Berita

Membuka Pintu Ilmu dari Desa, KKN UM Bandung Perkuat Literasi Al-Qur’an dan Latin

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ilmu akan terasa lebih berarti ketika tidak berhenti pada diri sendiri. Dari Desa Santosa, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, semangat berbagi ilmu itu diwujudkan melalui pelatihan membaca Al-Qur’an dan aksara latin.

Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Bandung menggelar Training for Teacher (TFT) Baca Al-Qur’an dan Baca Latin Metode Al-Barqy, Kamis (27/8/2026), di Aula Desa Santosa.

Pesertanya bukan hanya guru, tetapi para penggiat pendidikan dan Al-Qur’an di lingkungan desa. Mereka terdiri atas guru TK, guru ngaji madrasah dan SD, pimpinan majelis taklim, hingga pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Kepala Desa Santosa Tata Witarsa menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap metode yang dipelajari dapat diteruskan kepada masyarakat, terutama mereka yang masih mengalami kesulitan membaca Al-Qur’an maupun aksara latin.

“Kami berharap metode ini bisa diterapkan langsung kepada masyarakat. Dengan kemampuan membaca, mereka dapat mengakses berbagai ilmu dan pengetahuan yang lebih luas,” ungkapnya.

Pelatihan menghadirkan dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung Rahmat Alamsyah. Menurutnya, kemampuan membaca menjadi salah satu fondasi penting dalam membuka akses seseorang terhadap pendidikan.

Kegiatan tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menangani Anak Tidak Sekolah (ATS). KKN UM Bandung ikut membantu pendataan anak yang tidak sekolah, putus sekolah, maupun yang tidak melanjutkan pendidikan.

“Pemerintah Pemprov Jabar bersinergi dengan kegiatan KKN UM Bandung untuk mendata anak-anak yang tidak sekolah, putus sekolah, ataupun yang tidak melanjutkan sekolah,” ujar Rahmat.

Belajar dengan Metode Al-Barqy

Salah satu hal menarik dari pelatihan ini adalah metode Al-Barqy. Kata “Al-Barqy” berarti kilat, menggambarkan pendekatan belajar yang dirancang agar peserta dapat mengenali huruf dengan cara yang sederhana dan mudah diingat.

Metode tersebut menggunakan asosiasi kalimat untuk membantu peserta mengenali dan mengingat huruf. Pendekatan ini diharapkan memudahkan mereka yang baru mulai belajar membaca.

“Metode ini dirancang agar peserta bisa cepat mengerti dan membaca. Bahkan diproyeksikan hanya membutuhkan waktu delapan jam untuk bisa membaca Al-Qur’an dan enam jam untuk bisa membaca latin atau koran,” jelas Rahmat.

Bagi para guru dan penggiat Al-Qur’an, kemampuan ini diharapkan tidak berhenti sebagai keterampilan pribadi. Mereka dapat meneruskannya kepada anak-anak dan warga di lingkungan masing-masing.

Dengan cara itu, satu pelatihan dapat melahirkan banyak ruang belajar baru. Ilmu yang diterima hari ini dapat kembali dibagikan kepada orang lain pada hari-hari berikutnya.

“Pelatihan metode Al-Barqy ini fokus pada kemampuan belajar baca Al-Qur’an dan baca latin sebagai penunjang utama keberhasilan program penanganan ATS di lapangan,” terangnya.

UM Bandung berharap kegiatan tersebut ikut memperkuat gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dan latin. Lebih dari itu, kemampuan membaca diharapkan menjadi pintu bagi anak-anak dan masyarakat untuk kembali terhubung dengan dunia pendidikan.

“Kami ingin hadirnya program ini dapat mewujudkan Jawa Barat yang bebas buta baca Al-Qur’an dan latin sekaligus merangkul kembali anak-anak agar mendapatkan hak pendidikannya,” tandas Rahmat.

Ketua MUI Kecamatan Kertasari Asep Heri Irawan bersama masyarakat turut hadir dan memberikan apresiasi. Sinergi antara kampus, pemerintah desa, MUI, masyarakat, mahasiswa, dan para donatur membuat kegiatan ini dapat berjalan secara gotong royong.

Menariknya, mahasiswa KKN terlibat langsung sejak tahap persiapan. Mulai dari pendataan peserta, komunikasi dan surat-menyurat dengan pemerintah desa serta MUI, hingga pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh mahasiswa.

