Berita

Empat Pilar Muhammadiyah untuk Ketahanan Ekonomi di Tengah Krisis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Tekanan ekonomi yang kian dirasakan masyarakat, termasuk di Jawa Barat dan Kota Bandung, disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya tindak kriminalitas seperti begal, khususnya di kalangan usia produktif 25-35 tahun.

Namun, tekanan ekonomi tidak semestinya direspons dengan keputusasaan, melainkan dapat diubah menjadi momentum penguatan iman, ilmu, dan kemandirian kolektif umat.

Hal ini disampaikan Dosen Prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah Bandung Yudi Haryadi saat membahas fenomena tekanan ekonomi dan kaitannya dengan kriminalitas dari perspektif ekonomi syariah dan nilai-nilai keislaman dalam program GSM pada Rabu (5/8/2026).

Menurut Yudi, kajian sosiologis dan kriminologis menunjukkan bahwa desakan ekonomi tidak bisa dipandang sebelah mata. Kasus kriminalitas yang terjadi selama ini, katanya, hanyalah puncak gunung es dari persoalan sosial-ekonomi yang belum tertangani secara menyeluruh.

"Data yang ada menunjukkan pelaku kriminal seperti begal banyak berasal dari usia yang seharusnya produktif. Ini bukan sekadar persoalan moral individu, melainkan cermin dari ketimpangan ekonomi yang perlu diselesaikan dari akarnya," ujarnya.

Yudi menjelaskan, Muhammadiyah menawarkan empat pilar utama untuk mencetak generasi yang tangguh menghadapi krisis: akidah yang kokoh, penguasaan ilmu, amal usaha produktif, dan kepedulian sosial.

Keimanan yang kuat, tegasnya, menjadi benteng utama agar seseorang tetap berada di jalur yang benar meski dalam kondisi ekonomi sulit.

"Ironisnya, hanya sebagian kecil umat Islam Indonesia yang konsisten menjalankan salat lima waktu. Ini menunjukkan adanya krisis spiritual yang ikut melemahkan pengendalian diri," katanya.

Selain penguatan spiritual, Yudi menyoroti pentingnya literasi keuangan syariah dalam mengelola ekonomi rumah tangga. Ia menganjurkan pengaturan arus kas keluarga secara proporsional: kebutuhan pokok sekitar 50 persen, kewajiban atau utang 30 persen, investasi 10-20 persen, dan hiburan 5-10 persen dari total pendapatan.

"Pengelolaan keuangan yang sadar dan terukur akan mencegah defisit kronis yang kerap memicu konflik dalam keluarga maupun masyarakat," jelasnya. Pelatihan literasi keuangan syariah semacam ini, lanjutnya, kini aktif digalakkan di berbagai majelis taklim dan kader Muhammadiyah sebagai bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat.

Yudi turut menekankan pentingnya amal usaha produktif berbasis kolektif, seperti Baitul Maal wat Tamwil (BMT), sebagai solusi preventif yang dinilai lebih efektif dibandingkan pendekatan kuratif semata.

Melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi mikro, Muhammadiyah berupaya menciptakan kemandirian ekonomi umat agar tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.

Ia juga menyoroti perlunya regulasi koperasi yang lebih berorientasi bottom up dan memberdayakan anggota, bukan pendekatan top down.

"Pemerintah semestinya berperan sebagai regulator, bukan pelaku industri langsung, agar ekonomi umat dapat tumbuh mandiri dan berkelanjutan," ungkapnya.

Di sisi lain, Yudi mengingatkan pentingnya empat sikap ruhiyah dalam menghadapi ujian ekonomi, yakni tawakal, qanaah (merasa cukup), sabar, dan syukur. Sikap ini, menurutnya, menjadi fondasi ketahanan mental sekaligus membuka jalan keberkahan di tengah kesulitan.

"Ujian ekonomi adalah bagian dari sunatullah untuk mengangkat derajat seseorang, selama disikapi dengan cara yang benar," tuturnya.

Ia turut menekankan pentingnya solidaritas sosial sebagai mekanisme kolektif mencegah tindak kejahatan akibat kemiskinan.

"Kepedulian terhadap tetangga yang kesulitan harus menjadi prioritas bersama. Semangat taawun dan amal jariah dalam Islam mendorong kerja sama dalam kebaikan, bukan sikap individualis," pungkasnya.

