Berita

Eksistensi Batik dan Kebaya Harus Dijaga Sebagai Identitas Bangsa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Dede Yusuf memberikan apresiasi atas penyelenggaraan pameran Kain & Kebaya IBU #3.

Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan konsistensi prodi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dalam menghadirkan ruang pelestarian budaya melalui seni dan wastra Nusantara.

Ia menilai keberlanjutan kegiatan yang kini memasuki tahun ketiga menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam merawat dan menjaga warisan budaya Indonesia.

Menurut Sendy, ruang apresiasi budaya seperti ini memiliki peran penting agar nilai-nilai budaya tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

"Ini sudah yang ketiga kalinya. Seni itu jangan dianggap remeh. Seorang pemimpin juga harus memiliki seni sehingga mampu menghadirkan cinta dan kasih di mana pun ditempatkan," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sendy menekankan pentingnya memandang batik dan kebaya sebagai bagian dari identitas budaya bangsa yang harus dijaga bersama.

Ia mengingatkan bahwa batik telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak 2 Oktober 2009.

Selain batik, kebaya juga telah memperoleh pengakuan sebagai warisan budaya dunia tak benda UNESCO melalui skema joint nomination yang diajukan bersama lima negara, yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Indonesia.

Menurutnya, Indonesia sebelumnya sempat mengupayakan pengajuan secara mandiri sebelum akhirnya bergabung dalam pengajuan bersama tersebut.

Sendy juga menyoroti penetapan Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 24 Juli. Menurutnya, berbagai momentum penting terkait batik dan kebaya perlu terus dihidupkan dan diperkuat, termasuk melalui lingkungan pendidikan.

Ia mengusulkan agar sivitas akademika UM Bandung membiasakan penggunaan batik pada Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober dan mengenakan kebaya pada peringatan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli.

"Bukan sekadar imbauan, tetapi perlu menjadi kebiasaan yang dijalankan bersama. Kalau tidak dimulai dari kita, perhatian terhadap warisan budaya bisa semakin berkurang," katanya.

Selain mengajak menjaga budaya melalui penggunaan batik dan kebaya, Sendy juga mendorong mahasiswa, khususnya Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion, agar berani menekuni dunia kewirausahaan berbasis wastra.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan regenerasi pelaku industri kreatif di bidang batik dan tenun agar warisan budaya tersebut tetap lestari dan terus berkembang.

"Saya berharap mahasiswa berani menjadi wirausahawan batik atau tenun. Indonesia membutuhkan regenerasi agar batik dan tenun tetap lestari," ujarnya.

Administrator

Cara Berpakaian Menunjukkan Jati Diri Seseorang

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dekan Fakultas Sosial dan Humanior Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Irianti Usman menegaskan bahwa busana tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap penampilan.

Namun, lebih dari itu, busana merupakan sarana komunikasi yang menunjukkan identitas dan nilai seseorang. 

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam pameran Kain & Kebaya IBU #3 yang digelar Prodi Kriya Tekstil & Fashion bekerja sama dengan Yayasan Batik Jawa Barat dan Pusat Studi Wastra Nusantara UM Bandung pada Rabu (20/05/2026).

Pameran tersebut dihadirkan sebagai ruang penghormatan bagi jejak budaya, ingatan, dan kasih perempuan Nusantara yang terpatri melalui kain dan kebaya.

Dalam kesempatan itu, Irianti menyinggung sebuah konten di media sosial milik selebritas Okky Asokawati yang menurutnya menyampaikan pesan menarik tentang makna penampilan.

“Saya melihat konten Okky Asokawati di media sosial dengan busananya yang sangat bagus. Namun bagi saya, ini bukan soal busananya, melainkan apa yang dia katakan. Dia mengatakan bahwa ketika seseorang berpakaian indah, tampil indah, dan berada di lingkungan yang indah, sesungguhnya dia sedang berkomunikasi kepada semua orang tentang siapa dirinya,” ujar Irianti.

