Membuka Pintu Ilmu dari Desa, KKN UM Bandung Perkuat Literasi Al-Qur’an dan Latin
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ilmu akan terasa lebih berarti ketika tidak berhenti pada diri sendiri. Dari Desa Santosa, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, semangat berbagi ilmu itu diwujudkan melalui pelatihan membaca Al-Qur’an dan aksara latin.
Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Bandung menggelar Training for Teacher (TFT) Baca Al-Qur’an dan Baca Latin Metode Al-Barqy, Kamis (27/8/2026), di Aula Desa Santosa.
Pesertanya bukan hanya guru, tetapi para penggiat pendidikan dan Al-Qur’an di lingkungan desa. Mereka terdiri atas guru TK, guru ngaji madrasah dan SD, pimpinan majelis taklim, hingga pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).
Kepala Desa Santosa Tata Witarsa menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap metode yang dipelajari dapat diteruskan kepada masyarakat, terutama mereka yang masih mengalami kesulitan membaca Al-Qur’an maupun aksara latin.
“Kami berharap metode ini bisa diterapkan langsung kepada masyarakat. Dengan kemampuan membaca, mereka dapat mengakses berbagai ilmu dan pengetahuan yang lebih luas,” ungkapnya.
Pelatihan menghadirkan dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung Rahmat Alamsyah. Menurutnya, kemampuan membaca menjadi salah satu fondasi penting dalam membuka akses seseorang terhadap pendidikan.
Kegiatan tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menangani Anak Tidak Sekolah (ATS). KKN UM Bandung ikut membantu pendataan anak yang tidak sekolah, putus sekolah, maupun yang tidak melanjutkan pendidikan.
“Pemerintah Pemprov Jabar bersinergi dengan kegiatan KKN UM Bandung untuk mendata anak-anak yang tidak sekolah, putus sekolah, ataupun yang tidak melanjutkan sekolah,” ujar Rahmat.
Belajar dengan Metode Al-Barqy
Salah satu hal menarik dari pelatihan ini adalah metode Al-Barqy. Kata “Al-Barqy” berarti kilat, menggambarkan pendekatan belajar yang dirancang agar peserta dapat mengenali huruf dengan cara yang sederhana dan mudah diingat.
Metode tersebut menggunakan asosiasi kalimat untuk membantu peserta mengenali dan mengingat huruf. Pendekatan ini diharapkan memudahkan mereka yang baru mulai belajar membaca.
“Metode ini dirancang agar peserta bisa cepat mengerti dan membaca. Bahkan diproyeksikan hanya membutuhkan waktu delapan jam untuk bisa membaca Al-Qur’an dan enam jam untuk bisa membaca latin atau koran,” jelas Rahmat.
Bagi para guru dan penggiat Al-Qur’an, kemampuan ini diharapkan tidak berhenti sebagai keterampilan pribadi. Mereka dapat meneruskannya kepada anak-anak dan warga di lingkungan masing-masing.
Dengan cara itu, satu pelatihan dapat melahirkan banyak ruang belajar baru. Ilmu yang diterima hari ini dapat kembali dibagikan kepada orang lain pada hari-hari berikutnya.
“Pelatihan metode Al-Barqy ini fokus pada kemampuan belajar baca Al-Qur’an dan baca latin sebagai penunjang utama keberhasilan program penanganan ATS di lapangan,” terangnya.
UM Bandung berharap kegiatan tersebut ikut memperkuat gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dan latin. Lebih dari itu, kemampuan membaca diharapkan menjadi pintu bagi anak-anak dan masyarakat untuk kembali terhubung dengan dunia pendidikan.
“Kami ingin hadirnya program ini dapat mewujudkan Jawa Barat yang bebas buta baca Al-Qur’an dan latin sekaligus merangkul kembali anak-anak agar mendapatkan hak pendidikannya,” tandas Rahmat.
Ketua MUI Kecamatan Kertasari Asep Heri Irawan bersama masyarakat turut hadir dan memberikan apresiasi. Sinergi antara kampus, pemerintah desa, MUI, masyarakat, mahasiswa, dan para donatur membuat kegiatan ini dapat berjalan secara gotong royong.
Menariknya, mahasiswa KKN terlibat langsung sejak tahap persiapan. Mulai dari pendataan peserta, komunikasi dan surat-menyurat dengan pemerintah desa serta MUI, hingga pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh mahasiswa.
Sementara itu, kebutuhan buku, konsumsi, dan akomodasi didukung oleh para donatur. Dukungan tersebut menjadi bagian dari semangat bersama untuk menghadirkan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dari Desa Santosa, pesan yang dibawa sederhana tetapi penting: ilmu akan semakin bernilai ketika dibagikan. Sebab, ketika satu orang belajar lalu mengajarkannya kembali, manfaatnya dapat terus tumbuh dan menjangkau lebih banyak orang.
(FK/FA)
