menjadi entrepreneur di bidang perkebunan, kehutanan, pangan, hortikultura, hingga industri agro.

Peluang lainnya terbuka sebagai konsultan, peneliti, akademisi, fasilitator pemberdayaan masyarakat, birokrat, manajer operasional, analis bisnis, spesialis pemasaran, maupun konsultan agribisnis.

“Peluang kerja atau jejaring di Prodi Agribisnis luas banget. Jadi, tidak perlu khawatir soal masa depan di Prodi Agribisnis UM Bandung,” ungkapnya.

Albar sendiri tidak hanya membicarakannya. Ilmu yang diperoleh di kampus sedang ia coba terapkan melalui usaha kopi yang tengah dirintisnya.

Di luar itu, ia juga aktif mengamati aktivitas petani dan berbagai pemangku kepentingan di sektor pertanian serta bergabung dalam komunitas Gerengseng to Smart People.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin melihat bahwa Agribisnis punya banyak pintu untuk berkembang.

Ada pertanian, bisnis, inovasi, pemasaran, teknologi, organisasi, hingga peluang menjadi seorang entrepreneur.

Pada akhirnya, kuliah di Agribisnis UM Bandung bukan hanya tentang mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan setelah lulus.

Lebih dari itu, mahasiswa diberi ruang untuk mencoba, membangun pengalaman, mengembangkan jaringan, dan bahkan mulai menciptakan peluangnya sendiri sejak masih menjadi mahasiswa.***(FK/FA)

Administrator

Kuliah Tak Sekadar Teori, Pengalaman M2BEE Buka Jalan Karier Chandra

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Bagi Chandra Kurniawan, belajar Teknik Industri tidak cukup hanya memahami teori di ruang kelas. Ada saatnya ilmu yang dipelajari harus dicoba langsung untuk melihat bagaimana ia bekerja di dunia nyata.

Kesempatan itu datang ketika mahasiswa Prodi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung tersebut terpilih mengikuti Mentoring and Micro-Credential in Building Energy Efficiency (M2BEE), sebuah program yang memperkenalkan mahasiswa pada dunia efisiensi energi bangunan.

Program ini merupakan kolaborasi Direktorat Konservasi Energi, Ditjen EBTKE Kementerian ESDM bersama UK PACT, IREEM, dan LSP HAKE. Kegiatannya melibatkan mahasiswa dari enam perguruan tinggi di Indonesia.

Chandra mengaku awalnya mendapat tawaran dari dosen untuk mengikuti seleksi internal yang ditujukan bagi mahasiswa Teknik Industri dan Teknik Elektro angkatan 2023. Dari proses tersebut, ia akhirnya terpilih dan bergabung dalam tim UM Bandung.

“Alhamdulillah saya lolos dan bergabung dalam tim yang terdiri dari tiga mahasiswa Teknik Industri, dua mahasiswa Teknik Elektro, dan didampingi oleh Pak Budiyan Mariyadi sebagai dosen pembimbing,” ujar Chandra, Senin (7/9/2026).

Belajar Audit Energi dari Lapangan

M2BEE bukan sekadar pelatihan di dalam kelas. Selama sekitar tiga bulan, Chandra dan timnya mengikuti mentoring mingguan serta pelatihan secara daring dan luring bersama tenaga ahli dan tim IREEM.

Dari proses tersebut, mereka kemudian mendapat kesempatan melakukan trial audit di Gedung Kementerian ESDM di Jakarta. Pengalaman ini membuat Chandra dan tim bisa melihat secara langsung bagaimana audit energi dilakukan di lingkungan gedung.

Di UM Bandung sendiri, tim mendapat tugas melakukan audit energi pada gedung kampus. Mereka mengamati berbagai aspek penggunaan energi, mulai dari sistem pencahayaan, tata udara atau pendingin ruangan, hingga sistem kelistrikan.

Pengalaman belajar juga diperluas melalui kunjungan ke Gedung Wisma Danantara di Jakarta. Di sana, tim UM Bandung mendapat gambaran mengenai penerapan green building dan sistem manajemen energi yang dapat menjadi referensi dalam pengelolaan gedung.

Setelah melalui berbagai tahapan tersebut, Chandra dan tim menyusun laporan audit energi sekaligus rekomendasi efisiensi untuk Gedung Kampus UM Bandung.