Menurutnya, apa yang dikenakan seseorang pada dasarnya menjadi representasi diri sekaligus pesan yang disampaikan kepada orang lain.

“Ketika kita berpakaian seperti apa yang kita kenakan saat ini, sejatinya kita sedang mengatakan, ‘Saya orangnya seperti ini, lho’,” katanya.

Irianti juga menyoroti anggapan bahwa seni, kriya, tekstil, dan fashion merupakan bidang yang bebas nilai (value free).

Ia menilai pandangan tersebut keliru karena seni justru dapat menjadi media untuk menampilkan nilai dan keyakinan yang dianut seseorang.

“Kalau ada yang mengatakan bahwa ilmu seni, kriya, tekstil, dan fashion itu value free, menurut saya itu keliru. Karena melalui seni, kita juga bisa menunjukkan siapa Tuhan kita. Tuhan kita yang indah dan menyukai keindahan,” tegasnya.

Ia juga mengingat buku karya Profesor Nanang Rizali (Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora UM Bandung sebelumnya) tentang napas Islam dan batik Indonesia. 

Dari sana, Irianti melihat bahwa seni bukan ilmu yang berdiri sendiri, melainkan terbentuk dari perpaduan berbagai disiplin seperti kimia, fisika, matematika, teknologi, dan bidang ilmu lainnya.

Oleh karena itu, Irianti mengapresiasi pameran Kain & Kebaya IBU #3 yang dinilainya memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas ilmu.

“Hari ini saya bangga dan mengapresiasi acara ini yang mampu menampilkan karya-karya seni luar biasa. Ini hasil kolaborasi dosen dari fakultas dan program studi lain. Ini menunjukkan bahwa ilmu harus saling terintegrasi, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Hendar Riyadi: Isu Sosial Penting Kerap Tenggelam di Balik Konten Viral

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bandung Hendar Riyadi menegaskan perlunya transformasi paradigma dalam praktik jurnalisme filantropi.

Menurutnya, jurnalisme tidak boleh berhenti pada narasi belas kasih semata, tetapi harus menjadi instrumen perubahan sosial yang lebih substantif.

Hendar menilai jurnalisme perlu diarahkan untuk membangun kesadaran kritis masyarakat.

Selain itu, jurnalisme juga harus memperkuat nilai keadilan sosial di tengah kehidupan publik.

Pernyataan tersebut disampaikan Hendar saat memberikan sambutan dalam bedah buku Jurnalisme Filantropi: Media dan Visi Kesejahteraan karya Roni Tabroni.

Kegiatan tersebut digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Bandung pada Selasa (12/05/2026).

Dalam forum akademik itu, Hendar turut menyoroti perkembangan jurnalisme filantropi di tengah ekosistem media digital yang terus berubah.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah memengaruhi cara masyarakat memandang dan mengonsumsi informasi.

Pada awal pemaparannya, Hendar mengajak warga Muhammadiyah, khususnya di lingkungan pendidikan, untuk terus merawat tradisi diskusi dan budaya intelektual.

Ia menilai tradisi tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan organisasi Muhammadiyah.

Menurut Hendar, forum intelektual harus dipahami sebagai ruang pertukaran gagasan dan pengembangan wawasan.

Forum diskusi juga perlu menjadi tempat penguatan pemikiran secara kolektif.

“Tradisi itu penting untuk dijaga, tetapi jangan sampai menjadi beban intelektual. Saya berharap forum-forum diskusi bisa menjadi ruang berbagi gagasan dan mengembangkan pemikiran bersama,” ujar Hendar.

Lebih lanjut, Hendar menyoroti media sosial seperti WhatsApp, TikTok, dan YouTube yang dinilainya semakin sering menjadikan penderitaan manusia sebagai komoditas digital.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai industri kesedihan, yaitu praktik mengemas penderitaan menjadi konten demi perhatian publik dan kepentingan viralitas.

Menurutnya, persoalan kemanusiaan yang semestinya menjadi isu sosial justru sering berubah menjadi tontonan emosional.

