Berita

Bantu UMKM Perempuan Naik Kelas, PKM UM Bandung Targetkan Pengembangan Digital Marketing 300 Pelaku Usaha

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dalam pemberdayaan perempuan di Jawa Barat, Universitas Muhammadiyah Bandung adakan PKM bertajuk ”Strategi Pemasaran Digital Bagi Para Pelaku UMKM Perempuan di Jawa Barat” pada Selasa (11/8/2026).

Acara tersebut berlangsung hybrid secara zoom dan berlokasi di Sekolah Perempuan Jawa Barat, Kota Bandung.

Adapun acara tersebut menjadi kerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat.

Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan (PKHP) DP3AKB Jawa Barat Utami Puspita Dewi sangat mendukung adanya kegiatan tersebut.

Ia mengatakan, para peserta dapat memasarkan suatu produk usaha secara digital.

”Tentu dengan mengikuti kegiatan ini, mereka dapat memahami dan mengimplementasikan pemasaran produk secara digital,” ucap Utami.

Dirinya juga mengatakan, para peserta dapat memperluas jaringan di lingkungan sekitar melalui umkmnya masing - masing.

”Para peserta nantinya dapat memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar sehingga dapat memperluas jejaring bagi yang lain untuk berdaya, tangguh, dan mandiri dalam penguatan ekonomi di keluarganya,” tanggapnya.

Sementara itu Ketua Pelaksana Suparjiman mengatakan, Jawa Barat memiliki banyak sekali pelaku UMKM khususnya oleh perempuan.

”Ada sekitar 300 lebih pelaku UMKM yang perlu kita kembangkan usahanya yang nantinya berfokus pada digital marketing,” Ungkap Suparjiman.

Menurutnya pelaku UMKM dapat memberikan kontribusi pada negara melalui UMKM.

”UMKM ini selain bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri, mereka juga bisa berkontribusi pada negara yang akan berpengaruh pada pendapatan atau PDB,” tanggapnya.

Para peserta nantinya akan mendapatkan pemberian materi berupa brand, ekspor produk, hingga pembukuan keuangan.

”Ini tentunya dapat meningkatkan usahanya, pendapatannya, hingga jangkauan pemasarannya,” tinjaunya.

Dirinya berharap agar para peserta dapat meningkatkan kelas usahanya lebih besar.

”Semoga para peserta dapat meningkatkan kelas usahanya yang awalnya mikro ke kecil, kecil ke menengah, menengah ke besar,” tandasnya.***(FK)

Administrator

Belajar Langsung dari Industri, Mahasiswa Magister Manajemen UM Bandung Perkuat Kompetensi Bisnis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Belajar manajemen tidak cukup hanya dengan memahami teori di ruang kelas. Perubahan bisnis yang cepat, digitalisasi, inovasi, dan persaingan membuat mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana konsep manajemen diterapkan di dunia industri.

Hal tersebut dilakukan Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) melalui kegiatan Company Visit ke PT Soka Cipta Niaga, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik bisnis.

Kaprodi Pascasarjana Manajemen UM Bandung Dr Perwito SE MM mengatakan company visit memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar langsung dari praktik perusahaan.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari praktik bisnis yang dijalankan oleh PT Soka Cipta Niaga. Mulai dari strategi bisnis, kepemimpinan, transformasi digital, hingga budaya kerja yang menjadi bagian penting dalam pertumbuhan perusahaan,” ujar Perwito, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, pembelajaran manajemen perlu terus mengikuti perkembangan dunia bisnis. Teori tetap menjadi dasar, tetapi mahasiswa juga perlu memahami bagaimana teori tersebut diterapkan dalam menghadapi persoalan dan perubahan di lapangan.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana perusahaan menyusun strategi, mengelola sumber daya manusia, membangun kepemimpinan, memanfaatkan teknologi, serta menjaga daya saing.

Pengalaman ini juga mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih kritis. Tidak hanya memahami apa itu manajemen, tetapi bagaimana sebuah keputusan bisnis dibuat, mengapa strategi tertentu dipilih, dan bagaimana organisasi menghadapi ketidakpastian.