Sementara itu, kebutuhan buku, konsumsi, dan akomodasi didukung oleh para donatur. Dukungan tersebut menjadi bagian dari semangat bersama untuk menghadirkan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dari Desa Santosa, pesan yang dibawa sederhana tetapi penting: ilmu akan semakin bernilai ketika dibagikan. Sebab, ketika satu orang belajar lalu mengajarkannya kembali, manfaatnya dapat terus tumbuh dan menjangkau lebih banyak orang.

(FK/FA)

Administrator

Belajar dengan Adab, Bertumbuh dengan Ilmu, Bermanfaat bagi Sesama

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pendidikan bukan sekadar tentang seberapa banyak ilmu yang kita miliki. Lebih dari itu, pendidikan adalah jalan untuk membentuk manusia yang berakhlak, mandiri, dan mampu memberi manfaat bagi orang lain.

Hal itu disampaikan Kaprodi PAI Universitas Muhammadiyah Bandung Iim Ibrohim saat mengisi kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat belum lama ini.

Menurut Iim, ilmu memiliki peran penting dalam membebaskan manusia dari kebodohan. Dengan ilmu, seseorang dapat memahami kehidupan, menentukan pilihan dengan lebih baik, sekaligus memiliki bekal untuk menghadapi berbagai persoalan.

“Kalau kita ingin benar-benar merdeka, maka kita harus membebaskan diri dari kebodohan. Ilmu menjadi salah satu jalan penting untuk mencapai kemerdekaan itu,” ujar Iim.

Namun, ilmu saja tidak cukup. Dalam Islam, ilmu perlu berjalan bersama adab dan akhlak. Sebab, pengetahuan yang tidak disertai akhlak dapat membuat seseorang kehilangan arah dalam menggunakan ilmunya.

“Ilmu tidak boleh dipisahkan dari adab. Orang berilmu tetapi tidak memiliki akhlak akan kehilangan arah,” katanya.

Karena itu, Iim mengajak umat untuk kembali melihat keteladanan para ulama dan ilmuwan Muslim.

Tokoh seperti Imam Hanafi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, hingga Ibnu Khaldun menunjukkan bahwa mencari ilmu bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi juga untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Semangat tersebut juga terlihat dalam perjuangan KH Ahmad Dahlan. Melalui pendidikan yang berlandaskan tauhid dan ilmu, pendiri Muhammadiyah itu berusaha membangun masyarakat agar keluar dari keterbelakangan dan mampu menghadirkan perubahan.

“Pendidikan jangan hanya dipahami sebagai urusan administrasi lembaga. Pendidikan adalah jihad intelektual untuk membebaskan manusia dari kebodohan,” tegas Iim.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, tantangan pendidikan justru semakin besar. Karena itu, lembaga pendidikan perlu terus meningkatkan kualitas sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat.

Iim juga mengingatkan pentingnya membangun pribadi yang mandiri. Kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan diri. Namun, keberanian untuk membantu dan memberi manfaat kepada orang lain.

“Jangan sampai kita hanya menjadi penerima manfaat. Kita harus menjadi orang yang mampu memberi manfaat,” ujarnya.

Dalam pandangannya, ilmu agama dan ilmu umum juga tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama untuk membentuk generasi muslim yang memiliki iman dan akhlak kuat, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.

Pada akhirnya, pendidikan adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Ilmu memberi arah, adab menjaga langkah, sementara kemandirian membuat seseorang mampu berdiri dan berbuat bagi sesama.

Semangat inilah yang perlu terus dirawat. Sebab, belajar bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan. Namun, tentang memperbaiki diri dan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.***(FA)

Administrator

Menko Pangan: Swasembada adalah Kehormatan Sebuah Bangsa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Zulkifli Hasan menilai keberpihakan pemerintah terhadap kepentingan umat Islam merupakan hal yang wajar.

Menurutnya, hal itu antara lain tercermin melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejalan dengan semangat kepedulian sosial dalam Islam.

Zulkifli mengaitkan program tersebut dengan teologi Al-Ma’un yang sejak lama menjadi salah satu landasan gerakan sosial Muhammadiyah.

Kepedulian terhadap anak yatim, kaum duafa, dan masyarakat yang membutuhkan, menurutnya, merupakan bentuk nyata pengamalan ajaran Islam.

“Program-program seperti ini harus terus kita perjuangkan dan pertahankan. Jangan sampai ketika kepemimpinan berganti, program-program yang mendasar bagi masyarakat ikut hilang,” kata Zulkifli saat menjadi pembicara Rakornas DPM PTMA I Tahun 2026 di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung, Jumat (28/8/2026).