“Penderitaan manusia pada akhirnya tidak lagi dipahami sebagai persoalan kemanusiaan yang harus diselesaikan, tetapi berubah menjadi komoditas yang dipertontonkan dan dipasarkan,” katanya.

Sebagai solusi, Hendar mendorong pergeseran paradigma dari charity journalism menuju justice journalism.

“Jurnalisme filantropi jangan hanya membantu orang miskin bertahan hidup, tetapi harus mampu mengubah struktur sosial yang menghasilkan kemiskinan,” pungkasnya.

 

Administrator

Diskusi Buku di UM Bandung Kupas Masa Depan Jurnalisme Filantropi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Roni Tabroni menegaskan bahwa jurnalisme filantropi idealnya berfokus pada isu-isu lokal maupun tema tertentu, seperti lingkungan, politik, pendidikan, hingga ideologi.

Hal itu disampaikan dalam diskusi buku Jurnalisme Filantropi: Media dan Visi Kesejahteraan di Kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Selasa (12/05/2026).

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung tersebut menilai jurnalisme filantropi perlu diperkuat tidak hanya secara akademik, tetapi juga selaras dengan praktik di lapangan.

Menurutnya, tantangan utama saat ini ialah menyatukan kerangka keilmuan dengan dinamika industri media yang terus berkembang.

Roni mencontohkan perjalanan media Republika yang awalnya mengusung semangat jurnalisme filantropi.

Namun, di bawah gagasan Parni Hadi, semangat tersebut berkembang ke arah jurnalisme profetik. “Spirit yang dibawa profetik, tetapi praktiknya filantropis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, di Indonesia jurnalisme filantropi lebih dipahami sebagai kegiatan filantropi yang diberitakan media, sedangkan di luar negeri konsep ini dimaknai sebagai aktivitas jurnalistik nirlaba (non-profit).

Sejumlah media seperti The Guardian, Project Multatuli, Remotivi, dan Mongabay disebut memiliki semangat filantropi.

Roni juga menegaskan bahwa jurnalisme harus memiliki keberpihakan pada kebenaran dan kepentingan publik.

Menurutnya, objektivitas tetap memiliki arah karena setiap narasi membawa tujuan tertentu.

Dalam kesempatan yang sama, penanggap pertama Arief Permadi mendorong penyusunan kode etik serta pembakuan konsep dan model bisnis jurnalisme filantropi.

Sementara itu, CEO Relawan Nusantara Herlan Wilandari menilai perkembangan citizen journalism semakin memudahkan gerakan filantropi menjangkau perhatian publik.***

Administrator

Rektor Optimistis UM Bandung Kian Berdaya Saing dan Berdampak Luas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Herry Suhardiyanto menegaskan komitmen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung untuk terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pembuka dalam Pengajian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat di Auditorium KH Ahmad Dahlan, kampus UM Bandung, Sabtu (16/05/2026).

Dalam kesempatan itu, Herry menyebut kehadiran Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjadi momen penting bagi keluarga besar UM Bandung.

Menurutnya, kehadiran pimpinan Muhammadiyah memberikan semangat sekaligus dorongan bagi sivitas akademika untuk terus bergerak memajukan pendidikan dan dakwah.

“Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan yang sangat besar bagi kami dapat menerima kehadiran Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di kampus UM Bandung.

Kehadiran beliau tentu menjadi energi spiritual, motivasi perjuangan, sekaligus penguat langkah bagi kami seluruh sivitas akademika untuk terus bergerak memajukan pendidikan Muhammadiyah dan memberikan manfaat nyata bagi umat dan bangsa,” ujarnya.

Herry menjelaskan, UM Bandung yang berdiri pada 14 Juni 2016 atau bertepatan dengan 9 Ramadan 1437 Hijriah terus berkembang secara bertahap.

Dari kampus dengan keterbatasan program studi dan fasilitas pada awal berdiri, UM Bandung kini menunjukkan kemajuan pada aspek kelembagaan, akademik, sumber daya manusia, hingga kontribusi sosial kemasyarakatan.