Yudi menegaskan, tekanan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan ujian yang dapat dijawab melalui empat kekuatan: keimanan yang kokoh, ilmu yang memadai, amal usaha produktif, dan solidaritas sosial yang tinggi.

Pendekatan preventif melalui pendidikan agama dan literasi keuangan, menurutnya, menjadi solusi jangka panjang untuk menekan kriminalitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.***(FA)

Administrator

Sekda Jabar Dorong Mahasiswa UM Bandung Jadi Agen Perubahan Lewat KKN Berdampak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan lagi sekadar mata kuliah wajib yang harus ditempuh mahasiswa sebelum menyelesaikan studi.

Di tengah beragam tantangan pembangunan daerah, KKN telah berkembang menjadi laboratorium sosial yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat, sekaligus menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial generasi muda.

Pandangan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman saat menghadiri pelepasan 1.200 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung peserta KKN Tahun 2026 di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, pengalaman hidup dan bekerja bersama masyarakat akan melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan.

"KKN adalah wahana terbaik untuk mengasah soft skill, mulai dari komunikasi, kepemimpinan, critical thinking, hingga kemampuan berkolaborasi. Penguasaan hard skill saja tidak cukup menghadapi realitas setelah lulus. Jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, pengalaman ini akan menjadi bekal untuk menjadi pribadi yang mampu memberi manfaat dan menjadi pencerah di tengah masyarakat," ujar Herman.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memandang perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam mempercepat pembangunan daerah. Oleh karena itu, pelaksanaan KKN tidak berhenti pada kegiatan pengabdian semata.

Namun, diintegrasikan dengan berbagai program prioritas pemerintah melalui dukungan lintas organisasi perangkat daerah, seperti Dinas Pendidikan, Biro Kesejahteraan Rakyat, hingga Dinas Komunikasi dan Informatika.

Salah satu kolaborasi yang menjadi perhatian tahun ini ialah verifikasi faktual data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jawa Barat. Herman menilai, keterlibatan mahasiswa akan memperkuat akurasi data sehingga pemerintah memiliki dasar yang lebih valid dalam menyusun kebijakan pemerataan akses pendidikan.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung Ijang Faisal mengatakan, KKN Tahun 2026 mengusung tema "Inovasi Berbasis Potensi Lokal untuk Desa Mandiri dan Berkelanjutan."

Tema tersebut menempatkan mahasiswa sebagai agen pemberdayaan yang diharapkan mampu mengembangkan potensi desa sekaligus memberikan kontribusi terhadap agenda pembangunan daerah.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam verifikasi data ATS merupakan bentuk tanggung jawab sosial perguruan tinggi terhadap persoalan pendidikan di Jawa Barat.

"Verifikasi data anak tidak sekolah bukan sekadar kegiatan pendataan, tetapi ikhtiar bersama memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama atas pendidikan. Data yang akurat akan menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran," ungkapnya.

Pada pelaksanaannya, KKN UM Bandung 2026 dibagi ke dalam tiga klaster. Klaster pertama adalah KKN Internasional yang dilaksanakan di Malaysia dan Singapura sebagai bagian dari penguatan jejaring global serta internasionalisasi nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan.

Klaster kedua merupakan KKN Muhammadiyah-'Aisyiyah (KKN MAS) di Kabupaten Malang yang memperkuat kolaborasi antarpenguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

Adapun KKN Reguler melibatkan 1.200 mahasiswa dari berbagai program studi yang didampingi 60 dosen pembimbing lapangan. Selama masa pengabdian, mereka akan ditempatkan di 44 desa dan kelurahan yang tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, dan Kota Bandung.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan, keberhasilan KKN tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari kemampuan mahasiswa memahami persoalan masyarakat, membangun dialog, serta menghadirkan solusi yang relevan dengan potensi dan kebutuhan desa.

"Saya berharap mahasiswa datang ke desa bukan untuk menggurui, tetapi untuk belajar, memahami persoalan, dan bersama-sama menemukan akar masalah. Jangan mengutuk kegelapan, tetapi nyalakan lilin untuk menerangi kegelapan," pesannya.