“Output akhir dari program ini adalah laporan audit energi dan penyampaian rekomendasi efisiensi energi kepada pengelola gedung kampus pada Juni lalu, yang diakhiri dengan closing ceremony di ajang EBTKE ConEx,” ungkapnya.

Melihat Peluang di Sektor Energi

Bagi Chandra, pengalaman mengikuti M2BEE tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi membuka pandangan baru tentang dunia kerja.

Ia melihat efisiensi energi sebagai bidang yang menarik karena masih belum banyak ditekuni mahasiswa, sementara kebutuhan terhadap pengelolaan energi yang lebih efisien terus berkembang.

Latar belakang Teknik Industri yang ia pelajari juga membuat bidang tersebut terasa relevan. Ia bisa melihat bagaimana kemampuan analisis, efisiensi proses, dan pemecahan masalah yang dipelajari di kampus ternyata dapat diterapkan dalam persoalan penggunaan energi.

“Saya melihat bidang ini sebagai peluang bagus untuk mengembangkan diri dan membuka jalan karier masa depan karena energi adalah bagian vital dalam kehidupan kita,” tuturnya.

Kini, Chandra berharap laporan dan rekomendasi yang telah disusun bersama tim tidak berhenti sebagai dokumen. Ia ingin hasil audit tersebut benar-benar dipertimbangkan dan diterapkan agar penggunaan energi di lingkungan kampus bisa semakin efisien.

Lebih jauh, ia berharap pengalaman yang diperolehnya dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk mulai mengenal isu energi dan melihat sektor tersebut sebagai salah satu bidang yang bisa dikembangkan.

“Semoga upaya efisiensi energi ini terus berjalan secara konsisten dan mampu menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk peduli serta terjun ke bidang energi,” pungkas Chandra.***(FK/FA)

Administrator

Mahasiswa KKN UM Bandung Dorong Gerakan Kelola Sampah Mandiri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siapa sangka, sampah dapur yang biasanya dibuang begitu saja ternyata bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Inilah yang coba ditunjukkan oleh Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Dukuh 1 dari Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, yang mengenalkan teknik octaco atau octagonal composter kepada warga Desa Dukuh, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Melalui seminar dan pelatihan yang digelar di Kantor Desa Dukuh, Senin (31/08/2026), puluhan ibu-ibu PKK dari RW 1 hingga RW 13 diajak belajar cara mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos dengan cara yang sederhana dan bisa dilakukan sendiri di rumah.

Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Tim KKN Dukuh 1 di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Irianti Usman. Sampah rumah tangga dipilih sebagai fokus karena jenis sampah ini paling dekat dengan keseharian masyarakat, namun sering kali luput dari perhatian hingga menumpuk dan menimbulkan masalah bagi lingkungan.

Inovasi Sederhana dari Metode Jepang

Teknik octaco sendiri merupakan pengembangan dari metode Takakura asal Jepang, namun dibuat lebih sederhana agar mudah diterapkan oleh siapa saja. Bentuknya yang praktis membuat metode ini cocok digunakan dalam skala rumah tangga, tanpa perlu alat rumit atau ruang yang luas.

Sebelum memperkenalkan metode ini kepada warga, Tim KKN Dukuh 1 lebih dulu berkonsultasi dengan Lutfia, dosen Prodi Bioteknologi UM Bandung yang turut berperan dalam mengembangkan Takakura menjadi octaco. Pertimbangan utamanya adalah kemudahan penggunaan dan kepraktisan penerapannya di rumah tangga.

Bukan Sekadar Teori, Warga Diajak Praktik Langsung

Agar materi lebih mudah dipahami, kegiatan ini menghadirkan Wawan Hendrawan, Fasilitator Ecovillage Terbaik Provinsi Jawa Barat Tahun 2015, sebagai pemateri sekaligus fasilitator. Ia mengajak warga melihat pengelolaan sampah bukan dari sisi untung-rugi semata, melainkan sebagai bentuk kepedulian sosial dan ibadah.

"Jika masyarakat melihat dari untung rugi, maka untuk pengelolaan sampah akan berdampak sangat sia-sia. Jika masyarakat melihat dari sisi sosial dan bentuk ibadah, maka pelaksanaannya bukan masalah besar," ujar Wawan.

Selain mendapatkan penjelasan seputar permasalahan sampah, peserta juga langsung mempraktikkan cara membuat dan menerapkan octaco, sehingga ilmu yang didapat tidak berhenti di atas kertas.