Selain MBG, Zulkifli menekankan pentingnya swasembada pangan bagi Indonesia. Menurutnya, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri bukan sekadar persoalan ekonomi. Namun, menyangkut kehormatan bangsa sekaligus penghargaan terhadap petani.

“Swasembada itu kehormatan bangsa. Petani juga akan merasa dihargai. Jangan sampai kita harus membeli beras dari negara lain. Ini tidak boleh terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto berharap Rakornas DPM PTMA dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperkuat gagasan dan mengambil peran sebagai agen perubahan.

Ia juga mendorong pemerintah dan perguruan tinggi memperkuat inovasi di bidang pangan karena kebutuhan pangan tidak dapat ditunda.

“Persoalan pangan tidak bisa digantikan dengan apa pun. Karena itu, pemerintah dan perguruan tinggi perlu terus mendorong inovasi yang berkaitan dengan pangan,” kata Herry.

Herry juga berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap pendidikan di lingkungan PTMA, termasuk melalui dukungan beasiswa.

Menurutnya, akses pendidikan yang lebih luas penting untuk membuka kesempatan generasi muda mengembangkan potensi dan berkontribusi bagi bangsa.

Usai kegiatan, Zulkifli berkeliling melihat fasilitas UM Bandung dan meninjau Laboratorium Teknologi Pangan.

Ia mendapat penjelasan mengenai hanjeli serta berbagai produk yang dapat dikembangkan dari komoditas pangan lokal tersebut.

Zulkifli juga mengajak para orang tua mempertimbangkan UM Bandung sebagai pilihan pendidikan tinggi bagi anak-anak mereka.

Ia menilai UM Bandung merupakan salah satu perguruan tinggi yang baik di Jawa Barat dan memiliki lingkungan yang mendukung mahasiswa untuk mengembangkan ilmu serta meraih cita-cita.***(FA)

Administrator

Rektor UM Bandung: Jangan Terjebak Rutinitas, Hadirkan Gagasan Baru

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pergantian pejabat di kampus bukan sekadar soal mengisi posisi baru.

Bagi Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto, yang lebih penting adalah bagaimana kepemimpinan baru mampu membawa perubahan dan membuat manfaatnya benar-benar dirasakan sivitas akademika serta masyarakat.

Pesan itu disampaikan Herry saat memberikan arahan dalam pelantikan delapan pejabat struktural UM Bandung.

Menurutnya, jabatan merupakan amanah yang harus dibuktikan lewat kerja nyata, pelayanan yang lebih baik, dan kolaborasi.

“Amanah ini bukan sekadar penghargaan. Namun, tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui kinerja yang nyata, kepemimpinan yang visioner, dan kemampuan membangun kolaborasi,” ujar Herry.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pemimpin tidak cukup dilihat dari banyaknya program.

Setiap kebijakan harus punya dampak, meningkatkan kualitas layanan, dan mendorong kemajuan kampus dalam jangka panjang.

Di Fakultas Sains dan Teknologi, misalnya, kepemimpinan baru diarahkan untuk memperkuat pembelajaran, riset, dan inovasi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Lulusan juga diharapkan punya kemampuan akademik sekaligus semangat technopreneurship.

Sementara itu, Fakultas Sosial dan Humaniora didorong membangun budaya akademik yang kreatif dan kolaboratif.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis diharapkan lebih adaptif terhadap ekonomi digital dan dunia usaha.

Sedangkan Fakultas Agama Islam memperkuat pengembangan ilmu keislaman yang moderat, berkemajuan, dan bermanfaat bagi umat.

Herry juga mendorong pembenahan fasilitas kampus, mulai dari masjid, perpustakaan, interior gedung, akses dan parkir, hingga technopreneur center.

Pengembangan air bersih, energi surya, pemanenan air hujan, dan pengelolaan sampah dan limbah juga menjadi bagian dari agenda kampus.

Untuk memperkuat kemandirian finansial, UM Bandung akan mengembangkan bisnis dan kemitraan usaha.

Sejumlah aset seperti TK, apotek, catering, bakery, dan galeri produk kriya diharapkan bisa dikelola lebih produktif untuk mendukung pengembangan kampus.

Hasil riset dan inovasi pun diminta tidak berhenti di ruang akademik. UM Bandung ingin pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan sivitas akademika dapat disebarluaskan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan AI, digitalisasi, perubahan regulasi, dan persaingan global, Herry meminta para pejabat baru tidak terjebak dalam rutinitas administratif.