Ia juga mengajak seluruh peserta KKN membangun sinergi dengan pemerintah desa, pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lokal agar program yang dijalankan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat tersebut, KKN UM Bandung diharapkan menjadi model pengabdian yang tidak hanya memperkuat kompetensi mahasiswa, tetapi juga berkontribusi dalam mewujudkan desa yang mandiri, berdaya saing, dan mendukung percepatan pembangunan di Jawa Barat.***(FK)

Administrator

Prodi Ekonomi Syariah UM Bandung Siapkan Lulusan Siap Kerja di Era Industri Halal dan AI

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kuliah di jurusan Ekonomi Syariah kini tak lagi identik dengan bayangan bekerja di bank syariah saja.

Booming industri halal, fintech syariah, keuangan digital, hingga kecerdasan buatan (AI) membuka jalan karier yang jauh lebih luas bagi para lulusannya.

Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menangkap peluang ini lewat sistem pembelajaran yang terus diperbarui mengikuti kebutuhan zaman.

Ketua Program Studi Ekonomi Syariah UM Bandung, Yudistia Teguh A Fikri, mengatakan mahasiswa di kampusnya tidak hanya dijejali teori ekonomi dan keuangan syariah, tetapi juga dibekali pengalaman praktik langsung serta karakter Islamic Technopreneurship yang menjadi ciri khas UM Bandung.

Metode belajarnya pun didesain jauh dari kesan monoton. Prodi ini mengusung pendekatan project based learning, studi kasus, simulasi akad syariah, penelitian, pengabdian masyarakat, magang, sampai kunjungan industri.

"Pembelajaran di Prodi Ekonomi Syariah menerapkan pendekatan yang interaktif, aplikatif, dan berbasis kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi memperoleh pengalaman lapangan sehingga siap menghadapi tantangan industri," ujar Yudistia di sela kegiatan akademik kampus, Selasa (4/8/2026).

Kurikulumnya juga merangkul nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), literasi digital, dan isu ekonomi kontemporer, termasuk cara memanfaatkan AI secara bijak. Bagi Yudistia, teknologi semacam ini seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir mahasiswa.

"AI kami pandang sebagai tools, bukan pengganti proses berpikir mahasiswa. Justru kemampuan menganalisis, mengambil keputusan, dan memahami nilai-nilai syariah menjadi semakin penting di era digital saat ini," katanya.

Tantangan Ekonomi Jadi Peluang

Yudistia tak menampik bahwa perekonomian Indonesia tengah menghadapi banyak tekanan — mulai dari perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, fluktuasi nilai tukar, hingga percepatan digitalisasi.

Namun, di balik tantangan itu, ia melihat peluang besar berkat bonus demografi, pertumbuhan industri halal, dan meningkatnya kebutuhan SDM yang melek teknologi.

Dunia kerja sekarang, kata dia, tidak lagi cukup puas dengan pelamar berijazah. Perusahaan mencari tenaga profesional yang punya kompetensi nyata: literasi digital, kemampuan berpikir kritis, jiwa wirausaha, dan kecakapan memanfaatkan AI untuk mendongkrak produktivitas.

Dari sudut pandang ekonomi syariah, situasi ini justru jadi momentum untuk memperkuat praktik bisnis yang menjunjung etika, keadilan, transparansi, dan keberlanjutan — nilai-nilai yang menurut Yudistia semakin relevan untuk membangun sistem ekonomi yang tangguh menghadapi gejolak global.

Peluang Karier Terbuka Lebar

Lulusan Prodi Ekonomi Syariah UM Bandung punya pilihan karier yang beragam: perbankan syariah, BMT, koperasi, pegadaian dan fintech syariah, industri halal, lembaga zakat dan wakaf, konsultan dan auditor syariah, instansi pemerintah, regulator, akademisi, peneliti, hingga merintis usaha sendiri berbasis syariah.

Salah satu mahasiswa yang merasakan langsung manfaat kurikulum ini adalah Retno Widiarti, yang baru menuntaskan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Baznas.

Selama magang, ia terlibat dalam perencanaan penghimpunan dana, menjalin kemitraan dengan perusahaan, menyusun konten edukasi, sampai menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

"Saya merasakan bahwa teori ekonomi syariah bukan sekadar konsep akademik, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata bagi persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Pengalaman magang membuat saya semakin yakin dengan pilihan jurusan ini," ungkap Retno.

Dengan kurikulum yang terus beradaptasi, kolaborasi erat bersama industri, sertifikasi kompetensi, dan penguatan karakter Islamic Technopreneurship, Prodi Ekonomi Syariah UM Bandung optimistis mencetak lulusan yang tak cuma unggul di bangku kuliah.