Bagi pendidikan magister, pengalaman belajar seperti ini penting untuk membangun kemampuan analisis dan pengambilan keputusan. Mahasiswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi belajar membaca persoalan dan mencari solusi berdasarkan kondisi nyata.

Perwito berharap kegiatan tersebut dapat memberikan wawasan sekaligus pengalaman baru bagi mahasiswa.

“Company visit ini tidak sekadar perjalanan menuju sebuah perusahaan, tetapi perjalanan untuk menambah wawasan, berbagi pengalaman, dan belajar langsung dari praktik terbaik dunia industri,” tuturnya.

Ia juga mendorong mahasiswa memanfaatkan kegiatan tersebut untuk belajar, berdiskusi, membangun jejaring, dan mengembangkan kapasitas profesional.

“Kami berharap mahasiswa bisa mendapatkan ilmu dan praktik dari rangkaian kegiatan ini dan memanfaatkan kesempatan ini untuk terus belajar dan berkembang bersama,” pungkasnya.

Melalui Company Visit, Magister Manajemen UM Bandung terus mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik.

Pendekatan ini menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia profesional sekaligus tumbuh sebagai calon pemimpin yang adaptif, kritis, dan mampu menciptakan perubahan.***

Administrator

Batik dan Kreativitas Generasi Muda, KTF UM Bandung Unjuk Karya

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Batik terus berkembang di tangan generasi muda. Tidak hanya untuk acara formal, batik kini hadir dalam berbagai produk fesyen dan kriya yang kreatif, fungsional, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Semangat itu terlihat dalam perayaan HUT ke-18 Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) melalui kegiatan Batik Walk pada Minggu (9/8/2026).

Mahasiswa Prodi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung turut ambil bagian sekaligus memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.

Batik Walk diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai komunitas, organisasi, pelaku usaha, pemerhati budaya, dan perguruan tinggi.

Para peserta berjalan mengenakan batik dari Jalan Asia Afrika, melewati Gedung Merdeka, Jalan Banceuy, Jalan Cikapundung, dan Jalan Braga hingga berakhir di Halaman Gedung Bank Indonesia.

Selain mengikuti Batik Walk, mahasiswa KTF UM Bandung juga membuka booth Kriyanian Universitas Muhammadiyah Bandung dalam bazar rangkaian Jambore Batik Jawa Barat 2026.

Beragam karya mahasiswa dipamerkan, mulai dari batik tulis, batik cap, outer, hingga sarung bantal bermotif batik.

Karya-karya tersebut menunjukkan bagaimana batik dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.

Salah satu mahasiswa KTF UM Bandung, Nathania Zahra Putri Rizal, mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenalkan karya sekaligus menambah pengalaman.

“Di sini kami memiliki beberapa produk, misalnya batik tulis ataupun cap, produk outer, dan sarung bantal dengan motif batik yang merupakan hasil karya mahasiswa Prodi KTF UM Bandung,” ujar Nathania.

Ia juga menyebut kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas relasi dan bertukar ide tentang perkembangan batik.

“Kegiatan di sini seru banget. Kami bisa mendapatkan relasi dan bertukar pikiran seputar ide-ide batik,” katanya.

Keterlibatan mahasiswa KTF UM Bandung dalam kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran di luar kelas.

Mereka tidak hanya menghasilkan karya, tetapi belajar memperkenalkan, mengemas, dan memasarkan produk kepada masyarakat.

Nathania berharap karya mahasiswa KTF dan Kriyanian UM Bandung semakin dikenal luas.

“Semoga Kriyanian dan Prodi KTF UM Bandung bisa maju, sukses, dan produk-produknya bisa lebih dikenal banyak orang,” pungkasnya.

Melalui Batik Walk dan bazar Kriyanian, Prodi KTF UM Bandung menunjukkan komitmennya menghubungkan kreativitas mahasiswa dengan dunia industri kreatif.