Mendorong Perubahan Kebiasaan dari Rumah

Bagi Tim KKN Dukuh 1, kunci pengelolaan sampah bukan menunggu sampah menumpuk, melainkan dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga, lewat kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dini.

Program ini diharapkan dapat mendorong masyarakat Desa Dukuh untuk terus menerapkan teknik octaco secara berkelanjutan, bahkan setelah masa KKN berakhir. Selain mengurangi volume sampah rumah tangga, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, kader PKK, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan bersama.

Seperti pesan yang disampaikan dalam kegiatan ini, "Dari pengelolaan sampah rumah tangga, perubahan lingkungan dapat dimulai."***(Alpin/Aziz/Bewara Pers)

Administrator

Masjid Perlu Dihidupkan Sebagai Pusat Ilmu dan Pemberdayaan Umat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Masjid atau rumah Allah jangan hanya hidup ketika azan berkumandang. Masjid seharusnya juga menjadi tempat umat belajar, bertumbuh, saling menguatkan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Cecep Taufikurrohman MA PhD saat menjadi pembicara dalam Program GSM Aisyiyah Jawa Barat pada Jumat (4/9/2026).

Buya Cecep, sapaan akrabnya, mengajak umat Islam melihat kembali makna memakmurkan masjid. Menurutnya, memakmurkan masjid bukan sekadar membangun gedung yang megah, tetapi bagaimana fungsi dan aktivitasnya benar-benar hidup.

“Memakmurkan masjid bukan hanya membangun fisiknya, tetapi bagaimana umat Islam bisa menghidupkan fungsi dan aktivitasnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW. Selain menjadi tempat salat, masjid juga menjadi pusat pendidikan, pertemuan umat, pelayanan sosial, dan pembinaan masyarakat.

Dari masjid, kata Buya Cecep, dapat tumbuh masyarakat yang kuat secara spiritual, intelektual, sosial, dan kepemimpinan. Iman memberi arah hidup, ilmu membentuk cara berpikir, akhlak membangun karakter, ukhuwah menumbuhkan kepedulian, dan amal menghadirkan solusi nyata.

Namun, masjid saat ini masih menghadapi tantangan. Aktivitasnya sering lebih banyak berpusat pada kegiatan ritual, sementara potensi masjid untuk pendidikan, pemberdayaan, dan penguatan ekonomi umat belum sepenuhnya dikembangkan.

Karena itu, masjid perlu dihidupkan sebagai pusat pendidikan dan pembinaan. Kajian, tahsin dan tahfiz Al-Qur’an, pembinaan imam, khatib, dai, guru, hingga kader umat dapat berjalan berdampingan dengan perpustakaan dan ruang diskusi.

Anak Muda Harus Merasa Memiliki Masjid

Buya Cecep juga menyoroti pentingnya mendekatkan masjid dengan generasi muda. Menurutnya, masjid harus menjadi ruang yang aman, ramah, kreatif, dan mendidik agar anak muda merasa nyaman sekaligus memiliki ruang untuk berkontribusi.

Keterlibatan mereka bisa diwujudkan melalui media sosial, podcast, desain, komunitas olahraga, kajian, kegiatan sosial, hingga dakwah digital. Anak muda tidak cukup hanya menjadi peserta, tetapi perlu diberi kepercayaan sebagai pengelola dan inovator.

Masjid pun dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan pelayanan sosial. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat dikelola secara amanah dan produktif untuk beasiswa, bantuan sosial, pelayanan kesehatan, pendampingan masyarakat, serta pengembangan UMKM jamaah.

Buya Cecep menawarkan gagasan masjid sebagai “third place”, yakni ruang yang bisa menjadi tempat generasi muda beribadah, belajar, berdiskusi, berkumpul, dan berkarya.

Dengan begitu, masjid tidak berhenti pada pola “datang, salat, lalu pulang”, tetapi menjadi ruang yang mempertemukan ibadah, ilmu, komunitas, kreativitas, dan kontribusi.

Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menegaskan, ukuran kemakmuran masjid bukan hanya kemegahan bangunan atau banyaknya kegiatan.

Hal yang lebih penting adalah seberapa jauh masjid mampu melahirkan umat yang beriman, berilmu, berakhlak, peduli, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan.

“Sejatinya masjid yang hidup akan melahirkan umat yang hidup. Sementara itu, umat yang hidup akan mampu membangun peradaban,” pungkas Buya Cecep.***(FA)

Sumber foto: Istock

Administrator

Sela dan Pelajaran yang Tak Ada di Ruang Kelas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Bagi Sela Lazma, KKN Internasional bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, menjalankan program, lalu pulang membawa laporan.

Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung itu justru menemukan ruang belajar baru ketika bertemu masyarakat, budaya, dan kehidupan yang berbeda.

Melalui program International Community Services pada Agustus 2026, Sela bersama tim menjalani berbagai kegiatan pengabdian dan aktivitas intercultural di Malaysia dan Singapura.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat secara langsung sekaligus menerapkan ilmu yang selama ini dipelajari di bangku kuliah.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan berlangsung di Sanggar Bimbingan Muhammadiyah (SBM) Kepong.

Bersama tim, Sela memberikan psikoedukasi kepada anak-anak sekolah dasar, termasuk materi tentang pengenalan dan pengelolaan emosi.

Dari kegiatan tersebut, Sela menyadari bahwa ilmu psikologi tidak cukup hanya dipahami secara teori. Cara menyampaikannya juga harus disesuaikan dengan usia dan karakter anak.

“Menyampaikan ilmu psikologi kepada anak tidak bisa hanya dengan menjelaskan teori. Namun, perlu menyesuaikan dengan usia dan karakter mereka,” ujar Sela di kampus UM Bandung pada Kamis (3/9/2026).

Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa ilmu akan terasa manfaatnya ketika dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Bagi Sela, di situlah mahasiswa belajar bukan hanya menjadi akademisi, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat.

Perjalanan kemudian berlanjut ke KRT Desa Jati, Negeri Sembilan. Di sana, Sela dan tim berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan kebiasaan warga setempat.

Kunjungan ke sejumlah tempat ikonik dan bersejarah di Malaysia juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Sela mengunjungi Petronas Twin Towers, Masjid Negara, Batu Caves, Istana Bukit Serene, serta sejumlah kawasan bersejarah lainnya.

Namun, tempat-tempat tersebut tidak hanya ia lihat sebagai destinasi wisata.

Sela mencoba memahami keberagaman budaya dan agama, kehidupan masyarakat, serta perkembangan wilayah dan perkotaan Malaysia.

Pengalaman itu berlanjut ketika Sela dan tim berada di Singapura. Mereka mengunjungi Gardens by the Bay, Merlion Park, Marina Bay Sands, dan sejumlah kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Meski begitu, kemegahan Singapura bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian Sela.

Ia justru tertarik pada bagaimana negara tersebut mampu berkembang dengan mengelola berbagai keterbatasan yang dimiliki.

“Saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus berkembang. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan dan mengelola apa yang kita miliki sebaik mungkin,” katanya.

KKN Internasional juga mengajarkan Sela tentang pentingnya beradaptasi.

Berada di lingkungan baru membuatnya belajar berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, memahami kebiasaan yang berbeda, dan melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

Pengalaman tersebut perlahan membuat cara pandangnya semakin terbuka.

“Kita belajar beradaptasi, berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, dan lebih terbuka terhadap perbedaan. Ilmu yang didapat di perkuliahan juga bisa dilihat bagaimana penerapannya secara langsung di lapangan,” tuturnya.

Bagi Sela, pengalaman tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk bercermin.

Melihat pendidikan, budaya, kehidupan masyarakat, hingga perkembangan Malaysia dan Singapura membuatnya bisa memikirkan kembali apa yang sudah baik di Indonesia dan apa yang masih bisa dipelajari dari negara lain.

Pengalaman itu pun menjadi bekal untuk masa depannya.

Sela bercita-cita menjadi psikolog sekaligus penyanyi, dua bidang yang menurutnya sama-sama membutuhkan kemampuan memahami manusia dan menyampaikan pesan.

Di sela perkuliahan, ia juga gemar menyanyi dan membaca.

Saat ini, Sela tengah membaca Start With Why karya Simon Sinek dan Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta untuk memperluas wawasan dan melihat berbagai perspektif.

Pada akhirnya, KKN Internasional bagi Sela bukan hanya cerita tentang Malaysia dan Singapura.

Perjalanan tersebut menjadi proses untuk berbagi ilmu, memahami perbedaan, belajar beradaptasi, sekaligus mengenal dirinya sendiri.

Dari ruang kelas ke tengah masyarakat, Sela menemukan bahwa belajar bisa berlangsung di mana saja.