Namun, siap terjun sebagai profesional, inovator, dan entrepreneur yang berkontribusi bagi perkembangan ekonomi syariah, baik di tingkat nasional maupun global.***

 
 

Administrator

Kuliah di Indonesia, Fatin Asal Malaysia Pilih UM Bandung untuk Wujudkan Cita-cita

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Meninggalkan keluarga dan merantau ke negara lain demi menuntut ilmu bukan perkara mudah. Namun, keberanian itulah yang mengantarkan Fatin Nur Aisyah Binti Ahmad Azfian, mahasiswi asal Kuala Lumpur, Malaysia, mewujudkan mimpinya di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Perjalanan Fatin menuju UM Bandung bermula dari program beasiswa yang membiayai studinya di Indonesia. Sebelum menentukan pilihan, ia aktif mencari informasi tentang berbagai perguruan tinggi melalui media sosial. Dari sanalah ia mengenal UM Bandung sebagai kampus yang aktif dan terus berkembang.

"Saya tahu UM Bandung dari pihak pemberi beasiswa. Selain itu, saya juga sering melihat informasi tentang UM Bandung di media sosial karena kampus ini sangat aktif," ujarnya.

Meski sempat mengunjungi beberapa perguruan tinggi, Fatin akhirnya memilih UM Bandung. Program Studi PAI dinilainya paling sesuai dengan latar belakang pendidikan dan cita-citanya menjadi seorang pendidik.

Keputusan tersebut tidak pernah disesalinya. Ia mengaku nyaman menjalani perkuliahan karena didukung dosen yang ramah, teman-teman yang positif, serta suasana akademik yang kondusif.

"Alhamdulillah, saya merasa nyaman kuliah di Prodi PAI. Dosen-dosennya baik dan teman-temannya memberikan vibe yang positif," katanya.

Di luar perkuliahan, Fatin aktif mengikuti pelatihan kepemimpinan dan pengembangan karakter. Ia juga mengaku cepat beradaptasi dengan kehidupan di Bandung. Keramahan masyarakat serta kuliner seperti mie ayam, nasi Padang, batagor, dan martabak membuatnya semakin betah.

Setelah lulus, Fatin akan menjalani masa pengabdian di sekolah-sekolah di bawah yayasan pemberi beasiswa. Baginya, kuliah di UM Bandung bukan sekadar mengejar gelar, tetapi juga membangun karakter, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menjadi pendidik yang bermanfaat.

Kisah Fatin menjadi bukti bahwa UM Bandung semakin dipercaya mahasiswa mancanegara. Dengan lingkungan belajar yang nyaman dan kualitas akademik yang terus berkembang, UM Bandung menjadi rumah kedua bagi mahasiswa yang ingin bertumbuh dan meraih mimpi melintasi batas negara.***

Administrator

Prodi PAI UM Bandung Siapkan Lulusan Berkarakter Islami dan Berdaya Saing Global

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus berkomitmen menghadirkan pendidikan Islam yang unggul, adaptif, dan berwawasan global.

Tidak hanya membekali mahasiswa dengan ilmu keislaman, Prodi PAI juga fokus membentuk karakter, kepemimpinan, dan kemampuan menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

Ketua Prodi PAI UM Bandung, Iim Ibrohim, mengatakan bahwa semangat menuntut ilmu merupakan ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam. Al-Qur'an dan hadis mendorong umat Islam untuk terus belajar, menjelajah, dan mengembangkan pengetahuan sebagai bekal menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

"Sejarah membuktikan banyak ulama besar lahir dari semangat belajar yang luar biasa. Nilai itulah yang terus kami tanamkan kepada seluruh mahasiswa Prodi PAI UM Bandung," ujarnya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui dosen yang kompeten, kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), serta ekosistem pembelajaran yang mendukung pengembangan akademik maupun karakter mahasiswa. Prodi PAI juga terus memperkuat pengalaman belajar melalui berbagai program kolaborasi di tingkat nasional dan internasional.

Hingga kini, Prodi PAI UM Bandung telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Malaysia, Brunei Darussalam, Pakistan, Australia, dan Thailand. Kolaborasi tersebut membuka peluang pertukaran akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga peningkatan kompetensi mahasiswa dan dosen.

Menurut Iim, internasionalisasi menjadi bagian dari strategi untuk mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.