Sekaligus ikut menjaga batik tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.***(FK)

Administrator

Rendahnya Literasi Jadi Tantangan Utama Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ekonomi syariah sering dianggap selesai hanya dengan berdirinya bank dan lembaga keuangan berlabel syariah. Padahal, persoalannya jauh lebih mendasar dari itu.

Seberapa dalam masyarakat memahami prinsip di baliknya? Seberapa jauh prinsip itu benar-benar hidup dalam keputusan ekonomi sehari-hari — dari cara mencari nafkah, memilih pembiayaan, hingga mengelola utang rumah tangga?

Kegelisahan itu yang mengemuka dalam acara Sosialisasi Ekonomi Syariah yang digelar MUI Jawa Barat bersama Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Jumat (7/8/2026). Puluhan ibu-ibu anggota Forum Silaturahmi Majelis Taklim (FSMT) Kelurahan Cipadung Kidul hadir sebagai peserta.

Dekan FAI UM Bandung, Cecep Taufikurrohman—akrab disapa Buya Cecep—menyoroti rendahnya literasi sebagai tantangan utama pengembangan ekonomi syariah di akar rumput. Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah selama ini masih parsial, bahkan cenderung keliru.

Ia mencontohkan anggapan yang masih sering terdengar: untuk apa bertransaksi di bank syariah jika praktiknya dinilai "sama saja" dengan bank konvensional. Anggapan semacam itu, tegasnya, lahir dari pemahaman yang tidak utuh mengenai ekonomi dan keuangan syariah, bukan cerminan fakta di lapangan.

Implikasinya penting: jika akar masalahnya adalah literasi, maka solusi tidak bisa berhenti pada memperbanyak jumlah lembaga keuangan syariah. Membangun pemahaman masyarakat, kata Buya Cecep, harus dimulai dari unit terkecil sekalipun (keluarga).

Salah satu sorotan paling tajam dari Buya Cecep adalah ketimpangan dalam pembelajaran fikih di masyarakat, termasuk di pesantren. Ia mengamati bahwa kajian fikih populer cenderung berhenti pada wilayah ibadah dan urusan keluarga, mulai dari thaharah hingga munakahah (pernikahan), Sementara itu, pembahasan mendalam mengenai fikih ekonomi (muamalah) jarang mendapat porsi yang setara.

Padahal, ia mengingatkan, khazanah kitab klasik karya ulama terdahulu sesungguhnya kaya dengan kajian ilmu ekonomi syariah sebagai bagian integral dari fikih.

Kesenjangan inilah yang menurutnya turut menyumbang rendahnya literasi ekonomi umat—bukan karena ilmunya tidak ada, melainkan karena jarang diajarkan dan dibumikan.

Kritik ini menjadi titik penting: masalah literasi ekonomi syariah bukan sekadar problem sosialisasi, melainkan problem struktural dalam cara umat mempelajari agamanya sendiri.

Bagi Buya Cecep, keberagamaan seharusnya tidak berhenti pada ritual semata. Nilai-nilai Islam mesti hadir pula dalam pilihan-pilihan ekonomi: dari mana seseorang memperoleh pembiayaan, bagaimana ia mengelola harta, hingga bagaimana ia menjalankan usaha.

Dari titik inilah peran ibu-ibu majelis taklim ditempatkan secara strategis. Kelompok ini dinilai bersentuhan langsung dengan dinamika ekonomi keluarga, sehingga posisinya bukan sekadar peserta pasif dalam sosialisasi, melainkan berpotensi menjadi agen penyebar literasi di lingkungan terdekat mereka.

"Jadilah motor penggerak ekonomi syariah. Ibu-ibu harus ikut membentengi keluarga dari praktik-praktik ekonomi yang haram," ujar Buya Cecep, menegaskan peran aktif—bukan sekadar simbolik—yang diharapkan dari para peserta.

Buya Cecep juga menegaskan tanggung jawab sosial kampus Islam, khususnya Prodi Ekonomi Syariah FAI UM Bandung, untuk memperkecil jarak antara pengetahuan akademik dan kebutuhan riil masyarakat.

Ilmu ekonomi syariah, menurutnya, harus mampu diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana agar benar-benar dapat dipahami dan dipraktikkan, bukan hanya menjadi wacana di ruang kuliah.