“Saya berharap Saudara tidak hanya menjalankan rutinitas kegiatan administratif. Namun, mampu menghadirkan gagasan-gagasan baru yang memberikan nilai tambah bagi kemajuan UM Bandung,” tegasnya.

Delapan pejabat yang dilantik terdiri atas Noviani Arifina Istiqomah sebagai Dekan FST, Ririn Suharsih sebagai Wakil Dekan FST, Latifah sebagai Wakil Dekan FSH, Budi Sadarman sebagai Wakil Dekan FEB, dan Yudi Daryadi sebagai Wakil Dekan FAI.

Sementara itu, Qori Atur Rodiah Suhada dipercaya sebagai Kepala Bagian Pengembangan Sarana dan Prasarana, Redoyan Refli sebagai Kepala Bagian Diseminasi Inovasi dan Perluasan Dampak, serta Yudistia Teguh Ali Fikri sebagai Kepala Bagian Bisnis dan Kemitraan Usaha.

Herry menegaskan, seluruh agenda tersebut hanya bisa berjalan jika dikerjakan bersama.

“Keberhasilan hanya dapat dicapai apabila seluruh unsur universitas bekerja dalam satu arah, satu tujuan, dan satu semangat,” katanya.

Administrator

Pakar Ekonomi Syariah UM Bandung Bagikan Formula Efektif Kelola Keuangan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Penghasilan besar belum tentu membuat keluarga aman secara finansial. Jika uang habis untuk belanja atau membayar utang, pendapatan berapa pun bisa terasa kurang.

Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Haryadi SE MM mengatakan kemandirian ekonomi justru bisa dimulai dari cara mengelola uang yang sudah dimiliki.

Hal itu disampaikan Yudi saat menjadi pembicara dalam Sosialisasi Ekonomi Syariah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung, belum lama ini.

Menurut Yudi, kebiasaan menabung setelah semua kebutuhan terpenuhi perlu diubah. Tabungan atau investasi sebaiknya langsung disisihkan ketika penghasilan diterima.

“Jangan menunggu ada sisa untuk menabung. Justru tabungan atau investasi harus menjadi salah satu prioritas sejak awal menerima pendapatan,” ujar Yudi.

Untuk memudahkan penerapannya, Yudi menawarkan pola 10-30-50-10.

Minimal 10 persen pendapatan untuk tabungan atau investasi, maksimal 30 persen untuk cicilan atau utang, maksimal 50 persen untuk kebutuhan rutin, dan 10 persen untuk kebutuhan pribadi.

Pola tersebut dapat membantu keluarga memiliki cadangan keuangan, mengendalikan utang, serta merencanakan kebutuhan masa depan dengan lebih terukur.

“Jadi, kemandirian ekonomi bukan semata-mata tentang bagaimana meningkatkan penghasilan. Namun, bagaimana kita mampu mengendalikan dan mengarahkan uang sesuai dengan tujuan hidup,” kata Yudi.

Yudi juga mengingatkan pentingnya memahami lembaga keuangan syariah, seperti Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS).

Masyarakat perlu mempertimbangkan akad, kemampuan membayar, risiko, kebutuhan, dan manfaat sebelum mengambil pembiayaan.

Literasi keuangan syariah juga penting agar masyarakat tidak mudah terjebak rentenir atau pembiayaan yang justru menambah beban.

Keputusan keuangan sebaiknya diarahkan pada kebutuhan produktif dan manfaat jangka panjang.

Dalam perspektif ekonomi syariah, pengelolaan uang bukan hanya soal keuntungan pribadi.

Nilai amanah, keadilan, ta'awun, dan ukhuwah juga menjadi bagian penting agar aktivitas ekonomi membawa manfaat bagi keluarga dan lingkungan.

Oleh karena itu, kemandirian ekonomi tidak harus menunggu penghasilan besar.

Mulailah dengan menentukan tujuan, menyisihkan uang di awal, mengendalikan utang, dan membelanjakan sisanya secara bijak.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Komisi Ekonomi MUI Jawa Barat dan Program Pengabdian Dosen Prodi Ekonomi Syariah UM Bandung.

Acara ini diikuti oleh puluhan ibu-ibu anggota Forum Silaturahmi Majelis Taklim (FSMT) Kelurahan Cipadung Kidul.***(FA)

Administrator

Delapan Karakter Manusia Terdidik dalam Perspektif Al-Qur’an, Apa Saja?