Melalui penguatan kualitas akademik, jejaring internasional, dan pembinaan karakter, Prodi PAI UM Bandung terus mencetak lulusan yang profesional, berkarakter Islami, dan siap berkiprah sebagai guru Pendidikan Agama Islam, peneliti, konsultan pendidikan, maupun technopreneur di bidang pendidikan.***

Administrator

Lewat Hibah BIMA, Prodi Teknologi Pangan UM Bandung Bangun Komunitas Mandiri Pangan di Perkotaan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pengabdian kepada masyarakat tidak hanya menjadi wadah berbagi ilmu, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.

Melalui Prodi Teknologi Pangan, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menghadirkan inovasi pemberdayaan berbasis pangan lokal di Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Minggu (2/8/2026).

Program yang didukung Hibah BIMA Kemendiktisaintek ini mengusung tema pendampingan inovasi produk olahan rempah sebagai pangan fungsional untuk membantu menurunkan risiko diabetes.

Kegiatan memadukan edukasi pertanian vertikultur, pengolahan pangan, hingga strategi pemasaran produk agar memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Ketua Pelaksana PKM Prodi Teknologi Pangan UM Bandung Sakina Yeti Kiptiyah menjelaskan bahwa meningkatnya kasus diabetes di Indonesia menjadi salah satu alasan pentingnya pemanfaatan rempah-rempah sebagai pangan sehat.

Menurutnya, masyarakat perlu didorong agar tidak hanya mampu membudidayakan tanaman rempah, tetapi juga mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

"Kasus diabetes di Indonesia terus meningkat. Oleh karena itu diperlukan langkah preventif melalui pemanfaatan pangan lokal, khususnya rempah-rempah yang memiliki potensi sebagai bahan pangan sehat. Kami ingin masyarakat tidak hanya mampu menanamnya, tetapi mengolahnya menjadi produk bernilai tambah," ujarnya.

Sebagai tahap awal, tim pengabdian melatih warga membuat instalasi vertikultur, sistem tanam bertingkat yang cocok diterapkan di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas.

Tanaman rempah yang dibudidayakan kemudian diolah menjadi berbagai produk pangan fungsional yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan sekaligus membuka peluang usaha baru.

Masyarakat juga memperoleh pendampingan mengenai pengemasan, branding, dan strategi pemasaran agar produk memiliki daya saing di pasar.

Kaprodi Teknologi Pangan UM Bandung Khairiah mengatakan, pengabdian kepada masyarakat merupakan implementasi nyata peran perguruan tinggi dalam mentransformasikan hasil riset menjadi solusi yang langsung dirasakan masyarakat.

"Program seperti ini diharapkan terus berlanjut karena memberikan manfaat nyata. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat," katanya.

Dalam pelaksanaannya, Prodi Teknologi Pangan UM Bandung menggandeng Karang Taruna Kelurahan Manjahlega, perangkat RT/RW, serta dosen lintas disiplin.

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung Euis Evi Puspitasari turut memberikan pelatihan branding dan pemasaran agar produk olahan rempah memiliki identitas yang kuat dan mampu bersaing di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan sehat.

Ketua Karang Taruna Kelurahan Manjahlega Salma Sabila Nur Shabrina menilai program tersebut menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengembangkan inovasi pangan lokal sekaligus membangun jiwa kewirausahaan.

Menurutnya, materi mengenai inovasi produk, branding, dan pemasaran menjadi bekal penting agar hasil olahan masyarakat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Sementara itu, Ketua RW 10 Kelurahan Manjahlega Ridwan Subakti menyebut program PKM tersebut selaras dengan berbagai program lingkungan yang tengah dijalankan warganya, seperti Buruan SAE (Sehat, Alami, dan Ekonomis) serta persiapan menuju Kawasan Bebas Sampah (KBS).

Menurutnya, edukasi mengenai pemanfaatan pekarangan, pengelolaan sampah rumah tangga, dan budidaya tanaman pangan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

"Dengan jumlah 347 kepala keluarga yang tersebar di enam RT, pengetahuan seperti ini diharapkan mampu memperkuat budaya hidup sehat sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan," ujar Ridwan.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah lingkungan, dan masyarakat, PKM Prodi Teknologi Pangan UM Bandung menunjukkan bahwa inovasi sederhana seperti vertikultur dan pengolahan rempah mampu menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, mendorong kewirausahaan, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Program yang didukung Hibah BIMA Kemendiktisaintek ini sekaligus menjadi bukti bahwa hasil riset kampus dapat dihilirisasikan menjadi inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.***

Administrator