Ketika mahasiswa berani keluar dari ruang nyamannya, dunia menjadi lebih luas dan ilmu yang dipelajari pun menemukan bentuk kebermanfaatannya.***(FA)

Administrator

Hidup Sederhana tapi Berkelimpahan, Begini Cara Mengelola Rezeki dengan Bijak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan. Justru, kesederhanaan dapat menjadi jalan untuk menemukan keberlimpahan yang sesungguhnya.

Keberlimpahan bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang kemampuan merasa cukup, mengelola rezeki dengan bijak, serta menjadikannya sumber kebaikan dan ketenteraman.

Pesan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Bandung Yudi Haryadi dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (1/9/2026).

Mengangkat tema “Hidup Sederhana tapi Berkelimpahan”, Yudi mengajak umat Islam mengubah cara pandang tentang arti kaya dan berkecukupan.

Menurutnya, ukuran keberlimpahan tidak selalu ditentukan oleh jumlah harta. Kekayaan hati, keberkahan rezeki, dan ketenangan hidup juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

“Cara pandang ini penting di tengah kehidupan modern yang membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Ukuran keberhasilan akhirnya sering bergeser menjadi soal seberapa banyak yang dimiliki, apa yang bisa dibeli, atau seperti apa gaya hidup yang ditampilkan,” ujar Yudi.

Ia mengatakan, banyaknya harta belum tentu membuat seseorang lebih tenang. Penghasilan besar dan berbagai fasilitas tidak akan banyak berarti jika keinginan terus bertambah dan rasa cukup tidak pernah hadir.

Oleh karena itu, kesederhanaan bukan sekadar mengurangi pengeluaran. Lebih dari itu, kesederhanaan berarti mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, mengendalikan gaya hidup, serta menempatkan harta sebagai sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Dalam perspektif ekonomi syariah, rezeki juga bukan hanya tentang bagaimana seseorang mendapatkan penghasilan.

Ada amanah yang harus dijalankan, yaitu menggunakan harta secara baik, memenuhi kebutuhan keluarga, menghindari sikap berlebihan, dan memberi manfaat kepada orang lain.

Dengan begitu, mengelola keuangan bukan sekadar persoalan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Mengelola rezeki juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberkahan hidup.

Penghasilan yang dikelola dengan bijak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan, mempersiapkan masa depan, membantu sesama, sekaligus menghindarkan diri dari perilaku konsumtif.

“Kesederhanaan bukan berarti menolak kemajuan atau harus hidup serba kekurangan. Justru, kesederhanaan membuat hidup lebih terarah karena seseorang tahu apa yang benar-benar dibutuhkan dan untuk apa rezekinya digunakan,” imbuh Yudi.

Menurutnya, kebiasaan hidup sederhana dapat dimulai dari keluarga. Misalnya dengan membuat skala prioritas, tidak mudah mengikuti gaya hidup orang lain, mengurangi konsumsi yang tidak perlu, menggunakan penghasilan secara bertanggung jawab, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi.

Kesederhanaan juga mengajarkan qanaah, yaitu kemampuan untuk merasa cukup atas apa yang Allah karuniakan tanpa berhenti berusaha. Rasa cukup bukan berarti pasrah atau malas, tetapi membantu seseorang tetap tenang sembari terus berikhtiar.

Yudi menegaskan bahwa kaya secara materi dan kaya secara hati merupakan dua hal yang berbeda. Harta akan menjadi nikmat ketika diperoleh dengan cara yang baik dan digunakan untuk menghadirkan manfaat.

“Rezeki yang berkah bukan sekadar membuat hidup terasa cukup, melainkan mampu menjadi jalan menghadirkan manfaat bagi keluarga, sesama, dan lingkungan,” tandasnya.

Pada akhirnya, hidup sederhana bukan tentang memiliki sesedikit mungkin. Kesederhanaan adalah kemampuan menempatkan segala sesuatu secara proporsional: bekerja dengan sungguh-sungguh, menikmati rezeki tanpa berlebihan, memenuhi kebutuhan dengan bijak, dan berbagi ketika memiliki kelebihan.

Sebab, keberlimpahan tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak yang masuk ke rekening, tetapi juga dari seberapa banyak kebaikan yang lahir dari rezeki tersebut.

Bagi seorang muslim, yang terpenting bukan hanya seberapa banyak rezeki yang Allah titipkan, tetapi seberapa baik amanah itu dikelola dan seberapa luas manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

(FA)

Administrator