"Kampus UM Bandung sejatinya adalah aset umat Islam. Oleh karena itu, kami berterima kasih kepada MUI atas kolaborasi dengan salah satu prodi di FAI UM Bandung. Kegiatan seperti ini penting karena masih banyak persoalan ekonomi syariah yang belum dipahami umat," katanya.

Di penghujung sambutannya, Buya Cecep menitipkan harapan agar kolaborasi antara MUI, UM Bandung, dan jaringan majelis taklim tidak berhenti begitu acara usai.

Ia menekankan perlunya tindak lanjut konkret, sebab literasi yang tidak dikawal keberlanjutannya berisiko kembali menjadi sekadar wacana.

"Semoga acara ini menjadi bekal jihad ekonomi, menjadi bagian dari hijrah ekonomi. Barangkali masih ada di keluarga kita yang menganggap ekonomi syariah itu omong kosong," pungkasnya.***(FA)

Administrator

UM Bandung dan MUI Bekali Ibu-Ibu Majelis Taklim Lawan Jerat Pinjol

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Komisi Ekonomi Syariah MUI Provinsi Jawa Barat bersama Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar edukasi bertema "Membangun Ketahanan Ekonomi Keluarga melalui Ekonomi Syariah di Tengah Krisis Global" pada Jumat (7/8/2026) di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung. 

Kegiatan ini diikuti sekitar 80 anggota Forum Silaturahmi Majelis Taklim (FSMT) Kelurahan Cipadung Kidul.

Ketua Panitia Molly Mustikasari mengatakan program ini digagas untuk merespons maraknya masyarakat yang terjebak praktik keuangan merugikan, seperti pinjaman online ilegal, judi online, investasi bodong, dan bank emok.

Edukasi akan berlanjut pada 14 dan 21 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas literasi ekonomi syariah, khususnya bagi ibu-ibu majelis taklim agar mampu mengelola keuangan keluarga secara aman dan sesuai syariah.

Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung, Cecep Taufikurrohman, yang membuka acara, menyoroti minimnya perhatian terhadap kajian ekonomi di kalangan umat Islam.

Menurutnya, kajian keislaman selama ini lebih banyak menyentuh persoalan ibadah dan keluarga. Sementara itu, fikih muamalah dan ekonomi syariah jarang mendapat ruang di pesantren maupun majelis taklim. 

Ia menekankan pentingnya penguatan literasi ekonomi syariah agar masyarakat siap menghadapi tantangan ekonomi modern.

Pada sesi pertama, Wakil Ketua MUI Jawa Barat Yadi Janwari membawakan materi tentang konsep dasar ekonomi syariah.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi Islam bukan sekadar sistem bebas bunga. Namun, sistem yang menempatkan nilai-nilai Islam sebagai landasan seluruh aktivitas ekonomi, dengan tujuan mewujudkan kesejahteraan berkeadilan (falah). 

Ekonomi Islam dibangun di atas empat karakteristik utama—kesatuan, keseimbangan, kebebasan, dan tanggung jawab—yang diperkuat lima prinsip dasar: tauhid, nubuwah, khilafah, adalah, dan ma'ad. 

Ia menambahkan, perbedaan mendasar ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional terletak pada orientasinya: bukan sekadar pertumbuhan dan keuntungan, melainkan keadilan dan kesejahteraan berkelanjutan.

Sesi kedua diisi Ketua Komisi Ekonomi Syariah MUI Jawa Barat, Dodi Supriyanto, yang membahas ragam akad dalam transaksi syariah sehari-hari.

Ia menegaskan, pembeda utama bank syariah dari bank konvensional bukan hanya soal ketiadaan bunga.

Namun, penggunaan akad sebagai dasar setiap transaksi yang mengatur hak dan kewajiban para pihak sekaligus menghindarkan transaksi dari riba, gharar, dan maysir. 

Berbagai jenis akad, mulai dari jual beli, bagi hasil, sewa (ijarah dan IMBT), hingga jasa, diterapkan dalam produk tabungan, pembiayaan rumah dan kendaraan, modal usaha, gadai, hingga bank garansi.