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pendidikan sering kali dipahami sebagai jalan untuk menjadi pintar. Namun, ketika pengetahuan bertambah tetapi akhlak tidak tumbuh, kepedulian memudar, dan ilmu tidak memberi manfaat bagi sesama, pertanyaan yang lebih mendasar pun muncul: benarkah seseorang telah menjadi manusia terdidik?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat, Selasa (25/08/2026). Kegiatan itu menghadirkan Hendar Riyadi, dosen Prodi PAI dan PIAUD Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, sebagai narasumber.

Menurut Hendar, hakikat pendidikan tidak boleh direduksi menjadi pencapaian intelektual semata. Pendidikan sejati seharusnya membawa manusia pada kedalaman iman, kematangan akhlak, kebijaksanaan dalam bertindak, serta kesadaran untuk menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan.

“Manusia terdidik itu bukan sekadar manusia yang pintar. Ia harus menjadi problem solver, bukan problem amplifier yang justru memperkeruh keadaan,” ujar Hendar.

Ia kemudian memperkenalkan konsep quranic well-educated person, yakni manusia terdidik yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi dalam membangun dirinya. Dalam konsep tersebut, ilmu tidak hanya mengisi akal, tetapi juga harus menghidupkan hati dan mengarahkan perilaku.

Hendar menggambarkan manusia terdidik sebagai sosok yang ilmunya mencerahkan akal, imannya mendidik hati, akhlaknya mengendalikan diri, hikmahnya mengarahkan tindakan, dan amalnya menghadirkan ishlah atau perbaikan.

Dalam perspektif Al-Qur’an, lanjut Hendar, setidaknya terdapat delapan karakter yang semestinya melekat pada manusia terdidik.

Kedelapan karakter itu adalah ishlah, wafa bi al-uqud atau menjaga komitmen, sabar dan istiqamah, beradab, ta’awun atau bekerja sama, amanah, ziyadah al-ilm atau terus bertumbuh dalam ilmu, serta memiliki kesadaran sebagai khalifah.

Ishlah berarti memiliki orientasi untuk mencari solusi dan menghadirkan perbaikan. Sementara wafa bi al-uqud mengajarkan manusia untuk menjaga komitmen, janji, dan aturan yang telah disepakati.

Adapun sabar dan istiqamah, menurut Hendar, tidak sekadar berarti mampu bertahan menghadapi kesulitan. Keduanya harus melahirkan kedisiplinan yang tumbuh dari kesadaran menjaga integritas diri.

“Disiplin sejati bukan hanya karena takut terhadap hukuman. Namun, karena adanya komitmen untuk menjaga integritas dan menjalankan tanggung jawab,” jelasnya.

Pendidikan juga menemukan maknanya dalam adab dan ta’awun. Manusia terdidik bukan hanya mampu menyampaikan gagasan.

Namun, tahu bagaimana menghormati orang lain, menjaga komunikasi, menghindari sikap merendahkan, dan membangun kerja sama untuk menghadirkan kebaikan bersama.

Di sisi lain, amanah menjadi fondasi penting karena ilmu tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah. Begitu pula ziyadah al-ilm mengingatkan bahwa manusia terdidik tidak boleh merasa telah selesai dalam belajar.

“Orang terdidik tidak pernah merasa selesai dalam belajar. Ia harus terus bertumbuh, memperbaiki pengetahuan, memperluas pemahaman, dan meningkatkan kompetensinya,” katanya.

Pemikiran tersebut, kata Hendar, memiliki keterhubungan dengan gagasan sejumlah pemikir sepanjang sejarah. Ia menyebut Sokrates, Plato, Aristoteles, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ki Hadjar Dewantara, Ahmad Dahlan, Hamka, John Dewey, Paulo Freire, Howard Gardner, hingga Edgar Morin.

Meski berasal dari latar pemikiran yang berbeda, berbagai gagasan tersebut memiliki satu benang merah: pendidikan harus membuat manusia semakin mampu memahami kehidupan, menjawab persoalan, dan tetap memanusiakan manusia.

Pada akhirnya, Hendar merangkum hakikat manusia terdidik dalam lima kata kunci: merdeka, berdaya, beradab, beramal, dan memanusiakan. Pendidikan, dengan demikian, bukan sekadar proses menambah pengetahuan.

Namun, perjalanan untuk membentuk manusia yang mampu mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan dan pengetahuan menjadi kemanfaatan.

“Ukuran manusia terdidik bukan hanya seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Namun, seberapa jauh ilmu itu membentuk dirinya, menyelesaikan persoalan, dan memberi manfaat bagi kehidupan,” pungkas Hendar.***

Administrator