Saat ini, UM Bandung mengusung visi jangka panjang menjadi Islamic Technopreneurial University yang unggul dan memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa pada tahun 2045.

Visi tersebut diwujudkan melalui penguatan pendidikan inovatif, penelitian, pengabdian masyarakat, internalisasi nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan, serta tata kelola universitas yang profesional dan berkelanjutan.

Hingga tahun 2026, UM Bandung memiliki 5.565 mahasiswa, 239 dosen, dan 173 tenaga kependidikan.

Herry menyebut capaian tersebut menjadi amanah besar untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan serta menghasilkan lulusan yang unggul, berakhlak, berdaya saing, dan berdampak. 

Ia juga optimistis UM Bandung akan terus berkembang, termasuk melalui rencana pengembangan kampus di masa mendatang.***

Administrator

Penguatan Ekonomi Jadi Kunci Kemandirian Warga Muhammadiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Haedar Nashir menegaskan pentingnya penguatan ekonomi sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian warga Muhammadiyah.

Menurutnya, sektor ekonomi saat ini memiliki posisi strategis karena mampu memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk arah politik. 

Oleh karena itu, warga Muhammadiyah, khususnya di Jawa Barat, didorong untuk memiliki keberdayaan ekonomi agar tidak bergantung kepada pihak lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar saat mengisi Pengajian PWM Jawa Barat di Auditorium KH Ahmad Dahlan lantai tiga kampus UM Bandung, Sabtu (16/05/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi perkembangan Muhammadiyah Jawa Barat yang dinilai menunjukkan kemajuan yang positif dan inspiratif.

“Muhammadiyah Jawa Barat saat ini memiliki sinar, harapan, dan jejak baru yang sangat bagus. Dan ini tentu merupakan inspirasi yang sangat penting,” ujar Haedar yang disambut tepuk tangan peserta pengajian.

Haedar menjelaskan bahwa penguatan ekonomi tidak bisa dipandang sebagai aspek pelengkap dalam gerakan Muhammadiyah.

Menurutnya, majelis ekonomi memiliki peran yang sama penting dengan majelis tablig. Aktivitas dakwah dan pengajian, kata dia, harus berjalan seiring dengan penguatan kesejahteraan masyarakat agar tercipta kemandirian yang nyata.

“Mengaji harus berjalan baik, tetapi kondisi ekonomi juga harus terjaga. Jika ingin banyak pendapatan, janganlah terlalu banyak pendapat,” katanya.

Selain penguatan ekonomi, Haedar juga menekankan pentingnya kedisiplinan dan tata kelola organisasi yang baik. Menurutnya, pengelolaan organisasi yang tertib menjadi faktor penting agar

Muhammadiyah terhindar dari konflik internal maupun persoalan hukum yang dapat menghambat gerak persyarikatan.

Lebih jauh, Haedar mengajak warga Muhammadiyah untuk terus berlomba dalam kebaikan sebagaimana pesan Surah Al-Baqarah ayat 148.

Ia menegaskan bahwa semangat beragama tidak cukup diwujudkan dalam ibadah personal.

Namun, harus hadir dalam bentuk kontribusi nyata di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan kebangsaan.

Menurut Haedar, Muhammadiyah harus terus menjadi gerakan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Prinsip khairunnas anfauhum linnas atau sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama harus menjadi pijakan utama dalam gerakan Muhammadiyah.

“Ketika ada masyarakat marginal, Muhammadiyah harus hadir di situ. Ketika bangsa memerlukan, Muhammadiyah juga harus hadir,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar seluruh amal usaha dan lembaga Muhammadiyah, termasuk institusi pendidikan seperti UM Bandung, terus bergerak menjadi lembaga yang unggul, berkemajuan, berdaya saing, dan berdampak nyata.

Menurutnya, keunggulan bukan sekadar slogan, tetapi harus dibuktikan melalui kualitas, prestasi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat luas.***

Administrator