Dodi menilai rendahnya literasi keuangan syariah masih menjadi tantangan besar bagi industri.

Oleh karena itu, ia mendorong penguatan edukasi masyarakat, standardisasi penerapan akad, dan inovasi layanan digital.

Sebab pemahaman masyarakat terhadap akad akan menentukan pertumbuhan industri perbankan syariah yang sehat dan berkelanjutan.***

Administrator

Kenapa Kabar Baik Bisa Sepi Pembaca? Ini Kata Dosen UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Cirebon -- Pernahkah sebuah kabar baik yang kita sampaikan justru sepi pembaca? Pertanyaan itulah yang mengawali paparan dosen Prodi KPI Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Kelik Nursetyo Widiyanto dalam sebuah pelatihan komunikasi digital di Cirebon, akhir Juli 2026 lalu.

Menurutnya, di era digital seperti sekarang, kemampuan menulis berita tidak lagi cukup hanya mengandalkan fakta. Setiap konten yang dibuat organisasi perlu mampu membangun kepercayaan publik melalui cerita yang kuat, autentik, dan menyentuh sisi emosional pembacanya.

Pandangan tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi Muhammadiyah, yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM Jawa Barat di Hotel Grand Lumina UMC, Kabupaten Cirebon.

Kelik menjelaskan, publikasi organisasi tidak bisa lagi berhenti pada sekadar menyampaikan informasi. Ia harus dikemas menjadi cerita yang menarik, agar lebih mudah dipahami, diingat, dan dipercaya oleh masyarakat luas.

Hal ini, katanya, sejalan dengan perubahan pola konsumsi informasi di masyarakat akibat perkembangan teknologi digital. Publik masa kini tidak sekadar mencari berita yang cepat, tetapi juga narasi yang relevan, bermakna, dan dekat secara emosional dengan kehidupan mereka.

Atas dasar itu, Kelik menilai teknik penulisan berita perlu dipadukan dengan pendekatan storytelling atau seni bertutur, tanpa meninggalkan kaidah jurnalistik dasar seperti unsur 5W+1H (what, who, when, where, why, dan how).

"Storytelling adalah seni bertutur yang membuat tulisan terasa hidup dan manusiawi. Ketika dipadukan dengan teknik jurnalistik yang baik, pesan organisasi akan lebih mudah diterima dan diingat oleh masyarakat," jelasnya.

Sebagai akademisi yang juga berkecimpung sebagai praktisi media, Kelik memandang publikasi hari ini sebagai bagian penting dari strategi manajemen reputasi organisasi. Setiap berita, foto, maupun video yang dipublikasikan turut mencerminkan nilai, kinerja, dan citra Muhammadiyah di ruang digital.

"Reputasi organisasi tidak dibangun melalui pencitraan semata, tetapi melalui karya nyata yang dikomunikasikan secara baik, konsisten, dan profesional," ujarnya.

Pelatihan yang diikuti pengurus Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Barat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam mengelola komunikasi digital.

Selain menerima materi teori, peserta juga diajak praktik langsung, mulai dari menyusun berita, menganalisis konten, hingga mengevaluasi publikasi di berbagai platform digital.

Kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah dosen dari kampus Muhammadiyah sebagai fasilitator, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat syiar Muhammadiyah di ruang digital yang terus berkembang.

Melalui pelatihan ini, MPI PWM Jawa Barat berharap kader Muhammadiyah di seluruh tingkatan mampu menjadi komunikator organisasi yang andal, sekaligus penggerak dakwah digital yang kredibel.

"Kegiatan Muhammadiyah di semua tingkatan harus dikelola secara serius dan dipublikasikan secara optimal. Jangan sampai banyak cerita baik yang tidak pernah diketahui masyarakat," pungkas Kelik.

Pelatihan Manajemen Reputasi Digital ini menjadi salah satu langkah strategis Muhammadiyah dalam memperkuat branding organisasi. Sekaligus meningkatkan literasi digital kader di tengah derasnya arus informasi pada era digital dan kecerdasan buatan (AI).***

Administrator